11
Jun
11

[Series] Shelter – The Lost Angel (1/?)

Title: Shelter – The Lost Angel..

Author: Pea

Charachter:

  • Kangta
  • Zhang LiYin
  • Lee Taemin
  • Other Casts Still Hidden

Genre: Semi-Fantasy, Romance, Angst
Rating: PG-15
Length: Series ; 3752 Word

Disclaimer: only own the plot, not the cast *cry

A/N: terispirasi dari MV SM The Ballad – Miss You, tadinya mau masukin BoA tapi gak jadi karena gak dapet Feelnya, disini anggep Shindong lebih tua dari Kangta ya…

BG: Trax – OH! My Goddess, SS501 – My Girl, Seo In Kook – Beautifull Farewell.

Warning: UNBETA-Ed
Summary:  “Sebuah sayap putih yang indah membentang, sayap yang hanya dimiliki oleh malaikat. Entah kenapa cahaya terasa lebih terang daipada biasanya, mungkin karena sayapnya itu. Dia tersenyum manis sekali, tapi kemudian senyum itu menghilang seiring dengan bulu-bulu putih dan lembut berjatuhan di udara.

Sayapnya hilang dan dia juga hilang. Malaikat itu hilang.”

Image and video hosting by TinyPic

‘Tiit…tiit’

Seorang lelaki muda dengan rambut acak-acakan tengah terbaring pulas di ranjang king bed size bila saja suara itu tidak terus berbunyi dengan nyaring di meja dekat tempat tidurnya.

‘Tiit…tiit…’

“aish….” Desah lelaki itu, dia mengacak-acak rambutnya sehingga terlihat lebih berantakan lagi, matanya tetap tertutup, tapi tangan itu bergerak-gerak kesampingnya. Mencari benda yang mengeluarkan bunyi yang mengganggu tidurnya itu.

‘Pik’ akhirnya jarinya bertemu dengan tombol warna hijau dan langsung mendekatkan benda itu ke telinganya.

“Halo…” sambar suara di seberang sana.

“Hmm..” jawab lelaki itu dengan keadaan antara sadar dan tidak sadar.

“kangta-yah, dimana kau? Ini sudah jam Sembilan dan kau belum tiba juga di lokasi syuting, aishh cepat kesini. Para Kru sudah kesal menung….”

“Tunggu….” Kangta membelalakan matanya dan langsung terbangun dari posisinya dan melirik jam yang ada di meja di sebelahnya.

‘aishh hari ini kan aku ada syuting, ya ampun kenapa aku bisa lupa’ gerutunya dalam hati.

“Kau ada dimana? Haruskah aku menjemputmu?” sambung suara di seberang.

Kangta memukul dahinya keras dan langsung berlari ke kamar mandi, tangannya masih tetap memegang Handphone yang menempel di telinganya.

“A..a..aku sedang ada di jalan, sebentar lagi aku sampai. Sepuluh menit lagi, tolong bilang aku kesana sepuluh menit lagi!” Ujarnya berbohong, dia tidak ingin managernya itu kembali menceramahinya dengan kata-kata yang bisa membuatnya jamuran.

“baiklah aku tunggu”

“Tuut” sambungan terputus.

Kangta buru-buru menggosok giginya, membasuh wajah seadanya, lalu mengganti piyamanya dengan jas coklat muda dipadu dengan kaos dalaman warna putih, serta jeans putih yang pas di kaki jenjangnya. Dia berlari ke arah meja, mengambil parfum dan menyemprotkannya banyak-banyak.

Itu bisa membantu membuatnya harum tanpa mandi sekalipun, mungkin?

Dia melirik ke arah kaca di depan lemarinya, tampan. Tidak terlihat seperti belum mandi.

“ahhh…” dia mengerang kecil begitu melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 09.07. Itu artinya tiga menit lagi waktu yang tersisa untuk sampai ke lokasi syuting dengan tepat waktu.

Dan itu artinya juga sangat mustahil, karena perjalanan dari apartemen ke lokasi syuting membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Dan dengan pemikiran itu, dia, Kangta segera menyambar kunci mobilnya yang berada di meja dan berlari menuju mobilnya.

“hah kenapa aku bisa lupa kalau hari ini ada syuting sih? Hhh, mana ini syutingnya deadline lagi…” Kangta terus menggerutu sembari mengendarai mobilnya secepat yang dia bisa.

12 KmH dan itu sudah melampaui batas kecepatan maximum, dia tidak lagi memikirkan kecepatannya, Toh jalanan didepannya lengang, bahkan hampir hanya dua atau tiga mobil saja yang lewat. Kangta melirik lagi jamnya, sudah hampir jam setengah sepuluh.

Kangta kembali mengembalikan pandangannya kedepan ketika sebuah siluet tiba-tiba saja melintas didepan mobilnya, Kangta membelalak dan langsung membanting setirnya dengan cepat.

‘Ckiiit..’

‘Brakkk’

‘suara apa itu?’

‘haahhh..hahhhh’ kangta mencoba mengatur nafasnya ketika mobilnya berhenti dengan mendadak.

Setelah dirasa jantungnya kembali berfungsi dengan normal, dia melirik ke  arah belakang mobilnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menepis segala pikiran negative yang sekarang berkecamuk di otaknya.

“Tidak Kangta, tenanglah, barusan bukan apa-apa..” tapi kemudian pikiran itulah yang membuat Kangta membuka pintu mobilnya dan mencari tahu apa yang ia bentur ah, no, apa yang ia tabrak?

“Oh my god!” Kangta kembali membelalak dan menutup mulutnya, shock.

Seorang wanita tergeletak di belakang mobilnya dengan darah yang mengalir di dahinya dan merembes ke dress putih yang dipakai wanita itu. Tanpa bisa berpikir apa-apa lagi, Kangta segera mengangkat tubuh wanita itu dan memasukkannya ke dalam mobil.

Kangta segera men-starter mobilnya dan menjalankannya dengan kecepatan penuh, sesekali dia melirik kea rah belakang. Memastikan bahwa keadaan wanita yang ditabraknya tadi baik-baik saja. Well, tanpa harus dilihat pun, darah yang mengalir dari luka di kepala wanita itu sudah menjelaskan segalanya. Dia tidak baik-baik saja.

‘Ckiit’

“Ah apalagi ini, ya tuhan, jangan katakan kalau mobil ini mogok…” dan untuk kedua kalinya artis muda itu kembali keluar mobilnya dengan diliputi perasaan kacau.

“Aishhh…bagaimana ini..” Kangta memandang frustasi mesin mobilnya yang mengeluarkan uap.

Lelaki tampan itu berkacak pinggang dan memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan wanita di dalam mobilnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang sepi. Tidak ada mobil yang lewat satupun.

“ah kenapa tidak dari tadi..”  serunya ketika sebuah ide muncul, dia merogoh celana jeansnya, jasnya dan mengecek mobilnya. Tapi benda itu tidak ada, Handphone-nya tidak ada.

“Astaga…” Kangta merutuki diri sendiri ketika ingat bahwa handphonenya tertinggal di kasurnya ketika tadi Manager menelepon.

Kangta berjalan ke arah mobilnya  dengan cemas, dia membukakan pintu mobil untuk mengecek bagaimana keadaan wanita tadi. Apakah dia sudah mati kehabisan darah atau tidak? Tidak. Jangan sampai.

“Eh..” itulah sepatah kata yang dikeluarkan Kangta begitu melihat keadaan sang wanita.

Dia menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dan memandang wanita yang ada di mobilnya dengan tidak percaya dan kening berkerut. Tidak, dia tidak salah lihat.

Wanita yang tadi ditabraknya, tengah terbaring dengan mata tertutup di jok belakang mobilnya, tanpa luka maupun darah tertempel di tubuhnya. Tidak sedikitpun, padahal tadi ia yakin melihat darah segar mengalir dari dahi sang wanita dengan derasnya. Bajunya pun putih bersih tidak ada noda sedikitpun.

Walaupun ada sedikit rasa lega dan ruang untuk bernafas di paru-parunya yang tadi sempat meraskan sesak melihat keadaan wanita itu, tapi tetap saja ini merupakan suatu keganjilan. Bgaimana bisa? Ini sungguh aneh.

*

Kangta tahu, ketika dia berpikir bahwa managernya akan memarahinya habis-habisan, pikirannya itu akan terjadi. Karena sekarang dia sedang di ceramahi oleh sang manager yang notabene adalah kakaknya sendiri.

“……..Dan comebackmu akan diundur, kau tahu akan betapa pentingnya syuting itu untuk karirmu. Kita tidak sedang main-main kangta-yah…ya..Kangta-yah…” Shindong berseru kepada adiknya yang dari tadi terlihat hanya melamun dan tidak memperhatikan omongannya.

“eh…huh.. apa?” Tanya Kangta dengan tampang tidak berdosa.

“Aishh, kau ini tidak bisa diajak kompromi, sudahlahah, aku pulang dulu, sudah lelah setelah seharian ini mendapatkan semburan dari produser menyebalkan itu…” Shindong beranjak dari kursinya dan berjalan kea rah pintu café dengan cepat.

Sementara Kangta  memandang kepergian kakak sekaligus managernya itu dengan pikiran yang dipenuhi oleh kejadian tadi pagi yang membuatnya tidak habis pikir. Dia menggelengkan-gelengkan kepalanya mencoba mengusir bayangan wanita tadi. Tapi tidak berhasil, kejadian tadi dan keputusan nekat yang diambilnya terus berputar di otaknya.

“He…hei.. bangun…” kangta menepuk pipi wanita itu beberapa kali, mencoba menyadarkan wanita itu.

“Uh…” wanita itu mengeluarkan  erangan kecil dan perlahan-lahan membuka matanya.

“Hei…” Kangta menyapa wanita itu ketika merasa dia telah sadar sepnuhnya.

Wanita itu tampak terkaget, terlihat ketika matanya membulat dan tubuhnya beringsut menjauhi Kangta yang wajahnya hanya beberpa inci dari wajahnya.

“eh, maaf. Aku membuatmu takut ya?” ucap Kangta ketika menyadari sikap wanita itu.

Tapi wanita itu diam saja, mulutnya menutup rapat. Kangta memiringkan kepalanya, mungkin berkenalan dulu dengannya akan menjadi hal baik untuk menjelaskan apa yang tadi dialami wanita itu. Dan juga, meminta penjelasan bagaimana wanita itu bisa sembuh, mungkin?

“Ehm, perkenalkan namaku Kangta, siapa namamu nona?” Kangta menjulurkan tangannya sambil tersenyum, menunggu balasan dari wanita itu.

Tapi wanita itu tetap diam di posisinya, dia malah mengerutkan keningnya ketika kangta menjulurkan tangannya.

‘kenapa dia tidak mebalas uluran tanganku, bahkan dari tadi dia tidak berbicara sedikitpun. Apa dia mengenalku? Ah bodohnya kau Kangta-yah. Tentu saja, siapa yang tidak mungkin mengenalmu. Mungkin saja dia fansmu yang terlalu shock Karena melihatmu sehingga tidak bisa berbicara sedikitpun!”  pikir Kangta dalam hati.

Dia menurunkan tangannya ketika dirasa wanita itu tidak akan membalas uluran tangannya.

“Oh ya, dimana rumahmu? Biar nanti saja aku jelaskan semua yang terjadi, karena aku tahu pasti kau bingung kenapa bisa tiba-tiba terbangun dimobilku?”

Wanita itu tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya dan membuka mulutnya.

“A..aku tidak tahu rumahku dimana?” sebuah kalimat yang keluar dari mulut wanita tiu lebih mirip seperi sebuah bisikan. Tapi bisikan yang cukup keras untuk terdengar oleh Kangta.

“Eh, maskudmu?” Tanya kangta tidak mengerti.

“Aku tidak tahu dimana rumahku, aku tidak tahu bagaimana bisa disini dan..ah bukan, aku tidak bisa mengingat sama sekali tentang diriku sendiri..” jelas wanita itu, kali ini suaranya terdengar dengan jelas di telinga Kangta. Suara paling indah dan merdu yang pernah didengarnya. Berlebihan memang, tapi itu yang ia rasakan sebenarnya.

“Kalau begitu ikutlah denganku dulu, mungkin setelah kau beristirahat , kau akan mengingat lagi tentang dirimu. Aku rasa aku mengalami sedikit benturan di kepala yang membuatmu kehilangan ingatan, MUNGKIN?”  Jelas Kangta ragu.

Entah apa yang merasukinya, yang jelas dia mulutnya langsung meluncurkan kata-kata itu. Tidak memikirkan bagaimana reaksi managernya nanti kalau ketahuan membawa seorang wanita yang tidak dikenal ke apartemennya, tidak peduli bahwa nanti bisa saja ada paparazii yang tidak sengaja memoternya dengan wanita itu dan menyebarkan berita yang tidak benar tentangnya.

“ Ya ampun, apa yang telah kulakukan?” Tanya Kangta pada diri sendiri, tidak percaya pada apa yang ia lakukan.

*

‘Cklek’

Kangta membuka pintunya dan berjalan masuk ke dalam apatemen bernomor 225 itu. Dia berjalan masuk dan langsung menuju ke arah dapur, membuka kulkas dan mencari minuman yang dapat menyegarkan tenggorokannya yang dari tadi berteriak-teriak kehausan.

“Hai, kau sudah pulang?” kangta menyemburkan air yang diminumnya ketika sebuah suara datang dari arah belakangnya.

Dia berbalik dan melihat Zhang LiYin, wanita yang ditabraknya –well, Liyin memang tidak ingat siapa dirinya, tapi dia ingat betul namanya, sungguh aneh.

“Oh, kau. Aku tidak ingat kau ada di apartemenku ha ha…” Liyin tersenyum ketika mendengar perkataan dari Kangta barusan.

Sementara kangta untuk sesaat terpana melihat Liyin tersenyum, baru kali ini dia melihat senyuman semanis itu. Tanpa sadar bibir kangta ikut mengulaskan sebuah senyum, dia memandang LiYin dengan lekat.

Wanita itu tampak cantik dengan rambutnya yang digerai dan tubuhnya yang dibalut kemeja milik Kangta –yang kebesaran ditubuh Liyin- tidak mengurangi kecantikan wanita itu.

Kangta memutuskan meminjamkan kemejanya kepada LiYin karena wanita itu memakai gaun ketika dia pertama kali ditemukan. Dan kenapa tidak membelikan LiYin baju? Itu tidak mungkin mengingat dia adalah seorang artis yang tidak bisa berkeliaran sembarangan di sebuah toko pakaian dan membeli baju wanita. Apa yang akan media katakan?

“Kau belum mengingat apapun?” Tanya Kangta akhirnya, memcahkan keheningan yang terjadi beberapa saat. LiYin menggelengkan kepalanya dan menunduk kebawah.

“Tidak..” katanya dengan nada sedih.

Kangta menaruh gelas minumnya dan mendekati LiYin, lalau membiarkan tangannya maju merengkuh tubuh LiYin sehingga kini mereka ada dalam posisi berpelukan.

“Tidak masalah kau belum ingat apapun, aku akan tetap ada disisimu sampai kau kembali mengingat apa yang terlupakan…” bisik Kangta lembut di telinga LiYin.

Kangta tidak tahu kenapa ia bisa melakukan itu, hanya melakukannya dengan refleks dan kemudian hal itu datang. Derbaran-debaran di jantungnya, entah kenapa jantungnya serasa bekerja dua kali lipat dari biasanya ketika berada di dekat LiYin. Dia tidak tahu kenapa, tapi yang jelas rasanya nyaman sekali seperti itu.

*

Sudah satu bulan terlewati sejak kejadian itu, kejadian ganjil yang membawa Kangta bertemu dengan LiYin, gadis cantik yang kini mengisi hari-harinya. Dan untungnya tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan LiYin di apartemennya. Tidak Media, Publik, maupun kakaknya sendiri.

Sejauh ini baik-baik saja pikir Kangta. Dan hingga kini juga LiYin belum sama sekali mengingat siapa dirinya maupun masa lalunya, tapi itu tidak masalah.

Malah kangta merasakan suatu perasaan euporia mengetahui bahwa LiYin belum meningat siapa dirinya, karena ada sesuatu dalam diri Kangta yang membuatnya tidak ingin Zhang LiYin meninggalkan dirinya, tidak ingin bila nanti LiYin mengingat kenangnya dan ia akan meninggalkan Kangta  yang sudah terlanjur mencintainya, mencintai LiYin. CINTA, ya, cinta. terlalu cepat memang.

Kadang Kangta tidak habis pikir kenapa takdir bisa membawa LiYin kepadanya? Wanita itu wanita tercantik dan terANEH yang pernah Kangta temui. Aneh,  kata itu berkumandang di pikirannya begitu mengingat ketika pertama kali mendapati LiYin bersimbah darah dan sembuh dalam sekejap saja tanpa di diberi penanganan apapun.

“Silahkan dimakan…” suara merdu Liyin terdengar dan memaksa kangta kembali sadar dari lamunannya. Dan sejak kapan dirinya jadi sering melamun seperti ini? Sejak kedatang Zhang Li Yin mungkin, tidak tahu!

“Wah, aku rasa semakin hari kau semakin pandai memasak…” Puji Kangta begitu melihat berbagai macam hidangan di meja makan yang membuat perutnya berbunyi.

“Yah, itu pujian atau sindiran hah..” kata LiYin berpura-pura memasang wajah kesal.

“Ha ha ha, kau jadi begitu cantik ketika marah seperti itu..”

‘Blush’ Muka LiYin memerah, dia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata Kangta.

“Ah lihat, mukamu memerah, kau tampak semakin cantik saja…” Ujar Kangta sekali lagi, dia tampaknya senang menggoda LiYin dan membuat wajah wanita itu memerah.

“A..apa yang kau katakana? Sudah ah, cepatlah kau ada syuting kan…” balas LiYin mencoba mengalihkan pembicaraan.

Kangta hanya tersenyum dan melanjutkan kembali makannya yang tertunda.

“Eh, sebelum aku lupa, nanti jangan lupa beli lampu baru ya, kau tahu kan lampu di kamarku mati dan aku tidak suka kegelapan…” tambah LiYin lagi.

“Hmm, memangnya lampu kamarmu mati gitu? Kalau kau takut kegelapan kenapa tidak tidur dikamarku saja. bonusnya bisa aku peluk lagi…” ujar Kangta sambil menggoda.

“Aishh kau ini… biar kau percaya, aku ambilkan lampu yang mati-nya saja sekalian…” Tidak tahan dengan godaan kangta yang membuat wajahnya semakin memerah, LiYin berjalan ke kamarnya. Mengambil lampu kamarnya yang memang terletak agak rendah sehingga dia bisa mengambilnya.

‘Tring’

LiYin membelalakan matanya tidak percaya, Lampu yang dipegangnya tiba-tiba saja menyala. Lampu itu tidak tersambung dengan kabel atau alat listrik apapun, bagaimana bisa lampu itu menyala? Dan lampu itu menyala ketika tangannya menyentuh lampu itu.

LiYin masih dengan kondisi Shocknya ketika kangta datang kekamarnya karena penasaran kenapa LiYin lama sekali tidak keluar kamar.

“Yah.. kenapa kau lama se……..kali…” suara Kangta memelan ketika melihat LiYin.

LiYin yang sedang berdiri dengan lampu menyala terang di tangannya. LiYin mengalihkan pandangannya dari lampu itu untuk memandang Kangta yang tengah ternganga kaget di depan pintu kamarnya.

*

Dua bulan terlewati dan LiYin masih tetap berada di apartemen kangta. Sedikit demi sedikit Kangta mulai mengetahui siapa diri LiYin sebenarnya, bukan mengetahui juga sebenarnya, tapi dia hanya menerka atas apa yang telah mereka alami, kangta dan LiYin alami selama ini.

Dari mulai LiYin yang bisa menyalakan alat-alat listrik hanya dengan menyentuhnya saja, LiYin yang bisa menggerakan benda tanpa perlu menyentuhnya, seorang Zhang LiYin yang bukan manusia biasa. Setidaknya itulah yang Kangta ketahui.

Dia sudah banyak melakukan pencarian tentang siapa atau makhluk apa yang bisa melakukan hal-hal yang seperti LiYin lakukan, di internet, buku, bahkan parnormal pun ia datangi. Tapi hasilnya nihil, mungkin dari sekarang kangta harus menganggap LiYin itu manusia yang MUNGKIN mempunyai kelebihan. MUNGKIN?

Dan tentu saja hal-hal ganjil yang LiYin punya tidak sedikitpun membuat Kangta mundur untuk mencintai LiYin. Karena sejujurnya Kangta pun merasa senang bisa memiliki Zhang LiYin, dengan keberadaannya,  rekening listrik apartemen Kangta tidak lagi membengkak…eh bukan.

Bukan itu yang Kangta syukuri karena mendapatkan LiYin, dengan adanya LiYin, hatinya yang dulu membeku dan kosong kini telah mencari dan telah ditempati sang Wanita-yang-punya-kelebihan-itu.

Ha Ha…bahkan kangta ingin tertawa sendiri ketika Shindong akhirnya mengetahui bahwa ada seorang wanita di apartementnya. Dia bahkan memberi selamat kepada kangta, berterima kasih pada tuhan karena telah membuat Kangta mempunyai kekasih.

Karena entah disadari oleh kangta sendiri atau tidak, ternyata selama ini beredar kabar di media massa bahwa kesendiriannya sebagai seorang lelaki tampan, terkenal dan kaya raya tanpa didampingi ataupun dekat dengan wanita manapun membuat kangta diduga sebagai GAY. Ya ampun itu lebih parah lagi.

“Jadi, kapan kau akan mengumumkan hubunganmu dengan LiYin kepada public, aku sudah jengah dengan perkataan media massa yang berbicara tidak-tidak terhadapmu… masa kau seorang GAY, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalu adikku benar seorang Gay. GOD, apa kata ayah dan ibu kalau mendengar berita tentang anak kesayangannya ini….” Shindong terus mengoceh panjang lebar ketika sarapan di apartement Kangta pagi ini.

“Yah, sudah kubilang kan kalau aku takut LiYin belum siap menunjukan wajahnya kepada public sebagai pacarku…” jawab Kangta kesal, dia sebenarnya bukan kesal karena perkataan Shindong barusan, melainkan kesal karena hampir setiap hari Shindong selalu datang kerumahnya menumpang makan, bukan permasalahan makan-nya juga yang ia permasalahkan, tapi lebih kepada shindong yang selalu jadi pengganggu ketika Kangta ingin hanya berduaan dengan LiYin.

“Yah, kenapa kau tidak tanya saja pada LiYin, apakah dia siapa atau tidak utnuk muncul di depan public sebagai kekasih dari Kangta sang Idola…ha ha ha iya kan LiYin, kau sudah siap kan?” tanya Shindong sambil menghentikan makan-nya dan menoleh kea rah LiYin yang dari tadi diam saja.

LiYin terlihat berpikir sebentar lalu beberapa saat kemudian menganggukan kepalanya.

“Tuh kan, apa aku bilang!!” Shindong melemparkan padangan kemenangan kepada adiknya Kangta yang kini tengah memandang LiYin tanpa berkedip, lalu sebuah senyuman manis terukir dibibirnya.

*

Ketika janji suci itu telah diucapkan, maka mereka secara resmi telah terikat dan tak ada yang bisa memisahkannya lagi.

Tiga bulan terlewatkan dan waktu itu sudah cukup bagi Kangta yang akhirnya memutuskan untuk membawa LiYin keluar apartementnya dan menunjukan pada public bahwa LiYin lah kekasihnya. Besok, besok keputusan itu akan menjadi kenyataan.

Dan dengan itu senyuman kebahagiaan kembali terpancar di wajah kangta ketika keluar dari sebuah toko perhiasan, menggenggam sebuah benda kecil berkilau, sebuah cincin. Dia berencana memberikannya kepada LiYin malam ini juga.

Selama menyetir mobilnya pun senyuman itu tidak terlepas juga, sesekali dia memandang cincin itu dan langsung teringat kepada LiYin, wanita cantik itu, walapun dia masih belum mengetahui siapa Zhang LiYin sebenarnya, Zhang LiYin yang masih kehilangan ingatannya, Zhang LiYin yang……

Sebuah siluet putih tiba-tiba melintas didepan mobilnya, mengingatkannya pada kejadian LiYin tujuh bulan yang lalu.

“Ahhh….” Teriak Kangta keras, dengan cepat dia mengerem mobilnya. Tapi tidak terjadi apa-apa, tidak ada suara benturan atau apapun.

Dengan cepat kangta mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk dan menatap siluet putih itu. Bukan sebuah siluet, tapi dua orang laki-laki berpakaian serba putih yang kini tengah berlari kencang ke arah bangunan apartemennya. terlaru kencang untuk ukuran manusia biasa.

Sesaat kemudian Kangta mengerenyitkan keningnya dan sadar bahwa dia sudah ada di jalan didepan apartemennya, saking asyiknya mengamati cincinnya itu, kalau saja siluet barusan tidak mucul di depan mobilnya mungkin dia sudah melewati apartemennya ini.

Kangta berjalan dengan sumringah ke apartemennya sambil memegang dadanya yang tiba-tiba kembali berdebar dengan keras. Tapi tidak lama kemudian air wajahnya berubah seketika.

Pintu apartemennya terbuka, tidak biasanya. Walaupun LiYin ada didalam tapi pintu itu tidak pernah terbuka. Kangta merasakan firasat yang buruk, dengan cepat dia masuk kedalam apatemennya dan terkaget mendapati dua suliet asing tadi yang dilihatnya ada disana, Di apartemennya, sedang memegang tangan LiYin dengan erat di kedua sisi.

LiYin memandang  Kangta yang terdiam memandangnya tidak percaya, pandangan dua orang yang memegangi tangan LiYin kini teralih pada Kangta. Dua orang asing itu menggerakan tangannya ke arah Kangta.

Sakit. Kangta memegang dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri saat kedua orang asing itu mengarahkan tangannya kepadanya. Nyeri itu semakin parah.

‘brukk’

Kangta terjatuh ke lantai dengan memegang dadanya, kedua orang asing itu tetap mengarahkan tangannya, sementara LiYin mulai meneteskan air mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak bisa melihat orang terkasihnya menderita.

Ada sesuatu dalam dirinya yang minta dikeluarkan, tapi apa itu? LiYin sendiri tidak mengerti, dia ingin sekali MELINDUNGI Kangta, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, tidak dalam cengkraman kedua orang itu.

‘Arghhh…’ Kangta semakin kesakitan.

Aku mencintainya.

Aku Ingin melindunginya.

‘Zratttt….’

“Maafkan aku… aku berbohong padamu. Aku tidak kehilangan ingatanku, aku hanya terlalu egois untuk membiarkanmu tenang menjalani hidup sebagai manusia seutuhnya. Aku hanya terlalu menginginkanmu, seharusnya aku tahu bahwa ini akan menyakitimu. Maafkan aku, biarkanlah sekali ini aku melindungimu, Maafkan aku. Aku rasa ini sudah cukup, aku pergi.

“Tidaaakkkkkkk………….”

Sebuah sayap putih indah membentang, sayap yang hanya dimiliki oleh malaikat. Entah kenapa cahaya terasa lebih terang daipada biasanya, mungkin karena sayapnya itu. Dia tersenyum manis sekali, tapi kemudian senyum itu menghilang seiring dengan bulu-bulu putih dan lembut berjatuhan di udara.

Sayapnya hilang dan dia juga hilang. Malaikat itu hilang.

*

‘Tiit…tiit’

Seorang lelaki muda dengan rambut acak-acakan tengah terbaring pulas di ranjang bed size bila saja suara itu tidak terus berbunyi dengan nyaris di meja dekat tempat tidurnya.

‘Tiit…tiit…’

“aish….” Desah lelaki itu, dia mengacak-acak rambutnya sehingga terlihat lebih berantakan lagi, matanya tetap tertutup, tapi tangan itu bergerak-gerak kesampingnya. Mencari benda yang mengeluarkan bunyi yang mengganggu tidurnya itu.

‘Pik’ akhirnya jarinya bertemu dengan tombol warna hijau dan langsung mendekatkan benda itu ke telinganya.

“Halo…” sambar suara di seberang sana.

“Hmm..” jawab lelaki itu dengan keadaan antara sadar dan tidak sadar.

“kangta-yah, dimana kau? Ini sudah jam Sembilan dan kau belum tiba juga di lokasi syuting, aishh cepat kesini. Para Kru sudah kesal menung….”

“Tunggu….” Kangta membelalakan matanya dan langsung terbangun dari posisinya dan melirik jam yang ada di meja di sebelahnya.

‘aishh hari ini kan aku ada syuting, ya ampun kenapa aku bisa lupa’ gerutunya dalam hati.

“Kau ada dimana? Haruskah aku menjemputmu?” sambung suara di seberang.

Kangta memukul dahinya keras dan langsung berlari ke kamar mandi, tangannya masih tetap memegang Handphone yang menempel di telinganya.

“A..a..aku sedang ada di jalan, sebentar lagi aku sampai. Sepuluh menit lagi, tolong bilang aku kesana sepuluh menit lagi!” Ujar dia berbohong, dia tidak ingin managernya itu kembali menceramahinya dengan kata-kata yang membosankan.

“baiklah aku tunggu”

“Tuut” sambungan terputus.

Kangta buru-buru menggosok giginya, membasuh wajah seadanya, lalu mengganti piyamanya dengan jas coklat muda dipadu dengan kaos dalaman warna putih, serta jeans putih yang pas di kaki jenjangnya. Dia berlari ke arah meja, mengambil parfum dan menyemprotkannya banyak-banyak.

Itu bisa membantu membuatnya harum tanpa mandi sekalipun, mungkin?

Dia melirik ke arah kaca di depan lemarinya, tampan. Tapi, tunggu. Serasa ada sesuatu yang janggal, yang hilang.

Ini seperti sebuah Déjà vu.

Seperti pernah dialaminya.

Kangta menyipitkan matanya ketika menatap sesuatu berwarna putih dilantai. Apa itu?

Dia mengambil benda itu dan mengamatinya. Sebuah bulu berwarna putih. Bulu darimana? Sayap.

Sayap malakiat. Zhang LiYin.

Kangta menggendikkan bahunya, baginya bulu putih itu tidak penting ketika mengingat dia akan diomeli oleh managernya karena datang terlambat.

“Aishhh sudah jam 09.07…” Kangta berlari ke arah pintu.

‘tring…’

Sebuah benda mungil berkilau jatuh dari saku jasnya tanpa ia sadari. Sebuah cincin.

*

“ Jadi Kangta tidak mengingat LiYin begitu, Nek?” tanya taemin ketika neneknya selesai mengakhiri ceritanya.

“Begitulah…” jawab neneknya sembari tersenyum memandang cucunya yang polos itu.

“Lalu bagaimana dengan LiYin nek, kasian dong dia!?”

“Dia dihukum karena telah menyalah gunakan tugasnya sebagai malaikat penjaga!” jelas Nenek taemin.

“ha.. dihukum. Dihukum bagaimana?…” tanya Taemin penasaran.

“Aigooo, cucu nenek ini sepertinya penasaran sekali ya. Besok saja ceritanya nenek lanjutkan, sekarang kamu tidur, sudah malam, besok sekolah kan?”

Taemin mengerucutkan bibirnya dan terpaksa berbaring di kasurnya.

“Selamat malam…” ucap neneknya. My angel. Lanjutnya dalam hati.

Malaikat itu menerima hukuman atas kesalahannya. Terkena tuntutan atas penyalahgunaan tugasnya sebagai malaikat penjaga sekaligus jatuh cinta pada manusia yang ia jaga. Dewan malaikat memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepadanya dengan menjadikan malaikat itu menjadi manusia seutuhnya.

Tapi bahkan dewan malaikat pun tidak tahu,selain malaikat itu sendiri.

Bahwa sebuah janin berada dirahimya.

Janin dari sang terkasih dan malaikat itu.

Sebuah janin bernama NEPHILIM.

*

The End (?)


Rewind it to reload it
This heart, opened up and naked to fix this regret
So that we can make it happen in the future again
I’m supposed to nourish you but I can’t even see our memory

Shelter – JEJUNG&YUCHUN (from Tohoshinki)

A.N: Well, ini belum end sebenernya.. karena ini merupakan suatu permulaan. Lanjutannya akan aku buat dengan tokoh anak-anak SHINee, dengan genre yang sama, judul yang sama. Tapi lebih ke Supernatural, ceritanya: dunno, aku belum kepikiran…ha ha ha nantikan kelanjutannya hari rabu ya…!! See ya… love you all….

A.N2: eh ada yg lupa, entar lanjutan part 3 Fic ini bakal aku protect. He he dan juga ini FF tercepat yg aku kerjain, dari jam 1 sampe jam 5..wkwkwk * tebar bunga

TEASER..

Penasaran apa hubungan cerita ini sama Cerita SHINee mendatang? pengen tahu? stay tune on yestory…wkwk

Image and video hosting by TinyPic


8 Responses to “[Series] Shelter – The Lost Angel (1/?)”


  1. June 12, 2011 at 1:40 am

    *_* KENAPA PAS UDA ASYIK BACA MALA SELESEEE??
    LiYin kelewat innocent deh abis amnesia *peluk2 LiYin* unyuuu~ XDD
    KangTa beruntung banged dapet ‘temen apartemen’ kaya dia~
    (apa saya perlu nabrak mas2 di jalan buat dapet temen kos? *buakk!!) ^^

    LiYin kenapaaa pergiii?? WAEEE??! TT
    KASIAN KAN KANGTA-NYA~ why hurting yourseeelf?? Wae!! TT TT TT TT

    Tetem minta diceritain sebelum tidur? Aigo~ *ngusek2 Taem* Cute. <3333
    kenapa neneknya bilang taemin: my angel? jangan2 si tetem ada hubungannya ma LiYin ma Kangta?? ato jangan2.. nenek tu si LiYin? *digampar Pea* Maaf Pea,, imajinasi liar~ otak saya paling susah kalo disuru nangkep yang ginian ==; Too much mystery~ Yah!! Klo di protect saya gimana bacanyaaa?? Kasi PW-nya klo gitu~ *high5*

    Next~ Next~ <3333333

  2. 2 Pea
    June 12, 2011 at 3:42 am

    Mee, LiYin itu kagak amnesia, cia cuma pura-pura amnesia karena pengen bisa merasakan cinta bwt kangta *ceileh. jadi si LiYin itu sebenernya malaikat penjaganya Kangta dan jatuh cinta ma dia.
    kalo LiYin nggak pergi, Kangta mati dong *andwaee. Tenang aja, Kangta gak inget sama sekali tentang LiYin, soalnya ingatannya selama bersama LiYin udah dihapus ama Dewan malaikat..^^
    Jahahah Mee, tebakan kamu tentang taemin dan neneknya hampir bener,,… selamat *ngasih kolor Taemin..* upssss.jahaha
    Oke..oke, ups maksud aku, part yg ke3-nya yang mau diprotect…yap nanti aku kasih PWnya. *highfivetoo*

    OK will update soon..~~~

    • June 15, 2011 at 12:17 pm

      jangan kolor dong… =..=
      saya ga minat kolornya dia…

      wahahaha. ya maksud saya juga pura-pura nya kok. XDDD
      maaf ambigu.

      jadi… nenek-nya bukan si LiYin?? *Pea: BUKAN PABOOO!!* TT
      aih. ga kaget saya. otak saya terlalu dangkal buat baca fic mysteryyy

      • 4 Pea
        June 15, 2011 at 3:09 pm

        nananan *nyanyi RDD

        neneknya LiYin bukan ya? aku juga gak tahu…wkwkwk *digetok.
        Liat aja nanti lanjutannya….

        Ps: kenapa? kolor Taem kan harum (?) terus mau apa dong? CD Taem? *dikeroyok Taemints*

  3. June 12, 2011 at 9:32 am

    Pea! Aku tinggalin jejak dulu.. Hehe~ :p

  4. 7 Sarsay501
    June 12, 2011 at 3:26 pm

    Wahh seruu,ada Shinee nya ^^
    Aku tunggu lanjutannya🙂

  5. June 13, 2011 at 12:26 pm

    Loh? Kok? LiYin bneran mau ngilang aja? *??*
    Itu.. bukan.a dia hamil? Itu.. *nunjuk2 nephilim*

    Ini kjadian.a keulang lagi, kan? Kangta bkalan ktemu LiYin lagi gk, ya? Ah tapi kan dia udh ngilang..😦
    Tapi kok aku ngrasa.a LiYin gk ngilang gitu aja, ya? Bikin pnasaran, nih .__.
    Pea, lanjutan.a, ya..! Kekeke..😀

    Btw, sorry bru smpet komen skarang .___.v


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


RULES

Image and video hosting by TinyPic

Imagination Day

June 2011
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Fiction Categories

Looking For My Lovers

  • 62,839 Lovers

Tweeted

  • وما جعلنا أصحاب النار إلا ملائكة وما جعلنا عدتهم إلا فتنة للذين كفروا ليستيقن الذين أوتوا الكتاب ويزداد الذين آمنوا إيمانا -- سورة المدثر 2 hours ago
  • كان لنبينا سيف اسمه (ذو الفقار) وكان يحمله كثيرا. قبل معركة أحد رأى رؤيا وهي أن فيه كسراً, فأُول بأنه أحد عصبته (وهو مقتل حمزة) #نشر_سيرته 3 hours ago
  • سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أفضل قال إيمان بالله قال ثم ماذا قال الجهاد في سبيل الله قال ثم ماذا قال حج مبرور #Hadith #ﷺ 5 hours ago
  • إن اللـه لا يظلم مثقال ذر‌ة ۖ وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه أجر‌ا عظيما ﴿٤٠﴾ -- النساء #Quran 11 hours ago
  • اللهم إني أسألك خير هذا اليوم فتحه ونصره ونوره وبركته وهداه وأعوذ بك من شر ما فيه وشر ما بعده #أذكار_الصباح_المساء #hadith 1 day ago

%d bloggers like this: