23
Dec
10

Dear Readers, I Died of Cancer

UNTUK PARA WRITERS KALO PUNYA WAKTU, TOLONG BACA FF YANG SATU INI.

ff ini menang soompi ff of the year kategori ORIGINAL ONE-SHOT WINNER link

by 4tang@soompi

Indotrans By Chiyo @ Sujuneisa Forum

 

My Dear readers…

There was a time when I was young.

When I cared what others said, how I was treated, how I was perceived.

A time when I needed something concrete to define who I was.

To remind myself that I was important.

That my lies could and would become a reality.

Those were the days, the days I wrote, living in a world of fiction, that suddenly became my reality.

Writing, it isn’t easy.

The first time you open up Word ready to write your first story, it’s a thrill. A burst of energy flies through your body as you imagine all that you have ahead of you as a writer. Hundreds of ideas flutter in your mind as you stagger to catch each and every one of them determined to incorporate everything. Anything for the perfect story. So you begin, you begin with so many hopes, so many aspirations, so many desires, and so many expectations.

But then that’s where you start falling.

With each chapter you question your ability. You wonder what you’re doing wrong. And then you begin to compare. There’s no end to your doubts, because there are no replies. How can you not doubt when no one else is there to tell you that you’re doing fine? So you look for other methods, other ways, something other than being pushed away from the first three pages. You want to write so badly, but then before you know it, it’s not about what you write or what story you tell or how your characters feel, it’s about the numbers.

That’s where I ended. In an infinite valley where only numbers mattered. Beautiful words, alluring sentences, heart breaking paragraphs, all of that which mattered more than anything, was no replaced with number or replies, number or readers, number of recommendations, and everything that never really mattered in the first place.

So I died.

I died of cancer.

I wasn’t sure what kind of cancer. The desperation in me to become someone more known, someone cared about, someone revered, it outweighed all the logic left in me. Whilst I would have normally researched until the sun came up, that day I didn’t. All I could think about was something tragic. Something so tragic no one could question me. Cancer, it was the only thing I could come up with, because I never gave myself enough room to improve my imagination. It’s what everyone else died of, and it was the only cliché I knew as a writer.

So I died. I died of cancer.

Just as I had expected, cancer had done it. I never once thought about the real people out there dying, dying in true pain. I never once thought about the people that were losing their loved oned every day. I never once thought about how I would feel if I were the one losing each day to a disease so horrible you could barely talk barely eat barely do anything that made you think of happy thoughts. Instead I thought about the numbers.

So I died, and I wrote.

And I had never been more acknowledged in my life.

It was a sad existence, to only live in my own lie. Each lie was a reason for another lie, and after every lie I had to write down which lie came first, what was fact what was fiction, and I had to lie to everyone that gave a part of their heart to me believing the things I was saying. They shed tears for me, they upheld my name, they read my story, and all of this because of a lie.

But I couldn’t stop.

So I continued…

I continued so long so hard…and I’m still continuing.

What started off as innocent has become something brutal, and as of now it’s the only path I know.

I forgot how great it felt posting a chapter, how blissful the one reply was, how thankful I was to those that silently but diligently continued to click away. I forgot everything that was important about writing for my own joy.

I forgot it all because numbers became more important than words.

And even as I sit here writing this…reading this…I continue to live my lie.

I write this in hopes that one day when there is another writer that feels as if there is no way, that there is no hope, that you can’t get anywhere without numbers…will realize that there is always another way. Be honest in your writing, put your heart into it, put effort into your stories, love your story more than anyone else, believe in your ability…and in time, people will realize that they come to love your story because you love it too.

I pray that people don’t fall into the nightmare I have fallen to…

Because even though I’m still alive…

Even though I’m merely writing under a penname…

In the end…

I’m still dead.

Because I died of cancer…right after a car accident, that is.

But that story is for another one shot.
————————

QUOTE (INDOTRANS)

Para pembacaku tersayang…

Ada suatu saat waktu aku masih kecil.

Saat aku peduli tentang apa yang orang lain katakan, bagaimana aku diperlakukan, bagaimana anggapan orang lain tentangku.

Suatu waktu saat dimana aku membutuhkan bukti konkrit untuk mendefinisikan siapa aku.

Untuk mengingatkan diriku bahwa aku penting.

Bahwa kebohonganku dapat dan akan menjadi kenyataan.

Saat itu adalah saat-saat aku menulis, hidup dalam dunia fiksi yang tiba-tiba menjadi kenyataanku.

Menulis bukanlah hal yang mudah.

Pertama kalinya kau membuka Word, siap untuk menulis cerita pertamamu, saat itu adalah saat yang sangat mendebarkan. Semburan energi mengalir dalam dirimu saat kau mengimajinasikan semua yang akan kau dapat sebagai seorang penulis. Ratusan ide berkelebat dalam pikiranmu saat kau terhuyung-huyung mencoba menangkap setiap ide tersebut dan menggabungkan segalanya. Apapun untuk cerita yang sempurna. Lalu kau mulai, mulai dengan berbagai harapan, berbagai aspirasi, berbagai keinginan, dan berbagai ekspektasi.

Tapi kemudian itulah saat kau mulai jatuh.

Pada setiap chapter, kau mempertanyakan kemampuanmu. Kau bertanya-tanya apa yang kau lakukan salah. Dan kemudian kau mulai membandingkan. Tidak ada akhir dari keraguanmu, karena tidak ada balasan *replies*. Bagaimana kau tidak ragu saat tidak ada orang lain yang mengatakan padamu bahwa hasil kerjamu baik? Lalu kau mencari metode lain, cara lain, sesuatu yang lain daripada tersingkir dari tiga halaman pertama. Kau sangat ingin menulis, tapi kemudian sebelum kau menyadarinya, yang kau pikir bukanlah tentang apa yang kau tulis atau cerita apa yang kau ceritakan, atau bagaimana perasaan karaktermu, yang kau pikir adalah tentang jumlah.

Itulah saat aku berakhir. Pada lembah tak terbatas dimana hanya jumlah yang penting. Kata-kata indah, kalimat memikat, paragraf yang mematahkan hati, semua itu yang lebih penting dari segala-galanya, sudah digantikan oleh jumlah balasan, jumlah pembaca, jumlah rekomendasi, dan semua yang sebenarnya tidak pernah penting pada awalnya.

Kemudian aku mati.

Aku mati karena kanker.

Aku tidak yakin kanker jenis apa. Keputusasaanku menjadi seseorang yang lebih dikenal, seseorang yang dipedulikan, seseorang yang dipuja, semua itu menjadi lebih penting daripada semua logika yang tertinggal padaku. Di saat aku biasanya akan mencari sampai matahari terbit, tidak kulakukan hari itu. Yang dapat kupikirkan hanya sesuatu yang tragis. Sesuatu yang sangat tragis sehingga tidak ada yang dapat bertanya padaku. Kanker hanya satu hal yang dapat aku pikirkan karena aku tidak pernah memberi cukup ruangan agar imajinasiku dapat berkembang. Semua orang meninggal karena kanker, dan itu adalah satu-satunya klise yang aku tahu sebagai seorang penulis.

Kemudian aku mati. Aku mati karena kanker.

Seperti yang aku harapkan, kanker telah melakukannya. Aku tidak pernah sekalipun berpikir tentang orang sungguhan di luar sana sekarat, sekarat dalam kesakitan sungguhan. Aku tidak pernah sekalipun berpikir tentang orang yang kehilangan orang yang mereka sayangi tiap hari. Aku tidak pernah sekalipun berpikir tentang bagaimana aku akan merasa jika aku menjadi ia yang kehilangan setiap hari oleh penyakit yang sangat mengerikan sehingga kau hampir tidak dapat berbicara, hampir tidak dapat makan, hampir tidak dapat melakukan apapun yang dapat membuatmu berpikir sesuatu yang menyenangkan. Daripada semua itu, aku berpikir tentang jumlah.

Kemudian aku mati, dan aku menulis.

Dan aku tidak pernah lebih diakui dalam hidupku.

Itu adalah keberadaan yang menyedihkan, untuk hidup dalam kebohonganku sendiri. Tiap kebohongan adalah alasan untuk kebohongan lain, dan setelah semua kebohongan yang harus kutulis setelah kebohongan pertama, mana yang fakta, mana yang fiksi, dan aku harus berbohong pada semua orang yang memberi sebagian hati mereka padaku untuk mempercayai hal yang kukatakan. Mereka meneteskan air mata untukku, mereka menjunjung tinggi namaku, mereka membaca ceritaku, dan semua itu hanya karena kebohongan.

Tapi aku tidak dapat berhenti.

Kemudian aku melanjutkan…

Aku melanjutkannya dengan sangat lama dan sangat sulit… dan aku masih melanjutkan.

Apa yang bermula dari sesuatu yang murni telah menjadi sesuatu yang brutal, dan sekarang menjadi satu-satunya jalan yang kukenal.

Aku lupa betapa menyenangkannya mengepos sebuah chapter, betapa membahagiakannya satu balasan *reply* seseorang, betapa aku berterimakasih pada mereka yang secara diam-diam namun selalu rajin membaca ceritaku. Aku lupa semua yang penting tentang menulis untuk kesenanganku sendiri.

Aku lupa semuanya karena jumlah menjadi lebih penting daripada kata-kata.

Dan bahkan saat aku duduk disini dan menulis ini… membaca ini… aku terus hidup dalam kebohonganku.

Aku menulis ini dalam harapan bahwa suatu hari saat ada seorang penulis lain yang merasa seakan-akan tidak ada jalan, bahwa tidak ada harapan, bahwa kau tidak bisa apa-apa tanpa jumlah… akan menyadari bahwa selalu ada jalan lain. Jujurlah pada tulisanmu, curahkan hatimu padanya, curahkan usahamu dalam ceritamu, cintailah ceritamu lebih dari semua orang, percayalah pada kemampuanmu… dan suatu saat, orang lain akan menyadari mereka mencintai ceritamu karena kau mencitainya.

Aku berdoa supaya orang-orang tidak jatuh dalam mimpi burukku.

Karena walaupun aku masih hidup…

Walaupun aku hanya menulis dibawah nama penaku.

Pada akhirnya…

Aku masih mati.

Karena aku mati disebabkan kanker… tepat setelah kecelakaan mobil.

Namun cerita itu adalah cerita untuk cerita lain.

———————-

do you find it true?

semoga kita dapat mengambil pelajaran setelah membaca FF ini.


1 Response to “Dear Readers, I Died of Cancer”


  1. 1 Sarsay501
    June 5, 2011 at 10:18 am

    Wahh,dalem bgt artinya😥
    Saat kebahagiaan sulit ditemukan dengan akal sehat dan hati kecil :X (haduh saya bingung abs ngmg apaan.hehehee)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


RULES

Image and video hosting by TinyPic

Imagination Day

December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Fiction Categories

Looking For My Lovers

  • 62,839 Lovers

Tweeted

  • وما جعلنا أصحاب النار إلا ملائكة وما جعلنا عدتهم إلا فتنة للذين كفروا ليستيقن الذين أوتوا الكتاب ويزداد الذين آمنوا إيمانا -- سورة المدثر 2 hours ago
  • كان لنبينا سيف اسمه (ذو الفقار) وكان يحمله كثيرا. قبل معركة أحد رأى رؤيا وهي أن فيه كسراً, فأُول بأنه أحد عصبته (وهو مقتل حمزة) #نشر_سيرته 3 hours ago
  • سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أفضل قال إيمان بالله قال ثم ماذا قال الجهاد في سبيل الله قال ثم ماذا قال حج مبرور #Hadith #ﷺ 5 hours ago
  • إن اللـه لا يظلم مثقال ذر‌ة ۖ وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه أجر‌ا عظيما ﴿٤٠﴾ -- النساء #Quran 11 hours ago
  • اللهم إني أسألك خير هذا اليوم فتحه ونصره ونوره وبركته وهداه وأعوذ بك من شر ما فيه وشر ما بعده #أذكار_الصباح_المساء #hadith 1 day ago

%d bloggers like this: