Archive for the 'Continue' Category

09
Jun
12

Chingu? Sarang? (Part 5)

Title        : Chingu? Sarang?    

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Eunhyuk [Suju], Choi Sooyoung [SNSD], Bang Minah [Girls Day], Cho Kyuhyun [Suju], Kim Sang Bae, Yoon Bora [Sistar], Park Sandara [2NE1] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Maaf ya readers semua, aku baru update part 5nya sekarang u,u

Karena sekarang udah mulai liburan kuliah, jadi baru bisa update deh..Hehehehehee

Sampai part akhir udah kepikiran outlinenya, tinggal di ketik dan diperluas dg percakapan aja. Setia ngebaca dan menunggu di Feel My Soul ya! ^^

HAPPY READING!!!!

~Universitas Nasional Seoul~

“Minah-ya, aku takut untuk menghadapi UAS pertama besok, otteoke?” Jiyeon seperti biasa menggigiti kukunya disaat merasa panik. Minah menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

“Tenanglah Jiyeon-ah, kita pasti bisa melewati UAS kali ini!!!!!!! Hwaiting!” ucap Minah dengan tangan mengepal yang sedikit diangkat ke udara sambil mengedipkan sebelah matanya. Jiyeon ikut mengepalkan tangannya juga namun dengan ekspresi yang agak ragu-ragu.

“Ayooo kita cari buku referensi disini” ajak Minah dengan langkah kaki yang mantap memasuki ruangan yang penuh dengan bau tumpukan buku yang khas.

……………………….

Jam berapa ya sekarang? Thunder mengintip jam tangannya dengan menaikkan sedikit lengan kanan baju labnya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Thunder mencoba memalingkan pandangannya dari mikroskop yang ada dihadapannya.

“Jiyeon-ah, kenapa telponnya tidak diangkat?” gerutu Thunder kesal. Dia pun segera melepaskan pakaian lab dan sarung tangannya.

“Sang Bae-ya, aku pergi sebentar ya, nanti aku akan kembali. Oh iya, bolehkah aku meminjam mobilmu sebentar?” sahut Thunder sambil melangkah keluar dari lab.

“Siiippp, kuncinya ada di meja situ. Jangan lama-lama ya, kita harus menyelesaikan tugas ini hari ini juga!” Sang Bae berbicara sambil tetap memperhatikan objek dari lensa okuler mikroskopnya.

“Tentu!” jawab Thunder singkat dan kemudian terdengar samar lari Thunder.

Thunder mengetahui dari Minah sebelumnya kalau mereka akan menghadapi UAS mereka besok, maka Thunder pun berpikir kalau mereka sedang berada di perpustakaan.

Thunder melangkahkan kakinya menuju kumpulan buku sastra. Dengan pelan dia mendekatkan diri ke arah seorang wanita yang sedang menunduk, kemungkinan wanita itu tertidur saat membaca buku tebalnya. Dia mengeluarkan dua kaleng sedang cola yang dingin dan menempelkannya ke leher wanita itu. Dengan kaget wanita itupun terbangun dari tidurnya.

“Ahhh, oppa. Apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Jiyeon smabil mengucek matanya.

“Kau” jawab Thunder sambil tersenyum dan memberikan kaleng cola yang berada di tangan kanannya kepada Jiyeon.

“Oppa..” Jiyeon tersenyum malu dan sedikit menunduk.

“Kau sudah makan?” tanya Thunder sambil membuka kaleng cola yang berada di tangan kirinya. Jiyeon hanya menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, jangan minum cola ini dulu, kau harus makan nasi dulu” Thunder mengambil kembali kaleng cola yang sudah dia berikan untuk Jiyeon dan menarik tangan Jiyeon untuk segera makan malam. Jiyeon menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Minah yang sedang belajar keras sambil menutupi telinganya dengan headset.

“Ayoo kita cari tempat makan yang masih buka disekitar sini” ajak Thunder yang masih menggenggam erat tangan Jiyeon.

“Keurae” Jiyeon berjalan bersama Thunder yang melangkah dengan tempo yang cepat menuju mobil yang dia pinjam dari Sang Bae.

Setelah sampai di tempat parkir mobil, Jiyeon tidak mau mendekat ke arah mobil itu.

“Wae, Jiyeon-ah?” tanya Thunder yang kini melihat wajah Jiyeon yang sedikit ketakutan.

“Bisakah kita menggunakan sepeda saja?” jawab Jiyeon masih dengan ekspresi ketakutan.

“Kau kenapa? Kau memiliki trauma jika menaiki mobil?” tanya Thunder dengan khawatir. Jiyeon tidak bergeming.

“Aku akan berhati-hati dalam mengendarainya, tenang saja!” ucap Thunder meyakinkan Jiyeon. Jiyeon tetap menggelengkan kepalanya.

“Aku sungguh-sungguh akan berhati-hati” Thunder kembali meyakinkan Jiyeon.

Jiyeon tetap mengelengan kepalanya, kini terlihat dia menggeleng sambil airmata mulai menetes pipinya. Thunder menarik tubuh Jiyeon ke arahnya.

“Aku akan menjagamu, kau boleh memegang tanganku selama di dalam mobil, bagaimana? Tetap tidak mau naik?” ucap Thunder lembut. Jiyeon menganggukkan kepalanya dan mulai masuk ke dalam mobil. Mereka berdua berpegangan tangan selama di dalam mobil. Mereka sudah berkeliling di daerah luar sekitar kampus, namun sudah tidak ada lagi kedai yang buka. Akhirnya Thunder mencoba mencari kedaerah yang sedikit jauh dari kampus.

“Itu dia kedai ada kedai yang masih buka, ayo kita turun” ajak Thunder, namun tidak ada jawaban dari Jiyeon ternyata tertidur di bangku sebelahnya.

“Jiyeon-ah, kita sudah sampai, ayoo kita turun” ucap Thunder mendekat ke arah Jiyeon. Jiyeon tetap tidak membuka matanya.

“Jiyeon-ah” ucap Thunder lagi, kali ini dia menatap dalam wajah Jiyeon yang sedang tertidur. Dia mengelus lembut wajah Jiyeon yang putih dan mulus seperti bayi.

Kau begitu murni, sepertinya aku mulai mencintaimu. Thunder berkata dalam hatinya, hatinya tergerak untuk lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon.

“Aku tidak boleh melakukan hal ini, belum tentu Jiyeon juga menyukaiku” ucap Thunder pelan dan kembali duduk seperti semula.

Jiyeon perlahan membuka matanya.

“Kita sudah sampai?” tanya Jiyeon.

“Ye, ayo kita turun” mereka berdua pun makan malam bersama atau lebih tepatnya makan tengah malam bersama.

Dari kejauhan, ada sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari dalam mobil yang sedang terparkir dari arah yang berlawanan.

“Bastard!!! Dia mencuri Jiyeonku. Tak akan aku biarkan!” orang itu melihat kejadian seakan Thunder sudah mencium Jiyeon. Hatinya panas dan geram.

……………………

(Jiyeon P.O.V)

“Waaahhhh,aku tidak menyangka UAS kita sudah terlewati” ucap Minah dengan lega di luar kelas.

“Kau benar Minah-ya, aku juga merasakan hal seperti itu!” ucapku menimpali Minah. Tiba-tiba Eunhyuk sunbae datang dan merangkul kami berdua.

“Kalian donsaeng-donsaeng ku yang manis sudah lega ya, UASnya sudah selesai” ucap Eunhyuk sunbae seakan seperti bos minyak. Minah nampaknya risih dirangkul seperti itu, dia pun melepaskan rangkulan Eunhyuk sunbae.

“Hei Jiyeon-ah, kau tidak risih apa dirangkul monkey seperti dia?” sahut Sooyoung sunbae yang berada di belakang kami berdua. Aku menoleh kebelakang dan tersenyum.

Eunhyuk sunbae melepaskan rangkulannya dari bahuku dan mendekati Kyuhyun sunbae.

“Hei Kyuhyun-ah, jaga mulut yeojamu itu, kenapa sih dia selalu berkata kasar kepadaku?” ucap Eunhyuk sunbae dengan wajah memelas.

“Katakan saja pada Sooyoung sendiri” jawab Kyuhyun singkat.

“Aiiisshhh,kalian berdua ini, pantas saja kalian menjadi pasangan” Eunhyuk sunbae nampaknya kesal.

“Sunbae, aku pergi duluan ya, aku sedang ada urusan” ucapku pada Kyu, Soo dan Eunhyuk sunbae. Mereka bertiga mengangguk secara bersamaan.

“Annyeong Jiyeon-ah, hati-hati ya” sahut Minah sambil melambaikan tangan kepadaku. Aku pun melambaikan tangan kepada mereka semua.

“Yoboseyo oppa, bisakah kita bertemu sekarang, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” ucapku melalui pembicaraan di ponsel.

“Keurae, aku akan menunggu di halte fakultasku” aku pun menuju halte bus di depan fakultasku. Entah kenapa hari ini aku ingin selalu tersenyum, mungkin karena UAS telah selesai. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan halte bus.

“Jiyeon-ah, ayoo masuk” ucap seseorang yang berada didalam mobil sambil membuka kaca mobilnya. Setelah aku masuk ke dalam mobil, Thunder menawarkan tangannya untuk aku genggam selama perjalanan. Aku pun tersenyum ke arah Thunder.

(Jiyeon P.O.V end)

…………………….

“Hahahahahahahaa.. Jiyeon-ah kau makan sangat berantakan seperti bebek” Thunder menertawai Jiyeon yang sedang makan donat gula, banyak gula halus yang menempel di sekitar mulut Jiyeon.

“Oppa, cobalah donat ini, sangat enak lhoo” Jiyeon menyuapi Thunder untuk mencoba donat yang sama yang sedang dia makan. Setelah satu gigitan donat gula tersebut, ternyata gula halus juga menempel banyak disekitar mulut Thunder.

“Oppa, kau makan sangat berantakan, banyak sekali gula menempel dimulutmu” Jiyeon menyeka gula halus yang berserakan di mulut Thunder dengan tangannya.

“Kau juga” Thunder juga menyeka gula halus yang berada di sekitar mulut Jiyeon. Mereka kemudian tertawa kecil bersama.

Suasana berubah menjadi hening saat Thunder menggenggam tangan Jiyeon.

“Jiyeon-ah, aku rasa aku mulai mencintaimu” ucap Thunder sambil memegang tangan kanan Jiyeon erat. Jiyeon membelalakkan matanya, kaget bercampur senang kini berada di hatinya. Jiyeon tersenyum sambil menunduk.

Braakkkk, sebuah nampan yang berisi makanan tergebrak paksa diatas meja yang sedang ditempati oleh Jiyeon dan Thunder. Thunder langsung melepaskan genggaman tangannya dari Jiyeon.

“Bora-ya?” sahut Thunder ke arah wanita yang baru saja datang. Jiyeon memasang wajah kesal karena seeorang telah mengganggu momen indahnya.

“Bolehkah aku bergabung untuk makan bersama kalian?” tanya Bora dengan wajah innocentnya.

“Sunbae, bukankah ada banyak meja di sini, kenapa harus bergabung dengan kami?” ucap Jiyeon dengan kesal dan tiba-tiba.

“Kalau kau keberatan, baiklah, aku akan pindah tempat” Bora bangun dari duduknya. Namun Thunder menahannya dan kini Bora duduk di samping Thunder. Dia menggeser bangkunya mendekati Thunder. Jiyeon merasa bahwa dirinya sedang ditantang, maka dia juga menarik bangkunya mendekat ke arah Thunder. Thunder hanya diam saja saat Bora menggeser bangkunya, namun Thunder tertawa kecil saat Jiyeon juga menggeser bangku mendekat ke arahnya.

“Kalian ini seperti anak kecil” ucap Thunder.

………………….

“Hong Min-ssi, aku ke toilet sebentar ya!” sahut Sang Bae meminta izin kepada asisten lab medisnya. Sang Bae keluar dari lab medis, saat dia berjalan menuju toilet pria, dia harus melewati pintu toilet wanita. Ada sesuatu hal yang membuat Sang Bae berhenti tepat di depan toilet wanita.

“Tapi tuan muda, bagaimana caranya aku harus …” belum sempat wanita itu menyelesaikan omongannya, dia langsung terdiam mendengarkan lawan bicaranya di ponsel.

“Keurae tuan muda, aku akan mencoba sebisaku untuk membuatnya terluka”

Setelah dirasa wanita di dalam toilet itu selesai bicara, Sang Bae langsung masuk ke toilet pria dengan sedikit mengintip dari pintu.

“Dara sonsaengnim? Apa yang akan dilakukannya?” ucap pelan Sang Bae tidak percaya.

………………………..

“Chagi, kenapa kita hanya membeli satu es krim saja? Kau pelit” ucap Sooyoung sambil mengerucutkan bibirnya.

“Bukan pelit chagi, tapi aku ingin agar kita semakin dekat..hehehehee” jawab Kyuhyun sambil menjilati es krim di tangannya.

“Gantian-gantian, aku juga mau memegang es krimnya” rengek Sooyoung. Mereka berjalan tanpa melihat ke depan.

Brruuuukkk

“Es krimnyaaaaaa” teriak Sooyoung menangisi es krimnya yang terjatuh ke tanah.

“Choesonghamnida” ucap wanita yang telah menabrak Kyuhyun dan Sooyoung.

“Gwaenchana. Hmmm,aku sepertinya mengenalmu. Apakah tebakanku benar?” tanya Kyuhyun sambil membantu wanita itu berdiri. Sooyoung terlihat berapi-api.

“Kau sepertinya salah orang” jawab wanita itu yang kemudian mencoba melangkah pergi. Namun Kyuhyun menahannya.

“Aaaa, aku ingat siapa kau” jawab Kyuhyun sambil menjentikkan jarinya.

“Sudah aku bilang, sepertinya kau salah orang, aku tidak mengenalmu” jawab wanita itu kemudian melangkah dengan cepat meninggalkan Kyuhyun dan Sooyoung.

“Chagi, siapa wanita yang kau kenal itu?” tanya Sooyoung menyelidik.

“Hmm..aku juga sebenarnya tidak yakin, tapi saat aku melihat kakinya, ada tanda di kaki wanita itu yang membuatku mengenalnya” Kyuhyun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Sooyoung dari kejauhan melihat tiga orang yang sedang berjalan bersama namun satu orang diantaranya ada yang dia kenal.

“Jiyeon-ah” teriak Sooyoung kearah mereka. Kyuhyun berbalik badan dan kini melihat ke arah yang sama seperti Sooyoung.

“Sunbae, kenapa kalian disini?” ucap Jiyeon menghampiri mereka dengan langkah kaki kecil.

“Aku hanya sedang lewat dan mampir ke kantin FK (Fakultas Kedokteran) untuk mencoba mengunjungi toko es krim yang hanya ada di fakultas ini” jelas Kyuhyun sambil melihat ke arah Thunder.

“Aku sepertinya mengenalmu, apakah aku benar kali ini?” tanya Kyuhyun sambil berjalan mendekati Thunder. Bora yang berada di samping Thunder melihat Kyuhyun seperti orang bodoh yang sok kenal.

“Keurae, kau Kyuhyun kan?” tanya Thunder balik.

“Ahhhh,kau benar, aku Kyuhyun dan kau Sang Hyun kan? Park Sang Hyun?” Kyuhyun mencoba memastikan ingatannya.

“Kau benar, apa kabar teman lama? Sudah lama kita tidak bertemu” ucap Thunder sambil memeluk Kyuhyun.

“Mereka berdua adalah teman yang lama sudah tidak bertemu. Aku tidak percaya hal itu,sunbae” bisik Jiyeon ke arah Sooyoung.

“Na ddo” jawab Sooyoung yang masih terpaku melihat Thunder dan Kyuhyun yang saling mengenal.

“Jadi kau berkuliah disini juga? Fakultas apa?” tanya Kyuhyun sambil menjabat tangan Thunder erat. Thunder menjawab sambil menghentakkan kakinya ke tanah, menandakan jawaban dari pertanyaan Kyuhyun.

“HAH? Kedokteran? Aku tidak percaya hal itu.hahahahahahaaa” Kyuhyun tertawa keras membuat Bora, Sooyoung dan Jiyeon sedikit malu karena kini banyak orang yang melihat ke arah mereka.

“Kalau kau?” tanya balik Thunder.

“Aku berada disebelahmu” jawab Kyuhyun yang masih menyisakan tawanya.

“Engineering?” ucap Thunder dengan ragu.

“Ani, aku di fakultas Sastra” jawab Kyuhyun dengan mantap. Bora menatap Jiyeon dengan pandangan merendahkan, Sooyoung langsung melindungi Jiyeon dengan balik memelototi Bora. Bora langsung berdehem.

“Aku permisi pergi duluan” sahut Bora sambil membungkukkan sedikit badannya dan kemudian berjalan cepat meninggalkan mereka semua.

“Chagi, aku dan Jiyeon juga pamit duluan ya, kami ada urusan” sahut Sooyoung kemudian.

Jiyeon dan Sooyoung membungkukkan sedikit badannya dan kemudian pergi bersama menuju fakultas mereka.

“Oh iya Sang Hyun-ah, apa kabar keluargamu?” tanya Kyuhyun yang membuat Thunder menjadi bermuram durja.

“Sebenarnya Kyuhyun-ah, ada sesuatu yang mengenaskan terjadi pada keluargaku” jawab Thunder sambil menatap dalam Kyuhynun seakan beban itu sangat berat.

………………….

(Malam hari)

Jiyeon sibuk dengan hobinya yaitu membuat hiasan dari manik-manik. Di meja belajarnya telah berserakan kotak-kotak kecil yang berisi berbagai macam bentuk manik-manik yang akan dia tempelkan ke sebuah tempat pulpen.

Dreeettt dreeettt

“Yoboseyo” jawab Jiyeon saat mengangkat panggilan di ponselnya.

“Jiyeon-ah, ini aku Thunder. Bisakah kita keluar sebentar sekarang?” jawab Thunder.

“Tapi, pukul 10 malam asramaku sudah tutup”

“Tenang saja, ini baru pukul 7. Ayoolah, aku sudah menunggumu di luar asrama. Coba tengok kalau kau tidak percaya”

Jiyeon bangkit dari duduknya dan membuka sedikit tirai jendelanya, ternyata benar kalau Thunder sudah menunggu di bawah.

“Keurae, aku akan segera ke bawah, aku ganti pakaian dulu ya” ucap Jiyeon sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Thunder dan menutup tirai jendelanya lagi untuk segera berganti pakaian.

Thunder membukakan pintu mobil untuk Jiyeon yang pada malam itu sangat cantik bagaikan seorang putri.

“Kita akan kemana?” pertanyaan itu terlontar saat Thunder mulai menyalakan mesin mobilnya.

“Ke suatu tempat yang pastinya akan sangat kau sukai” jawab Thunder sambil tersenyum manis ke arah Jiyeon dan menawarkan tangannya untuk digenggam. Selama perjalanan, Jiyeon hanya terdiam, entah apa yang dia pikirkan. Berbeda dengan Thunder, dia terus tersenyum. Sesekali Jiyeon melirik ke arah Thunder, tanpa disadari oleh orang yang sedang sibuk menyetir itu.

“Nah, kita sudah sampai. Ayooo kita turun!” ajak Thunder yang kini sudah membukakan pintu mobil untuk Jiyeon.

“Oppa, bolehkah kita tetap berpegangan tangan?” tanya Jiyeon malu-malu sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Thunder.

“Tidak!” ucap Thunder singkat, membuat Jiyeon mengangkat kepalanya dan menatap Thunder dengan kecewa.

“Aku tidak bisa menolak hal itu” lanjut Thunder sambil meraih tangan kanan Jiyeon dan menggenggamnya erat. Kedua pipi Jiyeon terlihat memerah, Thunder pun segera mencubit pipi merah Jiyeon dengan tangan yang satunya.

Mereka pun segera melangkah memasuki gerbang sebuah istana bagaikan di dalam negeri dongeng. Jiyeon tersenyum riang melihat keadaan di dalam istana itu, terdapat berbagai pertunjukkan boneka yang mengulas kisah tentang jaman kerajaan dahulu kala.

“Oppa, boneka teddy yang gendut itu seperti dirimu” usai Jiyeon berbicara dan menunjuk salah satu boneka teddy yang gendut dan berkacamata, dia tertawa terbahak-bahak.

“Yang itu juga seperti dirimu, Jiyeon-ah” Thunder tak mau kalah membalas dengan menunjuk sebuah badut berbentuk bebek yang sedang membagi-bagikan snack untuk anak-anak.

Jiyeon langsung mengerucutkan bibirnya sebal. Thunder menarik Jiyeon untuk menelusuri lebih jauh istana tersebut.

………………………

Pembicaraan dua orang di dalam sebuah kafe di malam hari yang semula membicarakan hal ringan, kini menjadi pembicaraan yang berat.

“Dara sonsaengnim, aku tidak mengerti maksudmu” ucap Bora sambil terus menggenggam erat tas tangan kecilnya.

“Ya, aku hanya sekedar membantumu untuk dapat menjauhkan dia dengan wanita aneh itu” jawab Dara sambil menyeruput moccacino dihadapannya yang terlihat masih mengeluarkan sedikit asap.

“Tapi sonsaengnim, aku tidak ingin sampai terlalu begitu, aku sedikit tidak yakin dengan rencana sonsaengnim barusan” sahut Dara setelah berpikir agak lama, suara bergetar sambil terus menggenggam erat tas tangannya.

……………………

“Waaahhh” itulah kata-kata Jiyeon yang selalu diucapkannya ketika sampai di ujung menara Seoul.

“Kau menyukainya, Jiyeon-ah?” bisik Thunder di telinga Jiyeon dengan lembut. Jiyeon menganggukkan kepalanya sambil melihat ke arah Thunder.

“Kau kedinginan, tidak?” tanya Thunder tiba-tiba. Jiyeon masih terdiam tersihir dengan suguhan malam yang indah dari atas N.Seoul Tower. Thunder pun berinisiatif untuk melepas jaket yang dia kenakan, namun tertahan karena posisi tangannya masih bergandengan tangan dengan Jiyeon. Thunder mencoba melepaskannya agar dia bisa memberikan jaketnya kepada Jiyeon.

“Oppa” ucap manja Jiyeon sambil menyenderkan kepala di bahu Thunder. Thunder mengerti maksud Jiyeon, dia pun tersenyum ke arah Jiyeon.

Setelah puas melihat langit gelap yang sempurna di taburi bintang dan lampu malam kota, mereka berdua turun kembali ke bawah untuk menyeruput segelas kopi hangat.

“Oppa, terimakasih untuk hari ini” ucap Jiyeon sambil menghabiskan segelas kopi hangat digenggaman tangannya dan bersiri berhadapan dengan Thunder.

“Cheonmaneyo, Jiyeon-ah” jawab Thunder sambil membuang gelas kopi yang ada di genggaman tangannya ke tempat sampah kecil di sebelahnya. Kali ini genggaman tangan mereka sudah terlepas.

“Ayoo kita ke mobil” ajak Thunder, Jiyeon langsung membuang gelas kosongnya ke tempat sampah yang sama.

“Oppa, kau jam berapa ini kalau aku boleh tahu” tanya Jiyeon khawatir, dia baru ingat kalau asramanya ditutup pukul 11 malam.

“Masih jam setengah 11, kenapa?” Thunder menyelidik jam tangannya.

“Ani, ayoo kita segera pulang, sudah malam” Jiyeon sekarang melangkah mendahului Thunder. Thunder langsung meraih bahu Jiyeon dari belakang, setelah Jiyeon membalikkan badannya, Thunder langsung mencium bibir Jiyeon dan kemudian menutup matanya. Jiyeon membalakkan matanya karena kaget.

Thunder memeluk tubuh Jiyeon, namun Jiyeon masih tidak bergeming, badannya masih berdiri kaku. Tak lama kemudian, Thunder membuka matanya dan melepaskan tubuh Jiyeon dari pelukkannya.

“Ayoo segera masuk ke dalam mobil dan pulang, sudah malam” ucap Thunder sambil menarik tangan Jiyeon karena Jiyeon berdiri mematung sejka tadi.

Seseorang di dalam mobil yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua kini terlihat menitikkan air matanya.

“Jiyeon-ah, sebegitu gampangnyakah kau melupakan aku? Apaah aku tidak berarti untukmu” gerutunya di dalam mobil yang berAC dingin, sedingin udara di luar yang membekukan.

~To Be Continued~

Advertisements
11
Feb
12

Chingu? Sarang? (part 4)

 

Title        : Chingu? Sarang?

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Bang Minah [Girls Day], Kim Sang Bae, Yoon Bora [Sistar], Park Sandara [2NE1] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : hmm..Sepertinya ini bakal jadi fanfict terpanjang yang pernah author buat.hahahahahahaa

              Sebenernya ide udah menumpuk, cuma agak bermasalah pas nulisnya..

Nama-nama Dosen disini terinspirasi dari nama-nama orang Korea yang sekelas sama author di kampus, jadi bukan nama artis.hehe

              Mohon kritik dan sarannya ya buat next part Chingu? Sarang? ini ^^ Gomawo chingu. .

 

HAPPY READING!!!!

 

~Universitas Nasional Seoul~

“Sang Hyun-ah, apa kau sudah lihat dosen statistika yang baru?” tanya Sang Bae dengan bersemangat. Mereka berdua sedang berjalan di lorong menuju perpustakaan setelah mata kuliah Anatomi Manusia selesai.

“Belum, memang ada apa dengannya?” tanya balik Sang Hyun.

Tiba-tiba Sang Bae berhenti melangkah, di depan mereka, ada seorang wanita yang cantik dan anggun melewati mereka. Wanita itu tersadar bahwa ada 2 orang sedang terdiam menatapnya dan akhirnya wanita itu pun melontarkan senyumnya.

Beberapa detik kemudian, bayang wanita itu sudah tidak terlihat lagi.

“Sang Hyun-ah, kau lihat wanita tadi?” ucap Sang Bae yang jiwanya belum 100% sadar.

“Ne, waeyo?”

“Dia itu Dara, dosen statistika yang baru. Umurnya hanya lebih tua 4 tahun dari kita. Aku memperhatikannya akhir-akhir ini. Dia selalu memakai celana panjang bahan. Jarang sekali dia memakai rok selutut, padahal kalau dia memakai rok selutut, pasti dia terlihat lebih cantik” jelas Sang Bae yang seakan mengerti sekali kehidupan wanita yang sedang dipuja-puja diantara para dosen lelaki yang masih lajang.

“Ohh..” ucapan singkat yang melayang dari mulut Sang Hyun membuat Sang Bae geram.

“Kau itu, tidak bisa melihat wanita cantik sedikit.hahahahahaa” lanjut Sang Hyun sambil menepuk kepala Sang Bae dengan kertas yang digulung.

“Aaa. .Sang Hyun-ah, kau itu tidak boleh berpacaran dengan kitab-kitab itu. Kau harus melihat wanita cantik yang nyata” sahut Sang Bae sambil menunjuk ke arah buku-buku kedokteran dengan ketebalan 1000 halaman dan font tulisan Arial Narrow 10 yang sedang dibawa oleh Sang Hyun.

Sang Hyun hanya tertawa kecil dan tetap kembali melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Sang Bae pun mengikuti langkah Sang Hyun.

“Sang Hyun-ah, Sang Bae-ya.. Kalian akan kemana? Boleh aku ikut?” sahut Yoon Bora yang masih mengenakan jas lab putihnya mendekati mereka berdua.

…………………..

(Jiyeon P.O.V)

Bangku itu sendirian tanpa ada pemiliknya. Seperti ada yang hilang di dalam kehidupanku.

Tak ada lagi berbagi cerita bersama, tak ada lagi tawanya yang khas, tak ada lagi keluguan seseorang yang sedang aku rindukan kehadirannya.

Dooorrr

“Jiyeon-ah, kenapa kau jadi sering melamun?” tanya Minah setelah mengkagetkanku.

“Ani, gwaenchanayo” jawabku singkat sambil tersenyum paksa.

“Akhir-akhir ini kau jarang konsentrasi kuliah, matamu pun terlihat tidak bercahaya seperti biasanya. Apakah keadaanmu ini bersangkutan dengan kepergian Hyunseong?” pertanyaan Minah membuatku terbelalak.

“Ani..” jelas sekali aku sedang berbohong. Aku berpura-pura membuka dan fokus membaca materi di setiap halaman kertas dalam binderku.

“Ohh iya, ini milikmu kan? Sepertinya kemarin kau tinggalkan saat berada di taman belakang” sahut Minah memberikan pulpen berwarna putih dengan hiasan kepala kelinci putih di atasnya.

“Ne, gomawo” ucapku tanpa ekspresi. Aku akui, setelah perginya Hyunseong, aku selalu merasa bersalah dan perasaan itu semakin berat setiap bertambahnya hari.

Aku masih kepikiran, apa ya kira-kira yang akan Hyunseong katakan padaku?

Kalau hal itu tentang pribadinya, aku benar-benar teman yang buruk. Dia adalah orang yang tertutup, jarang sekali dia membicarakan soal keluarga atau bahkan perasaannya kepada orang lain.

“Jiyeon-ssi, kau tahu kita sedang mempelajari apa di kelas sekarang?” teriakan dari Dosen Shin membuatku kaget.

“Hmm..anu, tentang..” aku gelagapan bingung.

“Perhatikan ke depan, jangan ke bawah!” lanjut Dosen Shin.

“Choesonghamnida, sonsaengnim” ucapku dengan lemah.

Terlihat Minah menggelengkan kepalanya pelan dan menatap kecewa ke arahku.

(Jiyeon P.O.V end)

……………………………

“Dara-ssi, kenapa kau berminat menjadi dosen di kedokteran. Hal ini sangat membosankan lho” sapa Dosen Jong yang bertahun lahir 1984, sama seperti Dara.

“Memang apa salahnya dengan mengajar? Aku memiliki ilmu dan sudah seharusnya aku mentransfer ilmuku ini ke orang lain” jawab Dara singkat sambil membuka buku absen.

“Kau terlihat sedang sibuk ya? Tidak bisakah kita makan siang sebentar? Ini sudah pukul 12 siang. Kau tidak lapar?”

“Choesong hamnida, aku tidak lapar saat ini. Mungkin anda bisa pergi makan siang dengan yang lainnya” jawab Dara acuh. Sikap cuek Dara membuat Dosen Jong selalu penasaran terhadap dirinya yang asli. Dosen Jong yakin kalau Dara sebenarnya adalah sosok yang ramah dan bersemangat.

“Baiklah, kalau begitu. Aku keluar dulu” sahut Dosen Jong tanpa dijawab kembali oleh Dara.

15 menit kemudian, dari pintu ruang dosen terlihat Dosen Jong berlari-lari ke arah meja Dosen Park, yaitu Sandara Park.

“Apa yang kau lakukan, Jong Kyu Chae-ssi?” tanya Dara heran dan bangkit dari duduknya.

“Ini ada nasi, Bulgogi dan Soup Kimchi untukmu. Kau harus menjaga kesehatanmu” jawab Dosen Jong yang memang perhatian terhadap Dara.

“Lalu, kau makan apa?”

“Aku membeli Kim Bap ini” sahut Dosen Jong sambil memperlihatkan bungkus makanan di tangan kiri yang berisi Kim Bap dengan senyum terkembang di wajahnya yang polos.

Dara menghela nafasnya.

“Baiklah, mari kita makan siang bersama di taman” ajak Dara yang kemudian mengambil bungkusan makanan dari tangan kanan Dosen Jong. Hati Dosen Jong tergirang-girang dan dia pun melangkah mengikuti Dara.

“Sang Hyun-ah, bukankah di luar adalah Dosen Park? Eh maksudku Dara yang cantik itu” ucap Sang Bae tiba-tiba sambil menepuk pundak Sang Hyun.

“Ne, sepertinya dia dengan Dosen Jong. Mereka terlihat seumuran ya” jawab Sang Hyun dengan santai.

“Ne, mereka memang seumuran. Mereka makan siang bersama, andai aku yang berada di samping Dara yang cantik itu.

“Mwoya? Ini sudah makan siang? Aku harus pergi sekarang” Sang Hyun pun langsung meninggalkan Sang Bae sendirian.

“Yaaa, Sang Hyun-ah, kau mau kemana? Bora sedang membelikan kita makan siang. Apa yang harus aku katakan padanya kalau dia kembali tanpa ada kau?” perkataan Sang Bae di acuhkan oleh Sang Hyun.

“Aiisshhh.. anak itu” Sang Bae kesal terhadap Sang Hyun.

Sang Hyun yang terkadang akrab disapa Thunder berlari menuju fakultas yang ada di sebelah fakultas Kedokteran, yaitu Fakultas Sastra. Kedua fakultas ini hanya dipisahkan oleh sebuah Danau yang terdapat jembatan di antaranya.

……………………….

Headphone dan mp3 player melekat di sekitar Jiyeon, dia sedang menikmati alunan nada yang terdengar dari headphonenya di taman belakang Fakultas Sastra.

“Jiyeon-ah, aku belum telat kan?” sahut seorang pria dari belakang Jiyeon. Pengaturan volume suara mp3 Jiyeon tidak begitu kencang sehingga memungkinkan dia masih mendengar suara di sekitarnya.

Jiyeon melepaskan headphonenya dan menoleh ke belakang.

“Thunder oppa?” Jiyeon seakan tidak percaya kalau Thunder akan datang untuk yang ke 3 kalinya di waktu yang sama.

“Hahahahaa..Kau sekarang memanggilku dengan sebutan OPPA? Aku merasa lebih tua. Tapi ya memang aku sedikit lebih tua darimu.hehehe” Thunder tertawa kecil dan duduk di samping Jiyeon.

“Oh iya, ini untukmu. Makanlah yang banyak!” lanjut Thunder.

“Oppa membawa makan siang lagi? Apa tidak merepotkan?” tanya Jiyeon yang kini sudah mematikan mp3 playernya.

“Mogo mogo..” Thunder membuka bungkus makanan yang ternyata isinya adalah Tteokboki.

“Wahh, kesukaanku” sahut Jiyeon yang mulai mengambil sumpitnya dan mencoba tteokboki yang dibawakan Thunder. Thunder tertawa geli melihat Jiyeon dengan mulut penuh makanan.

Jiyeon tersadar kalau dirinya menjadi bahan tertawaan, dia pun menyumpit beberapa kue beras dan memasukkan paksa ke mulut Thunder. Sekarang mereka bertukar posisi, Thunder yang menjadi bahan tertawaan Jiyeon.

…………………….

“Yoboseyo, tuan muda” suara seorang yang sedang menelpon seseorang sambil memperhatikan 2 orang dari kejauhan.

“Wae?” jawab pria yang sedang ditelponnya.

“Mereka sedang berdua, terlihat bahagia dan tertawa bersama”

“Lalu apa lagi yang sedang mereka lakukan?”

“Mereka sedang makan siang bersama”

“Mwo? Mereka sudah dalam tahap yang lebih kah?”

“Aku tidak tahu, tuan muda”

“Baiklah, cari tahu status mereka berdua dengan mendekati salah satunya! Aku butuh informasi lebih lanjut”

“Keurae, tuan muda”

Pembicaraan di telepon pun berakhir.

……………………… ( 1 bulan kemudian)

“Jiyeon-ah, kau telah selesai kuliah sekarang?” tanya Thunder melalui ponselnya. Dia menelpon Jiyeon sambil berjalan keluar dari fakultasnya.

“Hmm..mungkin sekitar setengah jam lagi, oppa. Ini aku sedang ada kelas, sudah ya. Baru selesai pukul 10 nanti. Annyeong” Jiyeon pun buru-buru menutup pembicaraan dan kembali menaruh ponselnya ke dalam tasnya. Untung saja dosen yang sedang mengajar di kelas Jiyeon adalah dosen yang lumayan cuek.

“Jiyeon-ah, siapa yang menelponmu barusan?” tanya Minah menyelidik.

“Itu tadi Thunder oppa” jawabku seperti orang berbisik.

“Cieee, apakah kalian akan jalan lagi hari ini?” tanya Minah lagi.

“Menurutmu? Aku juga tidak tahu, dia hanya bertanya apakah kelasku sudah berakhir atau belum” jawabku sambil mencatat tulisan-tulisan yang banyak dan menempel di papan putih depan kelas.

“Semoga saja iya, aku pikir, Thunder sunbae adalah orang yang baik. Dia cocok denganmu.hehehe”

“Sudahlah, segera catat itu semua kalau kau tidak mau ketinggalan dan keburu dihapus oleh Dosen Kim.

“Ne” jawab Minah singkat dan kemudian kembali menulis. Sesekali dia melirik ke arah Jiyeon sambil tertawa kecil bahagia. Jiyeon meliriknya lagi dan mengeluarkan lidahnya, mereka bercanda bagaikan anak kecil.

“Sang Hyun-ssi, bisakah kau kemari sebentar?” Dosen Park memanggil seseorang yang akrab di panggil Thunder dengan sebutan Sang Hyun, karena di absen nama Thunder adalah Park Sang Hyun.

“Ada yang bisa aku bantu, Dosen Park?” tanya Sang Hyun setelah sampai di meja Park Sandara, Dosen Statistika.

Tepat sebulan yang lalu, Sang Hyun diangkat menjadi Asisten Dosen Park karena nilai-nilai akademik Sang Hyun sangat bagus apalagi dalam mata kuliah Statistika 1 dan Statistika 2. Sebagai dosen baru, Dosen Park butuh asistensi untuk mengurangi sedikit kerjaannya dan pastinya Sang Hyun dibayar atas kerjakerasnya membantu Dosen Park.

“Oh iya, kau hari ini datang ada urusan apa? Bukankah kau tidak ada kuliah di hari Jumat?” tanya Dosen Park untuk basa-basi.

“Oh itu, aku datang kemari hanya untuk menyerahkan laporan praktikum” jawab Sang Hyun sambil tersenyum. Dosen Park terlihat raut wajahnya berubah saat Sang Hyun tersenyum.

Senyum itu, seperti milik seseorang yang sangat aku kenal, gerutu Dosen Park dalam hati.

“Kalau begitu, bisakah kau memberikan beberapa materi asistensi di kelas hari ini?” tanya Dosen Park dengan memohon.

“Hmm..sejujurnya aku memiliki urusan” jawab Sang Hyun dengan sedikit ragu-ragu.

“Ayolah, tolong aku. Adik-adik kelasmu akan UAS sebentar lagi. Namun karena jamku hanya sebentar sementara materi ada lumayan banyak, jadi aku hanya memperkenalkan sedikit hal tentang materi dan tidak membahasnya lebih lanjut. Aku harap kau bisa memperdalam materi di kelas pukul 10 ini” jelas Dosen Park.

“Hmm..choesong hamnida, aku sepertinya tidak bisa. Bukankah ada Yoon Bora juga yang menjadi asisten Dosen Park?”

“Bora hari ini tidak bisa karena urusan mendadak katanya tadi di telepon. Aku harap kau bisa menggantikan Bora. Atau kau memiliki urusan dengan teman wanitamu?”

“Hah? Teman wanitaku? Hahahahaa” Sang Hyun tertawa kecil.

“Aku sering berada di kantin hanya untuk membeli segelas kopi dan aku melihat seorang wanita bertanya keberadaanmu pada teman-temanmu, namun sepertinya dia bukan dari Fakultas Kedokteran. Keesokan harinya terjadi hal yang sama dan beberapa saat kemudian, kau dan dia berjalan bersama. Jadi aku berpikir bahwa dia adalah yeojachingumu. Iya kan?” selidik Dosen Park dengan jahil.

“Ani, dia bukan yeojachinguku.hehehee” jawab Sang Hyun.

Namun aku berharap sebentar lagi iya. Lanjutnya dalam hati.

“Sudahlah, kita jadi mengobrol tidak terarah. Mian aku mengusik urusan pribadimu. Habis aku suka sekali bergosip.hehehe” jawab Dosen Park sekenanya. Dosen Jong yang berada tidak jauh dari meja Dosen Park melihat wanita itu dengan heran.

“Baiklah, kalau begitu, ini materinya” lanjut Dosen Park.

“Keurae. Aku pergi ke kelas terlebih dahulu” Sang Hyun pun pergi dari ruangan dosen menuju kelas tempat dia akan memberikan asistensi.

……………………

“Ini sudah pukul 10, dimana Thunder oppa ya?” Jiyeon selalu mengecek jam tangan ungunya, jam tangan itu pemberian dari Thunder saat ulang tahunnya yang bertepatan 1 minggu yang lalu yaitu 7 Juni.

“Kenapa tidak kau coba menelpon dia?” jawab Minah memberikan solusi.

“Ahh, kau betul juga” kini Jiyeon menekan nomor ponsel Thunder di layar ponselnya yang touchscreen.

“Wae?” tanya Minah lagi saat melihat Jiyeon memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Ponselnya tidak aktif. Ottokhae?” Jiyeon bingung.

“Masa aku harus ke fakultasnya dan bertanya keberadaan dia pada teman-temannya lagi. Aku malu harus melakukan itu. Sudah 3 kali aku melakukan itu, aku seperti orang gila” Jiyeon memanyunkan bibirnya setelah berbicara.

“Ya sudah, kita tunggu di kantin saja” Minah merangkul bahu Jiyeon dan kemudian mereka melangkah bersama menuju kantin.

………………………..

Sang Hyun sudah memulai kelas asistensinya dari 10 menit yang lalu.

“Lihatnya, sunbae itu ganteng ya. Andaikan dia yang paling sering memberikan asistensi. Aku pasti akan selalu datang dan mudah mengerti” sahut seorang yeoja yang memperhatikan Sang Hyun dengan segenap hatinya.

“Itu menurutmu, menurutku Bora sunbae menerangkan dengan jelas dan baik” sahut seorang namja. Sang Hyun ditugaskan disitu untuk mengajar, bukan untuk mengobrol. Jadi dia mengacuhkan pembicaraan 2 orang adik kelasnya yang duduk di paling depan dekat dengannya.

“Jadi ini …” belum sempat Sang Hyun melanjutkan penjelasannya, pintu kelas di ketuk dengan terburu-buru.

“Masuk” ucap Sang Hyun. Saat pintu terbuka, ternyata itu adalah Yoon Bora. Bora mendekat ke tempat berdirinya Sang Hyun.

“Bora-ya? Bukankah kata Dosen Park, kau ada urusan” sahut Sang Hyun dengan cepat karena dia bingung. Tahu begitu, Sang Hyun pasti tidak akan ke kelas dan sekarang dia sudah pergi dengan Jiyeon ke Seoul Lotte World.

“Baguslah kalau kau datang, ini bisa kau lanjutkan” Sang Hyun menggendong tas ranselnya bersiap keluar kelas. Namun Bora menahan langkah Sang Hyun dengan memegang lengan Sang Hyun.

Yeoja yang duduk di depan dekat dengan mereka langsung menggigit bibir bawah, dia menahan marahnya karena sunbae idolanya dipegang-pegang oleh wanita.

“Waeyo?” tanya Sang Hyun.

“Suaraku sedang habis, aku tadi habis dari dokter untuk berobat. Aku kemari untuk membantumu menghapus papan tulis sebagai ucapan minta maaf. Karena ini seharusnya adalah tugasku, sedangkan tugasmu yang sesungguhnya membantu mengolah nilai. Jadi aku ingin membantumu. Gwaenchana?” suara Bora serak dan ketika dia berbicara seakan butuh tenaga besar. Sang Hyun pun akhirnya menaruh kembali tas ranselnya ke atas meja dan kemal menerangkan tulisan yang telah dia tulis di papan tulis.

……………………………

“Dia terlalu sibuk ya..hmm” sahut Minah saat Jiyeon sedang bercerita padanya tentang Thunder.

“Ne, padahal dia pernah berjanji padaku. Kalau dia berjanji akan pergi namun ternyata batal karena dia sibuk. Aku boleh mengacuhkan dia gantian. Aku juga bingung kenapa dia berkata seperti itu, padahal kita tidak sedang berpacaran”

“Mungkin dia menyukaimu, Jiyeon-ah. Ya itu pasti benar!!!!!!!!!!!” jawab Minah dengan sangat yakin.

“Tidak mungkin hal seperti itu dapat terjadi..hahahahaa Kau ini, yang benar saja” Jiyeon tertawa agak keras.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Buktinya, kemarin saat kau bercerita ingin jalan-jalan ke Seoul Lotte World, dia langsung menjawab akan mengajakmu ke sana. Mungkin itu adalah hari ini” Minah bersemangat mengungkapkan feelingnya.

“Tapi ini sudah hampir 1 jam, dia tidak juga datang. Lalu apakah kau tahu lagi, saat aku mengetahui ternyata dia sedang melakukan asistensi, aku pun menghampiri kelasnya. Disana ada seorang wanita yang aku tidak kenal menunggui kelas. Aku dihalangi olehnya saat ingin masuk ke dalam” jawab Jiyeon dengan lesu.

“Jengmal? Siapa wanita itu?” tanya Minah selidik.

“Mollayo, dia menatapku dengan agak sinis dan mengatakan sesuatu yang membuatku menjadi sungkan untuk menemui Thunder oppa lagi”

“Dia berkata apa memangnya?”

“Hahahahahaa.. sudahlah, lupakan! Oh iya, kau bukannya akan ada ulang tahun kantor abojimu?” Jiyeon mengalihkan pembicaraan.

“Sabarlah! Aku yakin, semua akan ada jalannya” Minah menjawab sambil tersenyum menyemangatiku.

“Aku pulang sekarang ya, aku harus bersiap-siap. Annyeong!” setelah Minah pergi, Jiyeon melirik jam tangannya. Sudah pukul 11 waktu Seoul.

“Aku jadi penasaran, siapakah wanita itu ya?” tanya Jiyeon pada dirinya sendiri.

 

(Jiyeon P.O.V)

~Flashback~

“Silyehamnida, apakah kau tahu dimana Park Sang Hyun?” tanyaku pada seseorang yang sepertinya seumuran dengan Thunder oppa.

“Oh, aku tadi melihatnya ada di laboratorium, di pojok kiri lorong ini” jawab orang yang aku tanya tadi.

“Gamsahamnida” ucapku yang kemudian berjalan menuruti perintah laki-laki tadi.

Saat aku melihat ruang laboratorium, aku hanya melihat seorang wanita dan laki-laki, mereka teman dekat Thunder oppa, yaitu Yoon Bora dan Kim Sang Bae.

“Simyehamnida, Bora sunbae, Sang Bae sunbae. Apakah kalian melihat Park Sang Hyun?” tanyaku dengan sopan. Bora yang paling dekat denganku menoleh ke arahku sebentar lalu dia kembali sibuk dengan aktivitasnya yaitu menata gelas-gelas ukur.

“Aku tidak melihatnya” jawabnya singkat dan ketus.

“Bora-ya, apa yang kau lakukan? Kau sangat dingin” sahut Sang Bae sunbae yang kemudian berjalan mendekatiku.

“Sepertinya Sang Hyun ada di ruang 1.1.. Dia memberikan asistensi di ruangan itu” jawab Sang Bae sunbae dengan lembut.

“Oh, kalau begitu aku akan menghampirinya kesana. Gamsahamnida, sunbae. Aku pergi dulu” ucapku membungkukkan badan.

“Ne, hati-hati” jawab Sang Bae sunbae. Namun Bora sunbae hanya diam saja dan sibuk dengan ponselnya.

“Mengapa kau begitu dingin pada Jiyeon? Aku memperhatikanmu, kau bertindak seperti itu tidak hanya sekali, namun sudah tiga kali. Setiap kali Jiyeon datang menanyakan keberadaan Sang Hyun, kau selalu begitu. Wae? Apa yang salah dengan Jiyeon?” tanya Sang Bae sunbae dengan nada yang agak keras. Aku bersembunyi di balik pintu, aku menguping percakapan mereka.

“Aku tidak suka dengannya. Memang kenapa?” jawab Bora dengan acuh.

“Memang apa alasanmu sampai membenci Jiyeon?” tanya Sang Bae marah.

“Apakah aku harus memberikan alasan untuk kebencianku ini, hah? Kau itu memang siapanya?” jawab Bora dengan kesal.

“Aku memang bukan siapa-siapanya. Namun coba kau pikir, kalau kau menjadi Jiyeon dan kau dibenci oleh orang tanpa ada kesalahan yang pernah kau buat padanya. Apakah kau tidak merasa sedih?” jelas Sang Bae dengan emosi. Ruang laboratorium penuh dengan suara kemarahan mereka berdua, untung letaknya di ujung, jarang ada orang yang melewati.

“Kau mendengarkan aku atau tidak? Dengan siapa kau smsan?” tanya Sang Bae menyelidik.

Aku merasa tidak diterima oleh teman Thunder oppa, aku pun pergi dari laboratorium menuju ruang 1.1 yang dikatakan Sang Bae sunbae tadi.

Setelah dirasakan aku sudah hampir sampai ruang 1.1, di depan kelas itu ada seorang wanita sambil memasukkan ponselnya ke saku celana bahan hitamnya. Dia sangat cantik, kemeja berwarna biru muda soft dan celana bahan hitam yang pas dengan kakinya, membuatnya terlihat anggun. Saat aku berjalan melewatinya, dia menahan langkahku.

“Kau akan kemana? Ruang 1.1?” tanyanya dengan sinis.

“Keurae” jawabku singkat.

“Kau tidak masuk ke sana. Disana sedang ada asistensi” jawab wanita itu.

Darimana bisa dia tahu bahwa aku akan keruang itu dan dia sepertinya mengetahui kalau aku bukan mahasiswa sini, buktinya dia melarangku masuk. Dia pun menarikku untuk duduk di deretan kursi dekat ruangan 1.1

Di Fakultas ini, memang disediakan beberapa kursi di luar ruang kelasnya. Mungkin untuk mahasiswa yang menunggu bisa duduk sebentar jika ruang kelas yang akan dipakainya masih ada mahasiswa lain.

“Kenapa kau mencari Sang Hyun?” tanya wanita itu.

“Aku akan mengajaknya makan siang” jawabku sambil menghilangkan rasa takutku.

“Kau tahu kalau Sang Hyun sedang mengajar?”

“Ne”

“Lalu kenapa kau ingin masuk dan mengganggu di ruangan itu?”

“Aku tidak berniat menganggu, aku hanya ingin mengintip sedikit. Karena biasanya aku juga menunggu Sang Hyun oppa di kursi ini” jawabku mencoba mengklarifikasi tuduhan wanita itu.

“Kau tahu, Sang Hyun adalah mahasiswa terbaik di fakultas ini?” aku menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku.

“Tahukah kau setiap jam makan siang, dia selalu keluar kelas terlebih dahulu dan masuk dengan terlambat. Apakah itu ada sangkutannya denganmu?” tanya wanita itu dengan menatapku dingin. Aku menunduk, aku sadari akhir-akhir ini dia selalu makan siang denganku, aku tidak mengira kalau hal itu membuatnya menjadi buruk.

Aku mengangguk pelan.

“Aku perhatikan, dia akhir-akhir ini menjadi seperti itu. Aku harap kau bisa mengerti maksud ucapanku ini.

“Jadi kau berpikir kalau aku membawanya menjadi buruk, begitukah?” ucap Jiyeon dengan ragu-ragu dan pelan.

“Ya aku harap kau jangan kemari lagi bila bukan dia yang membutuhkanmu” jawabnya yang membuat jantungku langsung berhenti berdetak.

Apakah aku yeoja yang kegatelan? Sampai ada seseorang yang mengatakan hal ini padaku? Aku hanya ingin membalas perhatian Thunder, dia selalu menghampiriku ke Fakultas Sastra dan mentraktirku makan siang, jadi aku berpikir kalau aku bisa gantian menghampirinya ke sini dan mengajak serta mentraktirnya makan siang. Namun . . .

“Ne” jawabku sambil mengangguk pelan.

“Baiklah, aku harus pergi” wanita itu pun melangkah menjauhiku.

“Choesonghamnida” ucapku pelan dan kemudian aku pergi menjauh dari kelas itu.

~Flashback end~

 

“Jiyeon, kenapa kau mebuat orang yang kau sayang menjadi buruk sih? DASAR BABO!!” gerutuku sambil memukul kepalaku sendiri.

Tadi dia hanya bertanya “Jiyeon-ah, kau telah selesai kuliah sekarang?” lalu aku menjawab “Hmm..mungkin sekitar setengah jam lagi, oppa. Ini aku sedang ada kelas, sudah ya. Baru selesai pukul 10 nanti. Annyeong” lalu aku memasukkan ponselku kembali ke dalam tas.

Aku bangkit dari dudukku dan beranjak pulang, mungkin memang Thunder tadi menelpon hanya bertanya saja, untuk apa aku menunggunya di kantin selama satu setengah jam? Lagipula hari Jumat kan dia tidak ada kuliah..DASAR JIYEON BABO!!!!!!

(Jiyeon P.O.V end)

 

-To Be Continued-

29
Jan
12

Chingu? Sarang? (Part 3)

Title            : Chingu? Sarang?

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Hyunseong [Boyfriend], Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Eunhyuk, Bang Minah [Girls Day], Kim Sang Bae, Yoon Bora [Sistar] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Yeaahh,udah libur, tapi mau segera berkhir 😦

                Okeh, supaya ga menyita waktu, silahkan menikmati . . .

HAPPY READING!!!!

“THUNDER!! Aku peringatkan kau sekali lagi, jangan pernah kau dekati Jiyeon lagi. Mulai sekarang menjauhlah darinya!!!” teriak Hyunseong  yang berada di belakang Jiyeon dan Thunder. Hyunseong tidak tega melihat Jiyeon yang telah ditarik paksa oleh Thunder. Namun sayang langkah mereka berdua tidak terhenti. Hanya terdengar rintihan kecil dari Jiyeon yang mengaduh kesakitan ketika ditarik dengan erat pergelangan tangannya oleh Thunder.

“YAAA..THUNDER!! STOP!” teriak Hyunseong lagi. Kali ini langkah mereka berdua berhenti. Thunder membalikkan badannya dan mendekati Hyunseong tanpa melepaskan cengkraman tangannya pada Jiyeon.

“Lepaskan tangan Jiyeon” ucap Hyunseong lantang.

“Kalau aku tidak mau, bagaimana?” jawab Thunder dengan dingin.

“AKU BILANG LEPASKAN!” teriak Hyunseong.

“Aku tidak mau!” setelah mendengar jawaban kedua dari Thunder, sebuah pukulan mendarat tepat di pipi kiri Thunder. Thunder merasakan darah yang mengalir di ujung kiri bibirnya.

“Kau berani menghajarku?” Thunder geram dengan tindakan Hyunseong, dia pun membalas tepat di pipi kiri Hyunseong.

“Sudah cukup, apa yang kalian lakukan membuatku sakit! STOP!!!!!!!!” teriak Jiyeon dengan isak tangis yang tak dapat dia tahan lagi.

..

“Ani ani” tiba-tiba Hyunseong menggeleng-gelengkan kepalanya, dia baru sadar ternyata khayalannya sangat berlebihan. Angin malam yang berhembus menusuk ke tulang-tulang Hyunseong, dia duduk di sebuah ayunan yang nampaknya sudah tua dimakan usia.

“Kau disini? Sudah lama?” tanya seseorang, Hyunseong pun mencari sumber suara tersebut. Dia menatap kaget dan sinis ke arah pemilik suara itu.

“Jangan menatapku begitu, meskipun kau adalah mantan adik tiriku” jawab Thunder yang ikut duduk di ayunan tepat di samping Hyunseong. Thunder melihat keatas, menatap langit malam yang mendung tanpa kilau cahaya titik.

(Hyunseong P.O.V)

Kenapa malam-malam begini dia datang? Apa maunya?

“Thunder-ssi, apa yang kau lakukan disini?” tanyaku dengan formal seakan tidak pernah mengenal Thunder.

“Kau masih saja belum berubah! Sama egois dan pemarah seperti dulu” ucap Thunder yang kini memasukkan tangannya yang mulai kedinginan ke saku raincoatnya.

“Aku harus pulang terlebih dahulu” sahutku yang bangun dari duduk. Thunder menahan langkahku dengan segera, aku menatapnya bingung.

“Bagaimana kabar aboji?” aku hanya diam dengan wajah datar.

“Apakah dia baik-baik saja? Dan apakah dia masih menjalankan urusan terkutuknya?” aku masih diam.

“Sebenarnya, aku tidak ingin memiliki masalah denganmu, namun entah mengapa setiap bertemu denganmu, aku serasa memiliki banyak pikiran jelek terhadapmu. Mian”

“Mwoya? Aku tidak mengerti maksudmu. Pulanglah, ini sudah malam. Udara semakin dingin, nanti ajumma mencarimu” jawabku cuek dan kemudian berjalan menjauh darinya. Tidak ada pertahanan dari Thunder untuk memanggilku ataupun menahan langkahku.

(Hyunseong P.O.V end)

……………………………..

(Jiyeon P.O.V)

“Jiyeon-ah, penampilanmu bagus sekali..Aku sampai terpesona” sahut Minah.

“Jangankan kau, Minah. Aku juga dibuatnya terpesona. Dia bagaikan bintang sungguhan” timpa salah satu teman laki-laki sekelas mereka. Aku hanya tersenyum malu menahan girang hati.

“Minggir kalian, minggir!” perintah Eunhyuk sunbae kepada orang-orang yang mengerubungiku di kantin.

“Jiyeon-ah, chukhahae!” ucapnya dengan senyum manis kepadaku.

“Wae sunbae?” tanyaku bingung.

“Kau berhasil membuatku menjadi fansmu. Ya, kau berhasil!!!” Eunhyuk sunbae berkata sambil memegangi dadanya dan senyum yang melayang-layang.

“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuu” sorak sorai temanku menyauti hingga satu persatu dari mereka pergi menjauh dari kami.

“Kenapa kalian? Kalian iri padaku karena aku bisa membuat Jiyeon menerimaku sebagai fansnya? HAH?” Eunhyuk sewot.

“Sunbae, kenapa kau selalu berlebihan? Kami agak jijik mendengarnya”  jawab Jeong min yang kemudian pergi.

“Jiyeon-ah, apakah kau jijik dengan perkataanku barusan?” tanya Eunhyuk sunbae setelah tinggal kami berdua saja.

“Sunbae” aku bingung harus menjawab apa.

“Kalau kau memang jijik dengan Eunhyuk, mengaku saja Jiyeon-ah. Jangan takut pada ikan teri itu” sahut Kyuhyun sunbae yang datang bersama Sooyoung sunbae mendekati kami berdua.

“Diam kau, gaemgyu! Apa tidak kau pikir, aku itu selalu jijik dengan ucapan-ucapan manismu untuk Sooyoung. Dan kau Sooyoung, kenapa kau menerima gombalan-gombalan dari Kyuhyun begitu saja? Dasar babo!” Eunhyuk sunbae makin tidak karuan berbicara.

“Wae? Apa maksudmu dengan BABO, HAH?” Sooyoung sunbae kalau sedang marah sangat menakutkan.

“Sunbae, sudahlah” ucapku untuk Soo,Kyu dan Eunhyuk sunbae. Eunhyuk sunbae pun pergi meninggalkan kami bertiga dengan wajah marah.

“Apakah tidak apa-apa membiarkan Eunhyuk sunbae begitu?” tanyaku khawatir.

“Tenanglah, beberapa jam lagi, dia akan baikan..” jawab Kyuhyun sunbae.

“Oh iya, bagaimana pendapat Thunder tentang penampilanmu?” sahut Soo sunbae membuatku tersedak saat meminum jus jeruk.

“Sunbae”

“Ayo jawab, bagaimana? Aku jadi penasaran..hahahahaa” Soo sunbae memasang wajah imutnya.

“Dia tidak mengatakan apa-apa. Setelah aku selesai tampil, dia mengantarku pulang dan sudah” jawabku polos.

“Apakah tidak terjadi pegangan tangan atau cium pipi?”

“Mwo?”

“Ahh, sudahlah. Kau masih terlalu kecil untuk membicarakan hal itu.hehe” Soo sunbae tertawa kecil ke arah Kyu sunbae dan kemudian mereka tertawa bersama. Aku mengerucutkan bibirku.huhf

“Jiyeon-ah, Kyuhyun sunbae, Sooyoung sunbae.. Annyeonghaseyo” sahut Hyunseong tiba-tiba dan mulai mendekati kami.

“Chagiya, ayo kita ke ruang kuliah. Jam kuliah Budaya dan Sejarah akan dimulai” Soo sunbae melirik jam tangan IEKEnya yang berwarna abu-abu.

“Keurae, kau benar! Ayo kita segera ke kelas. Jiyeon-ah, Hyunseong-ah, kami tinggal duluan ya. Annyeong” pribadi Kyu sunbae yang sopan dan lugu sedang keluar, padahal biasanya dia kekanak-kanakan dan egois karena game playernya hingga membuat Soo sunbae sebal..

“Annyeong sunbae” balasku dan Hyunseong.

“Jiyeon-ah, aku ingin bicara sesuatu” ucap Hyunseong dengan agak gugup.

“Katakan saja sekarang, aku akan mendengarnya” jawabku singkat. Hyunseong tidak mengucapkan apa-apa sama sekali, dia malah terdiam dan sibuk membuat benang kusut di udara dengan kedua jari telunjuknya.

“It’s you, Jiyeon-ssi? I wanna tell you about something. Can you follow me to my room?” sahut Mr.Lee memecahkan keheningan diantara aku dan Hyunseong.

Apa yang akan dibicarakan Mr.Lee? apakah Ulangan Tengah Semesterku jelek?

“Yes Mr..I’ll come to your room as soon as after I finished my affair, Mr” jawabku segera. Mr.Lee pun menganggukkan kepalanya dan lalu pergi ke ruangannya terlebih dahulu.

“Hyunseong-ah, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku dengan tergesa-gesa.

“Aku ingin kita bicara berdua di taman belakang, sebentar saja. Bisakah?” pinta Hyunseong.

“Hyunseong-ah.. Disini saja, kau tahu sendiri aku disuruh Mr.Lee ke ruangannya”

“Ta..tapi, aku tak bisa! Ayoo kita bicara di taman belakang 2 menit saja. Hanya 2 menit”

“Sekarang saja, disini”

“Baiklah, aku hanya meminta 1 menit di taman belakang” aku menggelengkan kepala. Melihat ketidakseriusan di wajah Hyunseong, aku pun segera pergi meninggalkannya.

“JIYEON-AH! JIYEON-AH!!” Hyunseong memanggilku, namun aku tidak menoleh ke belakang, tetap melanjutkan lari kecilku menjauhi Hyunseong.

“Mr.Lee” ucapku setelah mengetuk pintu ruangannya dan masuk ke dalam.

(Jiyeon P.O.V end)

……………………………..

(Hyunseong P.O.V)

“Hyunseong-ah, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Jiyeon dengan wajah terburu-buru.

“Aku ingin kita bicara berdua di taman belakang, sebentar saja. Bisakah?” pintaku, aku tidak mungkin menunda lagi mengatakan tentang perasaanku pada Jiyeon kali ini. Aku tidak ingin dia jatuh ke tangan yang salah.

“Hyunseong-ah.. Disini saja, kau tahu sendiri aku disuruh Mr.Lee ke ruangannya”  jawabnya yang semakin membuatku panik.

“Ta..tapi, aku tak bisa! Ayoo kita bicara di taman belakang 2 menit saja. Hanya 2 menit”

“Sekarang saja, disini”

“Baiklah, aku hanya meminta 1 menit di taman belakang” sahutku tanpa aku pikirkan lagi. Yang ada dipikiranku sekarang adalah dapat bicara dengan Jiyeon meskipun hanya sebentar.

Wae? Kenapa dia malah pergi? Berlari dari sisiku dan bayangannya makin tidak terlihat lagi.

“JIYEON-AH! JIYEON-AH!!” teriakku memanggil Jiyeon, namun dia tidak berhenti ataupun menoleh ke arahku. Aku menghela nafas kecewa.

Dreeett dreett . . .

“Yoboseyo, ajussi. Wae?” ucapku mengangkat telepon dari bawahan ayahku.

“Tuan muda, aboji anda menyuruh agar anda segera pulang ke rumah. Ada urusan penting mendadak yang terjadi”

“Apakah benar-benar penting?”

“Ne, ada penjaringan polisi. Hal itu membuat aboji anda berniat pindah dari Korea Selatan”

“MWO? Aboji kenapa masih berurusan dengan mereka padahal aku sudah melarangnya. Aku tidak mau ikut!” tolakku, kalau aku harus pergi sekarang, bagaimana dengan Jiyeon?

“Tuan muda, kalau anda tidak mau ikut. Aku sendiri yang akan segera menjemput anda dan menyeret anda untuk pulang berkemas-kemas”

“Andwe! Aku bisa pulang sendiri. Baiklah, aku akan pulang sekarang” ucapku setengah marah mematikan pembicaraan di telepon. Aku langsung memasukkan handphoneku ke saku dan berbalik menuju parkiran.

Brruuukk. . .

“Choesonghamnida” ucapku singkat tanpa melihat siapa yang telah aku tabrak. Lalu menuju parkiran karena sebelumnya aku berangkat menggunakan motor.

(Hyunseong P.O.V end)

…………………………

“Gomapsumnida, Mr.Lee” kata yang keluar dari mulut Jiyeon adalah suatu ucapan terima kasih yang teramat sangat. Ketika dia keluar dari ruangan Mr.Lee dia langsung teringat Hyunseong yang sebelumnya dia tinggalkan di dekat kantin.

“Hyunseong-ah, Hyunseong-ah” Jiyeon mulai panik mencari Hyunseong. Dia merasa bersalah telah meninggalkan Hyunseong tadi.

“Ottokhaji?” ucap Jiyeon khawatir. Dia bingung harus melakukan apa..

“Jiyeon-ah, kau mencari Hyunseong?” tanya Minah tiba-tiba.

“Ne, kau tahu dia dimana? Aku mencarinya kemana-mana namun dia tidak ada” jawab Jiyeon berharap Minah tahu keberadaan Hyunseong.

“Aku tadi mendengar percakapannya di telepon, dia sepertinya disuruh oleh abojinya untuk segera pulang” jawab Minah.

“Mwo? Pulang? Sejak kapan? Baru saja kan?”

“Sepertinya sudah 5 menit yang lalu, mungkin dia sedang ke parkiran karena tadi pagi aku melihatnya berangkat menggunakan motor.

“Ohh ne, gomawo Minah-ya” Jiyeon langsung berlari menuju parkiran. Entah apapun yang terjadi, dia bertekad harus menghalangi Hyunseong pulang untuk bicara beberapa menit saja.

Ottokhaji? Baru kali ini dia mengajakku bicara hanya berdua saja. Pasti ada hal penting yang akan dia sampaikan, kenapa aku baru berpikir hal ini sekarang? Bukannya daritadi.. Jiyeon babo!!!

“Jiyeon-ah, kau akan kemana? Aku baru mau menghampirimu” sahut seseorang, jiyeon pun berhenti namun dengan keadaan lari ditempat.

“Thunder? Waeyo?” tanya Jiyeon singkat.

“Kenalkan ini Kim Sang Bae, temanku. Dia juga ingin ke Fakultas Ilmu Budaya menemui temannya, dan sekalian aku ingin menemuimu” jelas Thunder, baru kali ini Jiyeon mengacuhkannya.

“Mianhae Thunder-ah, aku harus buru-buru. Annyeong” Jiyeon kembali berlari menuju satu tempat. Kenapa lama sekali menuju ke parkiran disaat aku harus buru-buru kesana.

“Igot” ucap Hyunseong menyerahkan kartu parkirnya, dia langsung menancap gas motornya dan berlalu pergi. Jiyeon yang hampir sampai ke parkiran, dia melihat Hyunseong melesat pergi dengan motornya.

“HYUNSEONG-AH! HYUNSEONG-AH, CHAKAMAN!” teriak Jiyeon sambil terus berlari mengejar Hyunseong.

Hyunseong yang melirik kaca spionnya terbelalak kaget. Apa yang Jiyeon lakukan?

“Jiyeon-ah, mianhae” ucap Hyunseong lirih dan menambah kecepatannya. Dibalik helm fullfacenya, airmata Hyunseong mengalir.

Mungkin aku harus menunggu waktu lama untuk dapat bertemu kau kembali.

“Hyunseong-ah!” kaki-kaki kurus Jiyeon mulai merasa lelah dan penuh dengan asam laktat.

Makin lama, bayang Hyunseong semakin kecil dan menghilang seiring dengan datangnya tetes-tetes hujan menuju bumi. Lama kelamaan, tetes hujan itu menjadi banyak dalam waktu sekejap.

“Hyunseong-ah” ucap Jiyeon dengan isak tangis. Hampir tak dapat dibedakan antara airmata dan tetes hujan Jiyeon.

“Kau kan pelupa, bagaimana kalau kau lupa untuk mengatakan hal yang ingin kau katakan padaku?” gerutu Jiyeon di tengah jalan dengan pakaian yang basah.

Aku memiliki firasat buruk tentang kau. Pokoknya kau harus kembali ke kampus besok!!

***

~Keesokan harinya di Universitas Nasional Seoul~

Seseorang yang diharapkan datang, tidak kunjung muncul. Jiyeon menoleh ke arah tempat duduk yang biasa diduduki oleh Hyunseong, yaitu tepat disampingnya. Namun tak ada orang yang mendudukinya, bangku itu kosong.

“Kemana dia?” tanya Jiyeon khawatir sambil melirik jam dinding ruang kelas. 2 menit lagi dosen akan segera datang. Terlambat bukanlah kebiasaan Hyunseong.

“Jiyeon-ah, kau mau kemana?” tanya Minah segera saat melihat Jiyeon berdiri sambil membawa tasnya.

“Aku tiba-tiba tidak enak badan” jawab Jiyeon berbohong dan kemudian keluar ruangan. Kakinya entah melangkah kemana, yang pasti dia ingin mencari suatu pemecahan masalah dan otak yang dingin.

……………………………….

“Sang Bae-ya, ini seharusnya ditaruh begini, agar tata poster ilmiahnya terlihat menarik” saran dari Thunder diterima oleh Sang Bae.

“Ne, kau memang hebat” jawab Sang Bae sambil bertepuk tangan kecil dan tersenyum.

“Siapa dulu ketua kelompok kita, Park Sang Hyun” ucap Yoon Bora dengan bangga.

Mereka bertiga adalah teman sekelompok untuk tugas poster ilmiah mata kuliah Anatomi Manusia, kini mereka duduk melingkar di ruang pertemuan perpustakaan pusat. Di sana memang disediakan sofa-sofa untuk para mahasiswa berkumpul dan membahas tugas, selain tempat yang nyaman menggunakan AC, keadaannya tidak begitu ramai dan tempat untuk berkonsentrasi.

Thunder terus memperhatikan Kim Sang Bae yang sedang mendesain poster berukuran A0 melalui Adobe Photoshop.

“Nuguseyo?” sahut Bora saat melihat sosok perempuan yang lebih muda darinya berdiri tepat di hadapannya. Sang Bae dan Thunder pun ikut memalingkan pandangannya ke arah perempuan itu.

“Jiyeon-ah, waeyo?” tanya Thunder yang kemudian mengajak Jiyeon keluar dari perpustakaan.

“Thunder-ah, tolong aku!” jawab Jiyeon. Wajahnya kusut dan raut wajahnya tidak ceria seperti biasanya.

“Apa yang dapat aku lakukan untukmu?” tanya Thunder penuh perhatian terhadap Jiyeon.

……………………..

~Bandara Incheon~

Koper hitam beroda ditarik oleh seseorang yang berpakaian gelap dan kacamata.

“Dimana aboji?” tanya orang tersebut.

“Sudah di pesawat, ayo kita bergegas naik juga” jawab pria setengah baya yang selalu ada bersama aboji Hyunseong.

“Aboji sudah daritadi menunggu?” tanya Hyunseong pada pria disampingnya.

“Kau kemana saja? Kau seharusnya sudah cek out dari hotel dan sampai di Bandara dari setengah jam yang lalu”

“Mianhamnida aboji, tadi macet” jawab Hyunseong dengan acuh.

Jiyeon-ah, annyeong. Aku pasti akan merindukanmu. Mianhae, aku berjanji akan memberitahumu suatu saat nanti jika Tuhan mempertemukan kita kembali nanti. Aku tidak akan lupa untuk hal yang satu ini.

………………………….

Tok tok tok

“Kenapa tidak ada yang membukakan pintu ya? Siang-siang begini lampu tamannya masih menyala” Jiyeon heran. Thunder hanya mengangkat bahunya.

Thunder mengintip sedikit dari jendela rumah tersebut.

“Jiyeon-ah, kita harus segera pergi dari sini” Thunder langsung menarik tangan Jiyeon menjauhi rumah tersebut.

“Lepaskan! Aku tidak mau pergi dari sini. Aku ingin menemui Hyunseong” ronta Jiyeon namun tenaganya kalah kuat dengan Thunder.

“Percaya kata-kataku kali ini saja. Ayo kita segera menjauh dari sini secepatnya” Thunder kembali menarik lengan Jiyeon. Mereka pun pergi dengan motor Thunder, hanya berjarak 200 meter dari rumah Hyunseong, mereka memerhatikan rumah Hyunseong dari sebuah halte bus.

“Kenapa kita berhenti disini?” tanya Jiyeon bingung.

“Diamlah dan lihat apa yang akan terjadi” jawab Thunder.

(sirine mobil polisi)

Begitu banyak mobil polisi mengepung rumah Hyunseong dan angkatan bersenjata pun keluar dari mobil mereka. Tidak begitu terdengar jelas apa yang diteriaki oleh pemimpin mereka.

Jiyeon menggigiti bibir bawahnya dan airmata tertumpuk di pelupuk matanya. Thunder yang semula serius melihat rumah Hyunseong, kini mengalihkan pandangannya kepada Jiyeon.

Airmata Jiyeon mengalir cukup deras namun bibirnya tidak terbuka sama sekali.

“Kau menangis?” tanya Thunder. Dia bingung harus melakukan apa kalau ada wanita yang sedang menangis. Menurutnya wanita adalah makhluk yang paling kuat di dunia ini, kalau mereka sudah menangis, itu tandanya ada suatu beban yang sangat berat yang sedang mereka pikul.

“Sudahlah, jangan menangis” Thunder memeluk Jiyeon untuk menenangkannya. Jiyeon tidak berkata apa-apa, dia masih saja menangis membasahi bahu Thunder.

“Ka..kau tahu darimana akan terjadi seperti ini?” tanya Jiyeon terbata-bata karena tangisnya.

“Tidak penting tentang hal ini. Kau lihat kan, temanmu ini adalah orang jahat. Dia meninggalkanmu dan polisi saja sampai mencarinya. Lupakanlah dia karena dia pasti tidak akan kembali dalam waktu yang lama” jelas Thunder sambil terus menenangkan Jiyeon.

“Aku, aku ingin bertemu Hyunseong. Aku bertanya padanya ada apa dengan ini semua” Jiyeon bersikukuh untuk mempertahankan Hyunseong.

“Aku memperingatkan kau, Jiyeon. Lebih baik kau melupakan kalau kau pernah memiliki teman seperti dia. Dia bukan orang baik yang harus menjadi temanmu”

“ANDWE! Hyunseong bukan orang jahat!!!” Jiyeon setengah berteriak dan mencoba lepas dari pelukan Thunder. Thunder menahannya.

“Suatu saat kau akan paham dan mengerti kalau dia bukan teman yang baik untukmu dan untuk ada di sekitarmu” Thunder berbisik pelan di telinga Jiyeon.

~To Be Continued~

22
Dec
11

Chingu? Sarang? (Part 2)

Title               : Chingu? Sarang?

Author         : SarSay501

Rating           : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Hyunseong [Boyfriend], Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Eunhyuk, Bang Minah [Girls Day], Lee Jeong Min [Boyfriend] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Maaf baru bisa ngepost fanfictnya sekarang. Untuk yang sudah menunggu lama, semoga ga kecewa ya.hehe

HAPPY READING!!!!

~Universitas Nasional Seoul~

(Jiyeon P.O.V)

“Jiyeon-ah, apa yang kau lakukan disini?” Hyun Seong menepuk pundakku dari belakang dari belakang. Mengkagetkanku saja..

“Ohh Hyun Seong-ah, wae?” jawabku sambil tersenyum. Hyun Seong tampak terdiam sebentar, ada apa dengan dia?

“Hyun Seong-ah, Hyun Seong-ah? Kau kenapa?” ucapku sambil mencoba mengembalikan nyawa Hyun Seong ke raganya.

“Annyeonghaseyo, hoobaeku yang paling cantik” Soo sunbae ikutan mengkagetkanku juga. Untung aku tidak memiliki penyakit jantung -,-

“Kau Hyun Seong kan?” tanya Soo sunbae ke arah Hyun Seong, kali ini Hyun Seong sudah tersadar. Baguslah!

“Hmm..Ne” jawab Hyun Seong terbata-bata karena kaget.

“Sooyoung sunbae, kenapa belum pulang? Dan juga, biasanya dimana ada Sooyoung sunbae, slalu ada Kyuhyun sunbae” aku langsung menyambar seperti listrik.

“Kyuhyun sedang latihan band bersama Eunhyuk dan Yesung.. Aku sedang menunggunya” jawab Soo sunbae sambil tersenyum. Sunbae yang paling cantik dan baik menurutku adalah Sooyoung sunbae.

“Ohh begitu, aku jadi iri dengan sunbae” Soo sunbae tersipu malu, lucu sekali wajahnya. Hyun Seong pun menoleh ke arahku. Tatapan mataku seakan berkata ‘wae?’ pada Hyun Seong.

“Chagiya, ayo kita pulang. Aku sudah selesai dengan urusanku” sahut Kyu sunbae dari jauh. Soo sunbae mencari darimana asal suara itu.

“Iya, aku kesana.. Annyeong Jiyeon dan Hyun Seong” Soo sunbae langsung berlari kecil menuju Kyu sunbae dan bergandengan tangan.

“Jiyeon-ah” panggil Hyun Seong.

“Ne?” jawabku.

“Kau daritadi tidak memakan mie ramenmu?”

“Oh iya, aku lupa.hahahahaa” aku langsung menyumpit mie yang dengan penuh mengitari kedua sumpitku.

“Jiyeon-ah, boleh aku makan bersama di meja ini?” sahut Minah sambil membawa mie ramen juga. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan semangat karena mulutku penuh dengan mie. Setelah Minah duduk disampingku, dia langsung menyantap mie ramennya dengan lahap sepertiku. Hyun Seong hanya bisa menganga melihat kami berdua, namun lebih condong melihat ke arah Minah. Aku langsung mengambil cara inisiatif.

“ieon-ah, a ang au aukan?” tanya Hyun Seong dengan mulut penuh mie dan tidak terdengar dengan jelas.hahahahahaa

(Jiyeon P.O.V end)

………………………

Thunder memegangi bukunya sambil berjalan menuju perpustakaan pusat yang berada dekat dengan Fakultas Ilmu Budaya. Hyun Seong dari kejauhan melihat Thunder yang berjalan dengan cepat menuju ke arahnya. Hyun Seong teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Thunder mengantar Jiyeon ke rumahnya lalu meninggalkan Jiyeon tanpa sepatah kata pun.

Brruuukk. . Thunder tidak berkata apa-apa meskipun dia telah di senggol dengan sengaja oleh Hyun Seong hingga bukunya terjatuh di tanah. Dia pun kembali melanjutkan langkahnya.

“Ya, apa maumu?” teriak Hyun Seong. Thunder menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan dan berkata.

“Wae?” mendengar hal itu, Hyun Seong langsung berjalan dengan tergesa-gesa dan bernada marah ke arah Thunder.

“Kau, tidak sopan!!” maksud Hyun Seong adalah menyinggung kejadian sewaktu Thunder mengantar Jiyeon.

“Kau itu yang tidak sopan, berteriak dengan tidak jelas dan dengan sengaja menabrakku” jawab Thunder dengan tatapan yang sangat dingin. Hyun Seong sempat takut, namun kembali beradu mulut.

“Maksudku adalah sikapmu sewaktu mengantar Jiyeon ke rumahku. Appaku bilang …” belum sempat Hyun Seong melanjutkan omongannya.

“Kau percaya dengan Appamu? Hah?” tanya Thunder dingin.

“Tentu, dia adalah Appaku”

“Kau yakin kalau Appamu tidak akan berbohong atau mengecewakanmu?” tanya Thunder dengan sinis. Hyun Seong terdiam dan pandangannya melayang jauh. Thunder langsung pergi meninggalkan Hyun Seong.

“Appa” ucap Hyun Seong lemah.

………………….

(Flashback, 10 tahun lalu)

(Hyun Seong P.O.V)

Aku terduduk di kamar eomma, melihat figura-figura foto kecil yang berisikan kebahagiaan yang sudah tidak dapat diulang kembali. Aku menangis sambil memeluk salah satu figura foto.

“Eomma, neomu bogosipta!” airmataku mengalir deras.

“Hyun Seong-ah, bisakah kau ke bawah sebentar?” teriak Appa dari ruang tamu. Aku mengembalikan figura foto ke tempatnya, mengusap airmata dengan tangan-tangan kecilku.

“Waeyo, appa?” tanyaku ke arah appa. Aku melihat seorang ajumma dan anak laki-laki yang lebih tua dariku berdiri menghadap ke arahku. Tatapan matanya dingin, aku takut.

“Hyun Seong-ah, kenalkan, ini adalah calon eomma barumu. Ayo sapa!” suruh Appa kepadaku.

“Eomma baruku?”

“Ne!” jawab Appa.

“Annyeonghaseyo, Hyun Seong-ah” sapa Ajumma itu kepadaku.

“Aku tidak mau eomma baru!!” teriakku sambil menangis.

“Dasar cengeng!” ejek anak laki-laki di samping ajumma itu.  Aku menatap anak laki-laki itu dengan sinis.

“Aku tidak cengeng! Appa aku tidak cengeng kan?” tanyaku sambil terisak tangis.

“Ani, Hyun Seong tidak cengeng kok” jawab Appa sambil mengusap kepalaku. Aku melihat ke arah anak laki-laki itu dengan sinis dan ternyata anak itu kembali memandangiku dengan sinis.

“Kau, kenapa memandangiku seperti itu?” tanyaku pada anak laki-laki itu.

(Flashback end)

(Hyun Seong P.O.V end)

………………………………………..

“Annyeonghaseyo Soo sunbae” sapa Jiyeon dengan wajah bersemangat.

“Ohh, Jiyeon-ah.. Bagaimana persiapan untuk tampil lusa?” tanya Sooyoung pada adik kelasnya dengan bersemangat juga. Jiyeon pun menganggukkan kepalanya.

“Sunbae, aku memiliki 3 undangan. Kata wali kelasku, setiap orang yang tampil mendapatkan jatah 3 undangan. Soo sunbae dan Kyu sunbae mau datang kan?” tanya Jiyeon dengan puppy eyesnya. Sooyoung mengangguk dengan semangat dan melompat-lompat bahagia meskipun dia melakukan itu di depan kantin.

“Pasti aku dan Kyuhyun akan datang.hehehe Lalu 1 undangan lagi untuk siapa?”

“Aku masih belum tahu untuk siapa, menurut sunbae untuk siapa?”

“Hmmmm..Kau tidak berniat memberikannya pada Eunhyuk kan?” Sooyoung berwajah sinis.

“Ani”

“Kalau begitu, berikan pada Thunder saja” Sooyoung mencolek pundak Jiyeon dengan sengaja. Mata Jiyeon langsung terbelalak.

“Sunbae? Sunbae yakin dengan ucapan sunbae tadi?” Jiyeon tidak percaya dan tidak terbesit untuk mengundang Thunder agar melihatnya di panggung.

“Tentu!!!!!!!!!!!!!! Ayo aku antar kau ke Fakultas Kedokteran” Sooyoung bersemangat menarik tangan Jiyeon keluar dari kantin.

Dari kejauhan, tampak Hyun Seong berdiri tertegun dan meremas-remas kertas nada yang ada di tangannya.

“Kau, merebut segalanya!” teriak Hyun Seong dalam hatinya dan membuang kertas itu ke arah yang dia pun tidak tahu. Berlari berlawanan dengan arah Jiyeon sejauh mungkin.. hanya itu yang bisa Hyun Seong lakukan.

…………………………..

“MWO? Kau menolak undanganku hanya demi seekor kodok? Dimana perikemanusiaanmu? Hah?” Jiyeon berteriak-teriak di depan perpustakaan.

“Tidak salah aku mengajakmu berbicara di luar, kalau di dalam, bisa-bisa kau dihajar masa” jawab Thunder dengan cuek.

“Harusnya kau menerimanya” sahut Jiyeon ngotot.

“Kenapa aku harus menerimanya?” tanya balik Thunder. Jiyeon bingung akan berkata apa.

“Itu..karena kau pergi menghilang tanpa pamit padaku tempo hari.Harusnya kau menerima undanganku ini sebagai ucapan minta maafmu padaku. Ya sudah kalau tidak mau datang” Jiyeon pergi keluar dengan hati kesal. Setelah di halte, dia menunggu bus yang biasa berkeliling kampus tanpa biaya. Setelah menaiki bus itu sampai gerbang utama, Jiyeon biasanya lanjut menaiki bus umum.

“Harusnya aku tidak menghampirimu tadi.huhf” gerutu Jiyeon sambil memegang undangan pentas miliknya. Tak lama kemudian, bus kampus yang dia tunggu sudah terlihat. Jiyeon bangkit dari duduknya, menghelas nafas dan kemudian meninggalkan undangan itu di bangku halte. Kini dia melangkah masuk ke dalam bus kampus. Beberapa meter setelah bus berjalan, undangan itu tertiup angin dan mendarat di kaki seseorang yang tidak jauh dari halte. Orang itu mengambil kertas di bawah kakinya dan memperhatikan undangan itu dengan serius lalu menyelipkan di halaman buku yang berjudul “Anatomi Hewan”.

………………………..

(Jiyeon P.O.V)

Kakiku melangkah kecil untuk turun dari bus umum.

“Halte ini kenapa selalu sepi ya?” gerutuku tidak karuan.. sejak tadi semua hal yang aku lihat selalu saja aku komentari.

“Kenapa aku harus bertindak bodoh seperti tadi? Harusnya aku sudah tahu kalau Thunder tidak akan mau pergi. Dia kan tiada hari tanpa belajar, dia hanya akan membuang waktu kalau pergi dan menontonku di panggung” ucapku lemas.

Krriing Krriingg ….(bunyi bel sepeda)

Aku menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Thunder. Dengan wajah yang penuh keringat, pakaian yang lusuh dan agak basah, namun baru kali ini aku melihat dia tersenyum. Atau mataku yang sedang tidak waras?

Thunder mengerem sepeda tepat di depanku.

“Jiyeon-ah, kau mau makan es krim tidak?” sahut Thunder dengan nafas tersengal-sengal.

Aku setengah tidak percaya bahwa itu adalah dia, apakah dia memiliki kepribadian ganda?

“Jeongmal?” tanyaku dengan penuh harapan bahwa dia berkata ‘NE’

Thunder menuntun sepedanya dan berjalan disampingku. Aku merasa sangat bahagia dan masih sangat belum percaya bahwa yang sekarang berjalan di sampingku adalah Thunder.

“Mian aku tidak menggoncengimu, karena aku lelah harus bersaing cepat dengan bus” sahutnya tiba-tiba.

“Ahh,gwaenchana.. Aku yang merepotkanmu. Mengapa kau ingin mentraktirku es krim?”

“Karena aku ingin meminta maaf atas perlakuan dinginku tadi”

“Hahahahahaa, gwaenchana sunbae”

“Jangan panggil aku sunbae! Panggil Thunder-ah saja supaya kita lebih akrab” jawabnya sambil tersenyum indah. Sudah dua kali aku melihat senyum seperti ini..Aku mencubit pipiku sendiri dan sepertinya Thunder tertawa kecil melihat tingkahku.

“Kau ingin aku bantu?” tanyanya yang membuat aku bingung. Aku belum menjawab apa-apa, dia langsung mencubit pipiku.

“Aaaa..” jeritku kecil dan berwajah sebal.

“Kau semakin lucu dan aneh dengan wajah seperti itu.hahahaha”

Dia berani menghinaku..huhf

(Jiyeon P.O.V end)

…………………………………………….

Minah berjalan dengan santai menuju taman belakang, dia mencoba memulai untuk berlatih bernyanyi.

“Aaa.. Do Re Mi Fa Sol Sol Sol”

Belum sempat Minah menyelesaikan nada yang akan dinyanyikannya, terlihat semak-semak bergerak.

“Nugu?” teriak Minah setengah khawatir dan takut.

Tidak ada jawaban dari semak-semak itu, Minah melangkah mundur dan mulai berjalan cepat menjauh taman. Sayangnya langkah Minah terhenti, ada yang memegangi tangannya.

Minah perlahan membalikkan tubuhnya.

“Bisakah kau menyanyikan sebuah lagu untukku?”

“Hyun Seong-ah? Ne” jawab Minah dengan senyum terkembang.

………………………………………..

~Tempat Pementasan Seni~

Terlihat lampu berwarna-warni dengan dominan yaitu kuning menyinari panggung. Alunan musik Gayageum mulai terdengar mengiring lagu kebangsaan Korea Selatan, mahasiswa seni pun memasuki panggung dengan kostum tradisional Korea Selatan.

“Chagiya, lihat! Itu Jiyeon dengan kostum hanbok berwarna biru muda. Cantik ya!” sahut Sooyoung dengan suara lantang, namun untungnya teriakan Sooyoung kalah dengan musik.

“Ne, chagi..Kau bersemangat sekali” jawab Kyuhyun dengan santai.

“Anak itu, selalu ceria” ucap Thunder yang juga ikut menikmati pertunjukkan.

Setelah lagu kebangsaan selesai dikumandangkan, kini beberapa orang menari dengan harmonis sesuai lagu yaitu 2 lagu tradisional yang di telah diremix menjadi satu. Tarian itu berpasang-pasangan, Jiyeon berpasangan dengan Hyun Seong dan di sebelah mereka berdua ada Minah dan Jeong Min menari berpasangan.

“Jiyeon-ah, kau menikmati tarian saat ini?” tanya Hyun Seong tiba-tiba.

“Tentu, aku sangat menyukai berada di panggung” jawab Jiyeon.

“Bukan itu maksudku, maksudku adalah …” belum sempat Hyun Seong berkata sampai akhir, pasangan menari berubah. Jiyeon dengan Jeong Min dan Hyun Seong dengan Minah.

“Kau ingin berkata apa, Hyun Seong-ah?” tanya Minah.

“Ahh, ani” Hyun Seong berwajah datar.

Pertunjukkan pertama telah selesai, tirai di tutup sementara dan hadirlah kedua MC yaitu Eunhyuk dan Donghae.

“Tepuk tangan semuanya untuk pertunjukkan pertama dari hoobae kami. Bagus bukan?” kata Donghae sambil ikut bertepuk tangan.

“Sebelumnya kami berterima kasih karena para undangan telah hadir” ucap Eunhyuk dan tepuk tangan kembali riuh.

“Pantas saja Jiyeon tidak memberikan Eunhyuk undangan, karena memang Eunhyuk adalah Mcnya.hahahaha” Sooyoung tertawa sendiri.

“Chagiya, waeyo?” tanya Kyuhyun khawatir kalau pacarnya sudah mulai gila sejak tadi.

“Ani..hehehehee” Sooyoung masih dengan ekspresi tertawa ke arah Eunhyuk. Setelah tampil banyak lagu yang dibawakan oleh mahasiwa baru Ilmu Budaya, tampilan puncak akan dibawakan oleh Jiyeon dan Hyun Seong dimana mereka berpatner menyanyikan lagu bergantian namun diiringi alat musik yang juga secara bergantian.

“Hyun Seong, kali ini kita saling membantu.Kau bernyanyi dengan iringan pianoku, lalu saat aku bernyanyi, kau iringi dengan saxophonemu. Ayo kita berdoa sebelumnya. Semoga kita berhasil” ucap Jiyeon dengan mata tertutup dan berdoa di belakang panggung. Hyun Seong memperhatikan wajah Jiyeon yang cantik, saat Jiyeon akan membuka matanya, Hyun Seong berpura-pura menutup mata.

“Sudah berdoanya?” tanya Jiyeon.

“Ye..” kemudian mereka berdua pun menuju panggung dengan pakaian yang berbeda. Jiyeon mengenakan Short dress berwarna putih dan Hyun Seong mengenakan kemeja putih dan jas tanpa dikancingkan. Sorak sorai penonton terdengar jelas, makin membuat Jiyeon gugup.

Jiyeon bersiap di posisinya yang akan memainkan piano dan Hyun Seong bersiap dengan saxophonenya.

Ttoreureu nunmuri heulleoganda ttoreureu ttoreureureu (Ttoreureu tears flowing ttoreureureu ttoreureu)

sorieomneun apeumeul igijido motanche

(Map of the pain is not a sound of pain)

pareureu sonkkeuchi tteollyeoonda pareureu pareureureu

(Shaking fingers come pareureu pareureureu pareureu)

ttaseuhaetdeon siganeul gieokhanabwa

 (Seems like remember the time when me met)”

Masih teringat jelas di ingatan Jiyeon saat dia dan Thunder pertama bertemu di jalan.

BBBRRRUUUKKK..

“Choesong hamnida” sahut Jiyeon

“Omo, ganteng sekali dia. Seperti malaikat!” sahut Jiyeon dalam hati. Pria itu langsung berubah memiliki sayap dan wajahnya benar-benar bersinar meskipun sedang menunduk membaca buku.

Pria itu kemudian kembali melangkahkan kakinya.

“Oh iya, gwaenchana” sahut pria itu sambil menoleh ke arah Jiyeon selama 5 detik dan kembali berjalan menjauhi Jiyeon

“Sarangeul hamyeon deo yeppeojindae

(For if a more beautiful love)

sarangeul hamyeon jom dallajindae

(For if a little different when you love)

eotteoke haeya nae anui sarangi deo yeppeojilkkayo

(How do I love that I possess more would)

saenggageul hamyeon nunmuri nago

(When you think watery)
nunmuri namyeon tto saenggangmaneul

(I only cry once again)
geureon sarami gyeote itdaneunge dahaengijyo

(Lucky by that person‘s)

 

“Park Sang Hyun? Kedokteran?” ucap Jiyeon setengah teriak panik dan kaget setelah melihat KTM dan dia digeret Sooyoung untuk mengembalikan KTM itu kepada pemiliknya.

Jiyeon agak kaget saat terdorong dan dia dengan cepat menahan tubuhnya agar tidak tersungkur di atas tanah.

Semua orang diperpustakaan melihat kearahnya, tak terkecuali Thunder. Jiyeon mencoba mengendalikan keadaan, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

“Ehhemm” Jiyeon berdehem

Seureureu du nuni gamgyeoonda seureureu seureureureu

(Seureureureu comes right off right off the wound with two eyes)

goun miso hyanggie kkumeul kkugo sipeonnabwa

(I wanted to smile and fine fragrances in the dream turns outto)

ttoreureu sarangi heulleoganda ttoreureu ttoreureureu

(Love flows ttoreureureu ttoreureu ttoreureu)

mami siryeoulmankeum johahanabwa

(Dont mind as good as she wants to cry)”

“Jiyeon-ah.. Wajahmu sangat merah dan penuh keringat. Kau lelah? Mian!!” ucap Thunder sambil memberikan tissue pada Jiyeon.

“Aku rasa, kaloriku benar-benar sudah terbakar” jawab Jiyeon sambil tertawa kecil.

Thunder hanya tersenyum simpul dan segera berganti posisi. Kini Thunder yang akan mulai mengayuh sepeda sedangkan Jiyeon yang akan diboncenginya.

“Sunbae, terus kayuh. Kita tinggal sebentar lagi sampai” sahut Jiyeon sambil membiarkan angin meleraikan tiap helai rambutnya. Semenjak Thunder yang mengayuh sepeda, sepeda berjalan cepat.

 

“Gaseume chagaun niga naerimyeon

(Get off you chest cold)
motbondeusi geujeo useoya haeyo

(I’m just as we did not see the punch line)

haengyeo niga dorabolkkabwa hangsang geu jarireul maemdoneun

(Tour of the place you’re always afraid of a chance revolving)

eoriseogeodo haengbokhan sarangi johaseo

(Stupid because I like a happy love)

Dan juga ingatan beberapa jam yang lalu, saat dia bersama Thunder di backstage.

“Jiyeon-ah..Good Luck!” ucap Thunder sambil mengedipkan salah satu matanya.

“Ne!” jawab Jiyeon yang juga melakukan hal yang sama.

“Jiyeon-ah, tunjukkan kemampuanmu di panggung nantii, jangan gugup!!”  sahut Thunder lagi. Namun Jiyeon hanya menunduk dan memegangi kedua tangannya yang dingin.

“Kau pasti bisa!” Thunder menggenggam kuat kedua tangan Jiyeon dan memeluk tubuh mungil Jiyeon. Jiyeon pun terlihat kaget.

Tepuk tangan riuh bersahut-sahutan setelah Jiyeon usai bernyanyi. Jiyeon tersenyum lebar. Hyun Seong menaruh saxophonenya dan beralih memegang microphone. Piano Jiyeon kini mulai berdenting mengiringi alunan musim yang akan dinyanyikan oleh Hyun Seong.

Hangeoreum mulleonamnida (I take one step backwards)
daheul deut dachi annneun goseuro
(To where I feel you can’t reach me)
nunmure beonjin geudaeui moseubeun
(Your tear smudged face)
apaolmankeum neomu areumdawoyo
(It’s so beautiful as it is painful)
hanb
eon deo jallanaemnida (Once again I sever it)
nunmureul meokgo jaraneun maeum
(Swallowing my tears I sever my heart)
bureuji motan geudae ireumi
(Your name I can’t call out)
gaseumeul chyeoseo meongi deureodo
(Pounds at my heart bruising me)”

Hyun Seong menyanyikan lagu ini dengan sedikit terisak tangis membayangkan kejadian beberapa hari yang lalu. Untungnya penonton menganggap itu adalah ungkapan dari lirik lagu yang Hyun Seong coba keluarkan.

“Kau tau Hyun Seong-ah, aku tadi di antar oleh Thunder sunbae, dia mahasiswa Kedokteran. Aku baru mengenalnya tadi, tetapi dia sudah baik sekali” Jiyeon mengucapkannya dengan polos di depan Hyun Seong tanpa Jiyeon tahu bahwa perkataan itu menyakiti Hyun Seong. Berlari ke arah Thunder bukanlah hal yang diinginkan oleh Hyun Seong, Hyun Seong ingin memanggil nama JIYEON, namun mulutnya kelu. Jantung seakan terdekap oleh rime yang dapat membuatnya berhenti berdetak.
Mianhaeyo ireon saramiraseo (I’m sorry for being the kind of person I am)
geudae ape dagaseol su eobseoseo (For not being able to stand near you)
saranghae geumal hanmadireul motaeseo (I love you,the words I can’t say to you)
gakkeumeun honja umnida (I sometimes cry alone)
jal motnan saranginikka (Because my love has faults)
byeonmyeong hanmadi chatji motaneun (I can’t find a single word of excuse)
sesangui kkeute dadareun hue (When I look back at the end of my life)
dwidorabom
yeo huhoehagetjyo (I’m sure I’ll regret it all)

Hyun Seong menjerit dalam hati “Kenapa harus Thunder yang merebut hatimu? Bukan orang lain? Aku lebih ikhlas kalau kau bersama orang lain, bukan Thunder!” Hyun Seong terduduk lemas setelah mengintip dari jauh, Thunder dan Jiyeon berpelukan.

Aku ingin menanyakan satu hal padamu Park Sang Hyun, namun aku harap jabawan itu bukanlah karena balas dendam untuk kejadian masa lalu.

*To Be Continued*

30
Nov
11

In My Dream (Chapter 3)


*Maaf ya readers, lama menunggu.. kyaknya hampir setahun deh T^T miaaaaaaaaaaaaannnn >3< hiatus juga ga bilang2 hehehehe. betewe, aku ngelanjutin in my dream chapter ke-3 hhehe :)) belakangan ini aku mulai lirik2 shinra pairing setelah baca2 ff nya temen2 author yang lain. nah, mudah2an aku sempet bikin ff lagi. habisnya aku udah jarang bukan internet, maklumlah anak kelas 2 SMA -apaan sih- hehehe, jaaa..please enjoy this ff :)) imagenya masih tetep, cz masih belum pinter ngedit hehe mian readers 😦 annyeoong 🙂 *

Title : In My Dream

Casts :

  • U-Kiss’s Eli;
  • CN Blue’s Jung Yong Hwa;
  • KARA’s Kang Ji Young;
  • Other Cameo

Genre : Romance, Fantasy,  AU

Author : Kiko Otter

Rating : T

 

In My Dream (Chapter 3)

 

Saat Eli jatuh, Eli melotot kaget pada Ji Young saking kagetnya. Ji Young sendiri merasakan wajahnya menjadi sangat panas.

“Elinel..?!”

Ji Young menoleh kaget mendengar beberapa suara, Eli dan Ji Young kebingungan harus bagaimana mengubah kejadian ini.

“Eli, neon…” ucap salah seorang anak

Ji Young menoleh kaget, Eli masih terpaku pada tatapan mata Ji Young padanya. Wajar saja, saat ini posisi mereka adalah Eli terjatuh diatas Ji Young yang baru saja berusaha menangkap Eli yang terhuyung hampir terjatuh.

“Eli! Apa yang kamu lakukan dengan Ji Young?”

Mendengar suara yang Eli kenal, Eli bersegera bangun dari posisinya sambil menarik tangan Ji Young yang berkeringat dingin. Yong Hwa masih terlihat sangat kaget, sangat terlihat dari matanya yang melotot pada Ji Young yang masih terlihat kebingungan.

“Ani~aniya hyung, aku hanya tersandung dan Ji Young menolongku, tapi malah seperti tadi,” jawab Eli dengan tenang

Ji Young masih menatap kosong ke lantai, wajahnya masih terlihat merah, pikirannya juga kosong. Dia tak tau harus memikirkan apa.

“Oh begitu, Ji Young apa kamu baik-baik saja?” tanya Yong Hwa sambil menghampiri Ji Young yang masih diam ditempatnya

Ji Young hanya mengangguk-angguk pelan, Eli melihat mereka berdua dengan pandangan kesal. Seolah-olah Yong Hwa, orang yang sudah dia anggap sebagai kakak, telah direbut olehnya. Dia semakin kesal setelah melihat Yong Hwa dan Ji Young berbincang-bincang

“Hyung, ayo kita pergi!” seru Eli dengan sengaja

Ji Young menoleh cepat ke arah Eli yang mengagetkannya dengan suara Eli sendiri

“Ji Young, ayo kita kembali ke kelas dulu! Nanti saat kita istirahat, kita lanjutkan pembicaraan kita,” usul Yong Hwa

Ji Young mengangguk sambil tersenyum setelah menatap Yong Hwa sekilas. Ji Young tersenyum sendiri setelah melihat Yong Hwa kembali ke kelasnya. Dia tak mengalihkan pandangan dari Yong Hwa sampai Yong Hwa benar-benar tidak terlihat.

‘Ya Tuhan, kenapa ada peri sebaik dan selembut dia? Dia terlalu baik padaku..’ batin Ji Young

***

“Jadi begitu rupanya, kamu berasal dari keluarga Claridge dan bangsa Nymph! Wow, bagaimana kehidupan bangsa Nymph disana?” tanya Yong Hwa bersemangat

Ji Young masih menatap ke lantai sambil memainkan kakinya, dia sangat malu untuk menatap Yong Hwa yang sekarang ada disebelahnya. Eli hanya mendengus kesal karena dia seperti obat nyamuk diantara Yong Hwa dan Ji Young, selain itu daritadi Yong Hwa seperti hanya mendengarkan Ji Young.

“Kehidupan kami? Eung~yah, tidak jauh beda dengan bangsa Sylph,” jawab Ji Young dengan suara pelan

Yong Hwa hanya tersenyum merasakan suasana canggung diantara mereka berdua, dia meminum orange juicenya sambil membatin,

‘Aigoo, suasananya canggung sekali?! Apa aku harus mulai duluan?’ batin Yong Hwa sambil sesekali melirik Ji Young yang masih menunduk malu

“Hyung!” panggil Eli dengan nada keras,

Eli tidak tahan merasakan suasana canggung diantara Ji Young dan Yong Hwa. Eli berpikir bahwa, makin lama Ji Young dan Yong Hwa terlihat seperti pasangan kekasih yang berkencan untuk pertama kalinya.

“Ne?” jawab Yong Hwa terkejut

“Apa hari ini hyung ada acara dirumah?” tanya Eli mengambil alasan

Yong Hwa berpikir sejenak, kemudian menggeleng perlahan

“Aniyo, waeyo?” tanya balik Yong Hwa

“Aku ingin ke rumahmu,” jawab Eli dengan santai

Yong Hwa mengangguk-angguk sambil meminum orange juicenya. Lalu menatap ke arah Eli yang juga menatap Yong Hwa.

“Joha, ajaklah Ji Young juga agar kita bisa lebih dekat satu sama lain,” usul Yong Hwa ringan

“Mwoo???” ucap Eli sangat kaget mendengar usulan dari Yong Hwa

Ji Young pun hanya menatap tidak percaya setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Yong Hwa. Dalam hati dia ingin berteriak sekencang-kencangnya karena sangat senang, dia tidak menyangka Yong hwa akan mengharapkan kedatangannya.

“Keuraeyo??” tanya Eli meyakinkan Yong Hwa

Yong Hwa mengangguk berkali-kali sambil tersenyum melihat ke arah Eli, lalu menatap Ji Young yang terlihat sangat polos

“Apakah ada yang salah dengan usulanku?” tanya Yong Hwa

“Ne!” papar Eli dengan tegas

“Keurae? Apa yang salah?” tanya Yong Hwa lagi

“..eummm, molla! Tapi yang jelas ada yang salah!” tegas Eli

“Sudahlah Eli! Ji Young, kamu tetap datang ke rumahku, kan?” ucap Yong Hwa tidak memperdulikan ucapan Eli

“Jjinjayo?” ucap Ji Young ragu-ragu

Yong Hwa mengangguk lagi, Ji Young tersenyum sambil menunduk. Dia tidak berani menatap mata bening Yong Hwa yang sekarang menatap mata Ji Young yang sudah berubah warna lensanya menjadi orange.

***

Ji Young duduk sendiri di teras depan rumah Yong Hwa. Sesekali dia melihat bunga kristal yang terus menerus memantulkan sinar matahari melalui mahkota bunganya. Eli terus menerus memainkan jarinya yang membuat benang udara kusut.

“Ya ampun, apa sih yang Yong Hwa hyung lakukan?” tanya Eli pada adik perempuan Yong Hwa, Seung Yi

“Yong Hwa oppa sedang mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh omma, oppa baru bisa kemari sekitar  10 menit lagi,” jawab Seung Yi

Ji Young sesekali melihat ke arah mereka berdua yang berdiskusi banyak hal, lalu dia menghela nafas panjang. Sudah hampir 30 menit Eli dan Ji Young menunggu Yong Hwa di rumahnya, dan yang pastinya Ji Young tidak dapat menghindari waktu bersama Eli.

“Hei!” panggil Eli dengan malas pada Ji Young

Ji Young tidak menoleh karena namanya tidak disebut, dia sangat enggan menoleh ke arah Eli.

“Hei! Kalau dipanggil menoleh!” ucap Eli dengan sinis

“Oh, kamu memanggilku?” tanya balik Ji Young dengan nada yang sinis juga

Eli menghela nafas sambil melotot tajam ke arah Ji Young. Ji Young hanya tersenyum tanpa dosa, karena memang bukan dia yang berbuat kesalahan.

“Ya terserahlah, mengapa kamu hanya duduk menyendiri disitu?” tanya Eli alih-alih membuat pembicaraan

“Memang, apa pedulimu?” jawab Ji Young acuh tak acuh

“Jangan kepedean! Aku tanya seperti itu bukan karena perhatian padamu,” jawab Eli tidak peduli

Ji Young hanya mengerucutkan bibirnya, matanya hanya terus melirik dan melempar pandangan ke arah bunga-bunga kristal yang ada didepannya. Dia ingin menyentuhnya, namun dia tak berani karena bunga kristal sangat mahal harganya.

“Aku duduk disini, karena kamu yang duduk disitu. Kalau aku duduk disitu, apa kamu tidak akan malu terdengar sangat ramai oleh tuan rumahnya?” jawab  Ji Young sambil menatap tajam Eli

Adik-adik Yong Hwa, Seung Yi dan Ji Eun hanya memandang ke arah mereka dengan tatapan yang sangat lucu. Seolah-olah sedang melihat ‘Gag Concert’ yang biasa mereka lihat di opera-opera.

Terbukti, mendengar perkataan Ji Young yang langsung tepat sasaran, Eli hanya dapat melirik tajam ke Ji Young. Eli berdecak kesal, hanya karena satu-dua kalimat, Ji Young mampu membuat Eli diam tidak membalas.

“Ji Young? Eli? Sudah daritadi?” suara yang sangat mereka kenal, tentunya

Eli dan Ji Young bersamaan menoleh ke arah lorong didekat perapian, Yong Hwa hanya tersenyum kecil melihat mereka duduk berjauhan.

“Tidak, baru saja aku datang hyung,” jawab Eli sambil menatap Yong Hwa memelas

“Lalu, bagaimana denganmu Ji Young?” tanya Yong Hwa mengambil topik pembicaraan

“Eung~yah, aku juga baru saja datang sonbae,” ucap Ji Young menunduk malu-malu

Yong Hwa tersenyum lebar mendapat reaksi seperti itu dari Ji Young, ‘Mengapa dia masih malu untuk berbicara padaku, ya?’ batin Yong Hwa penasaran

“Aku sudah mengatakan padamu kalau panggil saja aku Yong Hwa,” jawab Yong Hwa sambil menghampiri tempat Ji Young

Eli, Seung Yi, dan Ji Eun membelalakkan kedua mata mereka melihat pemandangan yang sangat jarang dilihat. ‘Apa-apaan nih? Sejak kapan?’ tanya Eli dalam hati

‘Aiishhh!!!! Sial-sial! Mengapa mereka jadi lebih dekat? Ji Young sial! Tidak hanya appa dan teman-temanku yang lain yang dia rayu, sekarang malah Yong Hwa hyung juga yang dirayu!’ umpat Eli berkali-kali dalam hati

“Eli oppa, mereka couple ya?” tanya Ji Eun, adik Yong Hwa yang termuda

“HAAAHH????!! YA GAK MUNGKINLAH!” sentak Eli tidak terima

Ji Young dan Yong Hwa menoleh kaget, Eli yang benar-benar tidak sengaja mengucapkan kata-kata itu hanya bisa nyengir malu.

“Ada apa Eli?” tanya Yong Hwa

“Ga, ga ada apa-apa hyung, hehehe..” jawab Eli masih nyengir ganjil

‘Ya ampun, Eli!! Kamu mau taruh dimana mukamu? Kamu mau imagemu hancur didepan saudara-saudara perempuan hyung?’ ejek Eli pada dirinya sendiri dalam hati

Seung Yi dan Ji Eun terkikik geli, terlihat seperti putri-putri yang tertawa genit. ‘Astaga, apakah Yong Hwa benar-benar merupakan kakak dari mereka? Jauh sekali perbedaannya,’ batin Ji Young

“Hmm..bagaimana kalau kita ke bangku panjang disana?” ucap Yong Hwa tiba-tiba

Ji Young hanya mengangguk pelan, padahal dalam hati dia sudah melonjak-lonjak bahagia.

“Ya ampun, aku sampai lupa!” kejut Yong Hwa

“Apa?” ulang Ji Young cukup terkejut

Yong Hwa memetik 2 bunga kristal yang sedari tadi Ji Young amati. Tak lama setelah itu, Yong Hwa tersenyum pada Ji Young seolah mengharapkan sesuatu

“Tanganmu?”

Yong Hwa meminta tangan Ji Young yang sedang terpaku menatap Yong Hwa. Ji Young memberikan tangannya ragu-ragu, Ji Young menggigit bibir bawahnya karena merasa takut. Lalu, Yong Hwa menggenggam tangan Ji Young kemudian memejamkan matanya.

Tak lama setelah itu, bunga kristal yang sama-sama dipegang oleh Yong Hwa dan Ji Young memancarkan sinar gemerlap.

“Apa yang Yong Hwa hyung lakukan?” tanya Eli pada Ji Eun yang hanya tersenyum

“Eli oppa tidak tau?” tanya balik Ji Eun

Eli hanya menggeleng cepat sambil terus memandangi bunga kristal yang Yong Hwa dan Ji Young pegang. Sinar dari bunga itu semakin terang

“Lihat saja, nanti juga tau,” ucap Seung Yi dengan santai

Yong Hwa dan Ji Young masih memejamkan mata, dan bunga kristal itu memekar dengan cepat lalu bunga tersebut berubah warna menjadi warna silver yang sangat indah.

“Ji Young, bukalah matamu,” ucap Yong Hwa setelah membuka matanya

Ji Young membuka kedua matanya lalu terjingkat melihat perubahan warna bunga-bunga kristal yang barusa mereka pegang bersama.

“Apa yang terjadi dengan bunganya?” tanya Ji Young penasaran

“Menurutmu apa maksud dari warna bunga ini?” tanya Yong Hwa sambil menunduk memandang Ji Young

“Aku tidak tau, memangnya apa?” jawab Ji Young sangat polos

“Aku baru saja membaca buku bagaimana cara bagsa Sylph dan Nymph dapat saling berinteraksi dengan baik, dan hal pertama yang harus aku lakukan adalah tadi!” pekik Yong Hwa denga semangat

Ji Young masih melihat Yong Hwa dengan pandangan yang bingung, ‘Apa yang sedang dia bicarakan? Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu,’ batin Ji Young

“Bunga kristal adalah lambang kasih sayang di bangsa Nymph, bukan?” Yong Hwa mulai bingung menjelaskan maksudnya

“Ya memang,” Ji Young berusaha menjawab seyakin-yakinnya

“Kami, bangsa Sylph, dapat mengekspresikan rasa kasih sayangnya dengan berbagai cara. Namun sangat sulit mengutarakan pada bangsamu, bangsa Nymph. Maka dari itu, barusan kita saling mempertemukan perasaan kita melalui bunga kristal ini,” jelas Yong Hwa

Ji Young hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Yong Hwa, seolah-olah sedang mendengar nasihat dari guru besar.

“Silver adalah tingkat pertama, karena kita belum terlalu mengenal silver ini mewakili rasa penasaran masing-masing. Yah aku rasa, kita berdua memang saling penasaran,” ucap Yong Hwa

“Lalu?” tanya Ji Young penasaran dengan kelanjutan perkataan Yong Hwa

Eli yang terus memperhatikan mereka dan mendengar pembicaraan mereka merasa seperti obat nyamuk diantara mereka. Eli cemburu dengan Ji Young, karena Ji Young sudah sangat dekat dengan Yong Hwa. Sedangkan Eli tidak ingin Yong Hwa direbut oleh orang baru seperti Ji Young.

“Karena ada dua bunga, kita saling bertukar bunga. Suatu saat nanti warna bunga ini akan berubah dengan sendirinya seiring dengan perasaan pemilik bunga satu pada pemilik bunga lainnya,” papar Yong Hwa

Ji Young mengambil salah satu bunga dari genggaman Yong Hwa. Saat memegang bunga kristal miliknya, dengan cepat warna bunga itu berubah menjadi warna ungu.

‘Eh? Ada apa ini? Mengapa berubah warna secepat ini?’ batin Ji Young mulai kelabakan. Yong Hwa juga menatap bunga Ji Young terheran-heran, Eli yang baru saja menghampiri mereka berdua juga menganga kaget

“Ji Young, warna bungamu ungu..” Yong Hwa berkata seolah-olah seperti melihat keajaiban terjadi

“Ah..eh, aku bukan.., maksudku bukan aku..” Ji Young menjadi gugup setengah mati

“Apa maksudnya dengan warna ungu ini, bodoh?” ejek Eli masih tidak mengerti

Ji Young dan Yong Hwa hanya berpandangan canggung. Bunga kristal yang dipegang Yong Hwa masih berwarna silver, akan tetapi terlihat sesuatu yang seperti berdetak-detak ditengah-tengah warna silver itu.

Yong Hwa berusaha mengucapkan kata-kata dari mulutnya, saking shocknya dia masih tidak percaya melihat warna bunga kristal Ji Young.

“Secepat itukah? Benarkah bungamu berwarna ungu? Kamu…”

 

 

^v^~~~*** To Be Continue ***~~~^o^

 

-naaah. sampai juga dipenghujung chapter 3 ini, please dengan sangat dikomen yaa. supaya aku bisa rajin update juga 🙂 aku paling males kalo ga ada yang kasih komen, cuma sekedar lewat aja. yah, maaf juga cz aku jarang update *digetak sama pea* tapi yang aku butuhin cuma komen dari para readers, ditunggu ya komennya :))

24
Aug
11

Chingu? Sarang?

Title        : Chingu? Sarang?

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Hyunseong [Boyfriend], Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Eunhyuk, akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Author iseng liat page “Pairing [Need Ur Idea]” trs liat sebuah komentar minta pairing Jiyeon-Thunder. Akhirnya terbentuklah ide untuk fanfict ini ^^

Oh iya,pas pertama ngepost ada banyak kesalahan.Author minta maaf ya! Baru sekarang bisa dibenerin 🙂

Semoga readers pada suka ^^v

              Makasih buat readers yang udah menyumbangkan aspirasinya ya..

Buat yang lain,ditunggu jg lhoo ide pairingnya.hehehee

HAPPY READING!!!!

~Universitas Nasional Seoul~

Seperti biasa, Jiyeon selalu berlari pagi karena telat ke kampusnya. Jiyeon adalah mahasiswa baru di Universitas Nasional Seoul, sungguh berat pengorbanannya agar bisa masuk ke universitas ternama, meskipun Jiyeon ternyata hanya diterima di jurusan Seni dan Budaya (termasuk grade yang menengah ke bawah dibandingkan dengan Teknik, Natural Science dan Kedokteran).

“Aku terlambat. Ottokhaji?” ucap Jiyeon sambil berlari terengah-engah membawa banyak bawaan, yaitu tas ransel dan tas tangan yang lumayan besar.

“Jadi begitu cara mengetahui kerusakan organ dalam. Aku baru sadar!” ucap seseorang yang berjalan berlawan arah dengan Jiyeon, orang itu membaca sambil berjalan sehingga tidak melihat keadaan di depannya sedang ada seorang wanita berlari bagaikan banteng di matador yang siap menubruk apa saja yang ada didepannya.

BBBRRRUUUKKK..

“Choesong hamnida” sahut Jiyeon sambil mencoba merapikan barang-barangnya yang keluar semua dari tas tangannya. Tak ada jawaban dari orang yang ditabrak Jiyeon, orang itu sibuk mengambil kembali buku yang semula dia baca dan kembali berdiri.

Seusai Jiyeon merapikan bawaannya, dia mencoba melihat ke arah pria yang ditabrak di tabraknya tadi.

“Omo, ganteng sekali dia. Seperti malaikat!” sahut Jiyeon dalam hati. Pria itu langsung berubah memiliki sayap dan wajahnya benar-benar bersinar meskipun sedang menunduk membaca buku.

Pria itu kemudian kembali melangkahkan kakinya.

“Oh iya, gwaenchana” sahut pria itu sambil menoleh ke arah Jiyeon selama 5 detik dan kembali berjalan menjauhi Jiyeon. Jiyeon benar-benar terpaku dengan wajah orang tersebut, sampai-sampai dia lupa akan kelasnya yang sebentar lagi dimulai.

“OMO!!! AKU HARUS SEGERA KE KELAS!!!!” teriak Jiyeon panik dan kembali berlari.

……………………

(Thunder P.O.V)

“Hmm..anda ingin mengembalikan buku ya? Silahkan tunjukkan kartu identitas mahasiswa anda” ucap penjaga perpusatakaan pusat dengan lembut.

“Tunggu sebentar, tadi aku menaruh Kartu Tanda Mahasiswaku di antara halaman buku ini. Tapi kenapa …” menghilang ya? Lanjutku dalam hati.

Kemana perginya KTM milikku? Haduhhh,mana harus ada banyak buku yang aku baca dan pinjam untuk materi hari ini. Bagaimana ini?

“Hmm.. sebentar ya, aku ingin melanjutkan membaca disini saja” sahutku asal, berniat untuk mencarinya dengan aman di dalam perpustakaan yang nyaman ini.

“Baiklah, silahkan” sapa penjaga perpustakaan dengan baik.

Huhhhhf keringat dinginku keluar semua, sampai KTM itu hilang. Bisa gawat, aku harus meminjam buku memakai KTM, melihat hasil ujian dengan KTM, ikut tes dengan KTM.

“Huhhff, jangan panik Sang Hyun. Kau pasti akan menemukan KTM itu nantinya. Kalau memang apa yang seharusnya milikmu, pasti akan kembali padamu kok!” ucapku pelan mencoba menenangkan diri dan kembali membaca buku yang telah aku pinjam setelah frustasi mencari KTM yang tidak ketemu-ketemu.

(Thunder P.O.V end)

………………….

(Jiyeon P.O.V)

“Sunbae, aku telah membawa peralatan musik yang kemarin sunbae suruh” teriakku sambil berlari ke arah kantin mendekati Sooyoung dan Kyuhyun sunbae setelah kelas usai.

“Wahh, donsaengku yang satu ini memang sangat rajin ya! Seperti aku” sahut Sooyoung.

“Apanya yang seperti kau. Kau itu pemalas” sahut Kyuhyun sambil tertawa kecil.

“Chagi, puji aku sedikit di depan adik kelas dong..huhf” ucap Sooyoung sambil memonyongkan bibirnya. Kyuhyun pun mencubit pipi Sooyoung gemas.

“Sunbae, pacarannya nanti saja ya! Sekarang bantu aku menyelesaikan ini semua” ucapku agak membentak dan mengeluarkan isi tas tanganku. Sooyoung sunbae pun ikut membantuku.

“Hai, kalian sedang apa? Sepertinya sibuk.hehehee Butuh bantuanku?” sahut Eunhyuk sunbae mendekati kami bertiga.

“ANI!!!” teriak Sooyoung dan Kyuhyun sunbae bersamaan. Aku langsung terdiam dan menoleh ke arah Eunhyuk sunbae setelah mendengar teriakan Sooyoung dan Kyuhyun sunbae.

“Kalian jahat sekali menolak tawaranku.huhf” Eunhyuk kali ini duduk dengan lemas di samping Kyuhyun dan menyandarkan kepalanya ke bahu Kyuhyun, dengan sigap Kyuhyun langsung bergeser ke kanan yaitu mendekati Sooyoung.

“Kau tahu, terakhir kali kau membantu kami. Yang ada semuanya menjadi rusak. Kau memainkan gitar Kyuhyun dengan semangat sampai senarnya putus 2. Lalu saat kau mengajariku bermain drum di ruang musik, stick drum itu sampai patah dan aku yang kena marah oleh penjaga ruang musik. Sedangkan kau kabur entah kemana” Sooyoung nyerocos marah sambil melihat sinis ke arah Eunhyuk.

“Sudah, sudah.. para sunbaeku ini kenapa malah jadi bertengkar? Hehehehee” ucapku menjadi penengah.

“Iya, sudahlah chagi.. Ayoo kita urus Jiyeon-ah dulu” sahut Kyuhyun yang kemudian mengeluarkan satu persatu alat musik di dalam tas tangan Jiyeon.

“Hah? Apa ini?” tanya Sooyoung.

“Ini crecekan,sunbae. Aku bingung harus menyebutnya apa. Habis kata sunbae aku harus membawa alat yang ada di rumahku. Ya aku bawa itu” jawabku polos.

“Ini gendang? Haduh, Jiyeon-ah, kau itu akan pentas musik. Mainkanlah musik yang sewajarnya dan enak di dengar saat pentas nanti” Kyuhyun terlihat emosi.

“Aku bisa bermain piano, tapi piano itu terlalu besar untuk aku masukkan ke dalam tas tangan ini, sunbae” semua langsung menjadi hening. Tiba-tiba keluar seseorang dari dalam kelasku dan mataku langsung menatap orang tersebut dengan serius.

“Hyunseong-ah..” teriakku sambil berlari kecil mendekati Hyunseong dan meninggalkan para sunbae.

“Wae Jiyeon-ah?” jawab Hyunseong malu-malu karena dia baru dekat denganku setelah pembagian tugas pentas musik tadi pagi.

“Kita kan sekelompok pentas musik. Kau akan memainkan alat musik apa? Biar nanti aku ikut menyelaraskan” ucapku sambil tersenyum.

“Hmm.. mungkin aku akan bermain saxophone. Kau mau bermain apa?” jawab Hyunseong dengan terbata-bata.Apakah dia malu atau kenapa?

“Aku pikirkan dulu ya.. masih ada waktu 1 bulan lebih untuk kita pentas kan? Hehehee”

“Ne”

“Baiklah kalau  begitu. Kapan kita bs berlatih bersama?” tanyaku bersemangat karena aku tak sabar tampil diatas panggung.

“Mungkin akan aku kabari lagi nanti. Gwaenchana?”

Aku langsung mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Gwaenchana Hyunseong-ah. Aku akan mulai berlatih melancarkan main piano agar bisa mengimbangi seorang pemain Saxophone handal. Annyeong!” sahutku sambil melambaikan tangan kearahnya dan berlari kembali mendekati sunbae-sunbaeku.

“Jiyeon-ah. Ini KTM siapa? Kenapa ada di dalam tas tanganmu?” tanya Sooyoung sunbae. Aku langsung panik dan seakan mataku keluar membaca nama yang tertera di KTM tersebut.

“Park Sang Hyun? Kedokteran?” ucapku setengah teriak panik dan kaget. Fotonya seperti aku kenal. Itukan foto namja yang tadi tertabrak denganku tadi pagi.

“Kau harus mengembalikan KTM itu pada pemiliknya!” sahut Sooyoung dan Kyuhyun sunbae bersamaan.

“Tapi.. aku tidak mengenal siapa orang ini” jawabku mengelak.

“Ayoo aku bantu cari siapa orangnya. Lagipula, tinggal berjalan mengitari danau, sudah sampai ke Fakultas Kedokteran” ajak Sooyoung sunbae sambil menarik tanganku.

(Jiyeon P.O.V end)

…………………..

(Hyun Seong P.O.V)

“Hyun Seong-ah.. kau terus melamun sejak tadi. Kau mendengarkan hasil diskusi rapat atau tidak?” tegur salah seorang sunbae Hyun Seong dalam organisasi.

“Choesonghamnida!” sahutku yang sadar dari lamunanku.

Sungguh menyebalkan berada di ruang rapat tanpa konsentrasi sama sekali.huhf

“Hyun Seong-ah, kau tadi sedang memikirkan apa selama rapat?” tanya Dong Hyun padaku.

“Ani, Dong Hyun sunbae.hehehehehee” jawabku sambil tertawa kecil mencoba menyembunyikan kebohonganku.

“Dasar kau ini, sudah besar masih saja berbohong padaku. Anggap aku adalah kakakmu yang selama ini sudah pergi meninggalkanmu. Jadi kau bisa cerita segalanya padaku tanpa khawatir aku akan membongkarnya. Arraseo?” jelas Dong Hyun sambil mengusap-usap kepala Hyun Seong.

“Ne, sunbae. Gomapsumnida” jawabku. Sebenarnya selama rapat aku terus membayangkan senyum Jiyeon. Aku baru sadar kalau senyumnya adalah yang terindah yang pernah ada di dunia ini.

(Hyun Seong P.O.V end)

…………………….

“Sunbae, kau ikut mengantarku juga kan?” tanya Jiyeon sambil terus mengintip seseorang dari balik pintu perpustakaan.

“Kau sendirilah yang mengembalikannya. Dia adalah mahasiswa berprestasi di kampus ini. Orang-orang menyebutnya Thunder. Jadi kau panggil dia Thunder Sunbae. Ingat itu!! Sudah, cepat sana masuk” bisik Sooyoung sambil mendorong Jiyeon masuk ke dalam perpustakaan. Jiyeon agak kaget saat terdorong dan dia dengan cepat menahan tubuhnya agar tidak tersungkur di atas tanah.

Semua orang diperpustakaan melihat kearahnya, tak terkecuali Thunder. Jiyeon mencoba mengendalikan keadaan, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

“Ehhemm” Jiyeon berdehem sambil melangkah pelan mendekati tempat duduk Thunder. Thunder sedang sibuk membaca buku sambil mendengarkan ipodnya.

“Annyeonghasimnikka, sunbae” sapa Jiyeon ramah, namun tidak ada jawaban dari Thunder. Lalu Jiyeon memberanikan diri mencopot salah satu earphone di telinga kiri Thunder.

“Apa yang kau lakukan disini, hah?” tanya Thunder kesal. Baru kali ini ada orang yang mengganggunya saat membaca buku dan mendengarkan Ipod.

“Choesonghamnida, sunbae. Aku hanya ingin mengembalikan ini” jawab Jiyeon pelan sambil menyodorkan KTM milik Thunder.

“Kau menemukannya dimana? Jeongmal Gomawo” Thunder langsung merebut KTM miliknya dari tangan Jiyeon dan memasukkannya dalam dompet. Setelah itu kembali memasang earphone-nya.

Jiyeon sejak tadi berdiri di samping Thunder bagaikan patung. Lalu tanpa berkata sepatah katapun, Jiyeon pergi meninggalkan Thunder.

Beberapa saat setelah Jiyeon pergi.

“Ohh iya, namamu siapa? Mau aku traktir makan siang nanti?” tanya Thunder sambil melepas sendiri earphonenya, namun sayang. Sosok wanita yang diajak bicaranya telah pergi.

…………………..

“Hyun Seong-ah.. Kau sudah selesai rapat?” tanya Jiyeon berdiri di depan ruang rapat Hyun Seong untuk mendapatkan jawaban kepastian dari Hyun Seong.

“Jiyeon-ah? Kau sejak kapan menungguku disini?” tanya Hyun Seong kaget melihat kehadiran Jiyeon seusai dia rapat.

“Hmm.. sekitar 2 jam yang lalu. Jadi kapan kita bisa latihan?” tanya Jiyeon dengan wajah memelas.

“Baiklah, sepertinya hari ini. Tapi aku ada 1 kelas kuliah lagi. Kalau mau, silahkan kau ke rumahku duluan atau makan siang dulu lalu ke rumahku terlebih dahulu. Aku akan menyusul pulang. Gwaenchana?”

“Ne, lagipula rumah kita kan tidak begitu jauh.hehehee Annyeong, gomawo Hyun Seong-ah”

“Cheonmaneyo Jiyeon-ah”

Hyun Seong masih saja tersenyum sambil melihat Jiyeon berlari kecil meninggalkannya.

“Hyun Seong-ah. Apakah kau memikirkan dia selama rapat tadi? Jujur padaku! Hahahahahaa” sapa Dong Hyun sambil menepuk pundak Hyun Seong.

“Ahh sunbae. Ani” jawab Hyun Seong yang kemudian melangkah menuju kelas kuliahnya.

…………………….

(Jiyeon P.O.V)

“Ne, lagipula rumah kita kan tidak begitu jauh.hehehee Annyeong, gomawo Hyun Seong-ah” ucapku sambil pergi meninggalkanya

“Cheonmaneyo Jiyeon-ah” jawabnya.

Aku sekarang bingung harus kemana dulu, apakah aku harus makan siang dulu? Atau pergi pulang ke rumah sendirian?

“Ahhh, tau gitu tadi aku bareng Sooyoung dan Kyuhyun sunbae untuk pulang bareng. Kan lumayan naik mobil gratis.huhf” gerutuku sambil berjalan ke gerbang kampus.

“Hei kau. TUNGGU!!!!” teriak seseorang. Aku merasa tidak terpanggil, jadi aku meneruskan langkahku.

Tiba-tiba orang yang aku sudah kenal dengan sepedanya menghadang di hadapanku.

“Thunder sunbae?” sapaku pelan karena dia terkenal dengan sikap dinginnya.

“Kau jangan menatapku seperti itu. Kau sudah makan siang? Ayoo kita makan bersama. Aku yang traktir. Ottokhae?” perkataan Thunder sunbae barusan membuatku menganga lebar. Apa benar ini Thunder yang aku kenal dingin di perpustakaan tadi?


……………………

(Hyun Seong P.O.V)

“Kyuhyun sunbae, apakah kau melihat Jiyeon disekitar sini?” tanyaku pada seorang sunbae yang sedang berjalan melewatinya sambil bermain pspnya. Yang aku tahu, dia sangat dekat dengan Jiyeon.

“Ahh? Kau bicara denganku?” tanya Kyuhyun mencoba memastikan dan mulai mematikan pspnya.

“Keurae, sunbae!” jawabku yakin.

“Setahuku, Jiyeon sudah pulang bersama seorang namja. Sekitar 1 jam yang lalu. Entahlah mereka pergi kemana? Mungkin makan siang bersama” jawab Kyuhyun sekenanya tanpa disaring terlebih dahulu.

“Chagiii… Kau disini rupanya, aku mencarimu sejak tadi” teriak seorang wanita dari kejauhan yang kini sedang berlari mendekati Kyuhyun sunbae. Sepertinya itu adalah Sooyoung sunbae, pacarnya.

“Ohh, kau habis ada kelas? Aku juga mencarimu. Ayoo kita pulang sekarang!” ajak Kyuhyun sambil menggandeng Sooyoung.

“Gamsahamnida, Kyuhyun sunbae” sahutku sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkanku di lorong kampus.

“Baiklah kalau begitu. Aku harus buru-buru pulang sekarang!!” gerutuku sendirian dengan bersemangat.

(Hyun Seong P.O.V end)

…………………..

~Depan restorant~

“Sunbae, aku baru tahu kalau ada mahasiswa yang menggunakan sepeda untuk kuliah” ucap Jiyeon memperhatikan sepeda milik Thunder dengan seksama.

“Oh, aku hanya ingin membakar kalori.hehehee” jawab Thunder yang diakhiri tertawa kecil.

“Membakar kalori ya? Aku merasa gemuk akhir-akhir ini. Bagaimana kalau untuk pulang aku saja yang menggonceng sunbae?” tawaran Jiyeon sedang dipikir-pikir oleh Thunder. Wajah Thunder benar-benar datar saat berpikir.

“Kau yakin kuat mengayuh sepeda dengan beban yaitu aku?” tanya Thunder yang sepertinya tidak yakin kalau tubuh mungil Jiyeon dapat membawanya ke suatu tempat.

“Kan tadi sunbae janji untuk menemaniku ke rumah temanku. Jadi untuk mengucapkan rasa berterima kasihku, biarkan aku yang menggonceng sunbae” jelas Jiyeon sambil tersenyum indah. Thunder memperhatikan senyum Jiyeon dan akhirnya mengangguk pasrah.

“Ingat, kalau kau merasa berat. Bilang ya, supaya kita gantian!” suruh Thunder yang kini sudah menaiki sepeda di bagian belakang tempat duduk Jiyeon.

Jiyeon mulai mengayuh sepeda milik Thunder, terasa berat. Ya pasti karena Jiyeon lebih keil dibandingkan Thunder!!

Aku pasti bisa, ucap Jiyeon dalam hatinya. Thunder merasa kalau sepedanya berjalan sangat lama.. lama sekali..

“Jiyeon-ah, kalau tidak kuat. Jangan memaksakan!” sahut Thunder.

“Tenang saja sunbae” jawab Jiyeon sambil bersusah payah mengayuh sepeda.

Beberapa menit kemudian.

“Jiyeon-ah, baju bagian belakangmu mulai basah karena keringatmu. Kita gantian saja, apalagi jalannya agak menanjak” sahut Thunder kembali dengan khawatir.

Kini Jiyeon tidak menjawab pertanyaan Thunder, wajahnya sudah merah karena keringat dan capek.

Thunder pun mengerem kayuhan Jiyeon dengan menurunkan kakinya dan akhirnya sepeda pun berhenti. Thunder melangkah ke depan Jiyeon.

“Jiyeon-ah.. Wajahmu sangat merah dan penuh keringat. Kau lelah? Mian!!” ucap Thunder sambil memberikan tissue pada Jiyeon.

“Aku rasa, kaloriku benar-benar sudah terbakar” jawab Jiyeon sambil tertawa kecil.

Thunder hanya tersenyum simpul dan segera berganti posisi. Kini Thunder yang akan mulai mengayuh sepeda sedangkan Jiyeon yang akan diboncenginya.

10 menit telah berlalu, kini mereka berdua hampir sampai rumah Hyun Seong, teman Jiyeon yang tidak diketahui oleh Thunder.

“Sunbae, terus kayuh. Kita tinggal sebentar lagi sampai” sahut Jiyeon sambil membiarkan angin meleraikan tiap helai rambutnya. Semenjak Thunder yang mengayuh sepeda, sepeda berjalan cepat.

“Stop stop stop.. Berhenti disini. Ini adalah rumah temanku itu” Jiyeon setengah berteriak menyuruh Thunder berhenti. Jiyeon turun dari sepeda dan memencet bel rumah di hadapannya sedangkan Thunder tetap duduk di sepedanya dengan kedua kaki menapak tanah. Setelah itu keluarlah tuan rumah yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Hyun Seong kalau temannya akan datang.

“Annyeonghasimnikka, ajussi” sapa Jiyeon sambil menundukkan badannya. Ajussi itu mulai berjalan mendekati Thunder dan Jiyeon. Thunder membenahi kacamatanya, mencoba melihat lebih jelas siapa ajussi tersebut.

“Ajussi itu pun membukakan gerbang rumahnya dan pandangannya langsung menuju ke arah Thunder. Begitu pula yang terjadi dengan Thunder, mata mereka seperti mengeluarkan setrum listrik.

“Hmm.. Ajussi, ini kakak kelasku. Namanya …” belum selesai Jiyeon bicara untuk mencairkan suasana. Thunder sudah kembali mengayuh sepedanya tanpa berkata apa-apa. Jiyeon dan ayah Hyun Seong hanya bisa menatap perginya Thunder dari depan gerbang rumah.

~TO BE CONTINUED~

01
Aug
11

First Day in Spring

Title                : First Day in Spring (Part 5-end)

Author            : SarSay501

Rating             : PG-17

Main cast       : Choi Sooyoung [SNSD], Kim So Eun.

Other cast      : Kim Hyung Jun [SS501], Cho Kyuhyun [Suju], Choi Siwon [Suju]

Note : Readers cari tempat yg PW dulu ya buat baca ini..Biar feelnya dapet.wkwk

Oh iya buat yang ketinggalan baca part sebelumnya ,ini yang part 1 , part 2 , part 3 , part 4 ^^

IKLAN SUDAH HABIS, HAPPY READING!!

 

~Kediaman Rumah Choi~

Sooyoung sejak tadi berpandangan kosong ke depan, dia duduk di sebuah tempat duduk ayunan mini di taman belakang rumahnya.

“Soo, apa yg kau lakukan? Sejak tadi melamun.. Nanti kerasukan setan Yesung lhoo!” sapa Siwon jahil yg kini berdiri di hadapan Sooyoung.

“Oppa, kau mengagetkanku saja! Apa kau bilang tadi? Setan Yesung?? Ahhh,aku tak mau! Lebih baik aku gila krn virusku sendiri daripada kerasukan” jawab Sooyoung yang diakhiri dengan tertawa.

“Oppa, kau bisa jelaskan padaku yang namanya berjuang demi cinta?”

Pertanyaan Sooyoung benar-benar membuat Siwon bingung dan akhirnya berpikir.

“Hmm apa ya? Aku sendiri juga bingung! Aku sampai sekarang belum punya pacar ya karena aku tidak melakukan itu” ucap Siwon ragu. Kini mereka berdua duduk di ayunan.

“Kau menyesal telah merelakan orang yang suka untuk meninggalkanmu, oppa?” tanya Sooyoung lagi. Sekarang Siwon hanya menjawabnya dengan anggukan.

“Kalau kau punya cinta, cinta yang kuat. Lakukan apa saja demi cinta itu!! Sebelum kau menyesal karena kehilangannya” jawab Siwon yakin dengan suara yang tergetar.

“Oppa, darimana aku tahu kalau cinta itu kuat?”

“Kau selalu memikirkannya karena dia selalu hadir dalam pikiranmu”

Sooyoung menghembuskan nafasnya.

“Kau kenapa? Sedang dalam 2 pilihan?” tanya Siwon yang kemudian memasang senyum jahil.

“Oppa, kau ini bicara apa?”

……………..

~Kediaman Rumah Kim~

“So Eun-ah,kau tidak bekerja?” tanya eomma So Eun sambil mengaduk masakannya di dapur.

“Ani eomma, ini kan libur.hehehehee” jawab So Eun sambil berkutat dengan cucian kotor di hadapannya.

“Kau tidak jalan-jalan keluar? Udara yang bagus di musim semi”

“Eomma mengusirku?” tanya So Eun dengan manja.

“Bukan itu maksudku So Eun!! Kau ini kan sudah 23 tahun. Tidakkah kau memiliki pacar untuk jalan-jalan keluar?”

So Eun terdiam, meskipun eommanya menyenggol sikutnya. Dia masih saja terdiam berpikir.

“Ahh, eomma.. Aku kan masih terlalu muda! Hehehehee” jawab So Eun ngeles.

“Kau kebanyakan alasan. Pokoknya berikan aku cucu sebelum aku meninggal!!” perintah maksa dari eomma So Eun membuat So Eun membelalakkan matanya.

“Eomma, kau ini bicara apa? Pertama, jangan memaksaku, karena aku pun tak tahu kapan punya pacar lalu menikah lalu punya anak. Kedua, eomma pasti berumur panjang! Sampai kita berdua nenek-nenek.hehehee”

“Adduuhhh” kepala So Eun baru saja dijitak eommanya dengan pengaduk sup dari kayu. So Eun meringis kesakitan.

“Kau kira kita seumuran? Aku ini sudah tua! Sekarang saja sudah nenek-nenek! Umurku sudah 46 tahun. Sewaktu aku seumuranmu, aku sudah menikah dan memiliki anak” jelas eomma So Eun.

“Ya itu jaman eomma, coba lihat jamanku. Banyak artis yang sudah 30 tahun tapi belum menikah. Lihat tetangga kita saja deh eomma, sudah 35 tahun masih single”

“Kau itu, pintar sekali mencari alasan!! Dasarr! Hah,terserah kau sajalah! Anak jaman sekarang susah sekali disuruh menikah. Padahal menikah itu gampang” gerutu eomma So Eun. So Eun kembali mencuci piring dengan memanyunkan bibirnya.

…………………

(Sooyoung P.O.V)

“Kyuhyun oppa.. Kau sudah datang. Sini duduk di hadapanku” ucapku sambil tersenyum ke arah Kyuhyun oppa yang baru datang untuk makan malam bersama.

“Ye, gomawo Sooyoung-ah. Oh iya, ini kan meja untuk 4 orang. Memang kita akan makan malam dengan siapa lagi?” tanya Kyuhyun padaku setelah dia duduk. Aku hanya terdiam sambil tersenyum. Kyuhyun oppa sepertinya tidak puas akan jawabanku. Nanti juga oppa akan tahu sendiri kalau semuanya sudah berkumpul.

“Hmm..oppa, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku dengan lembut.

“Ye, apa yang ingin kau tanyakan?” jawab Kyuhyun oppa.

“Oppa, kau tahu kan kalau aku bukan tipe orang yang basa-basi dan pintar berbohong?” tanyaku sambil menatap Kyuhyun oppa dengan serius.

“Ne.. aku tahu itu sejak lama. Memang ada apa, Sooyoung-ah?”

“Oppa.. hmm.. Aku ingin bertanya. Selama ini kau menganggapku seperti apa?”

“Kau bertanya hal ini padaku?” tanya Kyuhyun sambil tertawa kecil. Aku mengangguk dengan semangat. Begitu lama Kyuhyun oppa menutup bibirnya dan suasana menjadi hening di antara kami berdua. Aku benar-benar sangat membutuhkan jawaban oppa.

“Kau seperti …” baru saja Kyuhyun oppa akan menjawab, dari kejauhan aku melihat sosok yang ku kenal melangkah menuju meja kami.

“Hmm.. nanti saja deh, oppa! Kita telah kedatangan tamu lagi” ucapku sambil berdiri menyambut So Eun dan Hyung Jun.

“Apakah kami terlambat?” tanya Hyung Jun memulai pembicaraan. Aku dengan cepat menggelengkan kepala.

Kini aku duduk di sebelah Hyung Jun dan Kyuhyun oppa duduk di sebelah So Eun.

“Semua akan dimulai sekarang. Ini bisa pertanda awal dan akhir untukku” ucapku dalam hati.

(Sooyoung P.O.V end)

(So Eun P.O.V)

“Hyung Jun-ssi, kau tidak bilang kalau kita akan makan malam bersama mereka berdua” bisikku pelan namun sayang Hyung Jun hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa.

“Aku sudah memesan makanan dan minuman untuk kita berempat” ucap Sooyoung tiba-tiba.

Tak lama makanan pun datang ke meja kami. Steak dan jus jeruk.

“Kyuhyun oppa, kau mau aku membantumu untuk mengiris daging itu?” tanya Sooyoung halus.

“Aku rasa tidak perlu” jawab Kyuhyun sambil memotong makanannya. Aku masih tidak mengerti maksudnya aku diajak kemari.

“Sini oppa, biar aku bantu!” Sooyoung berkata agak memaksa. Aku melihat kejadian itu hanya menyunggingkan senyum kesal dalam keadaan menunduk.

(So Eun P.O.V end)

(Sooyoung P.O.V)

Kenapa Kyuhyun oppa ini? Menolak bantuanku? Huhhff

Tiba-tiba kakiku seperti ada yang menendang dari arah kanan. Aku menoleh ke arah Hyung Jun, kemudian Hyung Jun tersenyum ke arahku dan berbisik.

“Kau mau memulainya sekarang?” tanyanya pelan di telingaku. Aku terdiam sebentar mencerna perkataan Hyung Jun barusan.

“Hyung Jun-ssi, kau mau aku bantu?” tanyaku pada Hyung Jun yang duduk di sampingku.

“Boleh saja” jawab Hyung Jun sambil tersenyum manis. Entah ini hanya senyum pura-pura atau ada maksud yang lain. Aku langsung tersadar dari pikiranku.

“Kalian nampaknya serasi” sahut Kyuhyun oppa datar menatapku dan Hyung Jun.

Nampaknya ini tidak berhasil, ottokhaji??

Setelah membantu Hyung Jun, aku langsung memasukkan sesuap steak ke mulutku dengan kesal.

“Sooyoung-ssi, saus steaknya belepotan di mulutmu. Sini aku bantu bersihkan” sahut Hyung Jun membersihkan di sekitar mulutku. Dia begitu lama menatap bibirku, apa yang dia lakukan? Ini sudah berlebihan dari rencana. Tampaknya Kyuhyun oppa malah semakin cuek padaku.

“SHIROO!” ucap So Eun refleks. Kenapa malah So Eun-ssi yang berteriak? Bukan Kyuhyun oppa?!

Aku, kyuhyun oppa dan Hyung Jun-ssi melihat ke arah So Eun yang kini sudah menunduk.

“Choesong hamnida..” sahut So Eun dan kemudian mengurus makanannya sendiri. Aku menatap Hyung Jun bingung, namun Hyung Jun juga mengangkat kedua bahunya seakan menjawab pertanyaanku.

“So Eun-ssi, gwaenchana?” tanya Kyuhyun saat mendengar So Eun tersedak. So Eun langsung meneguk jus jeruk di samping piringnya dan ijin ke toilet.

 (Sooyoung P.O.V end)

………………………

Dreeeet.. dreeeet

“Sebentar ya, aku ingin mengangkat telepon dulu” ucap Hyung Jun yang kemudian berjalan menjauhi meja yang berisi Sooyoung dan Kyuhyun.

“Oppa, sekarang hanya ada kita berdua disini” ucap Sooyoung tiba-tiba.

“Oh iya, kau ingin membicarakan apa denganku?” tanya Kyuhyun yang sekarang sudah siap mendengarkan Sooyoung.

………………….

So Eun melangkahkan kakinya keluar dari toilet. Dia menghentikan langkahnya saat melihat Hyung Jun berdiri membelakanginya sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.

“Hyung Jun-ssi. Chakaman!!” sahut So Eun menahan Hyung Jun pergi.

“Waeyo?”

“Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu” jawab So Eun dengan ragu-ragu.

“Jeongmal? Kita keluar sebentar lewat pintu belakang cafe ini saja ya!” ajak Hyung Jun.

…………………

“Oppa, kau ingat waktu aku mencuci jasmu?” tanya Sooyoung dengan ragu.

“Ne, wae?”

“Aku menemukan sebuah kotak dan aku sebenarnya lancang membuka isi kotak itu”

“Itu cincin untuk seseorang”

“Jeongmal?” sahut Sooyoung agak bahagia.

“Aku melihat ukiran di balik cincin itu KS, apa artinya itu, oppa?” lanjut Sooyoung bersemangat.

“Ohh itu..” jawab Kyuhyun datar.

“Apakah.. apakah KS adalah Kyuhyun-Sooyoung?” tanya Sooyoung lagi dengan wajah penuh penasaran.

“Mwo? Aku rasa kau telah salah paham” jawab Kyuhyun dengan cemas.

“Maksud oppa dengan salah paham, apa?” Sooyoung kali ini merasa jatuh dari ketinggian yang benar-benar membuatnya seakan mati.

“Aku membelikan cincin itu untuk orang yang aku sukai. K untuk Kyuhyun dan S untuk …” Kyuhyun tidak berani melanjutkan perkataannya karena dia baru tersadar, belum tentu So Eun mau menerimanya.

“Apakah S itu untuk So Eun?” tanya Sooyoung sambil menahan airmatanya. Kyuhyun tidak menjawab apa-apa dan sepertinya Sooyoung telah mengetahui jawabannya.

“Semua sepertinya berdampak padaku. Dulu aku pernah menyuruh dan memaksa oppa untuk menjadi artis karena oppa sangat tampan dan berbakat akting. Aku menyesal telah melakukan hal itu padamu” airmata Sooyoung kini membasahi pipinya.

“Kalau saja aku tidak jujur padamu, pasti sekarang kau tidak akan pernah mengenal So Eun-ssi” lanjut Sooyoung.

“Sooyoung-ah?” hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Kyuhyun.

“Oppa, aku sungguh sangat menyesal. Memang apa cantiknya So Eun-ssi dari aku? Apakah dia sudah merebut hatimu dalam waktu beberapa minggu? Sedangkan aku menyukai oppa sejak SMA. Namun oppa tidak pernah mengtehui hal itu kan?” Sooyoung kini berkata dengan nada agak membentak. Kyuhyun hanya terdiam sambil menatap Sooyoung.

“Sooyoung-ah, kau itu .. “ Kyuhyun mencoba memegangi tangan Sooyoung dan menjelaskan segalanya. Namun Sooyoung menepis tangan Kyuhyun.

“Mianhae oppa, aku terbawa emosi. Mungkin tidak seharusnya aku memaksakan perasaanmu. Semua ini sudah takdir Tuhan. Mian!” jawab Sooyoung mencoba tegar dan menghapus airmatanya. Sooyoung menarik panjang nafasnya. Suasana hening selama beberapa menit.

“Kenapa So Eun-ssi dan Hyung Jun-ssi begitu lama kembali kemari?” tanya Sooyoung mencairkan suasana.

……………….

Angin di malam hari benar-benar berhembus kuat. So Eun mencoba mengancingkan jaketnya agar merasa hangat. Kini Hyung Jun dan So Eun sudah terduduk bersebelahan di taman dekat kafe.

“Hyung Jun-ssi.. Maaf kalau aku lancang. Tapi aku menyukaimu” ucap So Eun dengan ragu-ragu.

“MWO?” Hyung Jun sangat kaget sampai-sampai dia menoleh ke arah So Eun.

“Keurae. Aku menyukaimu sejak kita di SMA. Sewaktu Hyung Jun-ssi pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah bisnis. Aku sedih dan akhirnya mengurungkan niatku yang semula ingin menjadi ahli fisika. Aku langsung melanjutkan kuliah di Akademi Sekretaris. Setiap malam aku berdoa agar suatu saat kita dipertemukan kembali. Ternyata Tuhan mengabullkan doaku. Saranghae Hyung Jun-ssi” jelas So Eun tanpa berani menatap mata Hyung Jun.

Hyung Jun masih berpikir flashback dan terdiam. Tak lama kemudian, Hyung Jun meraih tangan So Eun dan menarik nafasnya.

“So Eun-ssi, jeongmal gamsahamnida karena telah mencintaiku …” jawab Hyung Jun terpotong. Suaranya seperti tertahan di tenggorokannya.

………………….

“Kyuhyun oppa, sepertinya aku harus pulang duluan karena Siwon oppa menyuruhku untuk jangan pulang malam-malam” sahut Sooyoung berbohong.

“Perlukah aku antar?” tanya Kyuhyun yang sudah bersiap berdiri.

“Ani, tidak usah oppa. Aku bisa pulang naik taksi.hehehee Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk kemari ya, oppa” Sooyoung melambaikan tangannya dan kemudian pergi meninggalkan Kyuhyun. Sooyoung menghentikan langkahnya di depan pintu cafe dan menghapus airmatanya.

“Kyuhyun oppa, kau selama ini menganggapku hanya seorang adikkah? Aku kecewa! Kenapa kau memberikan harapan dan perhatian padaku selama ini?” gerutu Sooyoung sambil sesegukan di luar pintu kafe.

“Kau akan pergi kemana?” tanya seorang pria tepat di depan Sooyoung. Sooyoung buru-buru menghapus airmatanya dan mengangkat wajahnya untuk melihat pria di hadapannya.

“Hyung Jun-ssi?”

“Ne, kau ingin pulang kan? Ayoo aku antar” ucap Hyung Jun sambil menarik tangan Sooyoung ke dalam mobilnya.

“Shiroo.. aku akan pulang naik taksi” sahut Sooyoung sedikit membentak.

“Aku tahu, pasti kau ingin menangis di taksi kan? Sudahlah, kau tidak apa-apa kok kalau mau menangis di dalam mobilku. Cepat masuk!!” Sooyoung terdiam dengan perkataan Hyung Jun barusan. Darimana Hyung Jun tahu soal pikiran Sooyoung? Itulah yang sedang berada di pikiran Sooyoung sekarang hingga membuatnya berdiri mematung di pintu mobil Hyung Jun.

“Ayo cepat masuk!” Hyung Jun yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, langsung menarik tangan Sooyoung dari dalam agar seggera duduk di depan menemaninya menyetir.

“AADDUUHH” sahut Sooyoung karena kepalanya terbentur saat di tarik paksa oleh Hyung Jun.

“Sakit tahu!”

“Mianhae!” ucap Hyung Jun sambil tersenyum dan memasangkan sabuk pengaman Sooyoung.

……………….

So Eun kembali melangkah ke mejanya dengan lunglai.

“So Eun-ssi, kau melihat Hyung Jun-ssi?” tanya Kyuhyun sambil memasukkan PSPnya.

“Tadi Hyung Jun-ssi bilang kalau dia masih ada urusan. Jadi dia pulang duluan” jawab So Eun datar dan kemudian duduk di sebelah Kyuhyun.

“Sooyoung-ssi kemana?” tanya So Eun balik.

“Dia juga pulang duluan karena Siwon hyung menyuruhnya untuk tidak pulang telat” jawab Kyuhyun datar. Kini tangan Kyuhyun berada di dalam saku celananya.

“So Eun-ssi bolehkah aku bertanya sesuatu yang agak sedikit pribadi padamu?” tanya Kyuhyun dengan gugup.

“Kau, ingin bertanya apa?”

“Hmm.. Bagaimana perasaanmu setelah kiss di lokasi syuting waktu itu?” tanya Kyuhyun dengan ragu.

“MWO?” So Eun kaget setengah mati. Kalau sampai dia mengatakan itu adalah First Kissnya, pasti Kyuhyun mengira kalau So Eun tidak laku.

“Iya, soal itu. Itu adalah First Kissku. Bagaimana denganmu?”

“Aku? Hmm.. sebenarnya sama. Itu adalah First Kissku jg” jawab So Eun dengan malu-malu.

“Ternyata kita tidak laku ya..hahahahahaaa” tawa Kyuhyun meledak diikuti oleh tawa So Eun.

“Kau ini. Mencaci diri sendiri sekaligus mencaciku juga tau..”

………………..

Hyung Jun memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan. Lalu pandangannya kini melihat ke arah Sooyoung.

“Sooyoung-ssi, kau kenapa menangis?” tanya Hyung Jun sambil mencoba menghapus airmata Sooyoung dengan tissu.

“Ani, kepalaku sangat sakit saat terbentur tadi” Sooyoung berbohong.

“Hah? Sebegitu sakitnya kah sampai kau menangis karena itu?” tanya Hyung Jun khawatir.

“Sudahlah, tidak usah pedulikan aku. Lanjutkan menyetir saja” suruh Sooyoung dengan nada lemah. Sooyoung kini meraih sapu tangan pemberian Hyung Jun dari dalam tasnya. Menghapus airmatanya dengan sapu tangan itu.

“Kau, masih menyimpannya?” tanya Hyung Jun pelan.

“Mwo? Kau berkata apa?”

“Ahh tidak, lupakan saja!”

Sooyoung mencoba menghubungi Siwon, namun malah inbox ponselnya yang sedang dilihatnya sekarang. Mata Sooyoung kembali berkaca-kaca membaca satu persatu sms dari Hyung Jun. Begitu banyak sms Hyung Jun yang tidak bergitu penting namun menaruh perhatian pada Sooyoung.

“Wae?” lirih Sooyung pelan yang kini sudah menangis memandangi ponselnya sendiri.

“Kau kenapa menangis melihat ponselmu sendiri?” tanya Hyung Jun sambil sesekali mencuri pandang melihat ke arah Sooyoung.

“Ahh, ani” jawab Sooyoung menatap Hyung Jun dengan dalam.

“Kau jangan melihatku seperti itu kalau memang kau menyukaiku” sahut Hyung Jun sambil tersenyum tanpa menoleh ke arah Sooyoung.

“Kau begitu percaya diri..huuuuu” Sooyoung menyoraki Hyung Jun dan mereka kemudian tertawa bersama. Suasana kembali hening untuk beberapa saat.

“Kenapa kau perhatian padaku? Kenapa kau mau menolongku melakukan kepura-puraan ini, nyatanya Kyuhyun oppa tidak menyukaiku. Kau tahu itu?” jelas Sooyoung pelan, dia tidak berani menatap Hyung Jun jadi pandangan Sooyoung kosong menghadap ke depan.

“Aku ingin kau bahagia. Aku ingin menjadi berarti untuk hidupmu kalau suatu saat nanti kau menikah dengan Kyuhyun. Meskipun itu bukan diriku. Namun pasti kau akan mengingat orang yang sudah berjuang untuk menyatukan cintamu dengan Kyuhyun. Ya kan?”

“Tapi kenyataannya Kyuhyun oppa tidak menyukaiku!”

“Kalau begitu lupakanlah dia dan buka hatimu untuk pria yang lain”

“Pria yang lain? Nugu?” tanya Sooyoung polos. Hyung Jun berdehem dan kemudian menyalakan kembali mesin mobilnya untuk melanjutkan perjalanan mengantar Sooyoung pulang.

…………………

“Kau memberikan cincin ini kepadaku?” tanya So Eun tidak percaya.

“Ne, aku sangat yakin sekali pada hatiku. Maukah So Eun-ssi menerima cincin itu. Kalau kau menerimanya, berarti kau resmi menjadi yeojachingu artis terkenal, Cho Kyuhyun!!” jelas Kyuhyun yang diakhiri dengan tertawa kecil.

“Hmm.. Seberapa yakin kau yakin dengan hatimu?”

“Aku yakin pada hatiku 70 % namun setiaku padamu adalah 100%” Kyuhyun tersenyum sangat manis pada So Eun. Semula So Eun agak kecewa dengan perkataan 70%, namun tersenyum simpul saat mendengar 100%.

“Jeongmal?” tanya So Eun memastian kesabaran Kyuhyun.

“Keurae, kau butuh bukti?” tanya Kyuhyun balik. So Eun mengangguk bersemangat.

Tiba-tiba Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke arah So Eun. So Eun kaget dan memejamkan matanya. Kyuhyun tertawa kecil dan kemudian mengecup dahi So Eun.

Setelah itu mata So Eun kembali terbuka, Kyuhyun sedang tertawa di hadapannya. So Eun langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

“Kau mencoba mempermainkan aku ya?” tanya So Eun kesal.

“Tidak, hanya saja. Kau harus memakai ini dulu” Kyuhyun memasukkan cincin ke jari manis kanan So Eun. So Eun memandangnya dengan mata berbinar-binar dan tersenyum.

“Mulai sekarang, hanya boleh aku yang ada dihatimu! Tidak boleh ada orang lain!!” suruh Kyuhyun dengan sedikit manja.

……………….

“Ini sudah sampai di rumahmu. Cepat turun!” sahut Hyung Jun sambil melepas sabuk pengamannya.

“Kau mengusirku? Jahat!!” jawab Sooyoung yang kemudian membuka pintu mobil. Hyung Jun mengikuti Sooyoung dan melangkah pelan mendekati Sooyoung untuk mengantarnya sampai ke gerbang rumah Sooyoung.

“Hyung Jun-ah, gomawo!” ucap Sooyoung dengan pelan.

“Mwo? Kau memanggilku apa?” tanya Hyung Jun, berharap Sooyoung mau mengulanginya lagi.

“Hyung Jun-ah” sahut Sooyoung kemudian mengecup pipi Hyung Jun kilat. Hyung Jun masih saja mematung berdiri melihat Sooyoung berlari kecil. Kini pipi mereka berdua seperti kepiting rebus, memerah menahan malu.

“Cheonmaneyo, chagiyaaaa..” teriak Hyung Jun bersemangat.

“Yesss.. akhirnya cintaku berbalas.hahahahahaaaaa” Hyung Jun menari-nari bahagia di depan gerbang rumah Sooyoung sambil terus tersenyum.

Note                : Maaf ya buat Kyuyoung shipper kalau kecewa sm endingnya..Author merubah endingnya jadi couple yang baru buat penyegaran.hahahaa

Soalnya author liat di star golden bell  episode 117 (SNSD dan SS501). Di situ setiap abis Sooyoung ngomong, eh tiba-tiba Hyung Jun nyaut+senyum ke arah Sooyoung, sebaliknya juga gitu. Jadi ngeliat ada feel gitu di antara mereka berdua meskipun sampe skrg ga ada kabarnya mereka berdua pdkt atau apalah.hehehee

*author sok tahu*

Janji deh ntar di ff selanjutnya bakal ada Kyu-Soo.. ^^v

Jadi gimana couple penyegarannya?

Mohon komennya ya dari readers. Gomawo dan Mianhae ya buat yg kecewa sm endingnya!! *bungkukkin badan lebih dr 90 derajat* (berasa lg sirkus nih authornya)




RULES

Image and video hosting by TinyPic

Imagination Day

October 2017
M T W T F S S
« Aug    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Fiction Categories

Looking For My Lovers

  • 63,289 Lovers

Tweeted

  • من السنن التي تقال في الصباح ( بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السمـيع العليم ) ثلاث مرات #نشر_سيرته #ﷺ 13 hours ago
  • بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم لأربعين سنة فمكث بمكة ثلاث عشرة سنة يوحى إليه ثم أمر بالهجرة فهاجر عشر سنين ومات وهو ابن ثلاث وستين #Hadith 15 hours ago
  • سمع النبي صلى الله عليه وسلم رجلا يثني على رجل ويطريه في المدحة فقال أهلكتم أو قطعتم ظهر الرجل --صحيح البخاري:باب ما يكره من التمادح #Hadith 16 hours ago
  • قال النبي صلى الله عليه وسلم بئس ما لأحدهم أن يقول نسيت آية كيت وكيت بل نُسَّيَ واستذكروا القرآن فإنه أشد تفصيا من صدور الرجال من النعم ﷺ #ﷺ 20 hours ago
  • قال رسول الله ﷺ : بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا فطوبى للغرباء #صحيح_مسلم #تويت_حديث https://t.co/dlzea4W1nY #ﷺ 23 hours ago