19
Dec
10

Princess Of The Night [1/2]

Title: Princess Of The Night

Cast:

  • SHINee Onew [Lee JinKi]
  • Lee Hyorin [OCs]

Genre: Romance

Rating: Bingung sayah, jadiin NC gak yah? *plaksss*

Length: 2Shot

Summary: “would you marry me, princess!!”

P.s: Kalo gak suka, gak usah baca. kalo FF ini  jelek, silahkan comment dan beri saya kritikan (Feel free to comment), tp kalo gak mau komen juga gak apa-apa. sudah mau membaca FF saya juga merupakan suatu penghargaan. Oh iya, tadinya FF ini mau dijadiin Oneshot, cuma kalo dijadiin oneshot kepanjangan, jadi deh dibikin 2shot he he ..THX my beloved readers

Please Enjoy

“Hyo Rin, akhirnya kau datang juga nak. Eomma tahu kau tidak akan mengecewakan eomma!!”

seorang wanita paruh baya berumur lima puluh tahun yang masih cukup cantik untuk wanita seumurannya -setidaknya belum ada tanda kerutan di wajahnya itu-datang menghampiri seorang yeoja berperawakan tinggi langsing yang baru saja masuk dari pintu utama tempat ‘itu’.

Yeoja yang dipanggil Hyorin itu menoleh ke arah wanita yang memanggilnya cukup keras.

“Ah …Seon eomma, ini semua kulakukan untukmu, kalau tidak mengingat kau adalah Eommaku yang paling baik hati, aku mungkin tidak akan datang..” Hyorin menggembungkan pipinya.

“Huh..kau seperti tidak tahu kebiasaan para Lelaki mahal itu saja..hahahaha… sini duduk dulu..” Wanita yang dipanggil Seon eomma itu menepuk-nepukan tangannya ke sofa yang kini tengah di dudukinya.

Hyo rin berjalan lemas ke arah sofa yang berada di pojok Pub yang kini sedang dipenuhi oleh muda-mudi yang  membuang waktu mereka dengan percuma, berhura-hura dan merusak diri.

Untuk beberapa hari ini ia sedang tidak mood untuk datang ke tempat bising yang sudah menjadi tempat ‘main’nya itu.

Suara alunan musik yang cukup membuat orang-orang disitu ikut menggerakan tubuh mereka terdengar semakin keras, Hyo Rin tentu saja sudah biasa dengan suasa seperti itu. Tapi, kali dia merasa sangat terganggu. Dia menyenderkan kepalanya ke sofa.

“Hei, kenapa beberapa hari ini kau terlihat tidak bersemangat anakku?” tanya Seon yang melihat hyorin memejamkan matanya.

Beberapa hari ini Seon, wanita yang dpinggil dengan sebutan eomma itu memperhatikan sikap Hyorin yang terlihat cukup aneh, terlihat seperti kelelahan.

“humm, tidak apa-apa eomma, aku Cuma sedikit capek..” Hyorin menghembuskan nafasnya.

Dan saat itu juga Seon tahu, tahu bahwa hyorin bukan hanya sekedar kelelahan. Seon sudah mengenal Hyorin sejak lama. Dan dengan hanya melihat gerak-gerik hyorin saja dia sudah tahu apa yang terjadi pada ‘anak emasnya’ itu.

Tapi ia, Seon. Tidak bisa melakukan apa-apa untuk anaknya, Hyorin. Ini adalah kehidupan yang sudah hyorin pilih, dan oleh karena itu Hyorin harus menerima segala konsekuensinya. Tepatnya kehidupan yang dia pilih beberapa tahun silam.

August 3rd,  2005

Seorang gadis remaja tanggung yang kira-kira berumur 18  tahun berjalan sempoyongan diantara lautan manusia yang keadannya hampir sama seperti dirinya. Mabuk.

Gadis itu, Hyorin, Lee Hyorin. Dia masih mencoba keluar dari lautan manusia yang mengurung dirinya, menabrak setiap orang yang ia lalui, tidak perduli bahwa orang yang ia tabrak itu mengucapakan caci maki dan sumpah  serapah terhadap dirinya. Bahkan mungkin dia tidak cukup sadar untuk mendengar suara-suara itu.

‘Siing’ tiba-tiba dia merasakan denging hebat di telinganya, merambat melalu urat-urat saraf, dan berujung pada sakit yang menjalar di kepalanya. Ia memegang kepalanya, memijit-mijitnya dengan tidak karuan karena sakit yang ia rasakan sangatlah parah.

Ia nyaris jatuh terjerembab bila seseorang tidak menahannya, ia mendongkak melihat orang yang telah menolongnya. Dan setelah itu semuanya gelap, pekat. Hanya sebuah senyuman tipis dari bibir seorang wanita yang  ia lihat terakhir kalinya.

Hyorin mengerjapkan matanya beberpa kali ketika sebuah siluet cahaya terang menyuruhnya untuk bangun, tersadar dari tidurnya yang nyenyak. Untuk beberapa saat dia mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, mencoba mengumpulkan kembali kesadaran yang baru mencapai tahap peng’loading’an.

Setelah sadar sepenuhnya, gadis berhidung mancung itu, Hyorin. Menatap sekelilingnya dengan bingung. Ia kini tengah berada di sebuah ranjang putih besar, dan Oh tidak hanya itu, semua yang ada disini serba putih, semuanya. Hyorin tidak bisa melihat lagi warna selain warna putih.

‘Ini dimana? kenapa aku ada disini? Apakah ini Surga? Oh.. tidak…tidak ….,mana mungkin orang ‘jahat’ sepertiku ada di surga, lalu tempat apa ini?’

Dan’ Pooff’ semua pertanyaan, pengandaian dan khayalan fantasinya buyar begitu saja, ketika seorang wanita paruh baya dengan baju, err, tepatnya gaun warna putih membukakan pintu. Wanita itu tersenyum hangat, membuat hyorin langsung berasumsi sendiri -‘well sepertinya aku memang di surga, lihat saja, sekarang seorang malaikat muncul dihadapanku untuk meminta pertanggung jawaban-.

“Hei, rupanya kau sudah bangun, aku kira kau akan tidur seharian, mengingat kemarin kau terlihat sangat – hmmm, parah..ha ha ha… kelihatannya kau tidak cukup berbakat untuk meminum alkohol berkadar tinggi ya?” wanita itu berjalan mendekat ke arah Hyorin yang masih duduk kaku di ranjang.

Hyorin mencoba mencerna kata-kata yang wanita itu ucapkan. OH! Dan sekarang dia telah tersadar dari fantasi yang ia ciptakan sendiri –eh, dia manusia, dan kemarin malam aku mabuk. Berarti dia adalah orang yang telah menolongku, sepertinya-

“Mmmm, kau siapa? Dan kenapa aku bisa ada disini? Bukankah semalam aku masih ada di PUB!” ujar Hyorin penasaran, ingin tahu yang sebenarnya terjadi –yah intinya dia pusing-

“Aigoo anak muda zaman sekarang..ckckck. baiklah, perkenalkan, namaku Jung Seon, aku membawamu ke apartemenku, dan ranjang yang sedang aku tempati ini adalah ranjangku, umm jika kau bertanya kenapa aku membawamu kesini? Jawabannya karena rasa kemanusiaanku terpanggil untuk menolongmu yang mabuk berat!” dia akhir kalimatnya seon tersenyum tipis penuh arti.

August 5th 2005

Dua hari berlalu sejak kejadian itu Hyorin dapat mengerti semua kejadiannya dengan jelas- err tentu saja dengan penjelasan panjang lebar dari wanita yang bernama seon itu- dan tebak? Percaya atau tidak, dia masih berada di apartemen wanita itu- dan mungkin untuk beberapa waktu kedepan-

Entah apa yang membuat Hyorin merasa nyaman tinggal di tempat itu, mungkin karena sudah tidak punya tempat berteduh- OH! Bahkan ia sudah terbiasa tidur di kolong jembatan, dan membuatnya tidak perlu memusingkan yang namanya rumah, dia sudah merasa cukup dengan masih hidup sampai sekarang, Bukan itu…- Lalu apa…

Saat ini Hyorin sedang duduk di meja makan, menyantap sarapan pagi –berupa roti tawar dan secangkir kopi yang sudah lama tidak ia rasakan- Seon pergi keluar, ada urusan katanya.

Hyorin menyeruput kopi sambil berjalan ke arah jendela, ia memandang keluar, melihat orang yang berlalu lalang dibawah sana, menjalankan aktifitas mereka seperti biasa. Tapi sebenarnya yang sedang dia lihat bukan objek yang kini sedang dipandangnya, melainkan melihat bayangan dirinya bersama seon kemarin malam, dan saat itulah dia berpikir, apakah yang kulakukan ini benar.

Last Night,  8pm

Seon duduk berhadapan dengan Hyorin di sofa yang ada di ruang tengah dan memulai ceritanya kepada Hyorin.

“Aku seorang wanita berumur 45 tahun, tepatnya seorang janda. Tapi tunggu, aku bahkan belum menikah, tapi aku sudah melakukan hubungan suami istri dengan seorang lelaki selama 2 tahun, tapi itu 2 tahun yang lalu, sekarang lelaki itu sudah meninggalkanku. Dia tidak mengucapkan apa-apa sewaktu meninggalkanku, bahkan dia tidak memberiku uang seperser pun. Aku sebatang kara,aku kecewa, aku sakit. Dan karena rasa sakit itu yang membuatku seperti sekarang, kau tahu?”

Hyorin yang telah menyimak cerita seon dengan sungguh-sungguh hanya bisa menggeleng.

“aku menjadi seorang penjual, ehmm bahasa halusnya pemegang kunci wanita malam-atau bisa kau sebut Germo kalau tidak mengerti-“

Hyorin yang mendengar itu langsung tersentak kaget.

“Nah sekarang giliranmu bercerita!”

“A..aku, akhh harus darimana memulainya!!” kata Hyorin bingung

“Dari mana saja, terserah kau!” jawab Seon

“Huff, namaku Lee Hyorin, anak ke2 dari tiga bersaudara keluarga Lee. Keluargaku adalah orang yang terpandang, hingga suatu waktu ketika aku masih kelas tiga SMA, aku melakukan kesalahan terbesar dengan tidur bersama pacarku”

Hyorin berhenti sebentar, menghela nafas, mencoba menahan emosinya yang sudah mulai memuncak. Seon tidak mengomentari cerita Hyorin, karena dia tahu bahwa Hyorin belum menyelesaikan ceritanya. Dan benar-Hyorin memulai ceritanya lagi-

“Sebulan setelahnya, aku merasa tidak enak badan. Yah mungkin masuk angin pikirku, ternyata setelah diperiksakan kedokter, aku dinyatakan Positif hamil. Tentu saja orang tuaku marah besar, bagaiman bisa seorang anak konglomerat hamil pada usia yang sangat muda, siapa suaminya? Bahkan dia belum menikah. Apa yang akan orang-orang katakan? Ini merupakan aib keluarga? Itulah yang orang tuaku pikirkan!” Hyorin kembali berhenti sejenak.

“Lalu kenapa kau bisa seperti ini , errr maksudku ..”

“Umm tidak apa-apa..” Hyorn memotong perkataan Seon lalu tersenyum

“Orang tuaku mengusirku dari rumah, menyuruh untuk menggugurkan kandunganku dan membuatku seperti sekarang. Aku mengugurkan kandunganku lima bulan yang lalu, kemudian menjadi gelandangan yang mencari uang dengan mengumpulkan sampah. Dan bodohnya, aku menggunakan uang hasil jerih payahku itu untuk minum alkohol setiap malam..ha ha ha” Hyorin tertawa pahit, lalu butiran-butiran air bening mengalir dipipinya.

Seon memandang Hyorin prihatin, menganggap dirinya bagaikan secuil noda hitam di atas dunia fana ini, sedangkan di depannya, seorang gadis muda yang bahkan belum mengenal yang namanya kedewasan melakukan sebuah kesalahan besar di usia yang sangat muda , dia pikir Hyorin terlalu labil untuk melakukan itu, tidur bersama pacarnya –well semua itu terjadi bukan sepenuhnya kesalahan dia, dimana orang tua yang selalu mendidik anaknya?-mereka bahkan hanya bertemu hyorin sebulan sekali- how can it  be better for her?

Sebuah ide terlintas dipikiran Seon, Who Knows?

“Kalau mau, kau bisa menjadi anak asuhku, err, dan tinggal disini selama yang kau mau?” tawar Seon, wanita itu terlihat ragu-ragu.

Hyorin terlihat berpikir sebentar.

“Ya,aku mau!” jawab Hyorin singkat.

Seon yang mendengar itu langsung tersenyum lebar. Tapi disisi lain Hyorin tidak tahu, that the darkness is in the front of her eyes.

Flashback End

July, 13rd 2010

“Uh, katanya laki-laki yang ingin di service itu akan datang  beberapa menit lagi, kau harus segera bersiap-siap” ujar Seon memberitahu anak emasnya itu.

“Huuhhhhh” Hyorin kembali menghembuskan nafas panjang.

“Ayolah honey,orang yang akan kau service kali ini adalah penentu kelangsungan bisnis eomma..” rajuk seon.

“memang sepenting apa sih laki-laki itu?” tanya Hyorin

“ah, dia adalah pemilik  Grand Shine Hotel, hotel terbesar di korea. Dan kau tahu kan kalau eomma selalu menggunakan hotel itu sebagai tempat job..” jelas Seon

“apa tidak bisa yang lain saja, aku dengar Hyunra, Soojung, dan Chae Rin hari ini sedang tidak ada job, aku benar-benar tidak mood untuk melakukan service!!”

“Demi tuhan anakku, dia ingin kau yang melayaninya, bukan yang lain. Please honey…”

“Baiklah..” kata Hyorin akhirnya. Seon tersenyum puas, ia sudah tahu kalau Hyorin tidakb bisa menolak permintaannya –mengingat segala kebaikannya kepada Hyorin, apa bisa dia menolak-

“Ini..” Seon menyerahkan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat –tentu saja Hyorin tidak perlu bertanya untuk apa alamat itu, dia sudah tahu kalau itu adalah alamat tempatnya melakukan service dengan sang pemilik hotel yang berkuasa-

“Ingat, dia memakai kemeja coklat, dengan botol wine dimejanya, arraseo..”

“Ne, umma. Aku berangkat..” kata Hyorin sambil beranjak dari sofa-nya.

“Hati-hati” Kata Seon mengingatkan. Hyorin hanya tersenyum tipis.

July, 13rd 2010 @ Songjin Corporation Building

Di waktu yang sama-dengan keberangkatan Hyorin- tapi ditempat berbeda. Seorang pemuda tengah serius menatap layar didepannya, sesekali melirik ke arah tumpukan kertas yang ada disampingnya. Sementara jam sudah menunjukan pukul 11pm. Itu berarti sudah 15 jam dia berada di ruangan itu dengan tumpukan kertas yang masih sama tebalnya, hanya berkurang beberapa lembar.

Pria itu mengurut lehernya yang sudah merasakan ngilu dari tadi, tapi tetap ditahannya rasa sakit itu. setelah merasa cukup-mengurut lehernya- dia kembali fokus pada obejk yang sedang dikerjakan.

‘Kriiiet’ terdengar suara pintu dibuka, pria itu menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya yang membuka pintu ruangannya. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke layar setelah tahu siapa yang malam-malam begini datang ke ruangannya.

“Lee  JinKi..” ucap pria paruh baya itu dengan keras.

Merasa dipanggil namanya, Pemuda yang ternyata bernama JinKi itu pun menoleh.

“ada apa lagi Appa?” sahut Jinki ketus.

“Apa? aku yang harusnya bertanya kenapa!! Apa-apaan ini hahhhh…!!!” ujar paruh baya itu-atau bisa kau sebut ayah Jinki- sambil melempar sebuah map merah ke atas meja jinki.

Jinki mengerutkan kening tanda tidak mengerti.

“Semua pekerjaanmu tidak ada yang beres, jangan pernah meninggalkan ruangan ini sebelum kau menyelesaikan pekerjaanmu dengan benar..” setelah berkata begitu, ayah Jinki langsung meninggalkan ruangan jinki dan menutup pintu dengan keras.

Jinki merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya, jantungnya berdebar dengan cepat. Ini bukan tentang penyakit jantung- sejak dulu tidak pernah mengalami masalah serius dalam organnya- lalu apa? dia sakit, sakit hati. Ayahnya memperlakukan ia bagai seorang budak, abdi, tidak pernah menganggapnya sebagai anak. Atau bahkan, mungkin dia bukan anak kandung ayahnya!!

Sudah! Sudah! Singkirkan hal buruk itu. Jinki tidak pernah mempermasalahkan hal yang menurutnya ‘sepele’. Tapi, seperti yang orang bilang –Manusia mempunyai batas kesabaran -Begitu pun dengan Jinki. Dia memang terlihat Kuat, tegar, dan tangguh –di luar- tapi coba kau lihat di dalamnya, penuh dengan kesakitan, lemah, rapuh, dan bisa –hancur kapan saja-

Ini bukanlah sebuah kisah tentang cinderella yang disiksa ibu dan kedua kakak tirinya- ini adalah sebuah kisah yang nyata, yang ada di depan mata kita – Keluarga yang utuh.

Jinki yang tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu sejak berumur lima tahun-ibunya meninggal- Ia, Jinki hanya mempunyai satu anggota keluarga berupa seorang pria dengan sifat angkuh yang biasa dia panggil ‘Appa’. Membimbingnya dengan keras, tanpa cinta.

Mungkin dulu –dulu sekali, kira-kira jinki berumur 10 tahun- dia tak boleh mengharapkan kasih sayang, menanti sosok seorang Ayah memelukmu, mengajarimu cara menendang bola- karena nyatanya, sampai sekarang dia masih menunggu sosok seorang ayah yang belum ditemukannya. Oh and maybe, he never found until the end of his life. Poor Him!? No way.

—–

Jinki menatap kepergian ayahnya dengan geram, tapi—tapi dia tidak akan pernah membencinya, He Just, Just angry with himself. Dia merasa bukan seorang anak yang dapat membagakan ayahnya, dia pengecut, dia merasa dirinya rendah, lemah.

Dan pada akhirnya, Jinki memilih keluar ruangan itu, walaupun jelas-jelas aksi yang dilakukannya adalah hal yang dilarang oleh ayahnya-barusan. But Who knows? Jinki tidak dapat mengendalikan dirinya. Otak dengan IQ tinggi itu menyuruhnya untuk tetap di ruang kerjanya, menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk selama semalaman. Tapi, disisi lain, badannya tidak dapat berjalan selaras dengan otaknya, tubuhnya sudah meminta untuk berhenti menyiksa diri sendiri.

Jinki keluar ruangan itu dengan sedikit tergesa-gesa –Ou, dia merasa tidak enak harus melanggar perintah ayahnya, inilah seorang anak baik-

Jinki mengendarai mobil Audi nya dengan kecepatan penuh, setelah dirasa menemukan tempat yang cocok untuk mengistirahatkan badannya, dia berhenti. Well, mungkin seharusnya dia bersyukur karena mendapatkan sebuah tempat yang masih buka ketika jam sudah menunjukan pukul 2am.

Agak ragu jinki masuk ketempat itu, dia sebenarnya tidak pernah datang ke tempat yang dia masuki sekarang, hanya insting yang mengatakan kepadanya bahwa tempat itu adalah tempat yang tepat untuk melepas segala kepenatan dalam tubuhnya yang sudah meminta  untuk dilepas.

Ia, Jinki duduk di salah satu meja di tempat itu, tempat yang mirip sebuah restoran yang digabung dengan Hotel juga ada tambahan mini bar di ujung ruangan. Jinki melepas jas kantornya yang masih ia kenakan, melonggarkan dasi yang hampir membuatnya kehabisan nafas, lalu mengangkat tangannya. Waitress yang memang sudah tahu kode tanda panggilan itu langsung menghampiri meja jinki.

“silahkan, mau pesan apa tuan?” tanya waitress itu sambil menyerahkan sebuah daftar menu. Tapi jinki malah meletakan daftar menu itu.

“ Aku ingin sebotol Wine”

“Baiklah, mohon tunggu sebentar” ucap waitress itu.

Beberapa saat kemudian waitress itu kembali ke meja jinki dengan sebotol wine di tangannya, lalu menuangkannya ke sebuah gelas kecil. Jinki memberi isyarat kepada pelayan itu supaya berhenti dan meninggalkan mejanya. Pelayan itu mengerti –karena setelahnya, pelayan itu pamit dan berlalu-

Tidak butuh waktu lima detik bagi Jinki untuk meneguk segelas wine, dia merasa tidak puas- tentu saja itu hanya segelas kecil- dengan cepat, tanpa harus menggunakan gelas –yang hanya merepotkan saja- Jinki meminum sebotol wine itu.

Dan gejala itu pun mulai terjadi, Mabuk. Ya, kini jinki tengah mabuk, mabuk parah tepatnya. Ia tidak pernah menoba wine sebelumnya, hanya mendengar dari bawahan di kantornya bahwa wine dapat menghilangakn rasa stress.

Dan jinki rasa, dia telah melakukan sebuah kesalahan. Karena, bukannya stressnya hilang, malah membuat kepalanya pusing kepalang. Dia merasakan bumi ini berputar, ia mencoba berdiri dari kursinya, tapi dia tidak kuat. Kembali terduduk di kursinya.

Hyorin yang baru saja membuka pintu tempat itu, -tempat yang tertera di alamat yang diberikan Seon eomma – tanpa menunggu waktu yang lama dia segera menemukan ‘pelanggannya itu- pria kemeja coklat dengan wine di mejanya- ‘

So, what she does then? Dia menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu kemudian menyunggingkan senyum. Berjalan dengan anggun menghampiri Jinki yang tengah mengurut keningnya yang terasa amat pusing.

“Hai..” sapa Hyorin setelah berada di meja Jinki, jinki mendongkak mendapati seorang yeoja cantik berdiri di hadapannya.

Dia tertegun, atau lebih tepatnya terpesona. ‘She is the beautiest girl i ever seen!’ pikir Jinki dalam hati, walaupun dia sedang mabuk tapi itu tak mempengaruhi penilaian tentang gadis didepannya.

“Ummm, tuan…” Hyorin menggereak-gerakan tangannya di depan wajah jinki. –oh dan jinki langsung tersentak-

“Oh, hai….” balas jinki.

Hyorin tersenyum, for what? Setidaknya wajah pelanggannya yang satu ini ternyata jauh dari tebakan. Dia begitu-cute, handsome and manly, maybe- padahal tadi dia sudah berasumsi sendiri, menebak-nebak seperti apa pelanggan istimewanya kali ini, seorang pemilik sebuah hotel terkenal-pastilah berbadan tambun, tua, dan GENIT –

“Bwahha ha ha ha… hai bidadari, apa kau ingin menjemputku ke surga..ha ha ha terima kasih, apakah aku sudah mati sekarang. Kau tahu sekali keinginaku untuk pergi dari dunia ini..ha ha ha kau cantik sekali” racau jinki tidak jelas.

Hyorin tersentak, pria didepannya itu ternyata sedang mabuk. Dan dengan semua pengalaman yang telah hyorin lalui, dia memutuskan untuk membawa pelanggannya yang satu ini ke kamar hotel. –Well, kalian tahulah-

“Tuan, sepertinya kau terlalu banyak minum, ayo kita istirahat. Ini sudah malam..” bujuk Hyoirn dengan nada yang (di) lembut (lembutkan).

“Ah kau tahu, kau tahu aku memang belum istirahat. Pria tua keparat itu tidak pernah mengizinkanku untuk istirahat…ha ha.. dia..dia kejam”-lagi, ia, jinki meracau, mengeluarkan segala isi hatinya yang selama ini dipendam.

Hyoirn memperhatikan pria muda didepannya, ‘sebenarnya masalah apa yang sedang dia hadapi?’ pikir Hyorin.

‘Hikssss..’ tiba-tiba terdengar isakan, isakan yang berasal dari pria dihadapan hyorin, Jinki.

“A…aku…sayang appa, tapi kenapa? Kenapa dia tidak pernah menganggapku!!” kata jinki lagi, suaranya kini berubah serak.

Dengan refleks Hyorin mendekat, dan memeluk jinki. Mengusap-usap punggungnya. Jinki terdiam, merasa lebih tenang, merasakan sosok seorang ibu yang tengah memeluknya –walaupun dia sendiri bahkan tidak ingat bagaimana wajah ibunya-

Setelah merasa pelanggannya itu cukup tenang, Hyorin melepaskan pelukannya. Saling bertatapan dengan Jinki, dan tanpa sadar wajah mereka semakin dekat, menyisakan beberpa centi ruang kosong.

‘cup’ hyorin mengambil alih permainan, dia melumat bibir jinki dengan gairah, begitu pun sebaliknya, jinki menikmati adegan itu, ciuman yang cukup panas itu terjadi selama lima menit.

Beberapa saat kemudian Hyorin melepaskan ciumannya, jinki menunduk, wajahnya memerah.

Demi melihat itu, Hyorin langsung mengangkat dagu jinki. Tersenyum.

“Ayo, kita ke kamar..” ajak Hyorin sambil menggenggam tangan jinki. Tapi, Hyorin tidak sadar sejak tadi handphone di tasnya terus bergetar –20 missed call, kira-kira itulah yang tertulis di handphonenya-

Jinki hanya menurut ketika Hyorin menarik tangannya, mereka beruda berjalan berdampingan menuju kamar yang telah dipersiapkan. Karena keadaan jinki yang masih terpengaruh minuman, hyorin terpaksa harus memapah Jinki agar sampai ke tempat tujuannya.

_____________

‘Brukk’ Hyorin mendorong tubuh jinki ke kasur, ia tersenyum jahil.

Hyorin melepaskan satu persatu kancing bajunya hingga kini tubuhnya tinggal berbalut pakaian dalam tipis saja. Dan dengan perlahan, dia naik ke tempat tidur, mengelus wajah jinki. Membuat jinki memejamkan matanya, tapi tidak tidur. Ia, hyorin melepaskan satu persatu kancing kemeja jinki, hingga jinki juga mendapatkan kondisi yang sama seperti dirinya. –telanjang-

-SKIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP-

“Tuuuuuttt…tuuuuuuuuuuut” terdengar ringtone dan getaran dari sebuah handphone.

“Hoaaam, matikan alarmnya…”

“Tuuuutt..tuuuuuut”  suara itu kembali berbunyi.

“Ha.. aku masih ngantuk, nanti saja ke kantornya, ahjussi, aku sedang capek..” jinki menarik selimutnya.

“Tuuuuut..tuuuut”

“Haissssh..” Jinki meraba-raba ke samping, mencari benda yang berbunyi itu –yang dia anggap alarm- tapi kemudia dia meraskan merba sesuatu yang aneh.

Dia membuka matanya perlahan, dan seketika mata sipitnya itu berubah bulat, ia terbelalak kaget. Seorang gadis tengah memeluk tubuhnya yang- yang telanjang- dan, dan wanita itu sendiri juga tidak memakai sehelai baju pun untuk menutupi tubuhnya.

“Huuuuuuaaaaah…. siapa kau?” teriak jinki

“Hoooammmm… ada apa sayang, kenapa kau berteriak, ini masih pagi!!” suara wanita disampingnya.

“Heee… menyingkir dariku, OH tuhan, sekarang aku tidak suci lagi, haaa wanita ini menodaiku!!” teriak jinki lagi.

Wanita disamping jinki, Hyorin. Langsung membuka matanya dan menatap jinki aneh.

“kenapa kau, apa maksudmu dengan aku menodaimu!!” tanya hyorin bingung.

“A.. apa yang kau lakukan padaku hah?” tanya jinki balik.

To Be Continued….

My beloved readers, akhirnya  aku bisa mewujudkan ide aku untuk membuat FF dengan plot seperti ini, oke. aku juga sedang dalam tahap belajar merangkai kalimat dan kosakata yang tepat, jadi harap maklum kalo gaya bahasa atau cara penggambarannmya berubah. Oh iya, mianhe kalo masih banyak Typo, dan bahasa inggris saya yang ancur abis, he he he males ngedit sih *plakkkk*.

Oh iya, yang nungguin cerita Le Patissier Love Stories, sabar ya.. maaf minggu-minggu ini aku sibuk banget ama urusan sekolah, setelah digempur dengan UAS, kini Lomba PASKIBRA pun siap menanti!!! hufff… terus dukung Pea ya.. at least, Guffay.

 


2 Responses to “Princess Of The Night [1/2]”


  1. August 1, 2013 at 1:00 pm

    Have you ever considered publishing an ebook or guest authoring on other blogs?
    I have a blog based on the same ideas you discuss and would love to
    have you share some stories/information. I know
    my viewers would value your work. If you’re even remotely interested, feel free to send me an e mail.

  2. 2 leerery
    May 16, 2014 at 4:14 pm

    Nyiahahahaha lucu….!!!!! Author-ssi, brhubung sy udh melebihi btas umur dewasa, ratingnya NC aja😄 *otak yadong kumat*
    sy blm prnah nemu ff dgn story line sprti ini. Dan mnrut sy ff ini daebak, aplg otak sy yg lagi kumat2nya. Main cast nya bias lagi! Heuhh paket komplit *KFC kalee*
    Untuk bhs, sy krg faham. Tp mskpun sy krg faham, setidakny sy bsa mmbedakan mana bhs yg mmbingungkan dan mana yg tidak. Sy rsa ini bhs ny enak dbaca dan cukup tepat ! Dtunggu lanjutannya author-ssi… Next chap end kan? Apdet kilat nee, author-ssi…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


RULES

Image and video hosting by TinyPic

Imagination Day

December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Fiction Categories

Looking For My Lovers

  • 62,839 Lovers

Tweeted

  • وما جعلنا أصحاب النار إلا ملائكة وما جعلنا عدتهم إلا فتنة للذين كفروا ليستيقن الذين أوتوا الكتاب ويزداد الذين آمنوا إيمانا -- سورة المدثر 2 hours ago
  • كان لنبينا سيف اسمه (ذو الفقار) وكان يحمله كثيرا. قبل معركة أحد رأى رؤيا وهي أن فيه كسراً, فأُول بأنه أحد عصبته (وهو مقتل حمزة) #نشر_سيرته 3 hours ago
  • سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أفضل قال إيمان بالله قال ثم ماذا قال الجهاد في سبيل الله قال ثم ماذا قال حج مبرور #Hadith #ﷺ 5 hours ago
  • إن اللـه لا يظلم مثقال ذر‌ة ۖ وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه أجر‌ا عظيما ﴿٤٠﴾ -- النساء #Quran 11 hours ago
  • اللهم إني أسألك خير هذا اليوم فتحه ونصره ونوره وبركته وهداه وأعوذ بك من شر ما فيه وشر ما بعده #أذكار_الصباح_المساء #hadith 1 day ago

%d bloggers like this: