19
May
11

[ONESHOT] Time, Please Stop

Title: Time, Please Stop

Author: Pea

Charachter:

  • B1A4’s GongChan
  • Davichi’s Kang MinKyung
  • Kara’s Goo Hara
  • B1A4’s Jinyoung
Genre: Fantasy, Romance, Angst
Rating: PG-15
Length: Oneshot ; 3916 Word
Summary: “He’s dying Minkyung-ah…”

Image and video hosting by TinyPic

‘Because you’re my light’

Since the first time I met you, I knew that I can’t live without you.

Because I need you’

Until now, I belive that you’re still alive

I’ll be stand by your side forever’

I know, you’re not lie, Time, Please Stop. Because,

‘I love you’

I love you too, Gongchan-ah

*

“Minkyung-ah..” Haruka, gadis keturunan Jepang-Korea itu mengibas-ibaskan tangannya didepan Minkyung, temannya yang sedang melamun.

Sementara itu orang yang dipanggil tetap asyik pada kegiatannya, melamun. Haruka menggelengkan-gelangkan kepalanya merasa kesal karena tidak digubris juga.

“Minkyung-aaahhhhh…” akhirnya sebuah teriakan keras yang keluar dari mulut Haruka berhasil membuat sebagian pengunjung café ‘Brown Cofee’ menolehkan kepalanya kearah mereka.

Tak terkecuali Kang Minkyung, gadis berambut hitam sebahu itu langsung berdiri dari tempat duduknya dan sekaligus tersadar dari lamunannya, mendengar namanya dipanggil dengan nyaring.

“hah, ada apa? Ada kebakaran? Haruka kenapa kau ada disini?” Minkyung celengak-celinguk memandang keadaan sekitarnya, tidak ada kebakaran seperti yang dikiranya. Lalu diapun mengalihkan pandangannya kedepan, melihat Haruka tengah menatapnya dengan tajam.

‘Eheheh…’ Minkyung menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal, lalu kembali duduk ke tempatnya semula.

“Melamun lagi hah?!” Tanya Haruka sambil menyusul Minkyung duduk.

‘Hmmm!’ Minkyung membalas pertanyaan Haruka hanya dengan deheman, lalu menyesap Capucinno nya yang sudah dingin.

“Minkyung, jawab yang benar. Kau melamunkan anak ingusan itu lagi?” Kali ini Haruka sedikit menaikan suaranya , berharap temannya itu mau menjawab pertanyaanya dengan serius.

“Haruka, sudah berapa kali aku bilang. Gongchan itu bukan anak ingusan!”

“Lalu aku harus memanggil dia apa? Dia itu memang anak ingusan, tidak tahu diri pula. Apa kau tidak bisa memikirkannya sedetik saja Minkyung-ah!” suara Haruka mulai terdengar melunak.

Minkyung menunduk mendengar perkataan yang keluar dari sahabatnya dari sejak kecil itu. Minkyung tahu Haruka tidak bermaksud menyinggung, apalagi menyakiti perasaanya dengan mengungkit-ungkit lelaki yang selalu dipikirkannya.

Gongchan, Bayangan-bayangan lelaki yang lebih muda tiga tahun darinya itu mulai berkelebatan di pikirannya.

Cara Gongchan tersenyum, tertawa, marah, lalu menangis ketika kalah dalam pertandingan basket. Mata Minkyung mulai memanas, masih teringat pertama kalinya mereka bertemu. Pertemuan pertama kalinya yang sebenarnya bisa dibilang berkesan buruk.

“Yah…berhenti kau pencuri…” samar-samar Minkyung mendengar suara-suara teriakan.

“Hei jangan lari!!” Suara-suara itu makin terdengar jelas ditelinganya.

Minkyung berbalik kebelakang, mencoba mencari tahu dari mana asal suara-suara itu berasal. Mata Minkyung menyipit, dilihatnya dari kejauhan seorang laki-laki dikejar oleh beberapa orang yang terus meneriakan kata-kata tadi.

Mata Minkyung yang tadinya menyipit kini membelalak, menyadari orang-orang itu berlari menuju kearahnya dengan jarak yang sudah dekat.Dia terpaku, ingin bergerak tapi rasanya kaku. Sampai dia tersadar setelah sebuah tangan menariknya ikut berlari.

Minkyung memandang tangan yang tengah menariknya, seorang lelaki berperawakan tinggi dan menggunakan SERAGAM sekolah. ‘seragam?’

“hei, berhenti..” suara-suara dibelakang mereka terus bersahutan. Minkyung mencoba melirik kebelakang.

“Jangan melihat kebelakang!” baru saja Minkyung akan menoleh, lelaki yang sedang menariknya tiba-tiba bersuara.

‘ha, kenapa dia tahu aku mencoba melihat kebelakang. Jangan-jangan dia cenayang?’ pikir Minkyung, dia  menggeleng-gelengkan kepalanya.

‘Hah..hah…’ Minkyung kehabisan nafas, dia sangat lelah. Sudah beberapa blok dia lewati tetapi orang-orang dibelakangnya masih tetap mengejar, Lelaki yang menarik tangannya pun belum berhenti.

‘apa dia tidak lelah?’ pikir Minkyung dalam hati.

“STOP!”  Ucap Minkyung keras, mencoba menghentikan Lelaki yang masih memegang tangannya.

Tetapi laki-laki itu tidak menanggapi ucapan Minkyung, dia tetap berlari. Sampai disebuah jalan bercabang dia menarik Minkyung dengan kuat, lalu bersembunyi dibalik drum-drum besar yang tidak terpakai lagi.

“Ah..” Minkyung mengaduh kesakitan ketika Tangannya di pegang terlalu erat. Sekarang dia pasti sedang mengucapkan sumpah serapah kepada laki-laki itu bila saja mulutnya tidak dibekap.

“Uhmphh…ow, kuang ajaw swekali”

“Shuutt…. Diamlah sebentar!” Ucap lelaki itu pelan.

Minkyung tidak bisa membalas, dia memandang wajah lelaki yang dari tadi menariknya itu. Jarak Wajahnya dengan lelaki itu sekarang hanya beberapa centi saja. Bahkan dia bisa merasakan nafas lelaki iut Dan Minkyung dapat melihat dengan jelas..

Hidungnya yang mancung, Warna Kulitnya yang terkesan pucat dibandingkan putih, rambutnya hitam legam dan sedikit acak-acakan. Terasa sangat sempurna, Untuk sejenak Minkyung merasa tidak tahu rasanya bernafas, entah kenapa tiba-tiba saja wajahnya terasa memanas dan jantungnya terus berdebar tidak karuan.

Sebutir air mata jatuh, menelusuri pipinya yang kemerah-merahan.

ah, Sorry, please forgive me. I did it instinctively, I did not mean to …”

Sejak awal Minkyung tidak pernah bermaksud untuk mencintainya. Tapi hatinya tidak bisa berbohong, rasa cinta itu mengalahkan egonya.

aish, why are you pulled me, and are you really a thief?”

Jika diberi pilihan, Sejak awal dia tidak pernah berharap ingin bertemu dengan lelaki badung macam GongChan Shik.

hufft, how to explain it? Err, No, I’m not a thief  I, I’m doing this just for fun. I just, i really want to find my father’s  attention ..”

Sejak awal Minkyung tidak pernah meminta dipertemukan dengannya bila akhirnya ceritanya akan berkahir menyakitkan seperti sekarang.

Minkyung menghapus air mata yang kini sudah menganak sungai di wajahnya. Dia mendongkak, tersenyum kepada Haruka.

“I’ll be waiting..”

*

‘Tiiit…Tiit..tiit..”

“how’s about  my son condition, doctor?” Mr. Gong menatap Dr. Lee dengan penuh harap.

“Still the same, no significant changes. Fortunately the organs still working so Gongchan can survive..” Jawab Dr. Lee dengan hati-hati.

Setelah penjelasan yang tidak ingin didengarnya dari Dr. Lee, Mr. Gong mengalihkan pandangannya kesosok Gongchan, anaknya yang kini tengah terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.

Dia tidak bergerak sedikit pun, satu-satunya penanda anaknya itu masih hidup adalah bunyi dari alat pendeteksi jantung yang berada di sampingnya.

“we can only hope in miracles…” Dr. Lee menepuk bahu Mr. Gong, kali ini bukan sebagai seorang dokter kepada orang tua pasien. Melainkan sebagai seorang sahabat yang mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya.

“ Gongchan-ah! Can you hear Appa?  if so, please get up. Appa doesn’t want you to leave, like your mother!”

*

You’ve got to be my man
Baby, I want your love. You, come to me
Oh, yeah yeah yeah. I got you, not a friend
Gonna be you, be fine. It’s you that I want, My Love-Hara

“Hey, wake up!”

Suara siapa itu?

‘Pletak’

“Aduh”

Gongchan memegang kepalanya yang terasa sakit, terkena pukulan  seseorang. Tapi siapa? Perlahan-lahan dia membuka matanya yang langsung disambut cahaya terang yang menyilaukan. Gongchan mengangkat sebelah tangannya, melindungi matanya dari cahaya itu.

“Ayo bangun!!” suara tadi kembali terdengar.

Gongchan menurunkan tangannya dan mendapati sepasang kaki kini telah menghalangi pandangannya. Dia mendongkak, dan mencari tahu siap pemilik sepasang kaki itu.

Seorang gadis berambut panjang bergelombang tengah menatapnya, Gongchan terpaku. Bahkan pada saat gadis itu menggerakan tangannya, mengulurkannya untuk membantu Gongchan berdiri. Gongchan tetap tidak bergembing.

“Ya, kau ingin tetap tidur-tiduran disini seharian hah? Pekerjaanmu masih banyak, kalau tidak, pohon-pohon berhargamu itu akan aku ambil?!” ucap gadis itu dengan nada mengancam.

Gongchan masih tetap diam, dia mengedip-ngedipkan matanya cepat.

“Yah..”

“Kau siapa?” akhirnya sepatah kata keluar dari mulut Gongchan.

Gadis itu mengerutkan keningnya, dia menurunkan tangannya yang dari tadi terus terulur kearah Gongchan.

“Apa maksudmu ’ Yoo’, kau jangan bercanda? Ini aku, Hara, Goo Hara?” Gadis itu memelankan suaranya sambil membungkukan badan agar dapat lebih jelas melihat Gongchan.

“Yoo, Yoo siapa?” Gongchan balik bertanya.

“Yoo, GongYoo, kau!” jawab Hara, menunjuk wajah Gongchan.

“Aku…” Gongchan menunjuk dirinya sendiri, mencoba mengklarifikasi ‘Yoo’ yang dimaksud.

“Tapi aku bukan GongYoo, namaku GongChan, dan aku sama sekali tidak kenal denganmu?!” Lanjut Gongchan.

Hara, raut wajah gadis dihadapannya itu berubah seketika setelah perkataan Gongchan barusan. Menurutnya, laki-laki didepannya itu adalah GongYoo, kekasihnya.

Wajahnya, suaranya, bahkan dia mempunyai bekas luka yang sama dengan GooYoo, luka yang berada di lehernya. tapi barusan dia berkata bahwa dia Gongchan dan bukan GongYoo.

Tidak mungkin, dia adalah GooYoo. Jika memang benar apa yang dia katakan, bahwa dia itu GongChan, lalu dimana GongYoo?

‘Siiing’

Mendadak kepala Gongchan merasakan sakit luar biasa, secara reflex dia memegang kepalanya. Rasa sakit itu makin menjadi.

“Yoo..”

Noona, wait for me at the park OK!

For What?”

“Pokoknya, tunggu saja!”

“Fine,I’ll be waiting..”

‘Suara Siapa itu?”

Pandangannya mulai blur, refleksi objek pengelihatannya pun mulai berubah menjadi dua. Lalu semua rasa sakit itu menghilang bersama dengan kesadarannya yang juga mulai menghilang, terambil alih oleh pekatnya kegelapan.

*

“Minkyung… Minkyung-ah!!” Suara nyaring haruka terdengar jelas di telinga Minkyung.

“Ada apa Haruka?” Jawab Minkyung sambil menutupi telinganya dengan bantal.

Sudah sesiang ini dan Minkyung masih bergumul dengan selimutnya, hari ini hari libur. Jadi Minkyung memanfaatkan dengan sebaik-baiknya kesempatan ini untuk tertidur sepuasnya, bahkan dia berencana akan tidur seharian. Terlalu malas untuk melakukan sesuatu walaupun itu adalah makan.

‘Brakk..’ Haruka membuka pintu kamar Minkyung dengan keras.

“Minkyung-ah, cepat bangun. Aku tahu kau sleepy lovers, tapi untuk sekali saja, aku mohon bangunlah, cepat!!” Haruka mengguncang-guncangkan tangan Minkyung yang masih memegang bantal untuk menutupi telinganya.

“Eumph, aku masih ngantuk Haruka-chan. Besok saja belanjanya?” balas Minkyung masih pada posisi yang sama.

“God, ini bukan tentang acara belanja-ku. Baiklah kalau kau tidak mau bangun. Tapi jangan pernah menyesal ya, kalau aku bilang bahwa ini tentang GONGCHAN!”

“Hah, Gongchan, kau tahu dia dimana?” Minkyung langsung terlonjak bangun begitu mendengar nama Gongchan, dia tidak peduli bahwa sekarang tubuhnya sedang mendindih tubuh Haruka.

“Ya ya ya..inilah sang Sleepy Lovers kita…” haruka memutar bola matanya

“Ah sudahlah, yang penting sekarang aku sudah bangun. Ada apa? Apa ada kabar terbaru tentang keberadaan GongChan?” Tanya Minkyung antusias.

“Well, sayangnya iya. Aku tahu dimana dia berada!”

“Benarkah?”

*

“Hara, siapa dia?” seorang lelaki bermabut Blonde menunjuk Gongchan yang kini tengah tidak sadarkan diri di pangkuan Hara.

Sementara Hara mengehela nafas.

“Ya ampun Jinyoung oppa, dia itu GongYoo. Siapa lagi?” jawab Hara sambil mengelus-elus rambut Gongchan.

“Hara, oppa tidak sebodoh itu. Tidak mungkin dia adalah GongYoo, kau tahu sendiri bahwa GongYoo……” Jinyoung tidak dapat meneruskan kata-katanya.

Hara menatap kesal kakaknya itu.

“Bahwa apa oppa? Bahwa GongYoo sudah tidak ada. Hah, tapi oppa lihat sendiri, sekarang GongYoo ada dipangkuanku!”

“Aishh, oppa sedang tidak ingin berdebat denganmu. Siapa dia?”

“dia GongYoo oppa..” jawab Hara tetap pada pendiriannya.

“Eumphh..” tangan Gongchan mulai bergerak, begitu pula matanya, mulai terbuka pelan-pelan.

Hara dan Jinyoung tersentak.

“Yoo, kau sudah bangun….” Tanya hara dengan nada cemas, dia membelai wajah Gong Chan.

“Ahh..” Gongchan memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.

Jinyoung mendekat kearah mereka dan membantu Gongchan bangun. Sementara itu Gongchan menatap sekelilingnya dengan bingung.

Dia memandang Jinyoung dan Hara bergantian. Begitu pula sebaliknya, Jinyoung memandang Gongchan dalam.

‘Dia benar-benar mirip GongYoo. Tapi mana mungkin?’ pikir Jinyoung dalam hati.

“siapa, siapa kau sebenarnya?” Tanya Jinyoung langsung, mengabaikan pandangan protes dari adiknya, Hara.

“GongChan, GongChan Shik..” Jawab Gongchan.

“Gongchan. Lalu kau berasal dari CLAN mana?” Tanya Jinyoung lagi.

“CLAN, apa itu Clan?” GongChan mengulang pertanyaan Jinyoung.

“Oke, cukup sudah. Jinyoung oppa, kau tidak seharusnya bertanya begitu pada GongYoo. Dia baru saja bangun,dia sedang tidak enak badan!” hara menghalangi pandangan Jinyoung yang tertuju pada Gongchan.

“Aishh, Hara. Jangan menyela pembicaraan orang. Aku ingin mengetahui siapa dia itu sebenarnya?”

“Tapi…” Protes Hara, tetapi terhenti saat Gongchan menyela perkataannya.

“Kalian siapa? Dan kenapa aku disini? Sebenarnya ini di mana?” Tanya GongChan bertubi-tubi.

“Kami?” Jinyoung menunjuk dirinya sendiri.

“Kami adalah Fairy dari Clan Pohon

“Fairy, what the…!”

*

“Haruka-chan, untuk apa kita kesini? Ini rumah sakit?”  Minkyung memandang heran temannya itu.

Sementara Haruka tetap diam, tidak menjawab pertanyaan Minkyung. Dia lebih memilih mempercepat jalannya dan menarik tangan Minkyung supaya bisa menyamai langkahnya.

Minkyung memanyunkan bibirnya, merasa kesal karena pertanyaannya tidak dijawab.  Dia memandang setiap ruangan yang telah dilaluinya, suasana rumah sakit memang tidak mengenakkan.

Minkyung mengalihkan perhatiannya pada Haruka yang tiba-tiba berhenti. Mereka berhenti tepat disebuah pintu ruangan bernomor 225.

“Haruka, kenapa berh…” perkataannya tiba-tiba saja berhenti, mata Minkyung membesar demi melihat apa yang ada didepannya.

Dia dapat melihat dengan jelas, walaupun dari Kaca tembus raungan yang  ada dipintu itu.

“Go…GongChan…” sebutir airmata jatuh melalui pipinya, lagi.

“Minkyung-ah, Sorry..”

“Haruka..”

*

Ada beberapa dunia di jagat raya ini,

 salah satunya dunia Fairy. Mereka, sebangsa Angel, tinggal di sebuah alam bernama Green Peas, tidak mempunyai sayap,tapi bisa terbang atau sebut saja Melayang. Mereka  hidup dari alam, dan menyebarkan kesegaran untuk sekelilingnya. Membuatmu terasa nyaman dan damai.

 Satu hal lagi, mereka tidak mempunyai kekuatan Magic apapun.  Mereka tidak perlu makan, hanya dengan mengirup kesegaran udara dari tanaman saja, itu sudah cukup.

Dan mereka tidak perlu repot-repot membangun rumah. Hampir seluruh waktu mereka habiskan untuk memelihara kedamaian, keindahan dan keamanan alam mereka. Tidur, tentu saja mereka perlu, mereka juga bisa merasakan kelelahan.

Mereka biasa tidur di tempat yang sesuai dengan Clan mereka masing-masing. Bila fairy itu dari Clan Flower, mereka akan tidur di Kelopak-kelopak bunga yang ukurannya besar, tentu saja ukurannya tidak sama dengan yang ada di dunia manusia.

Oh ya! Fairy itu dibagi menjadi 6 Clan. Clan Bunga, Clan Pohon, Clan rumput, Clan air, Clan Forest, dan yang paling tinggi itu Clan cahaya, mereka bisa disebut kalangan atas dunia Fairy.

Begitulah kira-kira penjelasan singkat tentang alam Fairy, alam dimana ia berada sekarang. Gongchan menghirup udara dalam-dalam, meraskan kesegaran yang amat sangat, kesegaran yang tidak pernah ia dapatkan di dunia manusia.

Dunia manusia?

Apa kabarnya dunia manusia sekarang, apakah sekarang di dunia manusia sudah menginjak tahun 2050. Dia sendiri tidak yakin apakah di alam Fairy ini ada kalender atau tidak. Atau berapa jam dalam satu hari?

Gongchan memandang sekelilingnya, bahkan sekarang dirinya tidak percaya bahwa dia ada di alam Fairy. Tapi keyakinan itu harus ia buang jauh-jauh, karena nyatanya. Kini ia sedang terduduk disebuah tempat tidur yang terbuat dari akar. Akar?

Jinyoung dan hara, mereka adalah Fairy dari Clan Pohon atau bisa disebut Peri Pohon. Jadi wajar saja kalau rumah mereka adalah sebuah pohon.

‘Kruuk..’

Gongchan memegang perutnya yang mengeluarkan bunyi pertanda minta diisi. Ia mengingat-ingat kapan terakhir kali ia makan? Ah, tapi bukan itu yang menjadi focus pemikirannya sekarang.

Gongchan masih penasaran kenapa tiba-tiba ia bisa tersesat di dunia Fairy?

Kemungkinan kau tersesat ke alam kami saat sedang melakukan pergantian alam. Well, tapi hanya orang atau makhluk tertentu saja yang bisa melakukan pergantian alam atau pergi kealam satu dengan lainnya.

Setahuku hanya ‘Fairy Cahaya, Shappire Angel, Red Devil dan Time Keeper’yang bisa melakukan pergantian alam.

Mungkinkah kau salah satunya?

Gongchan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa frustasi. Kenapa dia bisa tersesat di alam Fairy? Dia bukan salah satu dari makhluk atau apalah namanya itu- yang  Jinyoung sebutkan. Dia mulai mengacak-acak rambutnya tidak karuan.

“Bagaimana aku bisa kembali ke dunia manusia?”

‘Dan bagaimana keadaan minkyung noona setelah mengetahui bahwa aku menghilang. Padahal aku sudah menyuruh Minkyung noona untuk menungguku ditaman. Ah ottokhe? Bagaimana kalau dia terus menunggu dan aku tidak memenuhi janjiku karena terjebak di alam ini.’

Ah. Tunggu.

Gongchan memijit kepalanya pelan. Merasa ada sesuatu yang hilang dari memorinya, tapi apa?

Gongchan masih sibuk berpikir keras sampai tidak menyadari bahwa Hara sudah mengetuk pintu beberapa kali. Dan akhirnya dia menyerah, masuk ke ke ruangan di dalam pohon itu –tempat  Gongchan berada tanpa meminta izin terlebih dahulu.

“Yoo..” Kepala Hara menyembul dari arah pintu.

Tapi Gongchan tetap tidak menyadari kehadiran Hara.

“Yooooo…” kali ini suaranya keras sekali sampai Gongchan dibuat terperanjat karenanya.

“ahhh, aku kira siapa. Kenapa kau terus memanggilku yoo? Namaku Gongchan!!” Kata Gongchan  protes, lalu menurunkan tangannya dari dada setelah lepas dari rasa shock-nya.

“err, Yoo ah…Gongchan. Karena aku tahu kau itu ternyata manusia, jadi aku membuatkanmu makanan. Aku tahu manusia membutuhkan makanan untuk mendapatkan energy, tidak seperti kami  kaum fairy!!” perlahan-lahan Hara menggerakkan tangannya ke arah jendela dan muncullah beberapa sajian makanan lengkap diatas daun.

Gongchan dibuat melongo, dia terus memperhatikan bagaimana Hara meletakkan aneka makanan itu di atas meja dengan sekejap, perlu dicatat. Tanpa menyentuh makannya, dia melakukannya hanya dengan menggerakan tangannya sedikit.

Voila..

“Makanan…sudah siap..” Kata Hara, kali ini dengan seulas senyum tipis.

Gongchan ikut tersenyum. Dia memegang dadanya yang tiba-tiba bergetar melihat senyum Hara.

“Senyumnya begitu tulus, senyumnya mengingatkanku pada seseorang”

‘Minkyung noona..’

“Ini… tidak boleh…”

*

Sudah hampir seharian ini, dan Minkyung belum melepaskan mata dan tangannya dari sosok GongChan yang tidak bergerak sedikitpun. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali dia mengeluarkan air matanya, air matanya pun kini sepertinya sudah kering karena terlalu banyak menangis.

Satu bulan yang lalu, Gongchan dilarikan ke rumah sakit ini karena sebuah kecelakaan parah yang dialaminya. Dalam kecelakaan itu, semua korban tidak ada yang selamat. Kecuali Gongchan yang sampai saat ini masih berjuang untuk tetap bertahan.

Minkyung mempererat pegangan tangannya, dia mendekatkan diri ke wajah Gongchan dan mencium dahinya lembut. Kemudian Minkyung beralih, mendekat ke telinga Gongchan, berharap dia dapat mendengarkan kata-kata minkyung.

“I Love you, Gongchan-ah, please wake up soon..”

Dokter pernah berencana melepas semua alat yang menompang kehidupan Gongchan. Katanya, Gongchan sebenarnya sudah tidak bisa diharapkan lagi,hanya alat-alat itu saja yang memperlambat kepergiannya.

Tapi itu tidak benar kan, Minkyung-ssi? Anakku masih tetap bertahan, dan suatu hari nanti dia akan bangun dan tersenyum kepada kita.

Dan untuk segali lagi, Minkyung mencium dahi Gongchan lembut, kali ini lebih lama.

“I’ll be waiting…” dan kata-kata itu meluncur untuk kesekian kalinya dari bibir Minkyung.

*

“So?” Hara memandang Gongchan meminta persetujuan.

“Huh?” sahut Gongchan tidak mengerti.

“Are you ready?”

“For…?”

Wushhhh

“Hara, sudah kubilang aku tidak suka ketinggian!” Gongchan memjamkan matanya, tidak berani melihat kebawah.

“Ha ha ha..” Hara malah tertawa melihat Gongchan ketakukan dibawa terbang.

Kini mereka sedang melayang di atas dunia Fairy, dari atas dapat terlihat pemandangan Green peas yang sangat menakjubkan. Tapi tidak untuk Gongchan, dia tidak menikmati pemandangan itu karena Phobia ketinggian yang menyebabkannya selalu menutup mata saat dibawa terbang oleh hara lagi. LAGI.

Sebenarnya ini sudah ke empat kalinya dia dibawa terbang oleh Hara, selama ia tinggal di dunia Fairy. Dia tidak tahu sudah berapa lama dirinya tinggal disitu, tapi sepertinya dia sudah lama tinggal disana karena Gongchan telah mengenal kepribadian Hara dengan Baik.

Gadis itu, gadis ceria yang tidak pernah lupa tersenyum, apalagi ketika terbang seperti sekarang. Hara selalu tidak pernah akur dengan kakaknya sendiri, yaitu Jinyoung. Dia menebarkan aura kedamaian selama didekat Gongchan.

Tapi yang paling menyita perhatian Gongchan adalah ketika Hara membangunkannya saat pagi menjelang, membuka jendela ruangan gongchan. Wajahnya terterpa sinar matahari pagi, membuatnya terlihat bersinar dengan gaun putih ciri khas seorang Fairy.

Gongchan membuka matanya kembali ketika merasa sudah menginjak tanah lagi.

“Huh, akhirnya..”

‘Ah, Gongchan. Kau tidak seru, padahal kau harus lihat pemandangan Green Peas saat Sunset moment seperti ini..” Hara menggembukan pipinya.

Dan disaat seperti itu Gongchan tidak tahan untuk mencubit pipinya. Hara ingin protes tapi terhenti ketika Gongchan mendekatkan wajahnya.

“aku rasa pemandangan di depanku ini lebih indah daripada sunset di Green Peas…” Bisik Gongchan di telinga hara. Membuat wajah hara memerah.

“Maksudnya?”

“Kau begitu indah sampai aku tidak bisa memalingkan pandanganku untuk yang lain..”

Dan dengan sekejap bibir Gongchan bertemu dengan permukaan halus dahi Hara. Mereka memejamkan mata, menikmati udara yang tiba-tiba terasa lebih segar daipada sebelumnya.

Di tengah hutan Green Peas, semuanya, Pohon, bunga, rumput, air, dan binatang-bintang menyaksikan.

*

“Apa?” Minkyung menjerit keras begitu suara di seberang telepon menyelesaikkan kata-katanya.

“Minkyung-ah ada apa?” Haruka yang duduk disampingnya, penasaran.

“Haruka, Go..Gongchan…ah..” Minkyung menghambur ke pelukan Haruka dan menangis sejadi-jadinya.

“Kenapa dengan Gongchan, Minkyung ah?” Tanya Haruka sembari mengelus-elus punggung Minkyung untuk menenangkannya.

“GongChan, dia.. ayahnya bilang. Hari ini seluruh peralatan…. yang menompang kehidupan… GongChan akan dicabut!” Ujar Minkyung dengan susah payah. Nafasnya tersengal-sengal.

“Yoboseyo..” sahut suara diseberang telepon.

“Ya, saya sedang berbicara dengan siapa ya?” ucap Minkyung.

“Oh benar ini Minkyung-ssi. Saya Appanya Gongchan..”

*

“Kita mau kemana oppa?” Tanya Hara Kepada Kakaknya Jinyoung.

Kini mereka tengah melayang diatas Green Peas, menuju suatu tempat yang Jinyoung tuju.

“Istana Cahaya…” dan jawaban itulah yang menjadi tujuan Jinyoung.

“Istana Cahaya?” tanggap Gongchan bingung.

“untuk apa kita kesana Oppa? Jangan bilang kalau..” perkataan Hara terhenti

“Ya, kau bisa bernafas lega karena kau bisa kembali ke duniamu. Dunia manusia. Bukankah kau sudah sangat rindu duniamu itu. Peri cahaya bisa membantumu kembali!” Jawab Jinyoung sambil tersenyum lebar.

Sementara itu, Hara, adiknya mendadak berhenti. Jinyoung dan Gongchan berbalik.

“Ada apa Hara?” Tanya jinyoung

“Gongchan….please don’t leave me!” Hara mulai berkaca-kaca.

GongChan menatap Hara dengan sendu, lalu mendekat dan meraih tangan Hara. Mereka berpelukan.

“Aku tahu, tapi ini sudah waktunya aku kembali..”

“Tapi…” Hara mengencangkan pelukannya.

*

Minkyung memegang tangan Gongchan erat, takut tidak bisa memegang tangan itu lagi di lain waktu.

“Aku tahu, kau sudah bertahan terlalu lama Gongchan-ah. Mungkin ini memang yang terbaik, aku rela…”

Minkyung tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang mungkin akan menjadi kata-kata terakhir untuk Gongchan sebelum semua peralatan rumah sakit dilepas dari tubuh Gongchan .

Haruka meremas pundak Minkyung, mencoba memberi sedikit kekuatan pada sahabatnya yang rapuh itu.

“Aku merelakanmu, tapi sebelum itu, aku ingin kau mengetahui bahwa…I really..really love you..”

Minkyung memberikan kecupan terakhirnya.

Dokter dan beberapa suster sudah siap melepaskan alat-alat medis dari tubuh Gongchan.

*

“Don’t forget me..” ucap Hara, memberi pelukan terkahir untuk GongChan.

“I won’t..” balas Gongchan.

“Nah sekarang sudah waktunya..” ujar seorang peri cahaya kepada Gongchan.

“Jinyoung hyung, jaga adikmu dengan baik!” pesan Gongchan untuk terakhir kalinya.

Jinyoung membalasnya dengan mengacungkan jempolnya. Mereka tersenyum. Dengan perlahan-lahan Gongchan melepaskan tangannya dari Hara.

Tubuh Gongchan diselimuti cahaya. Dan yang terakhir kalinya ia lihat adalah senyuman Hara sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

‘See You Again, gongchan-ah’

“GongChan-ah, dia bangun, Haruka, Gongchan sadar..”

“Dokter, anakku..”

Suara itu, Minkyung noona, Appa?

Dengan perlahan-lahan Mata Gongchan terbuka. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum semuanya terlihat jelas.

Appanya dengan senyum lebar terus mengucapkan rasa syukur terhadap tuhan.

Haruka, teman Minkyung yang dikenalnya tengah tersenyum tipis sambil memegang bahu Minkyung.

Dan Minkyung, Minkyung sendiri langsung menghambur kea rah GongChan dengan terisak-isak. Mengucapkan kata-kata seperti..

“Pabo..”

“kau membuatku cemas setengah mati!”

“ jangan pernah lakukan itu lagi”

Sementara GongChan tersenyum dan membalas pelukan Minkyung.

“Noona, I miss You..”

Gongchan menghirup udara dalam-dalam, dan sensasi itu hadir lagi. Udara terasa lebih ringan, segar, dan terasa damai.

“Hara, aku tahu kau ada disini..”

Dan dengan itu, pohon-pohon diluar jendela ruangan tempat Gongchan dirawat, bergoyang. Daun-daun musim gugur berjatuhan, Sepertinya Peri Pohon tengah beraksi.

*

Dengan terburu-buru Gongchan berlari kea rah salah satu took bunga di pinggir Jalan. Hari ini acara Date-nya yang pertama kali dengan Minkyung setelah dia sembuh dari Koma selama satu bulan.

‘Selamat Datang’ ucap pemilik toko bunga itu.

GongChan tidak menghiraukan sapaan florist itu karena dia langsung sibuk memilih bunga yang cocok untuk Minkyung. Waktunya kini lebih berharga daripada hanya untuk membalas sapaan florist. Tentu saja, Minkyung sudah menunggu.

‘Aduh, minkyung noona suka Bunga apa ya?” Gongchan menggaruk-garuk kepalanya.

“Tuan, bagaimana kalau bunga lili putih saja..”

“Ah, betul bunga Lili….” Perkataan GongChan terhenti ketika melihat siapa yang ada di depannya.

Dia, Florist itu.

“ternyata, Kita bertemu lagi ya….GongChan-ah..”

Dan kemudian udara mendadak menjadi sejuk daripada biasanya.

“Hara”.

Fin

Epilog

Noona, wait for me at the park OK!

For What?”

“Pokoknya, tunggu saja!”

“Fine,I’ll be waiting..”

Gongchan memutuskan sambungan teleponnya dan tersenyum cerah.

‘Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan’ pikir GongChan.

Jauh-jauh hari dia telah menyiapkan ini semua. Gongchan telah menyiapkan kejutan di taman, rencananya dia akan bermain piano untuk Noonanya itu. Serta tidak luma candle light dinner dan pesta kembang api sudah ia siapkan dengan perfect.

Gongchan keluar dari Toko perhiasan dengan sepasang Cincin ditangannya.

“Noona, akan kubuktikan bahwa aku sudah dewasa, bukan seorang anak ingusan lagi. Supaya teman noona itu tidak bisa mengejekku lagi..hwaiting GongChan Shik!” Ujarnya menyemangati diri sendiri.

GongChan berjalan menyebrangi Jalan untuk mengambil motornya, tapi tiba-tiba sebuah mobil sedan datang dengan kecepatan tinggi, menabrak tubuh Gongchan dan menyebabkan tabrakan beruntun.

“Noona…” kata-kata terkahir yang ia ucapkan sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

*

“Tuan, ada seorang manusia yang jiwanya menghilang..” lapor seorang berjubah putih.

“Ap maksudmu?” Tanya seorang yang dipanggil Tuan.

“Jiwa manusia itu akan diambil oleh malaikat pencabut nyawa. Tapi karena salah memperhitungkan waktunya, jiwa dari manusia itu menghilang entah dimana, kemungkinan jiwanya tersesat di alam lain?”

“Siapa nama manusia itu?”

“Gong Chan Shik, tuan..”

*

Sementara itu Minkyung masih menunggu Gongchan di taman, walaupun sudah berlalu 5 jam. Tapi Pacar kecilnya itu belum datang-datang juga.

Dan sampai satu bulan kemudian GongChan tidak pernah muncul di hadapannya.

Tapi Minkyung tetap menunggu.

“I’ll be waiting, so Time, Please Stop..”

Maaf belum diedit- 


1 Response to “[ONESHOT] Time, Please Stop”


  1. 1 Sarah501
    May 31, 2011 at 4:07 pm

    wahh,keren.. Aku suka sm ceritanya ^^
    Jd terakhirnya Gongchan sadar kn+sm Minkyung kn ya?
    Cinta yg indah🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


RULES

Image and video hosting by TinyPic

Imagination Day

May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Fiction Categories

Looking For My Lovers

  • 62,839 Lovers

Tweeted

  • وما جعلنا أصحاب النار إلا ملائكة وما جعلنا عدتهم إلا فتنة للذين كفروا ليستيقن الذين أوتوا الكتاب ويزداد الذين آمنوا إيمانا -- سورة المدثر 2 hours ago
  • كان لنبينا سيف اسمه (ذو الفقار) وكان يحمله كثيرا. قبل معركة أحد رأى رؤيا وهي أن فيه كسراً, فأُول بأنه أحد عصبته (وهو مقتل حمزة) #نشر_سيرته 3 hours ago
  • سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أفضل قال إيمان بالله قال ثم ماذا قال الجهاد في سبيل الله قال ثم ماذا قال حج مبرور #Hadith #ﷺ 5 hours ago
  • إن اللـه لا يظلم مثقال ذر‌ة ۖ وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه أجر‌ا عظيما ﴿٤٠﴾ -- النساء #Quran 11 hours ago
  • اللهم إني أسألك خير هذا اليوم فتحه ونصره ونوره وبركته وهداه وأعوذ بك من شر ما فيه وشر ما بعده #أذكار_الصباح_المساء #hadith 1 day ago

%d bloggers like this: