Posts Tagged ‘2NE1

09
Jun
12

Chingu? Sarang? (Part 5)

Title        : Chingu? Sarang?    

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Eunhyuk [Suju], Choi Sooyoung [SNSD], Bang Minah [Girls Day], Cho Kyuhyun [Suju], Kim Sang Bae, Yoon Bora [Sistar], Park Sandara [2NE1] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Maaf ya readers semua, aku baru update part 5nya sekarang u,u

Karena sekarang udah mulai liburan kuliah, jadi baru bisa update deh..Hehehehehee

Sampai part akhir udah kepikiran outlinenya, tinggal di ketik dan diperluas dg percakapan aja. Setia ngebaca dan menunggu di Feel My Soul ya! ^^

HAPPY READING!!!!

~Universitas Nasional Seoul~

“Minah-ya, aku takut untuk menghadapi UAS pertama besok, otteoke?” Jiyeon seperti biasa menggigiti kukunya disaat merasa panik. Minah menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

“Tenanglah Jiyeon-ah, kita pasti bisa melewati UAS kali ini!!!!!!! Hwaiting!” ucap Minah dengan tangan mengepal yang sedikit diangkat ke udara sambil mengedipkan sebelah matanya. Jiyeon ikut mengepalkan tangannya juga namun dengan ekspresi yang agak ragu-ragu.

“Ayooo kita cari buku referensi disini” ajak Minah dengan langkah kaki yang mantap memasuki ruangan yang penuh dengan bau tumpukan buku yang khas.

……………………….

Jam berapa ya sekarang? Thunder mengintip jam tangannya dengan menaikkan sedikit lengan kanan baju labnya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Thunder mencoba memalingkan pandangannya dari mikroskop yang ada dihadapannya.

“Jiyeon-ah, kenapa telponnya tidak diangkat?” gerutu Thunder kesal. Dia pun segera melepaskan pakaian lab dan sarung tangannya.

“Sang Bae-ya, aku pergi sebentar ya, nanti aku akan kembali. Oh iya, bolehkah aku meminjam mobilmu sebentar?” sahut Thunder sambil melangkah keluar dari lab.

“Siiippp, kuncinya ada di meja situ. Jangan lama-lama ya, kita harus menyelesaikan tugas ini hari ini juga!” Sang Bae berbicara sambil tetap memperhatikan objek dari lensa okuler mikroskopnya.

“Tentu!” jawab Thunder singkat dan kemudian terdengar samar lari Thunder.

Thunder mengetahui dari Minah sebelumnya kalau mereka akan menghadapi UAS mereka besok, maka Thunder pun berpikir kalau mereka sedang berada di perpustakaan.

Thunder melangkahkan kakinya menuju kumpulan buku sastra. Dengan pelan dia mendekatkan diri ke arah seorang wanita yang sedang menunduk, kemungkinan wanita itu tertidur saat membaca buku tebalnya. Dia mengeluarkan dua kaleng sedang cola yang dingin dan menempelkannya ke leher wanita itu. Dengan kaget wanita itupun terbangun dari tidurnya.

“Ahhh, oppa. Apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Jiyeon smabil mengucek matanya.

“Kau” jawab Thunder sambil tersenyum dan memberikan kaleng cola yang berada di tangan kanannya kepada Jiyeon.

“Oppa..” Jiyeon tersenyum malu dan sedikit menunduk.

“Kau sudah makan?” tanya Thunder sambil membuka kaleng cola yang berada di tangan kirinya. Jiyeon hanya menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, jangan minum cola ini dulu, kau harus makan nasi dulu” Thunder mengambil kembali kaleng cola yang sudah dia berikan untuk Jiyeon dan menarik tangan Jiyeon untuk segera makan malam. Jiyeon menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Minah yang sedang belajar keras sambil menutupi telinganya dengan headset.

“Ayoo kita cari tempat makan yang masih buka disekitar sini” ajak Thunder yang masih menggenggam erat tangan Jiyeon.

“Keurae” Jiyeon berjalan bersama Thunder yang melangkah dengan tempo yang cepat menuju mobil yang dia pinjam dari Sang Bae.

Setelah sampai di tempat parkir mobil, Jiyeon tidak mau mendekat ke arah mobil itu.

“Wae, Jiyeon-ah?” tanya Thunder yang kini melihat wajah Jiyeon yang sedikit ketakutan.

“Bisakah kita menggunakan sepeda saja?” jawab Jiyeon masih dengan ekspresi ketakutan.

“Kau kenapa? Kau memiliki trauma jika menaiki mobil?” tanya Thunder dengan khawatir. Jiyeon tidak bergeming.

“Aku akan berhati-hati dalam mengendarainya, tenang saja!” ucap Thunder meyakinkan Jiyeon. Jiyeon tetap menggelengkan kepalanya.

“Aku sungguh-sungguh akan berhati-hati” Thunder kembali meyakinkan Jiyeon.

Jiyeon tetap mengelengan kepalanya, kini terlihat dia menggeleng sambil airmata mulai menetes pipinya. Thunder menarik tubuh Jiyeon ke arahnya.

“Aku akan menjagamu, kau boleh memegang tanganku selama di dalam mobil, bagaimana? Tetap tidak mau naik?” ucap Thunder lembut. Jiyeon menganggukkan kepalanya dan mulai masuk ke dalam mobil. Mereka berdua berpegangan tangan selama di dalam mobil. Mereka sudah berkeliling di daerah luar sekitar kampus, namun sudah tidak ada lagi kedai yang buka. Akhirnya Thunder mencoba mencari kedaerah yang sedikit jauh dari kampus.

“Itu dia kedai ada kedai yang masih buka, ayo kita turun” ajak Thunder, namun tidak ada jawaban dari Jiyeon ternyata tertidur di bangku sebelahnya.

“Jiyeon-ah, kita sudah sampai, ayoo kita turun” ucap Thunder mendekat ke arah Jiyeon. Jiyeon tetap tidak membuka matanya.

“Jiyeon-ah” ucap Thunder lagi, kali ini dia menatap dalam wajah Jiyeon yang sedang tertidur. Dia mengelus lembut wajah Jiyeon yang putih dan mulus seperti bayi.

Kau begitu murni, sepertinya aku mulai mencintaimu. Thunder berkata dalam hatinya, hatinya tergerak untuk lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon.

“Aku tidak boleh melakukan hal ini, belum tentu Jiyeon juga menyukaiku” ucap Thunder pelan dan kembali duduk seperti semula.

Jiyeon perlahan membuka matanya.

“Kita sudah sampai?” tanya Jiyeon.

“Ye, ayo kita turun” mereka berdua pun makan malam bersama atau lebih tepatnya makan tengah malam bersama.

Dari kejauhan, ada sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari dalam mobil yang sedang terparkir dari arah yang berlawanan.

“Bastard!!! Dia mencuri Jiyeonku. Tak akan aku biarkan!” orang itu melihat kejadian seakan Thunder sudah mencium Jiyeon. Hatinya panas dan geram.

……………………

(Jiyeon P.O.V)

“Waaahhhh,aku tidak menyangka UAS kita sudah terlewati” ucap Minah dengan lega di luar kelas.

“Kau benar Minah-ya, aku juga merasakan hal seperti itu!” ucapku menimpali Minah. Tiba-tiba Eunhyuk sunbae datang dan merangkul kami berdua.

“Kalian donsaeng-donsaeng ku yang manis sudah lega ya, UASnya sudah selesai” ucap Eunhyuk sunbae seakan seperti bos minyak. Minah nampaknya risih dirangkul seperti itu, dia pun melepaskan rangkulan Eunhyuk sunbae.

“Hei Jiyeon-ah, kau tidak risih apa dirangkul monkey seperti dia?” sahut Sooyoung sunbae yang berada di belakang kami berdua. Aku menoleh kebelakang dan tersenyum.

Eunhyuk sunbae melepaskan rangkulannya dari bahuku dan mendekati Kyuhyun sunbae.

“Hei Kyuhyun-ah, jaga mulut yeojamu itu, kenapa sih dia selalu berkata kasar kepadaku?” ucap Eunhyuk sunbae dengan wajah memelas.

“Katakan saja pada Sooyoung sendiri” jawab Kyuhyun singkat.

“Aiiisshhh,kalian berdua ini, pantas saja kalian menjadi pasangan” Eunhyuk sunbae nampaknya kesal.

“Sunbae, aku pergi duluan ya, aku sedang ada urusan” ucapku pada Kyu, Soo dan Eunhyuk sunbae. Mereka bertiga mengangguk secara bersamaan.

“Annyeong Jiyeon-ah, hati-hati ya” sahut Minah sambil melambaikan tangan kepadaku. Aku pun melambaikan tangan kepada mereka semua.

“Yoboseyo oppa, bisakah kita bertemu sekarang, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” ucapku melalui pembicaraan di ponsel.

“Keurae, aku akan menunggu di halte fakultasku” aku pun menuju halte bus di depan fakultasku. Entah kenapa hari ini aku ingin selalu tersenyum, mungkin karena UAS telah selesai. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan halte bus.

“Jiyeon-ah, ayoo masuk” ucap seseorang yang berada didalam mobil sambil membuka kaca mobilnya. Setelah aku masuk ke dalam mobil, Thunder menawarkan tangannya untuk aku genggam selama perjalanan. Aku pun tersenyum ke arah Thunder.

(Jiyeon P.O.V end)

…………………….

“Hahahahahahahaa.. Jiyeon-ah kau makan sangat berantakan seperti bebek” Thunder menertawai Jiyeon yang sedang makan donat gula, banyak gula halus yang menempel di sekitar mulut Jiyeon.

“Oppa, cobalah donat ini, sangat enak lhoo” Jiyeon menyuapi Thunder untuk mencoba donat yang sama yang sedang dia makan. Setelah satu gigitan donat gula tersebut, ternyata gula halus juga menempel banyak disekitar mulut Thunder.

“Oppa, kau makan sangat berantakan, banyak sekali gula menempel dimulutmu” Jiyeon menyeka gula halus yang berserakan di mulut Thunder dengan tangannya.

“Kau juga” Thunder juga menyeka gula halus yang berada di sekitar mulut Jiyeon. Mereka kemudian tertawa kecil bersama.

Suasana berubah menjadi hening saat Thunder menggenggam tangan Jiyeon.

“Jiyeon-ah, aku rasa aku mulai mencintaimu” ucap Thunder sambil memegang tangan kanan Jiyeon erat. Jiyeon membelalakkan matanya, kaget bercampur senang kini berada di hatinya. Jiyeon tersenyum sambil menunduk.

Braakkkk, sebuah nampan yang berisi makanan tergebrak paksa diatas meja yang sedang ditempati oleh Jiyeon dan Thunder. Thunder langsung melepaskan genggaman tangannya dari Jiyeon.

“Bora-ya?” sahut Thunder ke arah wanita yang baru saja datang. Jiyeon memasang wajah kesal karena seeorang telah mengganggu momen indahnya.

“Bolehkah aku bergabung untuk makan bersama kalian?” tanya Bora dengan wajah innocentnya.

“Sunbae, bukankah ada banyak meja di sini, kenapa harus bergabung dengan kami?” ucap Jiyeon dengan kesal dan tiba-tiba.

“Kalau kau keberatan, baiklah, aku akan pindah tempat” Bora bangun dari duduknya. Namun Thunder menahannya dan kini Bora duduk di samping Thunder. Dia menggeser bangkunya mendekati Thunder. Jiyeon merasa bahwa dirinya sedang ditantang, maka dia juga menarik bangkunya mendekat ke arah Thunder. Thunder hanya diam saja saat Bora menggeser bangkunya, namun Thunder tertawa kecil saat Jiyeon juga menggeser bangku mendekat ke arahnya.

“Kalian ini seperti anak kecil” ucap Thunder.

………………….

“Hong Min-ssi, aku ke toilet sebentar ya!” sahut Sang Bae meminta izin kepada asisten lab medisnya. Sang Bae keluar dari lab medis, saat dia berjalan menuju toilet pria, dia harus melewati pintu toilet wanita. Ada sesuatu hal yang membuat Sang Bae berhenti tepat di depan toilet wanita.

“Tapi tuan muda, bagaimana caranya aku harus …” belum sempat wanita itu menyelesaikan omongannya, dia langsung terdiam mendengarkan lawan bicaranya di ponsel.

“Keurae tuan muda, aku akan mencoba sebisaku untuk membuatnya terluka”

Setelah dirasa wanita di dalam toilet itu selesai bicara, Sang Bae langsung masuk ke toilet pria dengan sedikit mengintip dari pintu.

“Dara sonsaengnim? Apa yang akan dilakukannya?” ucap pelan Sang Bae tidak percaya.

………………………..

“Chagi, kenapa kita hanya membeli satu es krim saja? Kau pelit” ucap Sooyoung sambil mengerucutkan bibirnya.

“Bukan pelit chagi, tapi aku ingin agar kita semakin dekat..hehehehee” jawab Kyuhyun sambil menjilati es krim di tangannya.

“Gantian-gantian, aku juga mau memegang es krimnya” rengek Sooyoung. Mereka berjalan tanpa melihat ke depan.

Brruuuukkk

“Es krimnyaaaaaa” teriak Sooyoung menangisi es krimnya yang terjatuh ke tanah.

“Choesonghamnida” ucap wanita yang telah menabrak Kyuhyun dan Sooyoung.

“Gwaenchana. Hmmm,aku sepertinya mengenalmu. Apakah tebakanku benar?” tanya Kyuhyun sambil membantu wanita itu berdiri. Sooyoung terlihat berapi-api.

“Kau sepertinya salah orang” jawab wanita itu yang kemudian mencoba melangkah pergi. Namun Kyuhyun menahannya.

“Aaaa, aku ingat siapa kau” jawab Kyuhyun sambil menjentikkan jarinya.

“Sudah aku bilang, sepertinya kau salah orang, aku tidak mengenalmu” jawab wanita itu kemudian melangkah dengan cepat meninggalkan Kyuhyun dan Sooyoung.

“Chagi, siapa wanita yang kau kenal itu?” tanya Sooyoung menyelidik.

“Hmm..aku juga sebenarnya tidak yakin, tapi saat aku melihat kakinya, ada tanda di kaki wanita itu yang membuatku mengenalnya” Kyuhyun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Sooyoung dari kejauhan melihat tiga orang yang sedang berjalan bersama namun satu orang diantaranya ada yang dia kenal.

“Jiyeon-ah” teriak Sooyoung kearah mereka. Kyuhyun berbalik badan dan kini melihat ke arah yang sama seperti Sooyoung.

“Sunbae, kenapa kalian disini?” ucap Jiyeon menghampiri mereka dengan langkah kaki kecil.

“Aku hanya sedang lewat dan mampir ke kantin FK (Fakultas Kedokteran) untuk mencoba mengunjungi toko es krim yang hanya ada di fakultas ini” jelas Kyuhyun sambil melihat ke arah Thunder.

“Aku sepertinya mengenalmu, apakah aku benar kali ini?” tanya Kyuhyun sambil berjalan mendekati Thunder. Bora yang berada di samping Thunder melihat Kyuhyun seperti orang bodoh yang sok kenal.

“Keurae, kau Kyuhyun kan?” tanya Thunder balik.

“Ahhhh,kau benar, aku Kyuhyun dan kau Sang Hyun kan? Park Sang Hyun?” Kyuhyun mencoba memastikan ingatannya.

“Kau benar, apa kabar teman lama? Sudah lama kita tidak bertemu” ucap Thunder sambil memeluk Kyuhyun.

“Mereka berdua adalah teman yang lama sudah tidak bertemu. Aku tidak percaya hal itu,sunbae” bisik Jiyeon ke arah Sooyoung.

“Na ddo” jawab Sooyoung yang masih terpaku melihat Thunder dan Kyuhyun yang saling mengenal.

“Jadi kau berkuliah disini juga? Fakultas apa?” tanya Kyuhyun sambil menjabat tangan Thunder erat. Thunder menjawab sambil menghentakkan kakinya ke tanah, menandakan jawaban dari pertanyaan Kyuhyun.

“HAH? Kedokteran? Aku tidak percaya hal itu.hahahahahahaaa” Kyuhyun tertawa keras membuat Bora, Sooyoung dan Jiyeon sedikit malu karena kini banyak orang yang melihat ke arah mereka.

“Kalau kau?” tanya balik Thunder.

“Aku berada disebelahmu” jawab Kyuhyun yang masih menyisakan tawanya.

“Engineering?” ucap Thunder dengan ragu.

“Ani, aku di fakultas Sastra” jawab Kyuhyun dengan mantap. Bora menatap Jiyeon dengan pandangan merendahkan, Sooyoung langsung melindungi Jiyeon dengan balik memelototi Bora. Bora langsung berdehem.

“Aku permisi pergi duluan” sahut Bora sambil membungkukkan sedikit badannya dan kemudian berjalan cepat meninggalkan mereka semua.

“Chagi, aku dan Jiyeon juga pamit duluan ya, kami ada urusan” sahut Sooyoung kemudian.

Jiyeon dan Sooyoung membungkukkan sedikit badannya dan kemudian pergi bersama menuju fakultas mereka.

“Oh iya Sang Hyun-ah, apa kabar keluargamu?” tanya Kyuhyun yang membuat Thunder menjadi bermuram durja.

“Sebenarnya Kyuhyun-ah, ada sesuatu yang mengenaskan terjadi pada keluargaku” jawab Thunder sambil menatap dalam Kyuhynun seakan beban itu sangat berat.

………………….

(Malam hari)

Jiyeon sibuk dengan hobinya yaitu membuat hiasan dari manik-manik. Di meja belajarnya telah berserakan kotak-kotak kecil yang berisi berbagai macam bentuk manik-manik yang akan dia tempelkan ke sebuah tempat pulpen.

Dreeettt dreeettt

“Yoboseyo” jawab Jiyeon saat mengangkat panggilan di ponselnya.

“Jiyeon-ah, ini aku Thunder. Bisakah kita keluar sebentar sekarang?” jawab Thunder.

“Tapi, pukul 10 malam asramaku sudah tutup”

“Tenang saja, ini baru pukul 7. Ayoolah, aku sudah menunggumu di luar asrama. Coba tengok kalau kau tidak percaya”

Jiyeon bangkit dari duduknya dan membuka sedikit tirai jendelanya, ternyata benar kalau Thunder sudah menunggu di bawah.

“Keurae, aku akan segera ke bawah, aku ganti pakaian dulu ya” ucap Jiyeon sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Thunder dan menutup tirai jendelanya lagi untuk segera berganti pakaian.

Thunder membukakan pintu mobil untuk Jiyeon yang pada malam itu sangat cantik bagaikan seorang putri.

“Kita akan kemana?” pertanyaan itu terlontar saat Thunder mulai menyalakan mesin mobilnya.

“Ke suatu tempat yang pastinya akan sangat kau sukai” jawab Thunder sambil tersenyum manis ke arah Jiyeon dan menawarkan tangannya untuk digenggam. Selama perjalanan, Jiyeon hanya terdiam, entah apa yang dia pikirkan. Berbeda dengan Thunder, dia terus tersenyum. Sesekali Jiyeon melirik ke arah Thunder, tanpa disadari oleh orang yang sedang sibuk menyetir itu.

“Nah, kita sudah sampai. Ayooo kita turun!” ajak Thunder yang kini sudah membukakan pintu mobil untuk Jiyeon.

“Oppa, bolehkah kita tetap berpegangan tangan?” tanya Jiyeon malu-malu sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Thunder.

“Tidak!” ucap Thunder singkat, membuat Jiyeon mengangkat kepalanya dan menatap Thunder dengan kecewa.

“Aku tidak bisa menolak hal itu” lanjut Thunder sambil meraih tangan kanan Jiyeon dan menggenggamnya erat. Kedua pipi Jiyeon terlihat memerah, Thunder pun segera mencubit pipi merah Jiyeon dengan tangan yang satunya.

Mereka pun segera melangkah memasuki gerbang sebuah istana bagaikan di dalam negeri dongeng. Jiyeon tersenyum riang melihat keadaan di dalam istana itu, terdapat berbagai pertunjukkan boneka yang mengulas kisah tentang jaman kerajaan dahulu kala.

“Oppa, boneka teddy yang gendut itu seperti dirimu” usai Jiyeon berbicara dan menunjuk salah satu boneka teddy yang gendut dan berkacamata, dia tertawa terbahak-bahak.

“Yang itu juga seperti dirimu, Jiyeon-ah” Thunder tak mau kalah membalas dengan menunjuk sebuah badut berbentuk bebek yang sedang membagi-bagikan snack untuk anak-anak.

Jiyeon langsung mengerucutkan bibirnya sebal. Thunder menarik Jiyeon untuk menelusuri lebih jauh istana tersebut.

………………………

Pembicaraan dua orang di dalam sebuah kafe di malam hari yang semula membicarakan hal ringan, kini menjadi pembicaraan yang berat.

“Dara sonsaengnim, aku tidak mengerti maksudmu” ucap Bora sambil terus menggenggam erat tas tangan kecilnya.

“Ya, aku hanya sekedar membantumu untuk dapat menjauhkan dia dengan wanita aneh itu” jawab Dara sambil menyeruput moccacino dihadapannya yang terlihat masih mengeluarkan sedikit asap.

“Tapi sonsaengnim, aku tidak ingin sampai terlalu begitu, aku sedikit tidak yakin dengan rencana sonsaengnim barusan” sahut Dara setelah berpikir agak lama, suara bergetar sambil terus menggenggam erat tas tangannya.

……………………

“Waaahhh” itulah kata-kata Jiyeon yang selalu diucapkannya ketika sampai di ujung menara Seoul.

“Kau menyukainya, Jiyeon-ah?” bisik Thunder di telinga Jiyeon dengan lembut. Jiyeon menganggukkan kepalanya sambil melihat ke arah Thunder.

“Kau kedinginan, tidak?” tanya Thunder tiba-tiba. Jiyeon masih terdiam tersihir dengan suguhan malam yang indah dari atas N.Seoul Tower. Thunder pun berinisiatif untuk melepas jaket yang dia kenakan, namun tertahan karena posisi tangannya masih bergandengan tangan dengan Jiyeon. Thunder mencoba melepaskannya agar dia bisa memberikan jaketnya kepada Jiyeon.

“Oppa” ucap manja Jiyeon sambil menyenderkan kepala di bahu Thunder. Thunder mengerti maksud Jiyeon, dia pun tersenyum ke arah Jiyeon.

Setelah puas melihat langit gelap yang sempurna di taburi bintang dan lampu malam kota, mereka berdua turun kembali ke bawah untuk menyeruput segelas kopi hangat.

“Oppa, terimakasih untuk hari ini” ucap Jiyeon sambil menghabiskan segelas kopi hangat digenggaman tangannya dan bersiri berhadapan dengan Thunder.

“Cheonmaneyo, Jiyeon-ah” jawab Thunder sambil membuang gelas kopi yang ada di genggaman tangannya ke tempat sampah kecil di sebelahnya. Kali ini genggaman tangan mereka sudah terlepas.

“Ayoo kita ke mobil” ajak Thunder, Jiyeon langsung membuang gelas kosongnya ke tempat sampah yang sama.

“Oppa, kau jam berapa ini kalau aku boleh tahu” tanya Jiyeon khawatir, dia baru ingat kalau asramanya ditutup pukul 11 malam.

“Masih jam setengah 11, kenapa?” Thunder menyelidik jam tangannya.

“Ani, ayoo kita segera pulang, sudah malam” Jiyeon sekarang melangkah mendahului Thunder. Thunder langsung meraih bahu Jiyeon dari belakang, setelah Jiyeon membalikkan badannya, Thunder langsung mencium bibir Jiyeon dan kemudian menutup matanya. Jiyeon membalakkan matanya karena kaget.

Thunder memeluk tubuh Jiyeon, namun Jiyeon masih tidak bergeming, badannya masih berdiri kaku. Tak lama kemudian, Thunder membuka matanya dan melepaskan tubuh Jiyeon dari pelukkannya.

“Ayoo segera masuk ke dalam mobil dan pulang, sudah malam” ucap Thunder sambil menarik tangan Jiyeon karena Jiyeon berdiri mematung sejka tadi.

Seseorang di dalam mobil yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua kini terlihat menitikkan air matanya.

“Jiyeon-ah, sebegitu gampangnyakah kau melupakan aku? Apaah aku tidak berarti untukmu” gerutunya di dalam mobil yang berAC dingin, sedingin udara di luar yang membekukan.

~To Be Continued~

11
Feb
12

Chingu? Sarang? (part 4)

 

Title        : Chingu? Sarang?

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Bang Minah [Girls Day], Kim Sang Bae, Yoon Bora [Sistar], Park Sandara [2NE1] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : hmm..Sepertinya ini bakal jadi fanfict terpanjang yang pernah author buat.hahahahahahaa

              Sebenernya ide udah menumpuk, cuma agak bermasalah pas nulisnya..

Nama-nama Dosen disini terinspirasi dari nama-nama orang Korea yang sekelas sama author di kampus, jadi bukan nama artis.hehe

              Mohon kritik dan sarannya ya buat next part Chingu? Sarang? ini ^^ Gomawo chingu. .

 

HAPPY READING!!!!

 

~Universitas Nasional Seoul~

“Sang Hyun-ah, apa kau sudah lihat dosen statistika yang baru?” tanya Sang Bae dengan bersemangat. Mereka berdua sedang berjalan di lorong menuju perpustakaan setelah mata kuliah Anatomi Manusia selesai.

“Belum, memang ada apa dengannya?” tanya balik Sang Hyun.

Tiba-tiba Sang Bae berhenti melangkah, di depan mereka, ada seorang wanita yang cantik dan anggun melewati mereka. Wanita itu tersadar bahwa ada 2 orang sedang terdiam menatapnya dan akhirnya wanita itu pun melontarkan senyumnya.

Beberapa detik kemudian, bayang wanita itu sudah tidak terlihat lagi.

“Sang Hyun-ah, kau lihat wanita tadi?” ucap Sang Bae yang jiwanya belum 100% sadar.

“Ne, waeyo?”

“Dia itu Dara, dosen statistika yang baru. Umurnya hanya lebih tua 4 tahun dari kita. Aku memperhatikannya akhir-akhir ini. Dia selalu memakai celana panjang bahan. Jarang sekali dia memakai rok selutut, padahal kalau dia memakai rok selutut, pasti dia terlihat lebih cantik” jelas Sang Bae yang seakan mengerti sekali kehidupan wanita yang sedang dipuja-puja diantara para dosen lelaki yang masih lajang.

“Ohh..” ucapan singkat yang melayang dari mulut Sang Hyun membuat Sang Bae geram.

“Kau itu, tidak bisa melihat wanita cantik sedikit.hahahahahaa” lanjut Sang Hyun sambil menepuk kepala Sang Bae dengan kertas yang digulung.

“Aaa. .Sang Hyun-ah, kau itu tidak boleh berpacaran dengan kitab-kitab itu. Kau harus melihat wanita cantik yang nyata” sahut Sang Bae sambil menunjuk ke arah buku-buku kedokteran dengan ketebalan 1000 halaman dan font tulisan Arial Narrow 10 yang sedang dibawa oleh Sang Hyun.

Sang Hyun hanya tertawa kecil dan tetap kembali melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Sang Bae pun mengikuti langkah Sang Hyun.

“Sang Hyun-ah, Sang Bae-ya.. Kalian akan kemana? Boleh aku ikut?” sahut Yoon Bora yang masih mengenakan jas lab putihnya mendekati mereka berdua.

…………………..

(Jiyeon P.O.V)

Bangku itu sendirian tanpa ada pemiliknya. Seperti ada yang hilang di dalam kehidupanku.

Tak ada lagi berbagi cerita bersama, tak ada lagi tawanya yang khas, tak ada lagi keluguan seseorang yang sedang aku rindukan kehadirannya.

Dooorrr

“Jiyeon-ah, kenapa kau jadi sering melamun?” tanya Minah setelah mengkagetkanku.

“Ani, gwaenchanayo” jawabku singkat sambil tersenyum paksa.

“Akhir-akhir ini kau jarang konsentrasi kuliah, matamu pun terlihat tidak bercahaya seperti biasanya. Apakah keadaanmu ini bersangkutan dengan kepergian Hyunseong?” pertanyaan Minah membuatku terbelalak.

“Ani..” jelas sekali aku sedang berbohong. Aku berpura-pura membuka dan fokus membaca materi di setiap halaman kertas dalam binderku.

“Ohh iya, ini milikmu kan? Sepertinya kemarin kau tinggalkan saat berada di taman belakang” sahut Minah memberikan pulpen berwarna putih dengan hiasan kepala kelinci putih di atasnya.

“Ne, gomawo” ucapku tanpa ekspresi. Aku akui, setelah perginya Hyunseong, aku selalu merasa bersalah dan perasaan itu semakin berat setiap bertambahnya hari.

Aku masih kepikiran, apa ya kira-kira yang akan Hyunseong katakan padaku?

Kalau hal itu tentang pribadinya, aku benar-benar teman yang buruk. Dia adalah orang yang tertutup, jarang sekali dia membicarakan soal keluarga atau bahkan perasaannya kepada orang lain.

“Jiyeon-ssi, kau tahu kita sedang mempelajari apa di kelas sekarang?” teriakan dari Dosen Shin membuatku kaget.

“Hmm..anu, tentang..” aku gelagapan bingung.

“Perhatikan ke depan, jangan ke bawah!” lanjut Dosen Shin.

“Choesonghamnida, sonsaengnim” ucapku dengan lemah.

Terlihat Minah menggelengkan kepalanya pelan dan menatap kecewa ke arahku.

(Jiyeon P.O.V end)

……………………………

“Dara-ssi, kenapa kau berminat menjadi dosen di kedokteran. Hal ini sangat membosankan lho” sapa Dosen Jong yang bertahun lahir 1984, sama seperti Dara.

“Memang apa salahnya dengan mengajar? Aku memiliki ilmu dan sudah seharusnya aku mentransfer ilmuku ini ke orang lain” jawab Dara singkat sambil membuka buku absen.

“Kau terlihat sedang sibuk ya? Tidak bisakah kita makan siang sebentar? Ini sudah pukul 12 siang. Kau tidak lapar?”

“Choesong hamnida, aku tidak lapar saat ini. Mungkin anda bisa pergi makan siang dengan yang lainnya” jawab Dara acuh. Sikap cuek Dara membuat Dosen Jong selalu penasaran terhadap dirinya yang asli. Dosen Jong yakin kalau Dara sebenarnya adalah sosok yang ramah dan bersemangat.

“Baiklah, kalau begitu. Aku keluar dulu” sahut Dosen Jong tanpa dijawab kembali oleh Dara.

15 menit kemudian, dari pintu ruang dosen terlihat Dosen Jong berlari-lari ke arah meja Dosen Park, yaitu Sandara Park.

“Apa yang kau lakukan, Jong Kyu Chae-ssi?” tanya Dara heran dan bangkit dari duduknya.

“Ini ada nasi, Bulgogi dan Soup Kimchi untukmu. Kau harus menjaga kesehatanmu” jawab Dosen Jong yang memang perhatian terhadap Dara.

“Lalu, kau makan apa?”

“Aku membeli Kim Bap ini” sahut Dosen Jong sambil memperlihatkan bungkus makanan di tangan kiri yang berisi Kim Bap dengan senyum terkembang di wajahnya yang polos.

Dara menghela nafasnya.

“Baiklah, mari kita makan siang bersama di taman” ajak Dara yang kemudian mengambil bungkusan makanan dari tangan kanan Dosen Jong. Hati Dosen Jong tergirang-girang dan dia pun melangkah mengikuti Dara.

“Sang Hyun-ah, bukankah di luar adalah Dosen Park? Eh maksudku Dara yang cantik itu” ucap Sang Bae tiba-tiba sambil menepuk pundak Sang Hyun.

“Ne, sepertinya dia dengan Dosen Jong. Mereka terlihat seumuran ya” jawab Sang Hyun dengan santai.

“Ne, mereka memang seumuran. Mereka makan siang bersama, andai aku yang berada di samping Dara yang cantik itu.

“Mwoya? Ini sudah makan siang? Aku harus pergi sekarang” Sang Hyun pun langsung meninggalkan Sang Bae sendirian.

“Yaaa, Sang Hyun-ah, kau mau kemana? Bora sedang membelikan kita makan siang. Apa yang harus aku katakan padanya kalau dia kembali tanpa ada kau?” perkataan Sang Bae di acuhkan oleh Sang Hyun.

“Aiisshhh.. anak itu” Sang Bae kesal terhadap Sang Hyun.

Sang Hyun yang terkadang akrab disapa Thunder berlari menuju fakultas yang ada di sebelah fakultas Kedokteran, yaitu Fakultas Sastra. Kedua fakultas ini hanya dipisahkan oleh sebuah Danau yang terdapat jembatan di antaranya.

……………………….

Headphone dan mp3 player melekat di sekitar Jiyeon, dia sedang menikmati alunan nada yang terdengar dari headphonenya di taman belakang Fakultas Sastra.

“Jiyeon-ah, aku belum telat kan?” sahut seorang pria dari belakang Jiyeon. Pengaturan volume suara mp3 Jiyeon tidak begitu kencang sehingga memungkinkan dia masih mendengar suara di sekitarnya.

Jiyeon melepaskan headphonenya dan menoleh ke belakang.

“Thunder oppa?” Jiyeon seakan tidak percaya kalau Thunder akan datang untuk yang ke 3 kalinya di waktu yang sama.

“Hahahahaa..Kau sekarang memanggilku dengan sebutan OPPA? Aku merasa lebih tua. Tapi ya memang aku sedikit lebih tua darimu.hehehe” Thunder tertawa kecil dan duduk di samping Jiyeon.

“Oh iya, ini untukmu. Makanlah yang banyak!” lanjut Thunder.

“Oppa membawa makan siang lagi? Apa tidak merepotkan?” tanya Jiyeon yang kini sudah mematikan mp3 playernya.

“Mogo mogo..” Thunder membuka bungkus makanan yang ternyata isinya adalah Tteokboki.

“Wahh, kesukaanku” sahut Jiyeon yang mulai mengambil sumpitnya dan mencoba tteokboki yang dibawakan Thunder. Thunder tertawa geli melihat Jiyeon dengan mulut penuh makanan.

Jiyeon tersadar kalau dirinya menjadi bahan tertawaan, dia pun menyumpit beberapa kue beras dan memasukkan paksa ke mulut Thunder. Sekarang mereka bertukar posisi, Thunder yang menjadi bahan tertawaan Jiyeon.

…………………….

“Yoboseyo, tuan muda” suara seorang yang sedang menelpon seseorang sambil memperhatikan 2 orang dari kejauhan.

“Wae?” jawab pria yang sedang ditelponnya.

“Mereka sedang berdua, terlihat bahagia dan tertawa bersama”

“Lalu apa lagi yang sedang mereka lakukan?”

“Mereka sedang makan siang bersama”

“Mwo? Mereka sudah dalam tahap yang lebih kah?”

“Aku tidak tahu, tuan muda”

“Baiklah, cari tahu status mereka berdua dengan mendekati salah satunya! Aku butuh informasi lebih lanjut”

“Keurae, tuan muda”

Pembicaraan di telepon pun berakhir.

……………………… ( 1 bulan kemudian)

“Jiyeon-ah, kau telah selesai kuliah sekarang?” tanya Thunder melalui ponselnya. Dia menelpon Jiyeon sambil berjalan keluar dari fakultasnya.

“Hmm..mungkin sekitar setengah jam lagi, oppa. Ini aku sedang ada kelas, sudah ya. Baru selesai pukul 10 nanti. Annyeong” Jiyeon pun buru-buru menutup pembicaraan dan kembali menaruh ponselnya ke dalam tasnya. Untung saja dosen yang sedang mengajar di kelas Jiyeon adalah dosen yang lumayan cuek.

“Jiyeon-ah, siapa yang menelponmu barusan?” tanya Minah menyelidik.

“Itu tadi Thunder oppa” jawabku seperti orang berbisik.

“Cieee, apakah kalian akan jalan lagi hari ini?” tanya Minah lagi.

“Menurutmu? Aku juga tidak tahu, dia hanya bertanya apakah kelasku sudah berakhir atau belum” jawabku sambil mencatat tulisan-tulisan yang banyak dan menempel di papan putih depan kelas.

“Semoga saja iya, aku pikir, Thunder sunbae adalah orang yang baik. Dia cocok denganmu.hehehe”

“Sudahlah, segera catat itu semua kalau kau tidak mau ketinggalan dan keburu dihapus oleh Dosen Kim.

“Ne” jawab Minah singkat dan kemudian kembali menulis. Sesekali dia melirik ke arah Jiyeon sambil tertawa kecil bahagia. Jiyeon meliriknya lagi dan mengeluarkan lidahnya, mereka bercanda bagaikan anak kecil.

“Sang Hyun-ssi, bisakah kau kemari sebentar?” Dosen Park memanggil seseorang yang akrab di panggil Thunder dengan sebutan Sang Hyun, karena di absen nama Thunder adalah Park Sang Hyun.

“Ada yang bisa aku bantu, Dosen Park?” tanya Sang Hyun setelah sampai di meja Park Sandara, Dosen Statistika.

Tepat sebulan yang lalu, Sang Hyun diangkat menjadi Asisten Dosen Park karena nilai-nilai akademik Sang Hyun sangat bagus apalagi dalam mata kuliah Statistika 1 dan Statistika 2. Sebagai dosen baru, Dosen Park butuh asistensi untuk mengurangi sedikit kerjaannya dan pastinya Sang Hyun dibayar atas kerjakerasnya membantu Dosen Park.

“Oh iya, kau hari ini datang ada urusan apa? Bukankah kau tidak ada kuliah di hari Jumat?” tanya Dosen Park untuk basa-basi.

“Oh itu, aku datang kemari hanya untuk menyerahkan laporan praktikum” jawab Sang Hyun sambil tersenyum. Dosen Park terlihat raut wajahnya berubah saat Sang Hyun tersenyum.

Senyum itu, seperti milik seseorang yang sangat aku kenal, gerutu Dosen Park dalam hati.

“Kalau begitu, bisakah kau memberikan beberapa materi asistensi di kelas hari ini?” tanya Dosen Park dengan memohon.

“Hmm..sejujurnya aku memiliki urusan” jawab Sang Hyun dengan sedikit ragu-ragu.

“Ayolah, tolong aku. Adik-adik kelasmu akan UAS sebentar lagi. Namun karena jamku hanya sebentar sementara materi ada lumayan banyak, jadi aku hanya memperkenalkan sedikit hal tentang materi dan tidak membahasnya lebih lanjut. Aku harap kau bisa memperdalam materi di kelas pukul 10 ini” jelas Dosen Park.

“Hmm..choesong hamnida, aku sepertinya tidak bisa. Bukankah ada Yoon Bora juga yang menjadi asisten Dosen Park?”

“Bora hari ini tidak bisa karena urusan mendadak katanya tadi di telepon. Aku harap kau bisa menggantikan Bora. Atau kau memiliki urusan dengan teman wanitamu?”

“Hah? Teman wanitaku? Hahahahaa” Sang Hyun tertawa kecil.

“Aku sering berada di kantin hanya untuk membeli segelas kopi dan aku melihat seorang wanita bertanya keberadaanmu pada teman-temanmu, namun sepertinya dia bukan dari Fakultas Kedokteran. Keesokan harinya terjadi hal yang sama dan beberapa saat kemudian, kau dan dia berjalan bersama. Jadi aku berpikir bahwa dia adalah yeojachingumu. Iya kan?” selidik Dosen Park dengan jahil.

“Ani, dia bukan yeojachinguku.hehehee” jawab Sang Hyun.

Namun aku berharap sebentar lagi iya. Lanjutnya dalam hati.

“Sudahlah, kita jadi mengobrol tidak terarah. Mian aku mengusik urusan pribadimu. Habis aku suka sekali bergosip.hehehe” jawab Dosen Park sekenanya. Dosen Jong yang berada tidak jauh dari meja Dosen Park melihat wanita itu dengan heran.

“Baiklah, kalau begitu, ini materinya” lanjut Dosen Park.

“Keurae. Aku pergi ke kelas terlebih dahulu” Sang Hyun pun pergi dari ruangan dosen menuju kelas tempat dia akan memberikan asistensi.

……………………

“Ini sudah pukul 10, dimana Thunder oppa ya?” Jiyeon selalu mengecek jam tangan ungunya, jam tangan itu pemberian dari Thunder saat ulang tahunnya yang bertepatan 1 minggu yang lalu yaitu 7 Juni.

“Kenapa tidak kau coba menelpon dia?” jawab Minah memberikan solusi.

“Ahh, kau betul juga” kini Jiyeon menekan nomor ponsel Thunder di layar ponselnya yang touchscreen.

“Wae?” tanya Minah lagi saat melihat Jiyeon memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Ponselnya tidak aktif. Ottokhae?” Jiyeon bingung.

“Masa aku harus ke fakultasnya dan bertanya keberadaan dia pada teman-temannya lagi. Aku malu harus melakukan itu. Sudah 3 kali aku melakukan itu, aku seperti orang gila” Jiyeon memanyunkan bibirnya setelah berbicara.

“Ya sudah, kita tunggu di kantin saja” Minah merangkul bahu Jiyeon dan kemudian mereka melangkah bersama menuju kantin.

………………………..

Sang Hyun sudah memulai kelas asistensinya dari 10 menit yang lalu.

“Lihatnya, sunbae itu ganteng ya. Andaikan dia yang paling sering memberikan asistensi. Aku pasti akan selalu datang dan mudah mengerti” sahut seorang yeoja yang memperhatikan Sang Hyun dengan segenap hatinya.

“Itu menurutmu, menurutku Bora sunbae menerangkan dengan jelas dan baik” sahut seorang namja. Sang Hyun ditugaskan disitu untuk mengajar, bukan untuk mengobrol. Jadi dia mengacuhkan pembicaraan 2 orang adik kelasnya yang duduk di paling depan dekat dengannya.

“Jadi ini …” belum sempat Sang Hyun melanjutkan penjelasannya, pintu kelas di ketuk dengan terburu-buru.

“Masuk” ucap Sang Hyun. Saat pintu terbuka, ternyata itu adalah Yoon Bora. Bora mendekat ke tempat berdirinya Sang Hyun.

“Bora-ya? Bukankah kata Dosen Park, kau ada urusan” sahut Sang Hyun dengan cepat karena dia bingung. Tahu begitu, Sang Hyun pasti tidak akan ke kelas dan sekarang dia sudah pergi dengan Jiyeon ke Seoul Lotte World.

“Baguslah kalau kau datang, ini bisa kau lanjutkan” Sang Hyun menggendong tas ranselnya bersiap keluar kelas. Namun Bora menahan langkah Sang Hyun dengan memegang lengan Sang Hyun.

Yeoja yang duduk di depan dekat dengan mereka langsung menggigit bibir bawah, dia menahan marahnya karena sunbae idolanya dipegang-pegang oleh wanita.

“Waeyo?” tanya Sang Hyun.

“Suaraku sedang habis, aku tadi habis dari dokter untuk berobat. Aku kemari untuk membantumu menghapus papan tulis sebagai ucapan minta maaf. Karena ini seharusnya adalah tugasku, sedangkan tugasmu yang sesungguhnya membantu mengolah nilai. Jadi aku ingin membantumu. Gwaenchana?” suara Bora serak dan ketika dia berbicara seakan butuh tenaga besar. Sang Hyun pun akhirnya menaruh kembali tas ranselnya ke atas meja dan kemal menerangkan tulisan yang telah dia tulis di papan tulis.

……………………………

“Dia terlalu sibuk ya..hmm” sahut Minah saat Jiyeon sedang bercerita padanya tentang Thunder.

“Ne, padahal dia pernah berjanji padaku. Kalau dia berjanji akan pergi namun ternyata batal karena dia sibuk. Aku boleh mengacuhkan dia gantian. Aku juga bingung kenapa dia berkata seperti itu, padahal kita tidak sedang berpacaran”

“Mungkin dia menyukaimu, Jiyeon-ah. Ya itu pasti benar!!!!!!!!!!!” jawab Minah dengan sangat yakin.

“Tidak mungkin hal seperti itu dapat terjadi..hahahahaa Kau ini, yang benar saja” Jiyeon tertawa agak keras.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Buktinya, kemarin saat kau bercerita ingin jalan-jalan ke Seoul Lotte World, dia langsung menjawab akan mengajakmu ke sana. Mungkin itu adalah hari ini” Minah bersemangat mengungkapkan feelingnya.

“Tapi ini sudah hampir 1 jam, dia tidak juga datang. Lalu apakah kau tahu lagi, saat aku mengetahui ternyata dia sedang melakukan asistensi, aku pun menghampiri kelasnya. Disana ada seorang wanita yang aku tidak kenal menunggui kelas. Aku dihalangi olehnya saat ingin masuk ke dalam” jawab Jiyeon dengan lesu.

“Jengmal? Siapa wanita itu?” tanya Minah selidik.

“Mollayo, dia menatapku dengan agak sinis dan mengatakan sesuatu yang membuatku menjadi sungkan untuk menemui Thunder oppa lagi”

“Dia berkata apa memangnya?”

“Hahahahahaa.. sudahlah, lupakan! Oh iya, kau bukannya akan ada ulang tahun kantor abojimu?” Jiyeon mengalihkan pembicaraan.

“Sabarlah! Aku yakin, semua akan ada jalannya” Minah menjawab sambil tersenyum menyemangatiku.

“Aku pulang sekarang ya, aku harus bersiap-siap. Annyeong!” setelah Minah pergi, Jiyeon melirik jam tangannya. Sudah pukul 11 waktu Seoul.

“Aku jadi penasaran, siapakah wanita itu ya?” tanya Jiyeon pada dirinya sendiri.

 

(Jiyeon P.O.V)

~Flashback~

“Silyehamnida, apakah kau tahu dimana Park Sang Hyun?” tanyaku pada seseorang yang sepertinya seumuran dengan Thunder oppa.

“Oh, aku tadi melihatnya ada di laboratorium, di pojok kiri lorong ini” jawab orang yang aku tanya tadi.

“Gamsahamnida” ucapku yang kemudian berjalan menuruti perintah laki-laki tadi.

Saat aku melihat ruang laboratorium, aku hanya melihat seorang wanita dan laki-laki, mereka teman dekat Thunder oppa, yaitu Yoon Bora dan Kim Sang Bae.

“Simyehamnida, Bora sunbae, Sang Bae sunbae. Apakah kalian melihat Park Sang Hyun?” tanyaku dengan sopan. Bora yang paling dekat denganku menoleh ke arahku sebentar lalu dia kembali sibuk dengan aktivitasnya yaitu menata gelas-gelas ukur.

“Aku tidak melihatnya” jawabnya singkat dan ketus.

“Bora-ya, apa yang kau lakukan? Kau sangat dingin” sahut Sang Bae sunbae yang kemudian berjalan mendekatiku.

“Sepertinya Sang Hyun ada di ruang 1.1.. Dia memberikan asistensi di ruangan itu” jawab Sang Bae sunbae dengan lembut.

“Oh, kalau begitu aku akan menghampirinya kesana. Gamsahamnida, sunbae. Aku pergi dulu” ucapku membungkukkan badan.

“Ne, hati-hati” jawab Sang Bae sunbae. Namun Bora sunbae hanya diam saja dan sibuk dengan ponselnya.

“Mengapa kau begitu dingin pada Jiyeon? Aku memperhatikanmu, kau bertindak seperti itu tidak hanya sekali, namun sudah tiga kali. Setiap kali Jiyeon datang menanyakan keberadaan Sang Hyun, kau selalu begitu. Wae? Apa yang salah dengan Jiyeon?” tanya Sang Bae sunbae dengan nada yang agak keras. Aku bersembunyi di balik pintu, aku menguping percakapan mereka.

“Aku tidak suka dengannya. Memang kenapa?” jawab Bora dengan acuh.

“Memang apa alasanmu sampai membenci Jiyeon?” tanya Sang Bae marah.

“Apakah aku harus memberikan alasan untuk kebencianku ini, hah? Kau itu memang siapanya?” jawab Bora dengan kesal.

“Aku memang bukan siapa-siapanya. Namun coba kau pikir, kalau kau menjadi Jiyeon dan kau dibenci oleh orang tanpa ada kesalahan yang pernah kau buat padanya. Apakah kau tidak merasa sedih?” jelas Sang Bae dengan emosi. Ruang laboratorium penuh dengan suara kemarahan mereka berdua, untung letaknya di ujung, jarang ada orang yang melewati.

“Kau mendengarkan aku atau tidak? Dengan siapa kau smsan?” tanya Sang Bae menyelidik.

Aku merasa tidak diterima oleh teman Thunder oppa, aku pun pergi dari laboratorium menuju ruang 1.1 yang dikatakan Sang Bae sunbae tadi.

Setelah dirasakan aku sudah hampir sampai ruang 1.1, di depan kelas itu ada seorang wanita sambil memasukkan ponselnya ke saku celana bahan hitamnya. Dia sangat cantik, kemeja berwarna biru muda soft dan celana bahan hitam yang pas dengan kakinya, membuatnya terlihat anggun. Saat aku berjalan melewatinya, dia menahan langkahku.

“Kau akan kemana? Ruang 1.1?” tanyanya dengan sinis.

“Keurae” jawabku singkat.

“Kau tidak masuk ke sana. Disana sedang ada asistensi” jawab wanita itu.

Darimana bisa dia tahu bahwa aku akan keruang itu dan dia sepertinya mengetahui kalau aku bukan mahasiswa sini, buktinya dia melarangku masuk. Dia pun menarikku untuk duduk di deretan kursi dekat ruangan 1.1

Di Fakultas ini, memang disediakan beberapa kursi di luar ruang kelasnya. Mungkin untuk mahasiswa yang menunggu bisa duduk sebentar jika ruang kelas yang akan dipakainya masih ada mahasiswa lain.

“Kenapa kau mencari Sang Hyun?” tanya wanita itu.

“Aku akan mengajaknya makan siang” jawabku sambil menghilangkan rasa takutku.

“Kau tahu kalau Sang Hyun sedang mengajar?”

“Ne”

“Lalu kenapa kau ingin masuk dan mengganggu di ruangan itu?”

“Aku tidak berniat menganggu, aku hanya ingin mengintip sedikit. Karena biasanya aku juga menunggu Sang Hyun oppa di kursi ini” jawabku mencoba mengklarifikasi tuduhan wanita itu.

“Kau tahu, Sang Hyun adalah mahasiswa terbaik di fakultas ini?” aku menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku.

“Tahukah kau setiap jam makan siang, dia selalu keluar kelas terlebih dahulu dan masuk dengan terlambat. Apakah itu ada sangkutannya denganmu?” tanya wanita itu dengan menatapku dingin. Aku menunduk, aku sadari akhir-akhir ini dia selalu makan siang denganku, aku tidak mengira kalau hal itu membuatnya menjadi buruk.

Aku mengangguk pelan.

“Aku perhatikan, dia akhir-akhir ini menjadi seperti itu. Aku harap kau bisa mengerti maksud ucapanku ini.

“Jadi kau berpikir kalau aku membawanya menjadi buruk, begitukah?” ucap Jiyeon dengan ragu-ragu dan pelan.

“Ya aku harap kau jangan kemari lagi bila bukan dia yang membutuhkanmu” jawabnya yang membuat jantungku langsung berhenti berdetak.

Apakah aku yeoja yang kegatelan? Sampai ada seseorang yang mengatakan hal ini padaku? Aku hanya ingin membalas perhatian Thunder, dia selalu menghampiriku ke Fakultas Sastra dan mentraktirku makan siang, jadi aku berpikir kalau aku bisa gantian menghampirinya ke sini dan mengajak serta mentraktirnya makan siang. Namun . . .

“Ne” jawabku sambil mengangguk pelan.

“Baiklah, aku harus pergi” wanita itu pun melangkah menjauhiku.

“Choesonghamnida” ucapku pelan dan kemudian aku pergi menjauh dari kelas itu.

~Flashback end~

 

“Jiyeon, kenapa kau mebuat orang yang kau sayang menjadi buruk sih? DASAR BABO!!” gerutuku sambil memukul kepalaku sendiri.

Tadi dia hanya bertanya “Jiyeon-ah, kau telah selesai kuliah sekarang?” lalu aku menjawab “Hmm..mungkin sekitar setengah jam lagi, oppa. Ini aku sedang ada kelas, sudah ya. Baru selesai pukul 10 nanti. Annyeong” lalu aku memasukkan ponselku kembali ke dalam tas.

Aku bangkit dari dudukku dan beranjak pulang, mungkin memang Thunder tadi menelpon hanya bertanya saja, untuk apa aku menunggunya di kantin selama satu setengah jam? Lagipula hari Jumat kan dia tidak ada kuliah..DASAR JIYEON BABO!!!!!!

(Jiyeon P.O.V end)

 

-To Be Continued-




RULES

Image and video hosting by TinyPic

Imagination Day

August 2017
M T W T F S S
« Aug    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Fiction Categories

Looking For My Lovers

  • 63,238 Lovers

Tweeted

  • نصيب برحمتنا من نشاء ۖ ولا نضيع أجر المحسنين -- سورة يوسف #Quran 10 hours ago
  • لقد كان في قصصهم عبرة لأولي الألباب ۗ ما كان حديثا يفترى ولكن تصديق الذي بين يديه وتفصيل كل شيء وهدى ورحمة لقوم يؤمنون ﴿١١١﴾ -- سورة يوسف 13 hours ago
  • #تويت_حديث #صورة twitpic.com/dso0ij #ﷺ 17 hours ago
  • كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - لين الجانب ليس بفظ ولا غليظ ولا صخاب ولا فحاش يعفو ويصفح ويحلم على من يجهل عليه. #نشر_سيرته #ﷺ 19 hours ago
  • اللهم إني أمسيت (أصبحت)أشهدك وأشهد حملة عرشك وملائكتك وجميع خلقك،أنك أنت الله لا إله إلا أنت وحدك لا شريك لك، وأن محمدا عبدك ورسولك #أذكار 1 day ago