11
Feb
12

Chingu? Sarang? (part 4)

 

Title        : Chingu? Sarang?

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Bang Minah [Girls Day], Kim Sang Bae, Yoon Bora [Sistar], Park Sandara [2NE1] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : hmm..Sepertinya ini bakal jadi fanfict terpanjang yang pernah author buat.hahahahahahaa

              Sebenernya ide udah menumpuk, cuma agak bermasalah pas nulisnya..

Nama-nama Dosen disini terinspirasi dari nama-nama orang Korea yang sekelas sama author di kampus, jadi bukan nama artis.hehe

              Mohon kritik dan sarannya ya buat next part Chingu? Sarang? ini ^^ Gomawo chingu. .

 

HAPPY READING!!!!

 

~Universitas Nasional Seoul~

“Sang Hyun-ah, apa kau sudah lihat dosen statistika yang baru?” tanya Sang Bae dengan bersemangat. Mereka berdua sedang berjalan di lorong menuju perpustakaan setelah mata kuliah Anatomi Manusia selesai.

“Belum, memang ada apa dengannya?” tanya balik Sang Hyun.

Tiba-tiba Sang Bae berhenti melangkah, di depan mereka, ada seorang wanita yang cantik dan anggun melewati mereka. Wanita itu tersadar bahwa ada 2 orang sedang terdiam menatapnya dan akhirnya wanita itu pun melontarkan senyumnya.

Beberapa detik kemudian, bayang wanita itu sudah tidak terlihat lagi.

“Sang Hyun-ah, kau lihat wanita tadi?” ucap Sang Bae yang jiwanya belum 100% sadar.

“Ne, waeyo?”

“Dia itu Dara, dosen statistika yang baru. Umurnya hanya lebih tua 4 tahun dari kita. Aku memperhatikannya akhir-akhir ini. Dia selalu memakai celana panjang bahan. Jarang sekali dia memakai rok selutut, padahal kalau dia memakai rok selutut, pasti dia terlihat lebih cantik” jelas Sang Bae yang seakan mengerti sekali kehidupan wanita yang sedang dipuja-puja diantara para dosen lelaki yang masih lajang.

“Ohh..” ucapan singkat yang melayang dari mulut Sang Hyun membuat Sang Bae geram.

“Kau itu, tidak bisa melihat wanita cantik sedikit.hahahahahaa” lanjut Sang Hyun sambil menepuk kepala Sang Bae dengan kertas yang digulung.

“Aaa. .Sang Hyun-ah, kau itu tidak boleh berpacaran dengan kitab-kitab itu. Kau harus melihat wanita cantik yang nyata” sahut Sang Bae sambil menunjuk ke arah buku-buku kedokteran dengan ketebalan 1000 halaman dan font tulisan Arial Narrow 10 yang sedang dibawa oleh Sang Hyun.

Sang Hyun hanya tertawa kecil dan tetap kembali melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Sang Bae pun mengikuti langkah Sang Hyun.

“Sang Hyun-ah, Sang Bae-ya.. Kalian akan kemana? Boleh aku ikut?” sahut Yoon Bora yang masih mengenakan jas lab putihnya mendekati mereka berdua.

…………………..

(Jiyeon P.O.V)

Bangku itu sendirian tanpa ada pemiliknya. Seperti ada yang hilang di dalam kehidupanku.

Tak ada lagi berbagi cerita bersama, tak ada lagi tawanya yang khas, tak ada lagi keluguan seseorang yang sedang aku rindukan kehadirannya.

Dooorrr

“Jiyeon-ah, kenapa kau jadi sering melamun?” tanya Minah setelah mengkagetkanku.

“Ani, gwaenchanayo” jawabku singkat sambil tersenyum paksa.

“Akhir-akhir ini kau jarang konsentrasi kuliah, matamu pun terlihat tidak bercahaya seperti biasanya. Apakah keadaanmu ini bersangkutan dengan kepergian Hyunseong?” pertanyaan Minah membuatku terbelalak.

“Ani..” jelas sekali aku sedang berbohong. Aku berpura-pura membuka dan fokus membaca materi di setiap halaman kertas dalam binderku.

“Ohh iya, ini milikmu kan? Sepertinya kemarin kau tinggalkan saat berada di taman belakang” sahut Minah memberikan pulpen berwarna putih dengan hiasan kepala kelinci putih di atasnya.

“Ne, gomawo” ucapku tanpa ekspresi. Aku akui, setelah perginya Hyunseong, aku selalu merasa bersalah dan perasaan itu semakin berat setiap bertambahnya hari.

Aku masih kepikiran, apa ya kira-kira yang akan Hyunseong katakan padaku?

Kalau hal itu tentang pribadinya, aku benar-benar teman yang buruk. Dia adalah orang yang tertutup, jarang sekali dia membicarakan soal keluarga atau bahkan perasaannya kepada orang lain.

“Jiyeon-ssi, kau tahu kita sedang mempelajari apa di kelas sekarang?” teriakan dari Dosen Shin membuatku kaget.

“Hmm..anu, tentang..” aku gelagapan bingung.

“Perhatikan ke depan, jangan ke bawah!” lanjut Dosen Shin.

“Choesonghamnida, sonsaengnim” ucapku dengan lemah.

Terlihat Minah menggelengkan kepalanya pelan dan menatap kecewa ke arahku.

(Jiyeon P.O.V end)

……………………………

“Dara-ssi, kenapa kau berminat menjadi dosen di kedokteran. Hal ini sangat membosankan lho” sapa Dosen Jong yang bertahun lahir 1984, sama seperti Dara.

“Memang apa salahnya dengan mengajar? Aku memiliki ilmu dan sudah seharusnya aku mentransfer ilmuku ini ke orang lain” jawab Dara singkat sambil membuka buku absen.

“Kau terlihat sedang sibuk ya? Tidak bisakah kita makan siang sebentar? Ini sudah pukul 12 siang. Kau tidak lapar?”

“Choesong hamnida, aku tidak lapar saat ini. Mungkin anda bisa pergi makan siang dengan yang lainnya” jawab Dara acuh. Sikap cuek Dara membuat Dosen Jong selalu penasaran terhadap dirinya yang asli. Dosen Jong yakin kalau Dara sebenarnya adalah sosok yang ramah dan bersemangat.

“Baiklah, kalau begitu. Aku keluar dulu” sahut Dosen Jong tanpa dijawab kembali oleh Dara.

15 menit kemudian, dari pintu ruang dosen terlihat Dosen Jong berlari-lari ke arah meja Dosen Park, yaitu Sandara Park.

“Apa yang kau lakukan, Jong Kyu Chae-ssi?” tanya Dara heran dan bangkit dari duduknya.

“Ini ada nasi, Bulgogi dan Soup Kimchi untukmu. Kau harus menjaga kesehatanmu” jawab Dosen Jong yang memang perhatian terhadap Dara.

“Lalu, kau makan apa?”

“Aku membeli Kim Bap ini” sahut Dosen Jong sambil memperlihatkan bungkus makanan di tangan kiri yang berisi Kim Bap dengan senyum terkembang di wajahnya yang polos.

Dara menghela nafasnya.

“Baiklah, mari kita makan siang bersama di taman” ajak Dara yang kemudian mengambil bungkusan makanan dari tangan kanan Dosen Jong. Hati Dosen Jong tergirang-girang dan dia pun melangkah mengikuti Dara.

“Sang Hyun-ah, bukankah di luar adalah Dosen Park? Eh maksudku Dara yang cantik itu” ucap Sang Bae tiba-tiba sambil menepuk pundak Sang Hyun.

“Ne, sepertinya dia dengan Dosen Jong. Mereka terlihat seumuran ya” jawab Sang Hyun dengan santai.

“Ne, mereka memang seumuran. Mereka makan siang bersama, andai aku yang berada di samping Dara yang cantik itu.

“Mwoya? Ini sudah makan siang? Aku harus pergi sekarang” Sang Hyun pun langsung meninggalkan Sang Bae sendirian.

“Yaaa, Sang Hyun-ah, kau mau kemana? Bora sedang membelikan kita makan siang. Apa yang harus aku katakan padanya kalau dia kembali tanpa ada kau?” perkataan Sang Bae di acuhkan oleh Sang Hyun.

“Aiisshhh.. anak itu” Sang Bae kesal terhadap Sang Hyun.

Sang Hyun yang terkadang akrab disapa Thunder berlari menuju fakultas yang ada di sebelah fakultas Kedokteran, yaitu Fakultas Sastra. Kedua fakultas ini hanya dipisahkan oleh sebuah Danau yang terdapat jembatan di antaranya.

……………………….

Headphone dan mp3 player melekat di sekitar Jiyeon, dia sedang menikmati alunan nada yang terdengar dari headphonenya di taman belakang Fakultas Sastra.

“Jiyeon-ah, aku belum telat kan?” sahut seorang pria dari belakang Jiyeon. Pengaturan volume suara mp3 Jiyeon tidak begitu kencang sehingga memungkinkan dia masih mendengar suara di sekitarnya.

Jiyeon melepaskan headphonenya dan menoleh ke belakang.

“Thunder oppa?” Jiyeon seakan tidak percaya kalau Thunder akan datang untuk yang ke 3 kalinya di waktu yang sama.

“Hahahahaa..Kau sekarang memanggilku dengan sebutan OPPA? Aku merasa lebih tua. Tapi ya memang aku sedikit lebih tua darimu.hehehe” Thunder tertawa kecil dan duduk di samping Jiyeon.

“Oh iya, ini untukmu. Makanlah yang banyak!” lanjut Thunder.

“Oppa membawa makan siang lagi? Apa tidak merepotkan?” tanya Jiyeon yang kini sudah mematikan mp3 playernya.

“Mogo mogo..” Thunder membuka bungkus makanan yang ternyata isinya adalah Tteokboki.

“Wahh, kesukaanku” sahut Jiyeon yang mulai mengambil sumpitnya dan mencoba tteokboki yang dibawakan Thunder. Thunder tertawa geli melihat Jiyeon dengan mulut penuh makanan.

Jiyeon tersadar kalau dirinya menjadi bahan tertawaan, dia pun menyumpit beberapa kue beras dan memasukkan paksa ke mulut Thunder. Sekarang mereka bertukar posisi, Thunder yang menjadi bahan tertawaan Jiyeon.

…………………….

“Yoboseyo, tuan muda” suara seorang yang sedang menelpon seseorang sambil memperhatikan 2 orang dari kejauhan.

“Wae?” jawab pria yang sedang ditelponnya.

“Mereka sedang berdua, terlihat bahagia dan tertawa bersama”

“Lalu apa lagi yang sedang mereka lakukan?”

“Mereka sedang makan siang bersama”

“Mwo? Mereka sudah dalam tahap yang lebih kah?”

“Aku tidak tahu, tuan muda”

“Baiklah, cari tahu status mereka berdua dengan mendekati salah satunya! Aku butuh informasi lebih lanjut”

“Keurae, tuan muda”

Pembicaraan di telepon pun berakhir.

……………………… ( 1 bulan kemudian)

“Jiyeon-ah, kau telah selesai kuliah sekarang?” tanya Thunder melalui ponselnya. Dia menelpon Jiyeon sambil berjalan keluar dari fakultasnya.

“Hmm..mungkin sekitar setengah jam lagi, oppa. Ini aku sedang ada kelas, sudah ya. Baru selesai pukul 10 nanti. Annyeong” Jiyeon pun buru-buru menutup pembicaraan dan kembali menaruh ponselnya ke dalam tasnya. Untung saja dosen yang sedang mengajar di kelas Jiyeon adalah dosen yang lumayan cuek.

“Jiyeon-ah, siapa yang menelponmu barusan?” tanya Minah menyelidik.

“Itu tadi Thunder oppa” jawabku seperti orang berbisik.

“Cieee, apakah kalian akan jalan lagi hari ini?” tanya Minah lagi.

“Menurutmu? Aku juga tidak tahu, dia hanya bertanya apakah kelasku sudah berakhir atau belum” jawabku sambil mencatat tulisan-tulisan yang banyak dan menempel di papan putih depan kelas.

“Semoga saja iya, aku pikir, Thunder sunbae adalah orang yang baik. Dia cocok denganmu.hehehe”

“Sudahlah, segera catat itu semua kalau kau tidak mau ketinggalan dan keburu dihapus oleh Dosen Kim.

“Ne” jawab Minah singkat dan kemudian kembali menulis. Sesekali dia melirik ke arah Jiyeon sambil tertawa kecil bahagia. Jiyeon meliriknya lagi dan mengeluarkan lidahnya, mereka bercanda bagaikan anak kecil.

“Sang Hyun-ssi, bisakah kau kemari sebentar?” Dosen Park memanggil seseorang yang akrab di panggil Thunder dengan sebutan Sang Hyun, karena di absen nama Thunder adalah Park Sang Hyun.

“Ada yang bisa aku bantu, Dosen Park?” tanya Sang Hyun setelah sampai di meja Park Sandara, Dosen Statistika.

Tepat sebulan yang lalu, Sang Hyun diangkat menjadi Asisten Dosen Park karena nilai-nilai akademik Sang Hyun sangat bagus apalagi dalam mata kuliah Statistika 1 dan Statistika 2. Sebagai dosen baru, Dosen Park butuh asistensi untuk mengurangi sedikit kerjaannya dan pastinya Sang Hyun dibayar atas kerjakerasnya membantu Dosen Park.

“Oh iya, kau hari ini datang ada urusan apa? Bukankah kau tidak ada kuliah di hari Jumat?” tanya Dosen Park untuk basa-basi.

“Oh itu, aku datang kemari hanya untuk menyerahkan laporan praktikum” jawab Sang Hyun sambil tersenyum. Dosen Park terlihat raut wajahnya berubah saat Sang Hyun tersenyum.

Senyum itu, seperti milik seseorang yang sangat aku kenal, gerutu Dosen Park dalam hati.

“Kalau begitu, bisakah kau memberikan beberapa materi asistensi di kelas hari ini?” tanya Dosen Park dengan memohon.

“Hmm..sejujurnya aku memiliki urusan” jawab Sang Hyun dengan sedikit ragu-ragu.

“Ayolah, tolong aku. Adik-adik kelasmu akan UAS sebentar lagi. Namun karena jamku hanya sebentar sementara materi ada lumayan banyak, jadi aku hanya memperkenalkan sedikit hal tentang materi dan tidak membahasnya lebih lanjut. Aku harap kau bisa memperdalam materi di kelas pukul 10 ini” jelas Dosen Park.

“Hmm..choesong hamnida, aku sepertinya tidak bisa. Bukankah ada Yoon Bora juga yang menjadi asisten Dosen Park?”

“Bora hari ini tidak bisa karena urusan mendadak katanya tadi di telepon. Aku harap kau bisa menggantikan Bora. Atau kau memiliki urusan dengan teman wanitamu?”

“Hah? Teman wanitaku? Hahahahaa” Sang Hyun tertawa kecil.

“Aku sering berada di kantin hanya untuk membeli segelas kopi dan aku melihat seorang wanita bertanya keberadaanmu pada teman-temanmu, namun sepertinya dia bukan dari Fakultas Kedokteran. Keesokan harinya terjadi hal yang sama dan beberapa saat kemudian, kau dan dia berjalan bersama. Jadi aku berpikir bahwa dia adalah yeojachingumu. Iya kan?” selidik Dosen Park dengan jahil.

“Ani, dia bukan yeojachinguku.hehehee” jawab Sang Hyun.

Namun aku berharap sebentar lagi iya. Lanjutnya dalam hati.

“Sudahlah, kita jadi mengobrol tidak terarah. Mian aku mengusik urusan pribadimu. Habis aku suka sekali bergosip.hehehe” jawab Dosen Park sekenanya. Dosen Jong yang berada tidak jauh dari meja Dosen Park melihat wanita itu dengan heran.

“Baiklah, kalau begitu, ini materinya” lanjut Dosen Park.

“Keurae. Aku pergi ke kelas terlebih dahulu” Sang Hyun pun pergi dari ruangan dosen menuju kelas tempat dia akan memberikan asistensi.

……………………

“Ini sudah pukul 10, dimana Thunder oppa ya?” Jiyeon selalu mengecek jam tangan ungunya, jam tangan itu pemberian dari Thunder saat ulang tahunnya yang bertepatan 1 minggu yang lalu yaitu 7 Juni.

“Kenapa tidak kau coba menelpon dia?” jawab Minah memberikan solusi.

“Ahh, kau betul juga” kini Jiyeon menekan nomor ponsel Thunder di layar ponselnya yang touchscreen.

“Wae?” tanya Minah lagi saat melihat Jiyeon memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Ponselnya tidak aktif. Ottokhae?” Jiyeon bingung.

“Masa aku harus ke fakultasnya dan bertanya keberadaan dia pada teman-temannya lagi. Aku malu harus melakukan itu. Sudah 3 kali aku melakukan itu, aku seperti orang gila” Jiyeon memanyunkan bibirnya setelah berbicara.

“Ya sudah, kita tunggu di kantin saja” Minah merangkul bahu Jiyeon dan kemudian mereka melangkah bersama menuju kantin.

………………………..

Sang Hyun sudah memulai kelas asistensinya dari 10 menit yang lalu.

“Lihatnya, sunbae itu ganteng ya. Andaikan dia yang paling sering memberikan asistensi. Aku pasti akan selalu datang dan mudah mengerti” sahut seorang yeoja yang memperhatikan Sang Hyun dengan segenap hatinya.

“Itu menurutmu, menurutku Bora sunbae menerangkan dengan jelas dan baik” sahut seorang namja. Sang Hyun ditugaskan disitu untuk mengajar, bukan untuk mengobrol. Jadi dia mengacuhkan pembicaraan 2 orang adik kelasnya yang duduk di paling depan dekat dengannya.

“Jadi ini …” belum sempat Sang Hyun melanjutkan penjelasannya, pintu kelas di ketuk dengan terburu-buru.

“Masuk” ucap Sang Hyun. Saat pintu terbuka, ternyata itu adalah Yoon Bora. Bora mendekat ke tempat berdirinya Sang Hyun.

“Bora-ya? Bukankah kata Dosen Park, kau ada urusan” sahut Sang Hyun dengan cepat karena dia bingung. Tahu begitu, Sang Hyun pasti tidak akan ke kelas dan sekarang dia sudah pergi dengan Jiyeon ke Seoul Lotte World.

“Baguslah kalau kau datang, ini bisa kau lanjutkan” Sang Hyun menggendong tas ranselnya bersiap keluar kelas. Namun Bora menahan langkah Sang Hyun dengan memegang lengan Sang Hyun.

Yeoja yang duduk di depan dekat dengan mereka langsung menggigit bibir bawah, dia menahan marahnya karena sunbae idolanya dipegang-pegang oleh wanita.

“Waeyo?” tanya Sang Hyun.

“Suaraku sedang habis, aku tadi habis dari dokter untuk berobat. Aku kemari untuk membantumu menghapus papan tulis sebagai ucapan minta maaf. Karena ini seharusnya adalah tugasku, sedangkan tugasmu yang sesungguhnya membantu mengolah nilai. Jadi aku ingin membantumu. Gwaenchana?” suara Bora serak dan ketika dia berbicara seakan butuh tenaga besar. Sang Hyun pun akhirnya menaruh kembali tas ranselnya ke atas meja dan kemal menerangkan tulisan yang telah dia tulis di papan tulis.

……………………………

“Dia terlalu sibuk ya..hmm” sahut Minah saat Jiyeon sedang bercerita padanya tentang Thunder.

“Ne, padahal dia pernah berjanji padaku. Kalau dia berjanji akan pergi namun ternyata batal karena dia sibuk. Aku boleh mengacuhkan dia gantian. Aku juga bingung kenapa dia berkata seperti itu, padahal kita tidak sedang berpacaran”

“Mungkin dia menyukaimu, Jiyeon-ah. Ya itu pasti benar!!!!!!!!!!!” jawab Minah dengan sangat yakin.

“Tidak mungkin hal seperti itu dapat terjadi..hahahahaa Kau ini, yang benar saja” Jiyeon tertawa agak keras.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Buktinya, kemarin saat kau bercerita ingin jalan-jalan ke Seoul Lotte World, dia langsung menjawab akan mengajakmu ke sana. Mungkin itu adalah hari ini” Minah bersemangat mengungkapkan feelingnya.

“Tapi ini sudah hampir 1 jam, dia tidak juga datang. Lalu apakah kau tahu lagi, saat aku mengetahui ternyata dia sedang melakukan asistensi, aku pun menghampiri kelasnya. Disana ada seorang wanita yang aku tidak kenal menunggui kelas. Aku dihalangi olehnya saat ingin masuk ke dalam” jawab Jiyeon dengan lesu.

“Jengmal? Siapa wanita itu?” tanya Minah selidik.

“Mollayo, dia menatapku dengan agak sinis dan mengatakan sesuatu yang membuatku menjadi sungkan untuk menemui Thunder oppa lagi”

“Dia berkata apa memangnya?”

“Hahahahahaa.. sudahlah, lupakan! Oh iya, kau bukannya akan ada ulang tahun kantor abojimu?” Jiyeon mengalihkan pembicaraan.

“Sabarlah! Aku yakin, semua akan ada jalannya” Minah menjawab sambil tersenyum menyemangatiku.

“Aku pulang sekarang ya, aku harus bersiap-siap. Annyeong!” setelah Minah pergi, Jiyeon melirik jam tangannya. Sudah pukul 11 waktu Seoul.

“Aku jadi penasaran, siapakah wanita itu ya?” tanya Jiyeon pada dirinya sendiri.

 

(Jiyeon P.O.V)

~Flashback~

“Silyehamnida, apakah kau tahu dimana Park Sang Hyun?” tanyaku pada seseorang yang sepertinya seumuran dengan Thunder oppa.

“Oh, aku tadi melihatnya ada di laboratorium, di pojok kiri lorong ini” jawab orang yang aku tanya tadi.

“Gamsahamnida” ucapku yang kemudian berjalan menuruti perintah laki-laki tadi.

Saat aku melihat ruang laboratorium, aku hanya melihat seorang wanita dan laki-laki, mereka teman dekat Thunder oppa, yaitu Yoon Bora dan Kim Sang Bae.

“Simyehamnida, Bora sunbae, Sang Bae sunbae. Apakah kalian melihat Park Sang Hyun?” tanyaku dengan sopan. Bora yang paling dekat denganku menoleh ke arahku sebentar lalu dia kembali sibuk dengan aktivitasnya yaitu menata gelas-gelas ukur.

“Aku tidak melihatnya” jawabnya singkat dan ketus.

“Bora-ya, apa yang kau lakukan? Kau sangat dingin” sahut Sang Bae sunbae yang kemudian berjalan mendekatiku.

“Sepertinya Sang Hyun ada di ruang 1.1.. Dia memberikan asistensi di ruangan itu” jawab Sang Bae sunbae dengan lembut.

“Oh, kalau begitu aku akan menghampirinya kesana. Gamsahamnida, sunbae. Aku pergi dulu” ucapku membungkukkan badan.

“Ne, hati-hati” jawab Sang Bae sunbae. Namun Bora sunbae hanya diam saja dan sibuk dengan ponselnya.

“Mengapa kau begitu dingin pada Jiyeon? Aku memperhatikanmu, kau bertindak seperti itu tidak hanya sekali, namun sudah tiga kali. Setiap kali Jiyeon datang menanyakan keberadaan Sang Hyun, kau selalu begitu. Wae? Apa yang salah dengan Jiyeon?” tanya Sang Bae sunbae dengan nada yang agak keras. Aku bersembunyi di balik pintu, aku menguping percakapan mereka.

“Aku tidak suka dengannya. Memang kenapa?” jawab Bora dengan acuh.

“Memang apa alasanmu sampai membenci Jiyeon?” tanya Sang Bae marah.

“Apakah aku harus memberikan alasan untuk kebencianku ini, hah? Kau itu memang siapanya?” jawab Bora dengan kesal.

“Aku memang bukan siapa-siapanya. Namun coba kau pikir, kalau kau menjadi Jiyeon dan kau dibenci oleh orang tanpa ada kesalahan yang pernah kau buat padanya. Apakah kau tidak merasa sedih?” jelas Sang Bae dengan emosi. Ruang laboratorium penuh dengan suara kemarahan mereka berdua, untung letaknya di ujung, jarang ada orang yang melewati.

“Kau mendengarkan aku atau tidak? Dengan siapa kau smsan?” tanya Sang Bae menyelidik.

Aku merasa tidak diterima oleh teman Thunder oppa, aku pun pergi dari laboratorium menuju ruang 1.1 yang dikatakan Sang Bae sunbae tadi.

Setelah dirasakan aku sudah hampir sampai ruang 1.1, di depan kelas itu ada seorang wanita sambil memasukkan ponselnya ke saku celana bahan hitamnya. Dia sangat cantik, kemeja berwarna biru muda soft dan celana bahan hitam yang pas dengan kakinya, membuatnya terlihat anggun. Saat aku berjalan melewatinya, dia menahan langkahku.

“Kau akan kemana? Ruang 1.1?” tanyanya dengan sinis.

“Keurae” jawabku singkat.

“Kau tidak masuk ke sana. Disana sedang ada asistensi” jawab wanita itu.

Darimana bisa dia tahu bahwa aku akan keruang itu dan dia sepertinya mengetahui kalau aku bukan mahasiswa sini, buktinya dia melarangku masuk. Dia pun menarikku untuk duduk di deretan kursi dekat ruangan 1.1

Di Fakultas ini, memang disediakan beberapa kursi di luar ruang kelasnya. Mungkin untuk mahasiswa yang menunggu bisa duduk sebentar jika ruang kelas yang akan dipakainya masih ada mahasiswa lain.

“Kenapa kau mencari Sang Hyun?” tanya wanita itu.

“Aku akan mengajaknya makan siang” jawabku sambil menghilangkan rasa takutku.

“Kau tahu kalau Sang Hyun sedang mengajar?”

“Ne”

“Lalu kenapa kau ingin masuk dan mengganggu di ruangan itu?”

“Aku tidak berniat menganggu, aku hanya ingin mengintip sedikit. Karena biasanya aku juga menunggu Sang Hyun oppa di kursi ini” jawabku mencoba mengklarifikasi tuduhan wanita itu.

“Kau tahu, Sang Hyun adalah mahasiswa terbaik di fakultas ini?” aku menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku.

“Tahukah kau setiap jam makan siang, dia selalu keluar kelas terlebih dahulu dan masuk dengan terlambat. Apakah itu ada sangkutannya denganmu?” tanya wanita itu dengan menatapku dingin. Aku menunduk, aku sadari akhir-akhir ini dia selalu makan siang denganku, aku tidak mengira kalau hal itu membuatnya menjadi buruk.

Aku mengangguk pelan.

“Aku perhatikan, dia akhir-akhir ini menjadi seperti itu. Aku harap kau bisa mengerti maksud ucapanku ini.

“Jadi kau berpikir kalau aku membawanya menjadi buruk, begitukah?” ucap Jiyeon dengan ragu-ragu dan pelan.

“Ya aku harap kau jangan kemari lagi bila bukan dia yang membutuhkanmu” jawabnya yang membuat jantungku langsung berhenti berdetak.

Apakah aku yeoja yang kegatelan? Sampai ada seseorang yang mengatakan hal ini padaku? Aku hanya ingin membalas perhatian Thunder, dia selalu menghampiriku ke Fakultas Sastra dan mentraktirku makan siang, jadi aku berpikir kalau aku bisa gantian menghampirinya ke sini dan mengajak serta mentraktirnya makan siang. Namun . . .

“Ne” jawabku sambil mengangguk pelan.

“Baiklah, aku harus pergi” wanita itu pun melangkah menjauhiku.

“Choesonghamnida” ucapku pelan dan kemudian aku pergi menjauh dari kelas itu.

~Flashback end~

 

“Jiyeon, kenapa kau mebuat orang yang kau sayang menjadi buruk sih? DASAR BABO!!” gerutuku sambil memukul kepalaku sendiri.

Tadi dia hanya bertanya “Jiyeon-ah, kau telah selesai kuliah sekarang?” lalu aku menjawab “Hmm..mungkin sekitar setengah jam lagi, oppa. Ini aku sedang ada kelas, sudah ya. Baru selesai pukul 10 nanti. Annyeong” lalu aku memasukkan ponselku kembali ke dalam tas.

Aku bangkit dari dudukku dan beranjak pulang, mungkin memang Thunder tadi menelpon hanya bertanya saja, untuk apa aku menunggunya di kantin selama satu setengah jam? Lagipula hari Jumat kan dia tidak ada kuliah..DASAR JIYEON BABO!!!!!!

(Jiyeon P.O.V end)

 

-To Be Continued-


6 Responses to “Chingu? Sarang? (part 4)”


  1. 1 Baek Young_Hee
    February 12, 2012 at 4:30 am

    Eonnie… next partnya kpn???? gk sabar nunggunya… kalo lama..aku gk mampir kesini lagi lho..*brcnda

  2. 2 sarsay501
    February 12, 2012 at 6:56 am

    Sabar ya, chingu..
    Jangan gitu doang :”””””””’
    Harus sering mampir kemari..🙂
    *maksa*
    Secepatnya aku berusaha selesein deh ^^v
    Makasih udah komen yaaaaa..

  3. 3 Yuniipark
    February 23, 2012 at 4:30 pm

    Hwaa q pnasaran ma klnjtan hubngan shanji couple..! ;>
    mga mrka cpe”brsatu…
    Part 5ny jngan lama ne!! ;>

  4. 4 Dezztidini
    February 23, 2012 at 4:35 pm

    Kyaaa udah ampe part 4 q ktinggalan part 3ny!!tpi brusan q dah bc part 3ny…hehe
    tpi comentny dsatuin dsini ja y g papa ka!! B-)
    shangji couple mkin dket ja dech,,mga jach d next part mrk dah jdian..hohoho :->
    next partny cptan keluarin y!! ;>
    hwaithing..

  5. 5 sarsay501
    February 25, 2012 at 5:17 pm

    Iya..sedang dalam tahap perebusan..hehehehe
    Sabar ya ^^
    Makasih banyak udah mampir dan komen di sini🙂🙂🙂

  6. March 3, 2012 at 9:15 am

    lanjutannya mana???
    penasaran…><


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


RULES

Image and video hosting by TinyPic

Imagination Day

February 2012
M T W T F S S
« Jan   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Fiction Categories

Looking For My Lovers

  • 62,839 Lovers

Tweeted

  • وما جعلنا أصحاب النار إلا ملائكة وما جعلنا عدتهم إلا فتنة للذين كفروا ليستيقن الذين أوتوا الكتاب ويزداد الذين آمنوا إيمانا -- سورة المدثر 2 hours ago
  • كان لنبينا سيف اسمه (ذو الفقار) وكان يحمله كثيرا. قبل معركة أحد رأى رؤيا وهي أن فيه كسراً, فأُول بأنه أحد عصبته (وهو مقتل حمزة) #نشر_سيرته 3 hours ago
  • سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أفضل قال إيمان بالله قال ثم ماذا قال الجهاد في سبيل الله قال ثم ماذا قال حج مبرور #Hadith #ﷺ 5 hours ago
  • إن اللـه لا يظلم مثقال ذر‌ة ۖ وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه أجر‌ا عظيما ﴿٤٠﴾ -- النساء #Quran 11 hours ago
  • اللهم إني أسألك خير هذا اليوم فتحه ونصره ونوره وبركته وهداه وأعوذ بك من شر ما فيه وشر ما بعده #أذكار_الصباح_المساء #hadith 1 day ago

%d bloggers like this: