Posts Tagged ‘SNSD

09
Jun
12

Chingu? Sarang? (Part 5)

Title        : Chingu? Sarang?    

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Eunhyuk [Suju], Choi Sooyoung [SNSD], Bang Minah [Girls Day], Cho Kyuhyun [Suju], Kim Sang Bae, Yoon Bora [Sistar], Park Sandara [2NE1] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Maaf ya readers semua, aku baru update part 5nya sekarang u,u

Karena sekarang udah mulai liburan kuliah, jadi baru bisa update deh..Hehehehehee

Sampai part akhir udah kepikiran outlinenya, tinggal di ketik dan diperluas dg percakapan aja. Setia ngebaca dan menunggu di Feel My Soul ya! ^^

HAPPY READING!!!!

~Universitas Nasional Seoul~

“Minah-ya, aku takut untuk menghadapi UAS pertama besok, otteoke?” Jiyeon seperti biasa menggigiti kukunya disaat merasa panik. Minah menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

“Tenanglah Jiyeon-ah, kita pasti bisa melewati UAS kali ini!!!!!!! Hwaiting!” ucap Minah dengan tangan mengepal yang sedikit diangkat ke udara sambil mengedipkan sebelah matanya. Jiyeon ikut mengepalkan tangannya juga namun dengan ekspresi yang agak ragu-ragu.

“Ayooo kita cari buku referensi disini” ajak Minah dengan langkah kaki yang mantap memasuki ruangan yang penuh dengan bau tumpukan buku yang khas.

……………………….

Jam berapa ya sekarang? Thunder mengintip jam tangannya dengan menaikkan sedikit lengan kanan baju labnya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Thunder mencoba memalingkan pandangannya dari mikroskop yang ada dihadapannya.

“Jiyeon-ah, kenapa telponnya tidak diangkat?” gerutu Thunder kesal. Dia pun segera melepaskan pakaian lab dan sarung tangannya.

“Sang Bae-ya, aku pergi sebentar ya, nanti aku akan kembali. Oh iya, bolehkah aku meminjam mobilmu sebentar?” sahut Thunder sambil melangkah keluar dari lab.

“Siiippp, kuncinya ada di meja situ. Jangan lama-lama ya, kita harus menyelesaikan tugas ini hari ini juga!” Sang Bae berbicara sambil tetap memperhatikan objek dari lensa okuler mikroskopnya.

“Tentu!” jawab Thunder singkat dan kemudian terdengar samar lari Thunder.

Thunder mengetahui dari Minah sebelumnya kalau mereka akan menghadapi UAS mereka besok, maka Thunder pun berpikir kalau mereka sedang berada di perpustakaan.

Thunder melangkahkan kakinya menuju kumpulan buku sastra. Dengan pelan dia mendekatkan diri ke arah seorang wanita yang sedang menunduk, kemungkinan wanita itu tertidur saat membaca buku tebalnya. Dia mengeluarkan dua kaleng sedang cola yang dingin dan menempelkannya ke leher wanita itu. Dengan kaget wanita itupun terbangun dari tidurnya.

“Ahhh, oppa. Apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Jiyeon smabil mengucek matanya.

“Kau” jawab Thunder sambil tersenyum dan memberikan kaleng cola yang berada di tangan kanannya kepada Jiyeon.

“Oppa..” Jiyeon tersenyum malu dan sedikit menunduk.

“Kau sudah makan?” tanya Thunder sambil membuka kaleng cola yang berada di tangan kirinya. Jiyeon hanya menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, jangan minum cola ini dulu, kau harus makan nasi dulu” Thunder mengambil kembali kaleng cola yang sudah dia berikan untuk Jiyeon dan menarik tangan Jiyeon untuk segera makan malam. Jiyeon menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Minah yang sedang belajar keras sambil menutupi telinganya dengan headset.

“Ayoo kita cari tempat makan yang masih buka disekitar sini” ajak Thunder yang masih menggenggam erat tangan Jiyeon.

“Keurae” Jiyeon berjalan bersama Thunder yang melangkah dengan tempo yang cepat menuju mobil yang dia pinjam dari Sang Bae.

Setelah sampai di tempat parkir mobil, Jiyeon tidak mau mendekat ke arah mobil itu.

“Wae, Jiyeon-ah?” tanya Thunder yang kini melihat wajah Jiyeon yang sedikit ketakutan.

“Bisakah kita menggunakan sepeda saja?” jawab Jiyeon masih dengan ekspresi ketakutan.

“Kau kenapa? Kau memiliki trauma jika menaiki mobil?” tanya Thunder dengan khawatir. Jiyeon tidak bergeming.

“Aku akan berhati-hati dalam mengendarainya, tenang saja!” ucap Thunder meyakinkan Jiyeon. Jiyeon tetap menggelengkan kepalanya.

“Aku sungguh-sungguh akan berhati-hati” Thunder kembali meyakinkan Jiyeon.

Jiyeon tetap mengelengan kepalanya, kini terlihat dia menggeleng sambil airmata mulai menetes pipinya. Thunder menarik tubuh Jiyeon ke arahnya.

“Aku akan menjagamu, kau boleh memegang tanganku selama di dalam mobil, bagaimana? Tetap tidak mau naik?” ucap Thunder lembut. Jiyeon menganggukkan kepalanya dan mulai masuk ke dalam mobil. Mereka berdua berpegangan tangan selama di dalam mobil. Mereka sudah berkeliling di daerah luar sekitar kampus, namun sudah tidak ada lagi kedai yang buka. Akhirnya Thunder mencoba mencari kedaerah yang sedikit jauh dari kampus.

“Itu dia kedai ada kedai yang masih buka, ayo kita turun” ajak Thunder, namun tidak ada jawaban dari Jiyeon ternyata tertidur di bangku sebelahnya.

“Jiyeon-ah, kita sudah sampai, ayoo kita turun” ucap Thunder mendekat ke arah Jiyeon. Jiyeon tetap tidak membuka matanya.

“Jiyeon-ah” ucap Thunder lagi, kali ini dia menatap dalam wajah Jiyeon yang sedang tertidur. Dia mengelus lembut wajah Jiyeon yang putih dan mulus seperti bayi.

Kau begitu murni, sepertinya aku mulai mencintaimu. Thunder berkata dalam hatinya, hatinya tergerak untuk lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon.

“Aku tidak boleh melakukan hal ini, belum tentu Jiyeon juga menyukaiku” ucap Thunder pelan dan kembali duduk seperti semula.

Jiyeon perlahan membuka matanya.

“Kita sudah sampai?” tanya Jiyeon.

“Ye, ayo kita turun” mereka berdua pun makan malam bersama atau lebih tepatnya makan tengah malam bersama.

Dari kejauhan, ada sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari dalam mobil yang sedang terparkir dari arah yang berlawanan.

“Bastard!!! Dia mencuri Jiyeonku. Tak akan aku biarkan!” orang itu melihat kejadian seakan Thunder sudah mencium Jiyeon. Hatinya panas dan geram.

……………………

(Jiyeon P.O.V)

“Waaahhhh,aku tidak menyangka UAS kita sudah terlewati” ucap Minah dengan lega di luar kelas.

“Kau benar Minah-ya, aku juga merasakan hal seperti itu!” ucapku menimpali Minah. Tiba-tiba Eunhyuk sunbae datang dan merangkul kami berdua.

“Kalian donsaeng-donsaeng ku yang manis sudah lega ya, UASnya sudah selesai” ucap Eunhyuk sunbae seakan seperti bos minyak. Minah nampaknya risih dirangkul seperti itu, dia pun melepaskan rangkulan Eunhyuk sunbae.

“Hei Jiyeon-ah, kau tidak risih apa dirangkul monkey seperti dia?” sahut Sooyoung sunbae yang berada di belakang kami berdua. Aku menoleh kebelakang dan tersenyum.

Eunhyuk sunbae melepaskan rangkulannya dari bahuku dan mendekati Kyuhyun sunbae.

“Hei Kyuhyun-ah, jaga mulut yeojamu itu, kenapa sih dia selalu berkata kasar kepadaku?” ucap Eunhyuk sunbae dengan wajah memelas.

“Katakan saja pada Sooyoung sendiri” jawab Kyuhyun singkat.

“Aiiisshhh,kalian berdua ini, pantas saja kalian menjadi pasangan” Eunhyuk sunbae nampaknya kesal.

“Sunbae, aku pergi duluan ya, aku sedang ada urusan” ucapku pada Kyu, Soo dan Eunhyuk sunbae. Mereka bertiga mengangguk secara bersamaan.

“Annyeong Jiyeon-ah, hati-hati ya” sahut Minah sambil melambaikan tangan kepadaku. Aku pun melambaikan tangan kepada mereka semua.

“Yoboseyo oppa, bisakah kita bertemu sekarang, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” ucapku melalui pembicaraan di ponsel.

“Keurae, aku akan menunggu di halte fakultasku” aku pun menuju halte bus di depan fakultasku. Entah kenapa hari ini aku ingin selalu tersenyum, mungkin karena UAS telah selesai. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan halte bus.

“Jiyeon-ah, ayoo masuk” ucap seseorang yang berada didalam mobil sambil membuka kaca mobilnya. Setelah aku masuk ke dalam mobil, Thunder menawarkan tangannya untuk aku genggam selama perjalanan. Aku pun tersenyum ke arah Thunder.

(Jiyeon P.O.V end)

…………………….

“Hahahahahahahaa.. Jiyeon-ah kau makan sangat berantakan seperti bebek” Thunder menertawai Jiyeon yang sedang makan donat gula, banyak gula halus yang menempel di sekitar mulut Jiyeon.

“Oppa, cobalah donat ini, sangat enak lhoo” Jiyeon menyuapi Thunder untuk mencoba donat yang sama yang sedang dia makan. Setelah satu gigitan donat gula tersebut, ternyata gula halus juga menempel banyak disekitar mulut Thunder.

“Oppa, kau makan sangat berantakan, banyak sekali gula menempel dimulutmu” Jiyeon menyeka gula halus yang berserakan di mulut Thunder dengan tangannya.

“Kau juga” Thunder juga menyeka gula halus yang berada di sekitar mulut Jiyeon. Mereka kemudian tertawa kecil bersama.

Suasana berubah menjadi hening saat Thunder menggenggam tangan Jiyeon.

“Jiyeon-ah, aku rasa aku mulai mencintaimu” ucap Thunder sambil memegang tangan kanan Jiyeon erat. Jiyeon membelalakkan matanya, kaget bercampur senang kini berada di hatinya. Jiyeon tersenyum sambil menunduk.

Braakkkk, sebuah nampan yang berisi makanan tergebrak paksa diatas meja yang sedang ditempati oleh Jiyeon dan Thunder. Thunder langsung melepaskan genggaman tangannya dari Jiyeon.

“Bora-ya?” sahut Thunder ke arah wanita yang baru saja datang. Jiyeon memasang wajah kesal karena seeorang telah mengganggu momen indahnya.

“Bolehkah aku bergabung untuk makan bersama kalian?” tanya Bora dengan wajah innocentnya.

“Sunbae, bukankah ada banyak meja di sini, kenapa harus bergabung dengan kami?” ucap Jiyeon dengan kesal dan tiba-tiba.

“Kalau kau keberatan, baiklah, aku akan pindah tempat” Bora bangun dari duduknya. Namun Thunder menahannya dan kini Bora duduk di samping Thunder. Dia menggeser bangkunya mendekati Thunder. Jiyeon merasa bahwa dirinya sedang ditantang, maka dia juga menarik bangkunya mendekat ke arah Thunder. Thunder hanya diam saja saat Bora menggeser bangkunya, namun Thunder tertawa kecil saat Jiyeon juga menggeser bangku mendekat ke arahnya.

“Kalian ini seperti anak kecil” ucap Thunder.

………………….

“Hong Min-ssi, aku ke toilet sebentar ya!” sahut Sang Bae meminta izin kepada asisten lab medisnya. Sang Bae keluar dari lab medis, saat dia berjalan menuju toilet pria, dia harus melewati pintu toilet wanita. Ada sesuatu hal yang membuat Sang Bae berhenti tepat di depan toilet wanita.

“Tapi tuan muda, bagaimana caranya aku harus …” belum sempat wanita itu menyelesaikan omongannya, dia langsung terdiam mendengarkan lawan bicaranya di ponsel.

“Keurae tuan muda, aku akan mencoba sebisaku untuk membuatnya terluka”

Setelah dirasa wanita di dalam toilet itu selesai bicara, Sang Bae langsung masuk ke toilet pria dengan sedikit mengintip dari pintu.

“Dara sonsaengnim? Apa yang akan dilakukannya?” ucap pelan Sang Bae tidak percaya.

………………………..

“Chagi, kenapa kita hanya membeli satu es krim saja? Kau pelit” ucap Sooyoung sambil mengerucutkan bibirnya.

“Bukan pelit chagi, tapi aku ingin agar kita semakin dekat..hehehehee” jawab Kyuhyun sambil menjilati es krim di tangannya.

“Gantian-gantian, aku juga mau memegang es krimnya” rengek Sooyoung. Mereka berjalan tanpa melihat ke depan.

Brruuuukkk

“Es krimnyaaaaaa” teriak Sooyoung menangisi es krimnya yang terjatuh ke tanah.

“Choesonghamnida” ucap wanita yang telah menabrak Kyuhyun dan Sooyoung.

“Gwaenchana. Hmmm,aku sepertinya mengenalmu. Apakah tebakanku benar?” tanya Kyuhyun sambil membantu wanita itu berdiri. Sooyoung terlihat berapi-api.

“Kau sepertinya salah orang” jawab wanita itu yang kemudian mencoba melangkah pergi. Namun Kyuhyun menahannya.

“Aaaa, aku ingat siapa kau” jawab Kyuhyun sambil menjentikkan jarinya.

“Sudah aku bilang, sepertinya kau salah orang, aku tidak mengenalmu” jawab wanita itu kemudian melangkah dengan cepat meninggalkan Kyuhyun dan Sooyoung.

“Chagi, siapa wanita yang kau kenal itu?” tanya Sooyoung menyelidik.

“Hmm..aku juga sebenarnya tidak yakin, tapi saat aku melihat kakinya, ada tanda di kaki wanita itu yang membuatku mengenalnya” Kyuhyun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Sooyoung dari kejauhan melihat tiga orang yang sedang berjalan bersama namun satu orang diantaranya ada yang dia kenal.

“Jiyeon-ah” teriak Sooyoung kearah mereka. Kyuhyun berbalik badan dan kini melihat ke arah yang sama seperti Sooyoung.

“Sunbae, kenapa kalian disini?” ucap Jiyeon menghampiri mereka dengan langkah kaki kecil.

“Aku hanya sedang lewat dan mampir ke kantin FK (Fakultas Kedokteran) untuk mencoba mengunjungi toko es krim yang hanya ada di fakultas ini” jelas Kyuhyun sambil melihat ke arah Thunder.

“Aku sepertinya mengenalmu, apakah aku benar kali ini?” tanya Kyuhyun sambil berjalan mendekati Thunder. Bora yang berada di samping Thunder melihat Kyuhyun seperti orang bodoh yang sok kenal.

“Keurae, kau Kyuhyun kan?” tanya Thunder balik.

“Ahhhh,kau benar, aku Kyuhyun dan kau Sang Hyun kan? Park Sang Hyun?” Kyuhyun mencoba memastikan ingatannya.

“Kau benar, apa kabar teman lama? Sudah lama kita tidak bertemu” ucap Thunder sambil memeluk Kyuhyun.

“Mereka berdua adalah teman yang lama sudah tidak bertemu. Aku tidak percaya hal itu,sunbae” bisik Jiyeon ke arah Sooyoung.

“Na ddo” jawab Sooyoung yang masih terpaku melihat Thunder dan Kyuhyun yang saling mengenal.

“Jadi kau berkuliah disini juga? Fakultas apa?” tanya Kyuhyun sambil menjabat tangan Thunder erat. Thunder menjawab sambil menghentakkan kakinya ke tanah, menandakan jawaban dari pertanyaan Kyuhyun.

“HAH? Kedokteran? Aku tidak percaya hal itu.hahahahahahaaa” Kyuhyun tertawa keras membuat Bora, Sooyoung dan Jiyeon sedikit malu karena kini banyak orang yang melihat ke arah mereka.

“Kalau kau?” tanya balik Thunder.

“Aku berada disebelahmu” jawab Kyuhyun yang masih menyisakan tawanya.

“Engineering?” ucap Thunder dengan ragu.

“Ani, aku di fakultas Sastra” jawab Kyuhyun dengan mantap. Bora menatap Jiyeon dengan pandangan merendahkan, Sooyoung langsung melindungi Jiyeon dengan balik memelototi Bora. Bora langsung berdehem.

“Aku permisi pergi duluan” sahut Bora sambil membungkukkan sedikit badannya dan kemudian berjalan cepat meninggalkan mereka semua.

“Chagi, aku dan Jiyeon juga pamit duluan ya, kami ada urusan” sahut Sooyoung kemudian.

Jiyeon dan Sooyoung membungkukkan sedikit badannya dan kemudian pergi bersama menuju fakultas mereka.

“Oh iya Sang Hyun-ah, apa kabar keluargamu?” tanya Kyuhyun yang membuat Thunder menjadi bermuram durja.

“Sebenarnya Kyuhyun-ah, ada sesuatu yang mengenaskan terjadi pada keluargaku” jawab Thunder sambil menatap dalam Kyuhynun seakan beban itu sangat berat.

………………….

(Malam hari)

Jiyeon sibuk dengan hobinya yaitu membuat hiasan dari manik-manik. Di meja belajarnya telah berserakan kotak-kotak kecil yang berisi berbagai macam bentuk manik-manik yang akan dia tempelkan ke sebuah tempat pulpen.

Dreeettt dreeettt

“Yoboseyo” jawab Jiyeon saat mengangkat panggilan di ponselnya.

“Jiyeon-ah, ini aku Thunder. Bisakah kita keluar sebentar sekarang?” jawab Thunder.

“Tapi, pukul 10 malam asramaku sudah tutup”

“Tenang saja, ini baru pukul 7. Ayoolah, aku sudah menunggumu di luar asrama. Coba tengok kalau kau tidak percaya”

Jiyeon bangkit dari duduknya dan membuka sedikit tirai jendelanya, ternyata benar kalau Thunder sudah menunggu di bawah.

“Keurae, aku akan segera ke bawah, aku ganti pakaian dulu ya” ucap Jiyeon sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Thunder dan menutup tirai jendelanya lagi untuk segera berganti pakaian.

Thunder membukakan pintu mobil untuk Jiyeon yang pada malam itu sangat cantik bagaikan seorang putri.

“Kita akan kemana?” pertanyaan itu terlontar saat Thunder mulai menyalakan mesin mobilnya.

“Ke suatu tempat yang pastinya akan sangat kau sukai” jawab Thunder sambil tersenyum manis ke arah Jiyeon dan menawarkan tangannya untuk digenggam. Selama perjalanan, Jiyeon hanya terdiam, entah apa yang dia pikirkan. Berbeda dengan Thunder, dia terus tersenyum. Sesekali Jiyeon melirik ke arah Thunder, tanpa disadari oleh orang yang sedang sibuk menyetir itu.

“Nah, kita sudah sampai. Ayooo kita turun!” ajak Thunder yang kini sudah membukakan pintu mobil untuk Jiyeon.

“Oppa, bolehkah kita tetap berpegangan tangan?” tanya Jiyeon malu-malu sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Thunder.

“Tidak!” ucap Thunder singkat, membuat Jiyeon mengangkat kepalanya dan menatap Thunder dengan kecewa.

“Aku tidak bisa menolak hal itu” lanjut Thunder sambil meraih tangan kanan Jiyeon dan menggenggamnya erat. Kedua pipi Jiyeon terlihat memerah, Thunder pun segera mencubit pipi merah Jiyeon dengan tangan yang satunya.

Mereka pun segera melangkah memasuki gerbang sebuah istana bagaikan di dalam negeri dongeng. Jiyeon tersenyum riang melihat keadaan di dalam istana itu, terdapat berbagai pertunjukkan boneka yang mengulas kisah tentang jaman kerajaan dahulu kala.

“Oppa, boneka teddy yang gendut itu seperti dirimu” usai Jiyeon berbicara dan menunjuk salah satu boneka teddy yang gendut dan berkacamata, dia tertawa terbahak-bahak.

“Yang itu juga seperti dirimu, Jiyeon-ah” Thunder tak mau kalah membalas dengan menunjuk sebuah badut berbentuk bebek yang sedang membagi-bagikan snack untuk anak-anak.

Jiyeon langsung mengerucutkan bibirnya sebal. Thunder menarik Jiyeon untuk menelusuri lebih jauh istana tersebut.

………………………

Pembicaraan dua orang di dalam sebuah kafe di malam hari yang semula membicarakan hal ringan, kini menjadi pembicaraan yang berat.

“Dara sonsaengnim, aku tidak mengerti maksudmu” ucap Bora sambil terus menggenggam erat tas tangan kecilnya.

“Ya, aku hanya sekedar membantumu untuk dapat menjauhkan dia dengan wanita aneh itu” jawab Dara sambil menyeruput moccacino dihadapannya yang terlihat masih mengeluarkan sedikit asap.

“Tapi sonsaengnim, aku tidak ingin sampai terlalu begitu, aku sedikit tidak yakin dengan rencana sonsaengnim barusan” sahut Dara setelah berpikir agak lama, suara bergetar sambil terus menggenggam erat tas tangannya.

……………………

“Waaahhh” itulah kata-kata Jiyeon yang selalu diucapkannya ketika sampai di ujung menara Seoul.

“Kau menyukainya, Jiyeon-ah?” bisik Thunder di telinga Jiyeon dengan lembut. Jiyeon menganggukkan kepalanya sambil melihat ke arah Thunder.

“Kau kedinginan, tidak?” tanya Thunder tiba-tiba. Jiyeon masih terdiam tersihir dengan suguhan malam yang indah dari atas N.Seoul Tower. Thunder pun berinisiatif untuk melepas jaket yang dia kenakan, namun tertahan karena posisi tangannya masih bergandengan tangan dengan Jiyeon. Thunder mencoba melepaskannya agar dia bisa memberikan jaketnya kepada Jiyeon.

“Oppa” ucap manja Jiyeon sambil menyenderkan kepala di bahu Thunder. Thunder mengerti maksud Jiyeon, dia pun tersenyum ke arah Jiyeon.

Setelah puas melihat langit gelap yang sempurna di taburi bintang dan lampu malam kota, mereka berdua turun kembali ke bawah untuk menyeruput segelas kopi hangat.

“Oppa, terimakasih untuk hari ini” ucap Jiyeon sambil menghabiskan segelas kopi hangat digenggaman tangannya dan bersiri berhadapan dengan Thunder.

“Cheonmaneyo, Jiyeon-ah” jawab Thunder sambil membuang gelas kopi yang ada di genggaman tangannya ke tempat sampah kecil di sebelahnya. Kali ini genggaman tangan mereka sudah terlepas.

“Ayoo kita ke mobil” ajak Thunder, Jiyeon langsung membuang gelas kosongnya ke tempat sampah yang sama.

“Oppa, kau jam berapa ini kalau aku boleh tahu” tanya Jiyeon khawatir, dia baru ingat kalau asramanya ditutup pukul 11 malam.

“Masih jam setengah 11, kenapa?” Thunder menyelidik jam tangannya.

“Ani, ayoo kita segera pulang, sudah malam” Jiyeon sekarang melangkah mendahului Thunder. Thunder langsung meraih bahu Jiyeon dari belakang, setelah Jiyeon membalikkan badannya, Thunder langsung mencium bibir Jiyeon dan kemudian menutup matanya. Jiyeon membalakkan matanya karena kaget.

Thunder memeluk tubuh Jiyeon, namun Jiyeon masih tidak bergeming, badannya masih berdiri kaku. Tak lama kemudian, Thunder membuka matanya dan melepaskan tubuh Jiyeon dari pelukkannya.

“Ayoo segera masuk ke dalam mobil dan pulang, sudah malam” ucap Thunder sambil menarik tangan Jiyeon karena Jiyeon berdiri mematung sejka tadi.

Seseorang di dalam mobil yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua kini terlihat menitikkan air matanya.

“Jiyeon-ah, sebegitu gampangnyakah kau melupakan aku? Apaah aku tidak berarti untukmu” gerutunya di dalam mobil yang berAC dingin, sedingin udara di luar yang membekukan.

~To Be Continued~

29
Jan
12

Chingu? Sarang? (Part 3)

Title            : Chingu? Sarang?

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Hyunseong [Boyfriend], Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Eunhyuk, Bang Minah [Girls Day], Kim Sang Bae, Yoon Bora [Sistar] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Yeaahh,udah libur, tapi mau segera berkhir 😦

                Okeh, supaya ga menyita waktu, silahkan menikmati . . .

HAPPY READING!!!!

“THUNDER!! Aku peringatkan kau sekali lagi, jangan pernah kau dekati Jiyeon lagi. Mulai sekarang menjauhlah darinya!!!” teriak Hyunseong  yang berada di belakang Jiyeon dan Thunder. Hyunseong tidak tega melihat Jiyeon yang telah ditarik paksa oleh Thunder. Namun sayang langkah mereka berdua tidak terhenti. Hanya terdengar rintihan kecil dari Jiyeon yang mengaduh kesakitan ketika ditarik dengan erat pergelangan tangannya oleh Thunder.

“YAAA..THUNDER!! STOP!” teriak Hyunseong lagi. Kali ini langkah mereka berdua berhenti. Thunder membalikkan badannya dan mendekati Hyunseong tanpa melepaskan cengkraman tangannya pada Jiyeon.

“Lepaskan tangan Jiyeon” ucap Hyunseong lantang.

“Kalau aku tidak mau, bagaimana?” jawab Thunder dengan dingin.

“AKU BILANG LEPASKAN!” teriak Hyunseong.

“Aku tidak mau!” setelah mendengar jawaban kedua dari Thunder, sebuah pukulan mendarat tepat di pipi kiri Thunder. Thunder merasakan darah yang mengalir di ujung kiri bibirnya.

“Kau berani menghajarku?” Thunder geram dengan tindakan Hyunseong, dia pun membalas tepat di pipi kiri Hyunseong.

“Sudah cukup, apa yang kalian lakukan membuatku sakit! STOP!!!!!!!!” teriak Jiyeon dengan isak tangis yang tak dapat dia tahan lagi.

..

“Ani ani” tiba-tiba Hyunseong menggeleng-gelengkan kepalanya, dia baru sadar ternyata khayalannya sangat berlebihan. Angin malam yang berhembus menusuk ke tulang-tulang Hyunseong, dia duduk di sebuah ayunan yang nampaknya sudah tua dimakan usia.

“Kau disini? Sudah lama?” tanya seseorang, Hyunseong pun mencari sumber suara tersebut. Dia menatap kaget dan sinis ke arah pemilik suara itu.

“Jangan menatapku begitu, meskipun kau adalah mantan adik tiriku” jawab Thunder yang ikut duduk di ayunan tepat di samping Hyunseong. Thunder melihat keatas, menatap langit malam yang mendung tanpa kilau cahaya titik.

(Hyunseong P.O.V)

Kenapa malam-malam begini dia datang? Apa maunya?

“Thunder-ssi, apa yang kau lakukan disini?” tanyaku dengan formal seakan tidak pernah mengenal Thunder.

“Kau masih saja belum berubah! Sama egois dan pemarah seperti dulu” ucap Thunder yang kini memasukkan tangannya yang mulai kedinginan ke saku raincoatnya.

“Aku harus pulang terlebih dahulu” sahutku yang bangun dari duduk. Thunder menahan langkahku dengan segera, aku menatapnya bingung.

“Bagaimana kabar aboji?” aku hanya diam dengan wajah datar.

“Apakah dia baik-baik saja? Dan apakah dia masih menjalankan urusan terkutuknya?” aku masih diam.

“Sebenarnya, aku tidak ingin memiliki masalah denganmu, namun entah mengapa setiap bertemu denganmu, aku serasa memiliki banyak pikiran jelek terhadapmu. Mian”

“Mwoya? Aku tidak mengerti maksudmu. Pulanglah, ini sudah malam. Udara semakin dingin, nanti ajumma mencarimu” jawabku cuek dan kemudian berjalan menjauh darinya. Tidak ada pertahanan dari Thunder untuk memanggilku ataupun menahan langkahku.

(Hyunseong P.O.V end)

……………………………..

(Jiyeon P.O.V)

“Jiyeon-ah, penampilanmu bagus sekali..Aku sampai terpesona” sahut Minah.

“Jangankan kau, Minah. Aku juga dibuatnya terpesona. Dia bagaikan bintang sungguhan” timpa salah satu teman laki-laki sekelas mereka. Aku hanya tersenyum malu menahan girang hati.

“Minggir kalian, minggir!” perintah Eunhyuk sunbae kepada orang-orang yang mengerubungiku di kantin.

“Jiyeon-ah, chukhahae!” ucapnya dengan senyum manis kepadaku.

“Wae sunbae?” tanyaku bingung.

“Kau berhasil membuatku menjadi fansmu. Ya, kau berhasil!!!” Eunhyuk sunbae berkata sambil memegangi dadanya dan senyum yang melayang-layang.

“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuu” sorak sorai temanku menyauti hingga satu persatu dari mereka pergi menjauh dari kami.

“Kenapa kalian? Kalian iri padaku karena aku bisa membuat Jiyeon menerimaku sebagai fansnya? HAH?” Eunhyuk sewot.

“Sunbae, kenapa kau selalu berlebihan? Kami agak jijik mendengarnya”  jawab Jeong min yang kemudian pergi.

“Jiyeon-ah, apakah kau jijik dengan perkataanku barusan?” tanya Eunhyuk sunbae setelah tinggal kami berdua saja.

“Sunbae” aku bingung harus menjawab apa.

“Kalau kau memang jijik dengan Eunhyuk, mengaku saja Jiyeon-ah. Jangan takut pada ikan teri itu” sahut Kyuhyun sunbae yang datang bersama Sooyoung sunbae mendekati kami berdua.

“Diam kau, gaemgyu! Apa tidak kau pikir, aku itu selalu jijik dengan ucapan-ucapan manismu untuk Sooyoung. Dan kau Sooyoung, kenapa kau menerima gombalan-gombalan dari Kyuhyun begitu saja? Dasar babo!” Eunhyuk sunbae makin tidak karuan berbicara.

“Wae? Apa maksudmu dengan BABO, HAH?” Sooyoung sunbae kalau sedang marah sangat menakutkan.

“Sunbae, sudahlah” ucapku untuk Soo,Kyu dan Eunhyuk sunbae. Eunhyuk sunbae pun pergi meninggalkan kami bertiga dengan wajah marah.

“Apakah tidak apa-apa membiarkan Eunhyuk sunbae begitu?” tanyaku khawatir.

“Tenanglah, beberapa jam lagi, dia akan baikan..” jawab Kyuhyun sunbae.

“Oh iya, bagaimana pendapat Thunder tentang penampilanmu?” sahut Soo sunbae membuatku tersedak saat meminum jus jeruk.

“Sunbae”

“Ayo jawab, bagaimana? Aku jadi penasaran..hahahahaa” Soo sunbae memasang wajah imutnya.

“Dia tidak mengatakan apa-apa. Setelah aku selesai tampil, dia mengantarku pulang dan sudah” jawabku polos.

“Apakah tidak terjadi pegangan tangan atau cium pipi?”

“Mwo?”

“Ahh, sudahlah. Kau masih terlalu kecil untuk membicarakan hal itu.hehe” Soo sunbae tertawa kecil ke arah Kyu sunbae dan kemudian mereka tertawa bersama. Aku mengerucutkan bibirku.huhf

“Jiyeon-ah, Kyuhyun sunbae, Sooyoung sunbae.. Annyeonghaseyo” sahut Hyunseong tiba-tiba dan mulai mendekati kami.

“Chagiya, ayo kita ke ruang kuliah. Jam kuliah Budaya dan Sejarah akan dimulai” Soo sunbae melirik jam tangan IEKEnya yang berwarna abu-abu.

“Keurae, kau benar! Ayo kita segera ke kelas. Jiyeon-ah, Hyunseong-ah, kami tinggal duluan ya. Annyeong” pribadi Kyu sunbae yang sopan dan lugu sedang keluar, padahal biasanya dia kekanak-kanakan dan egois karena game playernya hingga membuat Soo sunbae sebal..

“Annyeong sunbae” balasku dan Hyunseong.

“Jiyeon-ah, aku ingin bicara sesuatu” ucap Hyunseong dengan agak gugup.

“Katakan saja sekarang, aku akan mendengarnya” jawabku singkat. Hyunseong tidak mengucapkan apa-apa sama sekali, dia malah terdiam dan sibuk membuat benang kusut di udara dengan kedua jari telunjuknya.

“It’s you, Jiyeon-ssi? I wanna tell you about something. Can you follow me to my room?” sahut Mr.Lee memecahkan keheningan diantara aku dan Hyunseong.

Apa yang akan dibicarakan Mr.Lee? apakah Ulangan Tengah Semesterku jelek?

“Yes Mr..I’ll come to your room as soon as after I finished my affair, Mr” jawabku segera. Mr.Lee pun menganggukkan kepalanya dan lalu pergi ke ruangannya terlebih dahulu.

“Hyunseong-ah, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku dengan tergesa-gesa.

“Aku ingin kita bicara berdua di taman belakang, sebentar saja. Bisakah?” pinta Hyunseong.

“Hyunseong-ah.. Disini saja, kau tahu sendiri aku disuruh Mr.Lee ke ruangannya”

“Ta..tapi, aku tak bisa! Ayoo kita bicara di taman belakang 2 menit saja. Hanya 2 menit”

“Sekarang saja, disini”

“Baiklah, aku hanya meminta 1 menit di taman belakang” aku menggelengkan kepala. Melihat ketidakseriusan di wajah Hyunseong, aku pun segera pergi meninggalkannya.

“JIYEON-AH! JIYEON-AH!!” Hyunseong memanggilku, namun aku tidak menoleh ke belakang, tetap melanjutkan lari kecilku menjauhi Hyunseong.

“Mr.Lee” ucapku setelah mengetuk pintu ruangannya dan masuk ke dalam.

(Jiyeon P.O.V end)

……………………………..

(Hyunseong P.O.V)

“Hyunseong-ah, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Jiyeon dengan wajah terburu-buru.

“Aku ingin kita bicara berdua di taman belakang, sebentar saja. Bisakah?” pintaku, aku tidak mungkin menunda lagi mengatakan tentang perasaanku pada Jiyeon kali ini. Aku tidak ingin dia jatuh ke tangan yang salah.

“Hyunseong-ah.. Disini saja, kau tahu sendiri aku disuruh Mr.Lee ke ruangannya”  jawabnya yang semakin membuatku panik.

“Ta..tapi, aku tak bisa! Ayoo kita bicara di taman belakang 2 menit saja. Hanya 2 menit”

“Sekarang saja, disini”

“Baiklah, aku hanya meminta 1 menit di taman belakang” sahutku tanpa aku pikirkan lagi. Yang ada dipikiranku sekarang adalah dapat bicara dengan Jiyeon meskipun hanya sebentar.

Wae? Kenapa dia malah pergi? Berlari dari sisiku dan bayangannya makin tidak terlihat lagi.

“JIYEON-AH! JIYEON-AH!!” teriakku memanggil Jiyeon, namun dia tidak berhenti ataupun menoleh ke arahku. Aku menghela nafas kecewa.

Dreeett dreett . . .

“Yoboseyo, ajussi. Wae?” ucapku mengangkat telepon dari bawahan ayahku.

“Tuan muda, aboji anda menyuruh agar anda segera pulang ke rumah. Ada urusan penting mendadak yang terjadi”

“Apakah benar-benar penting?”

“Ne, ada penjaringan polisi. Hal itu membuat aboji anda berniat pindah dari Korea Selatan”

“MWO? Aboji kenapa masih berurusan dengan mereka padahal aku sudah melarangnya. Aku tidak mau ikut!” tolakku, kalau aku harus pergi sekarang, bagaimana dengan Jiyeon?

“Tuan muda, kalau anda tidak mau ikut. Aku sendiri yang akan segera menjemput anda dan menyeret anda untuk pulang berkemas-kemas”

“Andwe! Aku bisa pulang sendiri. Baiklah, aku akan pulang sekarang” ucapku setengah marah mematikan pembicaraan di telepon. Aku langsung memasukkan handphoneku ke saku dan berbalik menuju parkiran.

Brruuukk. . .

“Choesonghamnida” ucapku singkat tanpa melihat siapa yang telah aku tabrak. Lalu menuju parkiran karena sebelumnya aku berangkat menggunakan motor.

(Hyunseong P.O.V end)

…………………………

“Gomapsumnida, Mr.Lee” kata yang keluar dari mulut Jiyeon adalah suatu ucapan terima kasih yang teramat sangat. Ketika dia keluar dari ruangan Mr.Lee dia langsung teringat Hyunseong yang sebelumnya dia tinggalkan di dekat kantin.

“Hyunseong-ah, Hyunseong-ah” Jiyeon mulai panik mencari Hyunseong. Dia merasa bersalah telah meninggalkan Hyunseong tadi.

“Ottokhaji?” ucap Jiyeon khawatir. Dia bingung harus melakukan apa..

“Jiyeon-ah, kau mencari Hyunseong?” tanya Minah tiba-tiba.

“Ne, kau tahu dia dimana? Aku mencarinya kemana-mana namun dia tidak ada” jawab Jiyeon berharap Minah tahu keberadaan Hyunseong.

“Aku tadi mendengar percakapannya di telepon, dia sepertinya disuruh oleh abojinya untuk segera pulang” jawab Minah.

“Mwo? Pulang? Sejak kapan? Baru saja kan?”

“Sepertinya sudah 5 menit yang lalu, mungkin dia sedang ke parkiran karena tadi pagi aku melihatnya berangkat menggunakan motor.

“Ohh ne, gomawo Minah-ya” Jiyeon langsung berlari menuju parkiran. Entah apapun yang terjadi, dia bertekad harus menghalangi Hyunseong pulang untuk bicara beberapa menit saja.

Ottokhaji? Baru kali ini dia mengajakku bicara hanya berdua saja. Pasti ada hal penting yang akan dia sampaikan, kenapa aku baru berpikir hal ini sekarang? Bukannya daritadi.. Jiyeon babo!!!

“Jiyeon-ah, kau akan kemana? Aku baru mau menghampirimu” sahut seseorang, jiyeon pun berhenti namun dengan keadaan lari ditempat.

“Thunder? Waeyo?” tanya Jiyeon singkat.

“Kenalkan ini Kim Sang Bae, temanku. Dia juga ingin ke Fakultas Ilmu Budaya menemui temannya, dan sekalian aku ingin menemuimu” jelas Thunder, baru kali ini Jiyeon mengacuhkannya.

“Mianhae Thunder-ah, aku harus buru-buru. Annyeong” Jiyeon kembali berlari menuju satu tempat. Kenapa lama sekali menuju ke parkiran disaat aku harus buru-buru kesana.

“Igot” ucap Hyunseong menyerahkan kartu parkirnya, dia langsung menancap gas motornya dan berlalu pergi. Jiyeon yang hampir sampai ke parkiran, dia melihat Hyunseong melesat pergi dengan motornya.

“HYUNSEONG-AH! HYUNSEONG-AH, CHAKAMAN!” teriak Jiyeon sambil terus berlari mengejar Hyunseong.

Hyunseong yang melirik kaca spionnya terbelalak kaget. Apa yang Jiyeon lakukan?

“Jiyeon-ah, mianhae” ucap Hyunseong lirih dan menambah kecepatannya. Dibalik helm fullfacenya, airmata Hyunseong mengalir.

Mungkin aku harus menunggu waktu lama untuk dapat bertemu kau kembali.

“Hyunseong-ah!” kaki-kaki kurus Jiyeon mulai merasa lelah dan penuh dengan asam laktat.

Makin lama, bayang Hyunseong semakin kecil dan menghilang seiring dengan datangnya tetes-tetes hujan menuju bumi. Lama kelamaan, tetes hujan itu menjadi banyak dalam waktu sekejap.

“Hyunseong-ah” ucap Jiyeon dengan isak tangis. Hampir tak dapat dibedakan antara airmata dan tetes hujan Jiyeon.

“Kau kan pelupa, bagaimana kalau kau lupa untuk mengatakan hal yang ingin kau katakan padaku?” gerutu Jiyeon di tengah jalan dengan pakaian yang basah.

Aku memiliki firasat buruk tentang kau. Pokoknya kau harus kembali ke kampus besok!!

***

~Keesokan harinya di Universitas Nasional Seoul~

Seseorang yang diharapkan datang, tidak kunjung muncul. Jiyeon menoleh ke arah tempat duduk yang biasa diduduki oleh Hyunseong, yaitu tepat disampingnya. Namun tak ada orang yang mendudukinya, bangku itu kosong.

“Kemana dia?” tanya Jiyeon khawatir sambil melirik jam dinding ruang kelas. 2 menit lagi dosen akan segera datang. Terlambat bukanlah kebiasaan Hyunseong.

“Jiyeon-ah, kau mau kemana?” tanya Minah segera saat melihat Jiyeon berdiri sambil membawa tasnya.

“Aku tiba-tiba tidak enak badan” jawab Jiyeon berbohong dan kemudian keluar ruangan. Kakinya entah melangkah kemana, yang pasti dia ingin mencari suatu pemecahan masalah dan otak yang dingin.

……………………………….

“Sang Bae-ya, ini seharusnya ditaruh begini, agar tata poster ilmiahnya terlihat menarik” saran dari Thunder diterima oleh Sang Bae.

“Ne, kau memang hebat” jawab Sang Bae sambil bertepuk tangan kecil dan tersenyum.

“Siapa dulu ketua kelompok kita, Park Sang Hyun” ucap Yoon Bora dengan bangga.

Mereka bertiga adalah teman sekelompok untuk tugas poster ilmiah mata kuliah Anatomi Manusia, kini mereka duduk melingkar di ruang pertemuan perpustakaan pusat. Di sana memang disediakan sofa-sofa untuk para mahasiswa berkumpul dan membahas tugas, selain tempat yang nyaman menggunakan AC, keadaannya tidak begitu ramai dan tempat untuk berkonsentrasi.

Thunder terus memperhatikan Kim Sang Bae yang sedang mendesain poster berukuran A0 melalui Adobe Photoshop.

“Nuguseyo?” sahut Bora saat melihat sosok perempuan yang lebih muda darinya berdiri tepat di hadapannya. Sang Bae dan Thunder pun ikut memalingkan pandangannya ke arah perempuan itu.

“Jiyeon-ah, waeyo?” tanya Thunder yang kemudian mengajak Jiyeon keluar dari perpustakaan.

“Thunder-ah, tolong aku!” jawab Jiyeon. Wajahnya kusut dan raut wajahnya tidak ceria seperti biasanya.

“Apa yang dapat aku lakukan untukmu?” tanya Thunder penuh perhatian terhadap Jiyeon.

……………………..

~Bandara Incheon~

Koper hitam beroda ditarik oleh seseorang yang berpakaian gelap dan kacamata.

“Dimana aboji?” tanya orang tersebut.

“Sudah di pesawat, ayo kita bergegas naik juga” jawab pria setengah baya yang selalu ada bersama aboji Hyunseong.

“Aboji sudah daritadi menunggu?” tanya Hyunseong pada pria disampingnya.

“Kau kemana saja? Kau seharusnya sudah cek out dari hotel dan sampai di Bandara dari setengah jam yang lalu”

“Mianhamnida aboji, tadi macet” jawab Hyunseong dengan acuh.

Jiyeon-ah, annyeong. Aku pasti akan merindukanmu. Mianhae, aku berjanji akan memberitahumu suatu saat nanti jika Tuhan mempertemukan kita kembali nanti. Aku tidak akan lupa untuk hal yang satu ini.

………………………….

Tok tok tok

“Kenapa tidak ada yang membukakan pintu ya? Siang-siang begini lampu tamannya masih menyala” Jiyeon heran. Thunder hanya mengangkat bahunya.

Thunder mengintip sedikit dari jendela rumah tersebut.

“Jiyeon-ah, kita harus segera pergi dari sini” Thunder langsung menarik tangan Jiyeon menjauhi rumah tersebut.

“Lepaskan! Aku tidak mau pergi dari sini. Aku ingin menemui Hyunseong” ronta Jiyeon namun tenaganya kalah kuat dengan Thunder.

“Percaya kata-kataku kali ini saja. Ayo kita segera menjauh dari sini secepatnya” Thunder kembali menarik lengan Jiyeon. Mereka pun pergi dengan motor Thunder, hanya berjarak 200 meter dari rumah Hyunseong, mereka memerhatikan rumah Hyunseong dari sebuah halte bus.

“Kenapa kita berhenti disini?” tanya Jiyeon bingung.

“Diamlah dan lihat apa yang akan terjadi” jawab Thunder.

(sirine mobil polisi)

Begitu banyak mobil polisi mengepung rumah Hyunseong dan angkatan bersenjata pun keluar dari mobil mereka. Tidak begitu terdengar jelas apa yang diteriaki oleh pemimpin mereka.

Jiyeon menggigiti bibir bawahnya dan airmata tertumpuk di pelupuk matanya. Thunder yang semula serius melihat rumah Hyunseong, kini mengalihkan pandangannya kepada Jiyeon.

Airmata Jiyeon mengalir cukup deras namun bibirnya tidak terbuka sama sekali.

“Kau menangis?” tanya Thunder. Dia bingung harus melakukan apa kalau ada wanita yang sedang menangis. Menurutnya wanita adalah makhluk yang paling kuat di dunia ini, kalau mereka sudah menangis, itu tandanya ada suatu beban yang sangat berat yang sedang mereka pikul.

“Sudahlah, jangan menangis” Thunder memeluk Jiyeon untuk menenangkannya. Jiyeon tidak berkata apa-apa, dia masih saja menangis membasahi bahu Thunder.

“Ka..kau tahu darimana akan terjadi seperti ini?” tanya Jiyeon terbata-bata karena tangisnya.

“Tidak penting tentang hal ini. Kau lihat kan, temanmu ini adalah orang jahat. Dia meninggalkanmu dan polisi saja sampai mencarinya. Lupakanlah dia karena dia pasti tidak akan kembali dalam waktu yang lama” jelas Thunder sambil terus menenangkan Jiyeon.

“Aku, aku ingin bertemu Hyunseong. Aku bertanya padanya ada apa dengan ini semua” Jiyeon bersikukuh untuk mempertahankan Hyunseong.

“Aku memperingatkan kau, Jiyeon. Lebih baik kau melupakan kalau kau pernah memiliki teman seperti dia. Dia bukan orang baik yang harus menjadi temanmu”

“ANDWE! Hyunseong bukan orang jahat!!!” Jiyeon setengah berteriak dan mencoba lepas dari pelukan Thunder. Thunder menahannya.

“Suatu saat kau akan paham dan mengerti kalau dia bukan teman yang baik untukmu dan untuk ada di sekitarmu” Thunder berbisik pelan di telinga Jiyeon.

~To Be Continued~

22
Dec
11

Chingu? Sarang? (Part 2)

Title               : Chingu? Sarang?

Author         : SarSay501

Rating           : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Hyunseong [Boyfriend], Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Eunhyuk, Bang Minah [Girls Day], Lee Jeong Min [Boyfriend] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Maaf baru bisa ngepost fanfictnya sekarang. Untuk yang sudah menunggu lama, semoga ga kecewa ya.hehe

HAPPY READING!!!!

~Universitas Nasional Seoul~

(Jiyeon P.O.V)

“Jiyeon-ah, apa yang kau lakukan disini?” Hyun Seong menepuk pundakku dari belakang dari belakang. Mengkagetkanku saja..

“Ohh Hyun Seong-ah, wae?” jawabku sambil tersenyum. Hyun Seong tampak terdiam sebentar, ada apa dengan dia?

“Hyun Seong-ah, Hyun Seong-ah? Kau kenapa?” ucapku sambil mencoba mengembalikan nyawa Hyun Seong ke raganya.

“Annyeonghaseyo, hoobaeku yang paling cantik” Soo sunbae ikutan mengkagetkanku juga. Untung aku tidak memiliki penyakit jantung -,-

“Kau Hyun Seong kan?” tanya Soo sunbae ke arah Hyun Seong, kali ini Hyun Seong sudah tersadar. Baguslah!

“Hmm..Ne” jawab Hyun Seong terbata-bata karena kaget.

“Sooyoung sunbae, kenapa belum pulang? Dan juga, biasanya dimana ada Sooyoung sunbae, slalu ada Kyuhyun sunbae” aku langsung menyambar seperti listrik.

“Kyuhyun sedang latihan band bersama Eunhyuk dan Yesung.. Aku sedang menunggunya” jawab Soo sunbae sambil tersenyum. Sunbae yang paling cantik dan baik menurutku adalah Sooyoung sunbae.

“Ohh begitu, aku jadi iri dengan sunbae” Soo sunbae tersipu malu, lucu sekali wajahnya. Hyun Seong pun menoleh ke arahku. Tatapan mataku seakan berkata ‘wae?’ pada Hyun Seong.

“Chagiya, ayo kita pulang. Aku sudah selesai dengan urusanku” sahut Kyu sunbae dari jauh. Soo sunbae mencari darimana asal suara itu.

“Iya, aku kesana.. Annyeong Jiyeon dan Hyun Seong” Soo sunbae langsung berlari kecil menuju Kyu sunbae dan bergandengan tangan.

“Jiyeon-ah” panggil Hyun Seong.

“Ne?” jawabku.

“Kau daritadi tidak memakan mie ramenmu?”

“Oh iya, aku lupa.hahahahaa” aku langsung menyumpit mie yang dengan penuh mengitari kedua sumpitku.

“Jiyeon-ah, boleh aku makan bersama di meja ini?” sahut Minah sambil membawa mie ramen juga. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan semangat karena mulutku penuh dengan mie. Setelah Minah duduk disampingku, dia langsung menyantap mie ramennya dengan lahap sepertiku. Hyun Seong hanya bisa menganga melihat kami berdua, namun lebih condong melihat ke arah Minah. Aku langsung mengambil cara inisiatif.

“ieon-ah, a ang au aukan?” tanya Hyun Seong dengan mulut penuh mie dan tidak terdengar dengan jelas.hahahahahaa

(Jiyeon P.O.V end)

………………………

Thunder memegangi bukunya sambil berjalan menuju perpustakaan pusat yang berada dekat dengan Fakultas Ilmu Budaya. Hyun Seong dari kejauhan melihat Thunder yang berjalan dengan cepat menuju ke arahnya. Hyun Seong teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Thunder mengantar Jiyeon ke rumahnya lalu meninggalkan Jiyeon tanpa sepatah kata pun.

Brruuukk. . Thunder tidak berkata apa-apa meskipun dia telah di senggol dengan sengaja oleh Hyun Seong hingga bukunya terjatuh di tanah. Dia pun kembali melanjutkan langkahnya.

“Ya, apa maumu?” teriak Hyun Seong. Thunder menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan dan berkata.

“Wae?” mendengar hal itu, Hyun Seong langsung berjalan dengan tergesa-gesa dan bernada marah ke arah Thunder.

“Kau, tidak sopan!!” maksud Hyun Seong adalah menyinggung kejadian sewaktu Thunder mengantar Jiyeon.

“Kau itu yang tidak sopan, berteriak dengan tidak jelas dan dengan sengaja menabrakku” jawab Thunder dengan tatapan yang sangat dingin. Hyun Seong sempat takut, namun kembali beradu mulut.

“Maksudku adalah sikapmu sewaktu mengantar Jiyeon ke rumahku. Appaku bilang …” belum sempat Hyun Seong melanjutkan omongannya.

“Kau percaya dengan Appamu? Hah?” tanya Thunder dingin.

“Tentu, dia adalah Appaku”

“Kau yakin kalau Appamu tidak akan berbohong atau mengecewakanmu?” tanya Thunder dengan sinis. Hyun Seong terdiam dan pandangannya melayang jauh. Thunder langsung pergi meninggalkan Hyun Seong.

“Appa” ucap Hyun Seong lemah.

………………….

(Flashback, 10 tahun lalu)

(Hyun Seong P.O.V)

Aku terduduk di kamar eomma, melihat figura-figura foto kecil yang berisikan kebahagiaan yang sudah tidak dapat diulang kembali. Aku menangis sambil memeluk salah satu figura foto.

“Eomma, neomu bogosipta!” airmataku mengalir deras.

“Hyun Seong-ah, bisakah kau ke bawah sebentar?” teriak Appa dari ruang tamu. Aku mengembalikan figura foto ke tempatnya, mengusap airmata dengan tangan-tangan kecilku.

“Waeyo, appa?” tanyaku ke arah appa. Aku melihat seorang ajumma dan anak laki-laki yang lebih tua dariku berdiri menghadap ke arahku. Tatapan matanya dingin, aku takut.

“Hyun Seong-ah, kenalkan, ini adalah calon eomma barumu. Ayo sapa!” suruh Appa kepadaku.

“Eomma baruku?”

“Ne!” jawab Appa.

“Annyeonghaseyo, Hyun Seong-ah” sapa Ajumma itu kepadaku.

“Aku tidak mau eomma baru!!” teriakku sambil menangis.

“Dasar cengeng!” ejek anak laki-laki di samping ajumma itu.  Aku menatap anak laki-laki itu dengan sinis.

“Aku tidak cengeng! Appa aku tidak cengeng kan?” tanyaku sambil terisak tangis.

“Ani, Hyun Seong tidak cengeng kok” jawab Appa sambil mengusap kepalaku. Aku melihat ke arah anak laki-laki itu dengan sinis dan ternyata anak itu kembali memandangiku dengan sinis.

“Kau, kenapa memandangiku seperti itu?” tanyaku pada anak laki-laki itu.

(Flashback end)

(Hyun Seong P.O.V end)

………………………………………..

“Annyeonghaseyo Soo sunbae” sapa Jiyeon dengan wajah bersemangat.

“Ohh, Jiyeon-ah.. Bagaimana persiapan untuk tampil lusa?” tanya Sooyoung pada adik kelasnya dengan bersemangat juga. Jiyeon pun menganggukkan kepalanya.

“Sunbae, aku memiliki 3 undangan. Kata wali kelasku, setiap orang yang tampil mendapatkan jatah 3 undangan. Soo sunbae dan Kyu sunbae mau datang kan?” tanya Jiyeon dengan puppy eyesnya. Sooyoung mengangguk dengan semangat dan melompat-lompat bahagia meskipun dia melakukan itu di depan kantin.

“Pasti aku dan Kyuhyun akan datang.hehehe Lalu 1 undangan lagi untuk siapa?”

“Aku masih belum tahu untuk siapa, menurut sunbae untuk siapa?”

“Hmmmm..Kau tidak berniat memberikannya pada Eunhyuk kan?” Sooyoung berwajah sinis.

“Ani”

“Kalau begitu, berikan pada Thunder saja” Sooyoung mencolek pundak Jiyeon dengan sengaja. Mata Jiyeon langsung terbelalak.

“Sunbae? Sunbae yakin dengan ucapan sunbae tadi?” Jiyeon tidak percaya dan tidak terbesit untuk mengundang Thunder agar melihatnya di panggung.

“Tentu!!!!!!!!!!!!!! Ayo aku antar kau ke Fakultas Kedokteran” Sooyoung bersemangat menarik tangan Jiyeon keluar dari kantin.

Dari kejauhan, tampak Hyun Seong berdiri tertegun dan meremas-remas kertas nada yang ada di tangannya.

“Kau, merebut segalanya!” teriak Hyun Seong dalam hatinya dan membuang kertas itu ke arah yang dia pun tidak tahu. Berlari berlawanan dengan arah Jiyeon sejauh mungkin.. hanya itu yang bisa Hyun Seong lakukan.

…………………………..

“MWO? Kau menolak undanganku hanya demi seekor kodok? Dimana perikemanusiaanmu? Hah?” Jiyeon berteriak-teriak di depan perpustakaan.

“Tidak salah aku mengajakmu berbicara di luar, kalau di dalam, bisa-bisa kau dihajar masa” jawab Thunder dengan cuek.

“Harusnya kau menerimanya” sahut Jiyeon ngotot.

“Kenapa aku harus menerimanya?” tanya balik Thunder. Jiyeon bingung akan berkata apa.

“Itu..karena kau pergi menghilang tanpa pamit padaku tempo hari.Harusnya kau menerima undanganku ini sebagai ucapan minta maafmu padaku. Ya sudah kalau tidak mau datang” Jiyeon pergi keluar dengan hati kesal. Setelah di halte, dia menunggu bus yang biasa berkeliling kampus tanpa biaya. Setelah menaiki bus itu sampai gerbang utama, Jiyeon biasanya lanjut menaiki bus umum.

“Harusnya aku tidak menghampirimu tadi.huhf” gerutu Jiyeon sambil memegang undangan pentas miliknya. Tak lama kemudian, bus kampus yang dia tunggu sudah terlihat. Jiyeon bangkit dari duduknya, menghelas nafas dan kemudian meninggalkan undangan itu di bangku halte. Kini dia melangkah masuk ke dalam bus kampus. Beberapa meter setelah bus berjalan, undangan itu tertiup angin dan mendarat di kaki seseorang yang tidak jauh dari halte. Orang itu mengambil kertas di bawah kakinya dan memperhatikan undangan itu dengan serius lalu menyelipkan di halaman buku yang berjudul “Anatomi Hewan”.

………………………..

(Jiyeon P.O.V)

Kakiku melangkah kecil untuk turun dari bus umum.

“Halte ini kenapa selalu sepi ya?” gerutuku tidak karuan.. sejak tadi semua hal yang aku lihat selalu saja aku komentari.

“Kenapa aku harus bertindak bodoh seperti tadi? Harusnya aku sudah tahu kalau Thunder tidak akan mau pergi. Dia kan tiada hari tanpa belajar, dia hanya akan membuang waktu kalau pergi dan menontonku di panggung” ucapku lemas.

Krriing Krriingg ….(bunyi bel sepeda)

Aku menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Thunder. Dengan wajah yang penuh keringat, pakaian yang lusuh dan agak basah, namun baru kali ini aku melihat dia tersenyum. Atau mataku yang sedang tidak waras?

Thunder mengerem sepeda tepat di depanku.

“Jiyeon-ah, kau mau makan es krim tidak?” sahut Thunder dengan nafas tersengal-sengal.

Aku setengah tidak percaya bahwa itu adalah dia, apakah dia memiliki kepribadian ganda?

“Jeongmal?” tanyaku dengan penuh harapan bahwa dia berkata ‘NE’

Thunder menuntun sepedanya dan berjalan disampingku. Aku merasa sangat bahagia dan masih sangat belum percaya bahwa yang sekarang berjalan di sampingku adalah Thunder.

“Mian aku tidak menggoncengimu, karena aku lelah harus bersaing cepat dengan bus” sahutnya tiba-tiba.

“Ahh,gwaenchana.. Aku yang merepotkanmu. Mengapa kau ingin mentraktirku es krim?”

“Karena aku ingin meminta maaf atas perlakuan dinginku tadi”

“Hahahahahaa, gwaenchana sunbae”

“Jangan panggil aku sunbae! Panggil Thunder-ah saja supaya kita lebih akrab” jawabnya sambil tersenyum indah. Sudah dua kali aku melihat senyum seperti ini..Aku mencubit pipiku sendiri dan sepertinya Thunder tertawa kecil melihat tingkahku.

“Kau ingin aku bantu?” tanyanya yang membuat aku bingung. Aku belum menjawab apa-apa, dia langsung mencubit pipiku.

“Aaaa..” jeritku kecil dan berwajah sebal.

“Kau semakin lucu dan aneh dengan wajah seperti itu.hahahaha”

Dia berani menghinaku..huhf

(Jiyeon P.O.V end)

…………………………………………….

Minah berjalan dengan santai menuju taman belakang, dia mencoba memulai untuk berlatih bernyanyi.

“Aaa.. Do Re Mi Fa Sol Sol Sol”

Belum sempat Minah menyelesaikan nada yang akan dinyanyikannya, terlihat semak-semak bergerak.

“Nugu?” teriak Minah setengah khawatir dan takut.

Tidak ada jawaban dari semak-semak itu, Minah melangkah mundur dan mulai berjalan cepat menjauh taman. Sayangnya langkah Minah terhenti, ada yang memegangi tangannya.

Minah perlahan membalikkan tubuhnya.

“Bisakah kau menyanyikan sebuah lagu untukku?”

“Hyun Seong-ah? Ne” jawab Minah dengan senyum terkembang.

………………………………………..

~Tempat Pementasan Seni~

Terlihat lampu berwarna-warni dengan dominan yaitu kuning menyinari panggung. Alunan musik Gayageum mulai terdengar mengiring lagu kebangsaan Korea Selatan, mahasiswa seni pun memasuki panggung dengan kostum tradisional Korea Selatan.

“Chagiya, lihat! Itu Jiyeon dengan kostum hanbok berwarna biru muda. Cantik ya!” sahut Sooyoung dengan suara lantang, namun untungnya teriakan Sooyoung kalah dengan musik.

“Ne, chagi..Kau bersemangat sekali” jawab Kyuhyun dengan santai.

“Anak itu, selalu ceria” ucap Thunder yang juga ikut menikmati pertunjukkan.

Setelah lagu kebangsaan selesai dikumandangkan, kini beberapa orang menari dengan harmonis sesuai lagu yaitu 2 lagu tradisional yang di telah diremix menjadi satu. Tarian itu berpasang-pasangan, Jiyeon berpasangan dengan Hyun Seong dan di sebelah mereka berdua ada Minah dan Jeong Min menari berpasangan.

“Jiyeon-ah, kau menikmati tarian saat ini?” tanya Hyun Seong tiba-tiba.

“Tentu, aku sangat menyukai berada di panggung” jawab Jiyeon.

“Bukan itu maksudku, maksudku adalah …” belum sempat Hyun Seong berkata sampai akhir, pasangan menari berubah. Jiyeon dengan Jeong Min dan Hyun Seong dengan Minah.

“Kau ingin berkata apa, Hyun Seong-ah?” tanya Minah.

“Ahh, ani” Hyun Seong berwajah datar.

Pertunjukkan pertama telah selesai, tirai di tutup sementara dan hadirlah kedua MC yaitu Eunhyuk dan Donghae.

“Tepuk tangan semuanya untuk pertunjukkan pertama dari hoobae kami. Bagus bukan?” kata Donghae sambil ikut bertepuk tangan.

“Sebelumnya kami berterima kasih karena para undangan telah hadir” ucap Eunhyuk dan tepuk tangan kembali riuh.

“Pantas saja Jiyeon tidak memberikan Eunhyuk undangan, karena memang Eunhyuk adalah Mcnya.hahahaha” Sooyoung tertawa sendiri.

“Chagiya, waeyo?” tanya Kyuhyun khawatir kalau pacarnya sudah mulai gila sejak tadi.

“Ani..hehehehee” Sooyoung masih dengan ekspresi tertawa ke arah Eunhyuk. Setelah tampil banyak lagu yang dibawakan oleh mahasiwa baru Ilmu Budaya, tampilan puncak akan dibawakan oleh Jiyeon dan Hyun Seong dimana mereka berpatner menyanyikan lagu bergantian namun diiringi alat musik yang juga secara bergantian.

“Hyun Seong, kali ini kita saling membantu.Kau bernyanyi dengan iringan pianoku, lalu saat aku bernyanyi, kau iringi dengan saxophonemu. Ayo kita berdoa sebelumnya. Semoga kita berhasil” ucap Jiyeon dengan mata tertutup dan berdoa di belakang panggung. Hyun Seong memperhatikan wajah Jiyeon yang cantik, saat Jiyeon akan membuka matanya, Hyun Seong berpura-pura menutup mata.

“Sudah berdoanya?” tanya Jiyeon.

“Ye..” kemudian mereka berdua pun menuju panggung dengan pakaian yang berbeda. Jiyeon mengenakan Short dress berwarna putih dan Hyun Seong mengenakan kemeja putih dan jas tanpa dikancingkan. Sorak sorai penonton terdengar jelas, makin membuat Jiyeon gugup.

Jiyeon bersiap di posisinya yang akan memainkan piano dan Hyun Seong bersiap dengan saxophonenya.

Ttoreureu nunmuri heulleoganda ttoreureu ttoreureureu (Ttoreureu tears flowing ttoreureureu ttoreureu)

sorieomneun apeumeul igijido motanche

(Map of the pain is not a sound of pain)

pareureu sonkkeuchi tteollyeoonda pareureu pareureureu

(Shaking fingers come pareureu pareureureu pareureu)

ttaseuhaetdeon siganeul gieokhanabwa

 (Seems like remember the time when me met)”

Masih teringat jelas di ingatan Jiyeon saat dia dan Thunder pertama bertemu di jalan.

BBBRRRUUUKKK..

“Choesong hamnida” sahut Jiyeon

“Omo, ganteng sekali dia. Seperti malaikat!” sahut Jiyeon dalam hati. Pria itu langsung berubah memiliki sayap dan wajahnya benar-benar bersinar meskipun sedang menunduk membaca buku.

Pria itu kemudian kembali melangkahkan kakinya.

“Oh iya, gwaenchana” sahut pria itu sambil menoleh ke arah Jiyeon selama 5 detik dan kembali berjalan menjauhi Jiyeon

“Sarangeul hamyeon deo yeppeojindae

(For if a more beautiful love)

sarangeul hamyeon jom dallajindae

(For if a little different when you love)

eotteoke haeya nae anui sarangi deo yeppeojilkkayo

(How do I love that I possess more would)

saenggageul hamyeon nunmuri nago

(When you think watery)
nunmuri namyeon tto saenggangmaneul

(I only cry once again)
geureon sarami gyeote itdaneunge dahaengijyo

(Lucky by that person‘s)

 

“Park Sang Hyun? Kedokteran?” ucap Jiyeon setengah teriak panik dan kaget setelah melihat KTM dan dia digeret Sooyoung untuk mengembalikan KTM itu kepada pemiliknya.

Jiyeon agak kaget saat terdorong dan dia dengan cepat menahan tubuhnya agar tidak tersungkur di atas tanah.

Semua orang diperpustakaan melihat kearahnya, tak terkecuali Thunder. Jiyeon mencoba mengendalikan keadaan, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

“Ehhemm” Jiyeon berdehem

Seureureu du nuni gamgyeoonda seureureu seureureureu

(Seureureureu comes right off right off the wound with two eyes)

goun miso hyanggie kkumeul kkugo sipeonnabwa

(I wanted to smile and fine fragrances in the dream turns outto)

ttoreureu sarangi heulleoganda ttoreureu ttoreureureu

(Love flows ttoreureureu ttoreureu ttoreureu)

mami siryeoulmankeum johahanabwa

(Dont mind as good as she wants to cry)”

“Jiyeon-ah.. Wajahmu sangat merah dan penuh keringat. Kau lelah? Mian!!” ucap Thunder sambil memberikan tissue pada Jiyeon.

“Aku rasa, kaloriku benar-benar sudah terbakar” jawab Jiyeon sambil tertawa kecil.

Thunder hanya tersenyum simpul dan segera berganti posisi. Kini Thunder yang akan mulai mengayuh sepeda sedangkan Jiyeon yang akan diboncenginya.

“Sunbae, terus kayuh. Kita tinggal sebentar lagi sampai” sahut Jiyeon sambil membiarkan angin meleraikan tiap helai rambutnya. Semenjak Thunder yang mengayuh sepeda, sepeda berjalan cepat.

 

“Gaseume chagaun niga naerimyeon

(Get off you chest cold)
motbondeusi geujeo useoya haeyo

(I’m just as we did not see the punch line)

haengyeo niga dorabolkkabwa hangsang geu jarireul maemdoneun

(Tour of the place you’re always afraid of a chance revolving)

eoriseogeodo haengbokhan sarangi johaseo

(Stupid because I like a happy love)

Dan juga ingatan beberapa jam yang lalu, saat dia bersama Thunder di backstage.

“Jiyeon-ah..Good Luck!” ucap Thunder sambil mengedipkan salah satu matanya.

“Ne!” jawab Jiyeon yang juga melakukan hal yang sama.

“Jiyeon-ah, tunjukkan kemampuanmu di panggung nantii, jangan gugup!!”  sahut Thunder lagi. Namun Jiyeon hanya menunduk dan memegangi kedua tangannya yang dingin.

“Kau pasti bisa!” Thunder menggenggam kuat kedua tangan Jiyeon dan memeluk tubuh mungil Jiyeon. Jiyeon pun terlihat kaget.

Tepuk tangan riuh bersahut-sahutan setelah Jiyeon usai bernyanyi. Jiyeon tersenyum lebar. Hyun Seong menaruh saxophonenya dan beralih memegang microphone. Piano Jiyeon kini mulai berdenting mengiringi alunan musim yang akan dinyanyikan oleh Hyun Seong.

Hangeoreum mulleonamnida (I take one step backwards)
daheul deut dachi annneun goseuro
(To where I feel you can’t reach me)
nunmure beonjin geudaeui moseubeun
(Your tear smudged face)
apaolmankeum neomu areumdawoyo
(It’s so beautiful as it is painful)
hanb
eon deo jallanaemnida (Once again I sever it)
nunmureul meokgo jaraneun maeum
(Swallowing my tears I sever my heart)
bureuji motan geudae ireumi
(Your name I can’t call out)
gaseumeul chyeoseo meongi deureodo
(Pounds at my heart bruising me)”

Hyun Seong menyanyikan lagu ini dengan sedikit terisak tangis membayangkan kejadian beberapa hari yang lalu. Untungnya penonton menganggap itu adalah ungkapan dari lirik lagu yang Hyun Seong coba keluarkan.

“Kau tau Hyun Seong-ah, aku tadi di antar oleh Thunder sunbae, dia mahasiswa Kedokteran. Aku baru mengenalnya tadi, tetapi dia sudah baik sekali” Jiyeon mengucapkannya dengan polos di depan Hyun Seong tanpa Jiyeon tahu bahwa perkataan itu menyakiti Hyun Seong. Berlari ke arah Thunder bukanlah hal yang diinginkan oleh Hyun Seong, Hyun Seong ingin memanggil nama JIYEON, namun mulutnya kelu. Jantung seakan terdekap oleh rime yang dapat membuatnya berhenti berdetak.
Mianhaeyo ireon saramiraseo (I’m sorry for being the kind of person I am)
geudae ape dagaseol su eobseoseo (For not being able to stand near you)
saranghae geumal hanmadireul motaeseo (I love you,the words I can’t say to you)
gakkeumeun honja umnida (I sometimes cry alone)
jal motnan saranginikka (Because my love has faults)
byeonmyeong hanmadi chatji motaneun (I can’t find a single word of excuse)
sesangui kkeute dadareun hue (When I look back at the end of my life)
dwidorabom
yeo huhoehagetjyo (I’m sure I’ll regret it all)

Hyun Seong menjerit dalam hati “Kenapa harus Thunder yang merebut hatimu? Bukan orang lain? Aku lebih ikhlas kalau kau bersama orang lain, bukan Thunder!” Hyun Seong terduduk lemas setelah mengintip dari jauh, Thunder dan Jiyeon berpelukan.

Aku ingin menanyakan satu hal padamu Park Sang Hyun, namun aku harap jabawan itu bukanlah karena balas dendam untuk kejadian masa lalu.

*To Be Continued*

18
Nov
11

Lost Time

Title        : Lost Time

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Yoona [SNSD]

Other cast : Donghae [Super Junior], Jessica [SNSD], Ok Taecyeon [2PM], Nichkhun [2PM], Choi Siwon [Super Junior].

Note        : Haii readers, author kembali..

 Ini cerita khayalan author yang bener-bener lagi berimajinasi gila

Jadi jangan kaget kalau background ff ini agak ngasal.hehehe

Mianhae dan Gomawo buat semua readers yang telah setia menunggu     postan ff disini :,)

Sssrroooottt *elap ingus+airmata terharu*

HAPPY READING ^^

“Appa, apakah aku benar-benar tidak boleh mengikuti perlombaan itu?” rengek Yoona, putri tunggal seorang pemilik club latihan pedang saat makan siang di taman belakang Sword Corner.

“Aku tahu kalau bermain pedangmu sangat bagus, namun kau itu seorang wanita. Kau membayangkan apa yang akan terjadi di pertandingan nanti? Kita akan melawan Club Eropa” jelas appa Yoona melarang keras karena semula Yoona diperbolehkan ikut latihan di Sword Corner hanya untuk sekadar melindungi dirinya. Appa Yoona tidak menyangka kalau putrinya akan tertarik mengikuti pertandingan antar-club.

“Tapi aku …” Yoona belum sempat menyelesaikan perkataannya, appa Yoona sudah berdiri dan pergi meninggalkan Yoona di taman sendirian.

“Wae? Aku tidak boleh ikut? Apa karena aku seorang wanita, hah? Apa salahnya dengan wanita?” gerutu Yoona sambil menghentak-hentakkan sendoknya ke kotak makan siang yang ada di pangkuannya.

“Hei Princess, kau kenapa berbicara sendirian? Kau sudah gila ya?” sahut seseorang di belakang Yoona. Orang itu pun langsung duduk disamping Yoona.

“Ohh kau Donghae” jawab Yoona tidak bersemangat. “Kau kenapa? Ceritakan padaku” Donghae adalah teman Yoona sejak SMP, mereka bersahabat baik sudah hampir 5 tahun. Donghae berumur 1 tahun lebih tua dari Yoona namun Yoona tidak pernah mau memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’ karena sikap Donghae terkadang masih kekanak-kanakan.

“Aku sedang malas bicara” jawab Yoona singkat yang kemudian menutup bekal makan siangnya.

“Ayolah, ceritakan padaku” pinta Donghae sambil memasang mata puppy eyesnya yang imut. Selain Donghae baik, dia juga tampan. Satu-satunya yang tampan di Sword Corner Club menurut Yoona.

“Jangan memasang wajah seperti itu, aku tetap malas bicara” Yoona membohongi dirinya sendiri, tentu saja dia lakukan itu karena Donghae adalah andalan appanya saat mengikuti pertandingan nanti. Yoona merasa malu kalau harus bercerita pada Donghae. Yoona pun berdiri dan hendak meninggalkan Donghae.

“Mian, kalau tadi aku menguping pembicaraanmu, aku tak bermaksud” ucap Donghae tiba-tiba sambil menghalangi Yoona pergi. Yoona pun menatap laki-laki dihadapannya dan menunduk malu.

“Mianhae, aku rasa appamu ada benarnya. Kau tahu sendiri kalau Club Eropa itu bermain dengan agak kasar. Tidak pernah ada lawan yang tidak terluka setelah bertanding dengannya” jelas Donghae memandang Yoona yang sedari tadi menunduk.

“Jangan salahkan juga kalau kau terlahir sebagai wanita” lanjut Donghae, kali ini Yoona memandang Donghae dengan wajah datar lalu pergi meninggalkan Donghae.

***

            Yoona terus menatapi langit malam di balkon kamarnya, berharap ada sesuatu yang dapat menjelaskan mengapa dia dilarang keras mengikuti pertandingan itu. Malam semakin larut, angin pun bertambah kencang menyapu wajah mungil Yoona dan melerai helai demi helai rambut Yoona.

“Aku harus tetap mengikuti pertandingan itu besok!” ucapnya mantap. Yoona kini mulai merasa mengantuk dan menutup pintu yang mengarah ke balkonnya. Dia masih berdiri bersandar di pintu kaca, membelakangi balkon kamarnya.

“Aku harap, ada yang dapat menjelaskan maksud appa tadi” ucapnya tanpa menyadari bahwa ada bintang jatuh dari langit.

***

Kreekkk.. Terdengar bunyi jendela baru saja dibuka oleh seseorang.

“Hei, bangun!” sapa seseorang yang membuat maja terpejam Yoona kini terbuka perlahan. Aroma kamarnya terasa berbeda. Yoona kaget karena kemunculan seorang perempuan yang berdiri di samping tempat tidurnya.

“Nu..Nuguseyo?” tanya Yoona terbata-bata sambil mengucek matanya.

“Harusnya aku yang bertanya, kau itu siapa? Darimana asalmu?” jawab perempuan itu. Sontak saja Yoona langsung lompat dari tempat tidurnya dan melihat sekeliling, “Semuanya berbeda” sahutnya panik. Lalu dia melihat ke arah keluar jendela. Terlihat seorang pedagang yang sedang mengangkut barang-barangnya ke kereta lembu.

“Ohh, hai Jessica” sapa pedagang itu.

“Hai juga ajussi” jawab perempuan yang tadi membangunkanku. Ternyata namanya adalah Jessica, tetapi tunggu dulu! Aku dimana? Haduh, aku harus mengikuti pertandingan hari ini.

“Aku menemukanmu kemarin malam di hutan ketika aku selesai berlatih. Aku khawatir pada keadaanmu, jadi aku membawamu kemari. Ini adalah rumah Ajumma Kim, salah satu pelayan di rumahku” jelas Jessica. Yoona sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja dibicarakan oleh Jessica.

“Namamu Yoona kan?” tanya Jessica sambil merapikan tempat tidur.

“Iya, kau tahu darimana?” Yoona masih saja panik, yang ada dipikirannya saat ini adalah mengikuti pertandingan pedang.

“Tertulis jelas di kalungmu” jawab Jessica. Yoona langsung melihat bandul kalung yang dipakainya. Bagaimana dia bisa tahu kalau ini bertuliskan YOONA? Ini kan kalung pemberian Donghae, kami saling bertukar hadiah sewaktu masuk SMA. Kami saling memberi kalung yang bertuliskan nama kami masing-masing dalam huruf Yunani kuno karena hanya bahasa itu yang kekal dan tidak akan pernah berubah. Yoona langsung melihat dirinya sendiri di cermin, terlihat sekali matanya terbelalak melihat pakaian yang dipakainya. Dia langsung berlari keluar rumah itu dan melihat semua orang memakai pakaian yang sama. Tanpa sadar, Yoona menubruk seseorang dan terjatuh ke tanah.

“Hei agassi, tidak bisakah kau berjalan hati-hati?” sahut orang itu sambil membantu Yoona berdiri. Yoona menerima bantuan laki-laki itu namun tetap masih terdiam bingung.

“Oh hai Taecyeon, maafkan temanku ini ya” tiba-tiba Jessica menyahut di belakang.

“Kau temannya Jessica? Kenalkan, namaku Taecyeon. Kau siapa?” sapa ramah Taecyeon dibalas oleh Yoona.

“Aku Yoona” jawab Yoona singkat.

“Ohh Yoona.. Hmm, kalau dilihat-lihat kau cantik juga. Wah Jessica, sepertinya kau akan mempunyai saingan.hehehee” ucap jail Taecyeon sambil melirik nakal ke arah Jessica.

“Berisik kau, jangan menggodanya. Ya sudah, kami pergi dulu ya”  Jessica pun menarik tangan Yoona paksa dan mereka berjalan menuju dekat air mancur di sudut kota.

“Yoona, bisa kau jelaskan padaku kenapa kau bisa sampai kemari?” tanya Jessica serius kearah Yoona.

“Aku juga tidak mengerti apa-apa, yang aku ingat semalam aku masih tertidur dengan nyaman di kamarku. Baru tadi pagi aku sadar kalau aku berada disini” sepertinya kini Jessica bingung dengan penjelasan Yoona yang dianggapnya tidak logis. Yoona menarik nafas panjang dan mengambil sebuah batu kapur di dekat kakinya.

“Kau tahu, aku bukan manusia dari zaman ini. Di zamanku, semua orang sudah memakai pakaian, biasa disebut kaos” ucap Yoona sambil menggambar kaos di lantai dekat air mancur.

“Lalu kau tahu, orang-orang bepergian sudah menggunakan mobil atau motor, bukan kereta lembu” lanjutnya sambil menggambar benda yang baru saja diucapkannya. Tiba-tiba saja sebuah panah berujung api mendarat tepat di samping Yoona. Jessica langsung menarik Yoona, “Tempat ini sudah tidak aman, ayo kita pergi ke rumahku” sahut Jessica sambil menarik tangan Yoona untuk berlari.

“Yang itu tadi apa? Menyeramkan!” perkataan Yoona tidak digubris sama sekali oleh Jessica. Yoona hanya tahu kalau Jessica tidak akan membuatnya celaka jadi dia terus belari di belakang Jessica.

Beberapa langkah lagi mereka akan masuk ke dalam istana, Jessica menghentikan langkahnya.

“Yoona, apakah kau bisa berperang?” tanya Jessica tanpa membalikkan tubuhnya.

“Hah? Berperang? Aku tidak yakin” jawab Yoona.

“Setidaknya memanah atau berkuda, atau bahkan bermain pedang. Bisakah kau salah satu dari itu?” Yoona berpikir sejenak, lalu menjawab “Aku bisa bermain pedang”. Jessica kembali menarik tangan Yoona untuk memasuki istana, “Baguslah kalau begitu” bisik Jessica pelan.

Pintu istana pun terbuka lebar, seakan mempersilahkan Jessica dan Yoona untuk masuk. Jessica langsung menyuruh Yoona untuk berjalan mengendap-endap, Yoona mengikutinya. Ternyata mereka baru saja melewati ruang kerja appa Jessica.

“Yoona ikuti aku” ucap Jessica yang kemudian berlari ke sebuah ruangan di bawah terowongan. Jessica langsung membuka pintu dan seketika Yoona kaget melihat isi ruangan itu.

“Tempat apa ini?” tanya Yoona sambil tak berhenti memandang satu persatu pedang dan baju perang terbuat dari baja terpajang jelas di pinggir ruangan itu.

“Jangan berisik! Aku ingin menceritakan padamu semuanya disini”.

……………………..

“Murid-murid semuanya, kita berkumpul sebentar! Akan ada pengumuman” teriak salah seorang pelatih perang di arena gladiator, tempat biasa mereka berlatih senjata. Langsung dengan rapi semuanya berkumpul mendekat ke arah Cha Sonsaengnim.

“Hari ini kita kedatangan warga baru, dia bersedia menjadi tentara kita” ucap Cha Sonsaengnim.

“Hah? Seorang wanita? Aku tidak yakin dia bisa berperang selayaknya laki-laki yang tangguh nantinya” sahut seseorang diantara kumpulan murid-murid Cha Sonsaengnim. Yoona tidak bisa mengetahui wajah orang itu karena mereka semua memakai baju dan sejenis penutup kepala terbuat dari baja, seperti yang Yoona pakai saat ini.

“Baiklah Yoona, sepertinya kau harus menunjukkan keahlianmu pada si tangguh ini. Semuanya istirahat sebentar, kita ada suatu pertunjukkan” seru Cha Sonsaengnim pada semuanya. Yoona terlihat agak gugup, dia pun mulai memakai topeng bajanya dan memegang erat pedangnya.

Aku harus buktikan kalau aku bisa! Wanita bukan untuk disepelekan, ingat itu bocah mnyebalkan!! Yoona teringat pesan appanya, “Bersabarlah! Jangan gegabah! Seranglah lawanmu disaat dia sudah kelelahan”. Itu juga yang sedang Yoona lakukan.

“Kau, jangan hanya menghindar! Kau tidak bisa bermain pedang? Mengaku saja!” ejek lawan Yoona. Yoona tetap bersabar dan mencari celah kesempatan. Yoona melihat ke arah gerak kaki lawannya itu, akhirnya Yoona tahu kapan dia harus menyerang.

“Kau ingin meminta maaf atas penghinaanmu barusan tentang wanita atau aku menjatuhkanmu sekarang juga?” tak ada yang dapat dilakukan lawan Yoona sekarang selain menuruti perkataan Yoona kerana dia benar-benar sudah dalam posisi terkunci.

“Baiklah aku akan minta maaf” jawab lawan Yoona, Cha Sonsaengnim pun mendekati mereka berdua.

“Maafkan aku, Yoona. Ternyata tidak peduli wanita atau pria asalkan memiliki kemampuan yang sama, perbedaan bukan berarti apa-apa”. Cha Sonsaengnim pun bertepuk tangan “Yoona, kau ternyata ahli. Kau akan dimasukkan ke dalam tim inti berperang”.

“Tapi dia kan belum ..” sanggahan lawan Yoona langsung terpotong oleh Cha Sonsaengnim, “Taecyeon, berhentilah mengelak atas kekalahanmu, Yoona memang jago bermain pedang. Lagipula ini untuk membela Yunani kita”. Ternyata orang dihadapanku ini adalah Taecyeon, orang yang aku temui pagi tadi. Jessica, mianhae!  Tiba-tiba panah berujung api kembali datang. Semua murid Cha Sonsaengnim yang merupakan tentara perang langsung bersiap.

“Yoona, siapakan pedangmu. Gladiator ini terletak di perbatasan wilappa perang!” bisik seseorang pada Yoona, Yoona yakin sekali kalau itu adalah Jessica. Yoona semakin kuat menggenggam erat senjatanya. Tak lama kemudian, terik siang matahari berubah menjadi gelap. Bukan awan gelap yang menutupinya melainkan seekor naga terbang yang kemudian dengan mantap mendarat di tengah lapangan gladiator. Lalu turunlah seseorang berbaju baja sepeti yang dipakai Yoona dan kawan-kawan, yang membedakan hanyalah warnanya. Warna baju orang itu adalah kuning mengkilap seperti warna emas, sedangkan baju yang dipakai Yoona berwarna putih mengkilap seperti perak.

“Kaukah kesatria baru yang dapat mengalahkan Taecyeon barusan? Aku tidak percaya seorang wanita bisa …” Yoona langsung menyela perkataan orang itu.

“Jangan membawa perbedaan antara wanita dan pria disini” ucap Yoona mantap.

“Ohh, jadi begitu. Sepertinya besok kau adalah santapan lezat yang spesial untuk Jaksal” ucapnya sambil mengelus kepala naga yang ditumpanginya barusan. Naga itu pun seperti bersiap untuk kembali terbang, orang tadi melemparkan sebuah botol berisi surat ke arah Cha Sonsaengnim dan kemudian mereka pergi dengan cepat.

“Yoona, kau baik-baik saja? Itu tadi Seung Won, pembawa berita sekaligus panglima perang dari pihak musuh kita” perkataan Taecyeon jelas terlihat sangat khawatir terhadap Yoona.

“Gwaenchanayo” jawab Yoona. Yoona melihat kearah Cha Sonsaengnim, kerut di keningnya menandakan isi surat itu adalah berita yang sangat buruk.

“Taecyeon dan Nichkhun cepat beritahu istana dan warga sekitar soal kejadian yang akan terjadi besok hari. Untuk semuanya, latihan kita akhiri sampai disini dan cepat tinggal gladiator!” suruh Cha Sonsaengnim. “Baik” jawab semunya serentak. Terlihat Taecyeon dan Nichkhun berlari keluar terlebih dahulu.

Tanpa Yoona sadari, ada yang memegang pundak Yoona, “Yoona, kau harus berlatih keras malam ini. Nanti setelah makan malam temui aku di halaman belakang istana”. Yoona mengangguk mengerti. Setelah melepaskan baju bajanya di kamar barunya, masih dalam daerah istana namun letaknya agak dibelakang, dia berjalan kearah dapur menemui Bibi Kim. Yoona pun duduk di meja dekat bahan-bahan masak, dia duduk termenung disitu.

“Aku dengar kau menjadi incaran Seung Won. Jangan panik, dia hanya suka menggertak” sahut Bibi Kim sambil mengaduk makanannya di atas perapian seperti kompor.

“Benarkah itu, Bibi?” tanya Yoona penasaran. Tentu saja Bibi Kim harus berbohong untuk membangkitkan semangat Yoona. Dia yang merawat Yoona semalam, membersihkan badan Yoona dan menggantikan pakaian Yoona, Kim menganggap Yoona sudah seperti anaknya sendiri. Kim menganggukkan pertanyaan Yoona. Kini Yoona kembali termenung memikirkan pembicaraanya dengan Jessica tadi pagi.

…………………

(Flashback)

“Yoona kau harus menyiapkan mentalmu. Pilihanmu sebagai warga baru hanya ada dua, kau mau menjadi tentara kami atau dikembalikan ke hutan” belum sempat Yoona menjawab perkataan Jessica, Jessica kembali berbicara “Aku senang sekali kau bisa bermain pedang, aku anggap kau menerima tawaran kami yang pertama. Appaku memberlakukan sistem kejam ini karena wilappa kami dalam daerah perang yang sudah berlangsung selama 10 tahun. Sebelumnya appa tidak pernah sekejam ini, bahkan karena keadaan genting seperti ini aku benar-benar dijaga ketat” airmata Jessica kini menetes di pipinya yang putih dan indah. Jelas saja Jessica dijaga ketat, itu semua karena Jessica adalah seorang putri kerajaan.

“Aku tidak terima diperlakukan begini, aku hanya gelisah di dalam kamar sedangkan rakyatku menyerahkan nyawanya di medan perang. Aku juga ingin melindungi rakyatku meskipun aku seorang putri mahkota” Jessica kini menghapus airmatanya.

“Apalagi Taecyeon juga ikut berperang, aku tidak bisa membiarkan hal itu. Menurutku dia satu-satu pria terbaik dan tertampan se-Yunani ini. Aku tidak ingin dia mati sia-sia dimakan Jaksal” lanjutnya, Yoona mengelus punggung Jessica dengan halus.

“Kau tahu Yoona, baju baja ini adalah pakaian penyamaranku. Aku menyamar sebagai Nichkhun saat latihan perang dan kemudian kembali menjadi putri setelahnya. Hanya kau dan Bibi Kim yang mengetahuinya. Aku harap kau tidak mengatakan hal ini pada siapapun ya!” pinta Jessica yang kemudian tersenyum kearah Yoona.

(Flashback end)

…………………….

Kini Yoona dan semua tentara memasuki daerah perang, semuanya sudah saling berhadapan. Terlihat sekali pasukan Cha Sonsaengnim berwajah tenang sedangkan pasukan Seung Won terlihat terbakar hawa nafsu.  Cha Sonsaengnim berada di sebelah kiri, mengendarai kuda hitamnya di temani senjata yang terlihat seperti petir, senjata itu dapat memanggil hujan badai serta kilat yang saling beradu. Yoona, Nichkhun, Taecyeon, dan semua tentara perang inti diletakkan di barisan tengah. Nichkhun berdiri gagah di lengkapi senjata andalannya tameng pembalik serangan, Taecyeon terlihat tenang dengan alat panah di punggungnya dan pedang di tangan kanannya.

“SEMUA, SERAAANNGGG!!” aba-aba dari Cha Sonsaengnim membuat tentara berlari menghadapi musuh dengan semangat. Yoona menghabisi semua lawannya dan membiarkan pedang itu menuntunnya untuk memenggal kepala musuh, membuat pihak musuh berlumuran darah dan kemudian mati. Seung Won yang mengendarai Jaksal, mendekati tempat Yoona berdiri.

“Kita bertemu lagi” ucap Seung Won sambil mengayunkan pedangnya ke arah Yoona. Yoona terus menanggapi permainan pedang Seung Won. Para tentara sudah makin banyak yang berguguran. Taecyeon melihat ke arah Yoona, “Apa yang anak itu lakukan? Melawan Seung Won sendirian” Taecyeon pun berlari ke arah Yoona.

Jaksal membantu majikannya, dia menyemburkan api ke arah Yoona. Hal itu membuat Yoona kepanasan, baju bajanya meleleh dan dia hilang keseimbangan, saat itu dimanfaatkan Seung Won untuk menggoreskan mata pedang ke arah lengan kanan Yoona.

“Aaaaaaaaaa” jeritan panjang Yoona membuat Nichkhun mengarahkan pandangannya pada Yoona. Yoona terduduk berlutut, tangan kirinya menahan agar darah tak banyak mengalir dari lengan kanannya. Jaksal seakan siap menyantap Yoona. Taecyeon berlari sambil menyiapkan busur panah ke arah Seung Won. Busur panah pun dilepaskan tepat mengenai dada kanan Seung Won. Taecyeon buru-buru menyelamatkan Yoona, tanpa disadari Seung Won hendak menancapkan pedang di tumit kiri Taecyeon. Nichkhun kini segera berlari mendekati Taecyeon dan mengarahkan tamengnya. Kini pedang itu berbalik mengenai tuannya sendiri, Seung Won langsung terjatuh ke tanah tepat di depan Jaksal yang sudah menganga lebar. Jaksal pun terbang pergi setelah dirasakan ada yang tertelan masuk ke dalam kerongkongannya.

***

“Aaaaaaaa..” jeritan panjang itu kembali terdengar saat Yoona diobati oleh tabib.

“Dia menghabiskan banyak darah, kita tak bisa banyak berharap lagi” ucap sang tabib keluar dari kamar Yoona. Jessica menangis di pelukan Taecyeon.

“Aku yang bersalah membawa anak itu kemari” ucap Jessica menyesal.

“Bukan kau yang salah, itu semua sudah takdir” jawab Taecyeon.

“Tabib, apakah tidak ada yang bisa kita lakukan lagi?” tanya appa Jessica, berharap Yoona dapat disembuhkan dan menjadi tim perang inti kembali.

“Kita hanya tinggal menunggu keajaiban datang” sang tabib sepertinya sudah putus asa mengobati Yoona.

“Yoona, maafkan aku. Aku sengaja menjadikanmu tim inti karena aku tak ingin putri Jessica menjadi sasaran Seung Won” sesal Cha Sonsaengnim di hadapan Yoona yang sedang menahan sakit, wajahnya pucat dan bibirnya sudah membiru. Jessica yang mendengar hal ini langsung kaget dan menghampiri Cha Sonsaengnim.

“Apa maksudmu Cha Sonsaengnim?” tanya Jessica marah.

“Pantas saja sewaktu tahu Yoona masuk tim perang, kau terlihat bahagia” lanjut Jessica. Cha Sonsaengnim menunduk, “Sebenarnya Seung Won sudah mengetahui kalau putri Jessica akan ikut berperang. Dia pun ingin membuktikan dengan datang tempo hari membawa surat. Mungkin Seung Won mengira Yoona adalah Putri Jessica yang menyamar. Oleh sebab itu dia sangat mengincar Yoona” jelas Cha Sonsaengnim.

“Kenapa kau baru bilang sekarang?” bentak Jessica.

“Sudahlah, kalian jangan bertengkar” ucap Yoona terbata-bata.

“Sebenarnya aku sudah mengetahui taktik umpan ini kemarin saat berlatih pedang dengan Cha Sonsaengnim usai makan malam. Aku menerima tawarannya karena memang tugas tentara inti adalah melindungi Putri Jessica” terlihat sekali Yoona menitikkan airmata menahan lukanya yang teramat sakit.

“Yoona..” Jessica memeluk Yoona yang sudah sekarat. Appa Jessica memegangi pundak Jessica dan menyuruhnya untuk berhenti menangis. Jessica berbalik memeluk appanya seraya berkata, “Mianhae appa”. Tiba-tiba pintu terketuk, pandangan semuanya terarah pada seekor Unicorn yang masuk ke kamar Yoona. Jessica, appa Jessica, dan Cha Sonsaengnim melangkah mundur menjauhi tempat tidur Yoona. Yoona sudah memejamkan mata, semuanya seakan sudah terlambat untuk membuat Yoona hidup kembali.

Unicorn tersebut mengarah tanduknya ke luka Yoona dan seketika itu luka Yoona sembuh namun masih meninggalkan bekas dipemiliknya.  Yoona pun terbangun dari tempat tidurnya dan melihat Unicorn tersebut seakan memberikan tumpangan padanya. Yoona naik ke tubuh Unicorn tersebut, “Gamsahamnida Yoona” ucap Jessica lirih. Yoona pun tersenyum pada semuanya dan secepat kilat mereka berdua pergi meninggalkan Jessica dan appanya, Cha Sonsaengnim, Taecyeon dan Bibi Kim.

***

            Yoona berlari masuk ke gedung pertandingan, “Wahh, aku terlambat”. Dilihatnya kini giliran Donghae maju bertanding, “Appa, maaf aku terlambat” ucap Yoona yang kemudian duduk di samping appanya.

“Kau tertidur pulas sekali” jawab appa Yoona.

“Mianhae, appa..hehehee  Apaah aku sudah telat?”

“Belum”

Yoona melinting sedikit lengan baju seragam Sword Corner Club, terlihat bekas luka berbentuk sebuah garis lurus bekas tersayat di lengan kanan Yoona. Tiba-tiba dilihatnya Donghae sudah berada dalam posisi terkunci, Yoona berlari ke arah wasit.

“Aku mohon istirahat sebentar!” pinta Yoona.

“Maksudmu apa? Istiahat masih 1 menit lagi” jawab wasit tersebut.

“Aku mohon, dipertandingan selanjutnya tambahkan 1 menit untuk menggantikannya”. Wasit pertandingan itu pun meniupkan pluit bertanda istirahat.

“Donghae, kau tak apa? Biar aku obati lukamu” Yoona pun mengobati luka di dahi Donghae. Donghae memegang tangan Yoona, “Ada apa?” tanya Yoona.

“Kau kenapa terlambat?” Yoona hanya tersenyum dan kemudian wasit kembali meniupkan pluitnya bertanda pertandingan dimulai kembali.

“Aku akan menggantikan Donghae dalam sesi pertandingan ini” ucap Yoona mantap dan kemudian berdiri melangkah maju ke arena pertandingan. Semula Donghae menghalanginya, namun appa Yoona membiarkan putrinya untuk maju bertanding. Appa Yoona dan Donghae tersenyum  bangga.

……………..The End…………..

24
Aug
11

Chingu? Sarang?

Title        : Chingu? Sarang?

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Hyunseong [Boyfriend], Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Eunhyuk, akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Author iseng liat page “Pairing [Need Ur Idea]” trs liat sebuah komentar minta pairing Jiyeon-Thunder. Akhirnya terbentuklah ide untuk fanfict ini ^^

Oh iya,pas pertama ngepost ada banyak kesalahan.Author minta maaf ya! Baru sekarang bisa dibenerin 🙂

Semoga readers pada suka ^^v

              Makasih buat readers yang udah menyumbangkan aspirasinya ya..

Buat yang lain,ditunggu jg lhoo ide pairingnya.hehehee

HAPPY READING!!!!

~Universitas Nasional Seoul~

Seperti biasa, Jiyeon selalu berlari pagi karena telat ke kampusnya. Jiyeon adalah mahasiswa baru di Universitas Nasional Seoul, sungguh berat pengorbanannya agar bisa masuk ke universitas ternama, meskipun Jiyeon ternyata hanya diterima di jurusan Seni dan Budaya (termasuk grade yang menengah ke bawah dibandingkan dengan Teknik, Natural Science dan Kedokteran).

“Aku terlambat. Ottokhaji?” ucap Jiyeon sambil berlari terengah-engah membawa banyak bawaan, yaitu tas ransel dan tas tangan yang lumayan besar.

“Jadi begitu cara mengetahui kerusakan organ dalam. Aku baru sadar!” ucap seseorang yang berjalan berlawan arah dengan Jiyeon, orang itu membaca sambil berjalan sehingga tidak melihat keadaan di depannya sedang ada seorang wanita berlari bagaikan banteng di matador yang siap menubruk apa saja yang ada didepannya.

BBBRRRUUUKKK..

“Choesong hamnida” sahut Jiyeon sambil mencoba merapikan barang-barangnya yang keluar semua dari tas tangannya. Tak ada jawaban dari orang yang ditabrak Jiyeon, orang itu sibuk mengambil kembali buku yang semula dia baca dan kembali berdiri.

Seusai Jiyeon merapikan bawaannya, dia mencoba melihat ke arah pria yang ditabrak di tabraknya tadi.

“Omo, ganteng sekali dia. Seperti malaikat!” sahut Jiyeon dalam hati. Pria itu langsung berubah memiliki sayap dan wajahnya benar-benar bersinar meskipun sedang menunduk membaca buku.

Pria itu kemudian kembali melangkahkan kakinya.

“Oh iya, gwaenchana” sahut pria itu sambil menoleh ke arah Jiyeon selama 5 detik dan kembali berjalan menjauhi Jiyeon. Jiyeon benar-benar terpaku dengan wajah orang tersebut, sampai-sampai dia lupa akan kelasnya yang sebentar lagi dimulai.

“OMO!!! AKU HARUS SEGERA KE KELAS!!!!” teriak Jiyeon panik dan kembali berlari.

……………………

(Thunder P.O.V)

“Hmm..anda ingin mengembalikan buku ya? Silahkan tunjukkan kartu identitas mahasiswa anda” ucap penjaga perpusatakaan pusat dengan lembut.

“Tunggu sebentar, tadi aku menaruh Kartu Tanda Mahasiswaku di antara halaman buku ini. Tapi kenapa …” menghilang ya? Lanjutku dalam hati.

Kemana perginya KTM milikku? Haduhhh,mana harus ada banyak buku yang aku baca dan pinjam untuk materi hari ini. Bagaimana ini?

“Hmm.. sebentar ya, aku ingin melanjutkan membaca disini saja” sahutku asal, berniat untuk mencarinya dengan aman di dalam perpustakaan yang nyaman ini.

“Baiklah, silahkan” sapa penjaga perpustakaan dengan baik.

Huhhhhf keringat dinginku keluar semua, sampai KTM itu hilang. Bisa gawat, aku harus meminjam buku memakai KTM, melihat hasil ujian dengan KTM, ikut tes dengan KTM.

“Huhhff, jangan panik Sang Hyun. Kau pasti akan menemukan KTM itu nantinya. Kalau memang apa yang seharusnya milikmu, pasti akan kembali padamu kok!” ucapku pelan mencoba menenangkan diri dan kembali membaca buku yang telah aku pinjam setelah frustasi mencari KTM yang tidak ketemu-ketemu.

(Thunder P.O.V end)

………………….

(Jiyeon P.O.V)

“Sunbae, aku telah membawa peralatan musik yang kemarin sunbae suruh” teriakku sambil berlari ke arah kantin mendekati Sooyoung dan Kyuhyun sunbae setelah kelas usai.

“Wahh, donsaengku yang satu ini memang sangat rajin ya! Seperti aku” sahut Sooyoung.

“Apanya yang seperti kau. Kau itu pemalas” sahut Kyuhyun sambil tertawa kecil.

“Chagi, puji aku sedikit di depan adik kelas dong..huhf” ucap Sooyoung sambil memonyongkan bibirnya. Kyuhyun pun mencubit pipi Sooyoung gemas.

“Sunbae, pacarannya nanti saja ya! Sekarang bantu aku menyelesaikan ini semua” ucapku agak membentak dan mengeluarkan isi tas tanganku. Sooyoung sunbae pun ikut membantuku.

“Hai, kalian sedang apa? Sepertinya sibuk.hehehee Butuh bantuanku?” sahut Eunhyuk sunbae mendekati kami bertiga.

“ANI!!!” teriak Sooyoung dan Kyuhyun sunbae bersamaan. Aku langsung terdiam dan menoleh ke arah Eunhyuk sunbae setelah mendengar teriakan Sooyoung dan Kyuhyun sunbae.

“Kalian jahat sekali menolak tawaranku.huhf” Eunhyuk kali ini duduk dengan lemas di samping Kyuhyun dan menyandarkan kepalanya ke bahu Kyuhyun, dengan sigap Kyuhyun langsung bergeser ke kanan yaitu mendekati Sooyoung.

“Kau tahu, terakhir kali kau membantu kami. Yang ada semuanya menjadi rusak. Kau memainkan gitar Kyuhyun dengan semangat sampai senarnya putus 2. Lalu saat kau mengajariku bermain drum di ruang musik, stick drum itu sampai patah dan aku yang kena marah oleh penjaga ruang musik. Sedangkan kau kabur entah kemana” Sooyoung nyerocos marah sambil melihat sinis ke arah Eunhyuk.

“Sudah, sudah.. para sunbaeku ini kenapa malah jadi bertengkar? Hehehehee” ucapku menjadi penengah.

“Iya, sudahlah chagi.. Ayoo kita urus Jiyeon-ah dulu” sahut Kyuhyun yang kemudian mengeluarkan satu persatu alat musik di dalam tas tangan Jiyeon.

“Hah? Apa ini?” tanya Sooyoung.

“Ini crecekan,sunbae. Aku bingung harus menyebutnya apa. Habis kata sunbae aku harus membawa alat yang ada di rumahku. Ya aku bawa itu” jawabku polos.

“Ini gendang? Haduh, Jiyeon-ah, kau itu akan pentas musik. Mainkanlah musik yang sewajarnya dan enak di dengar saat pentas nanti” Kyuhyun terlihat emosi.

“Aku bisa bermain piano, tapi piano itu terlalu besar untuk aku masukkan ke dalam tas tangan ini, sunbae” semua langsung menjadi hening. Tiba-tiba keluar seseorang dari dalam kelasku dan mataku langsung menatap orang tersebut dengan serius.

“Hyunseong-ah..” teriakku sambil berlari kecil mendekati Hyunseong dan meninggalkan para sunbae.

“Wae Jiyeon-ah?” jawab Hyunseong malu-malu karena dia baru dekat denganku setelah pembagian tugas pentas musik tadi pagi.

“Kita kan sekelompok pentas musik. Kau akan memainkan alat musik apa? Biar nanti aku ikut menyelaraskan” ucapku sambil tersenyum.

“Hmm.. mungkin aku akan bermain saxophone. Kau mau bermain apa?” jawab Hyunseong dengan terbata-bata.Apakah dia malu atau kenapa?

“Aku pikirkan dulu ya.. masih ada waktu 1 bulan lebih untuk kita pentas kan? Hehehee”

“Ne”

“Baiklah kalau  begitu. Kapan kita bs berlatih bersama?” tanyaku bersemangat karena aku tak sabar tampil diatas panggung.

“Mungkin akan aku kabari lagi nanti. Gwaenchana?”

Aku langsung mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Gwaenchana Hyunseong-ah. Aku akan mulai berlatih melancarkan main piano agar bisa mengimbangi seorang pemain Saxophone handal. Annyeong!” sahutku sambil melambaikan tangan kearahnya dan berlari kembali mendekati sunbae-sunbaeku.

“Jiyeon-ah. Ini KTM siapa? Kenapa ada di dalam tas tanganmu?” tanya Sooyoung sunbae. Aku langsung panik dan seakan mataku keluar membaca nama yang tertera di KTM tersebut.

“Park Sang Hyun? Kedokteran?” ucapku setengah teriak panik dan kaget. Fotonya seperti aku kenal. Itukan foto namja yang tadi tertabrak denganku tadi pagi.

“Kau harus mengembalikan KTM itu pada pemiliknya!” sahut Sooyoung dan Kyuhyun sunbae bersamaan.

“Tapi.. aku tidak mengenal siapa orang ini” jawabku mengelak.

“Ayoo aku bantu cari siapa orangnya. Lagipula, tinggal berjalan mengitari danau, sudah sampai ke Fakultas Kedokteran” ajak Sooyoung sunbae sambil menarik tanganku.

(Jiyeon P.O.V end)

…………………..

(Hyun Seong P.O.V)

“Hyun Seong-ah.. kau terus melamun sejak tadi. Kau mendengarkan hasil diskusi rapat atau tidak?” tegur salah seorang sunbae Hyun Seong dalam organisasi.

“Choesonghamnida!” sahutku yang sadar dari lamunanku.

Sungguh menyebalkan berada di ruang rapat tanpa konsentrasi sama sekali.huhf

“Hyun Seong-ah, kau tadi sedang memikirkan apa selama rapat?” tanya Dong Hyun padaku.

“Ani, Dong Hyun sunbae.hehehehehee” jawabku sambil tertawa kecil mencoba menyembunyikan kebohonganku.

“Dasar kau ini, sudah besar masih saja berbohong padaku. Anggap aku adalah kakakmu yang selama ini sudah pergi meninggalkanmu. Jadi kau bisa cerita segalanya padaku tanpa khawatir aku akan membongkarnya. Arraseo?” jelas Dong Hyun sambil mengusap-usap kepala Hyun Seong.

“Ne, sunbae. Gomapsumnida” jawabku. Sebenarnya selama rapat aku terus membayangkan senyum Jiyeon. Aku baru sadar kalau senyumnya adalah yang terindah yang pernah ada di dunia ini.

(Hyun Seong P.O.V end)

…………………….

“Sunbae, kau ikut mengantarku juga kan?” tanya Jiyeon sambil terus mengintip seseorang dari balik pintu perpustakaan.

“Kau sendirilah yang mengembalikannya. Dia adalah mahasiswa berprestasi di kampus ini. Orang-orang menyebutnya Thunder. Jadi kau panggil dia Thunder Sunbae. Ingat itu!! Sudah, cepat sana masuk” bisik Sooyoung sambil mendorong Jiyeon masuk ke dalam perpustakaan. Jiyeon agak kaget saat terdorong dan dia dengan cepat menahan tubuhnya agar tidak tersungkur di atas tanah.

Semua orang diperpustakaan melihat kearahnya, tak terkecuali Thunder. Jiyeon mencoba mengendalikan keadaan, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

“Ehhemm” Jiyeon berdehem sambil melangkah pelan mendekati tempat duduk Thunder. Thunder sedang sibuk membaca buku sambil mendengarkan ipodnya.

“Annyeonghasimnikka, sunbae” sapa Jiyeon ramah, namun tidak ada jawaban dari Thunder. Lalu Jiyeon memberanikan diri mencopot salah satu earphone di telinga kiri Thunder.

“Apa yang kau lakukan disini, hah?” tanya Thunder kesal. Baru kali ini ada orang yang mengganggunya saat membaca buku dan mendengarkan Ipod.

“Choesonghamnida, sunbae. Aku hanya ingin mengembalikan ini” jawab Jiyeon pelan sambil menyodorkan KTM milik Thunder.

“Kau menemukannya dimana? Jeongmal Gomawo” Thunder langsung merebut KTM miliknya dari tangan Jiyeon dan memasukkannya dalam dompet. Setelah itu kembali memasang earphone-nya.

Jiyeon sejak tadi berdiri di samping Thunder bagaikan patung. Lalu tanpa berkata sepatah katapun, Jiyeon pergi meninggalkan Thunder.

Beberapa saat setelah Jiyeon pergi.

“Ohh iya, namamu siapa? Mau aku traktir makan siang nanti?” tanya Thunder sambil melepas sendiri earphonenya, namun sayang. Sosok wanita yang diajak bicaranya telah pergi.

…………………..

“Hyun Seong-ah.. Kau sudah selesai rapat?” tanya Jiyeon berdiri di depan ruang rapat Hyun Seong untuk mendapatkan jawaban kepastian dari Hyun Seong.

“Jiyeon-ah? Kau sejak kapan menungguku disini?” tanya Hyun Seong kaget melihat kehadiran Jiyeon seusai dia rapat.

“Hmm.. sekitar 2 jam yang lalu. Jadi kapan kita bisa latihan?” tanya Jiyeon dengan wajah memelas.

“Baiklah, sepertinya hari ini. Tapi aku ada 1 kelas kuliah lagi. Kalau mau, silahkan kau ke rumahku duluan atau makan siang dulu lalu ke rumahku terlebih dahulu. Aku akan menyusul pulang. Gwaenchana?”

“Ne, lagipula rumah kita kan tidak begitu jauh.hehehee Annyeong, gomawo Hyun Seong-ah”

“Cheonmaneyo Jiyeon-ah”

Hyun Seong masih saja tersenyum sambil melihat Jiyeon berlari kecil meninggalkannya.

“Hyun Seong-ah. Apakah kau memikirkan dia selama rapat tadi? Jujur padaku! Hahahahahaa” sapa Dong Hyun sambil menepuk pundak Hyun Seong.

“Ahh sunbae. Ani” jawab Hyun Seong yang kemudian melangkah menuju kelas kuliahnya.

…………………….

(Jiyeon P.O.V)

“Ne, lagipula rumah kita kan tidak begitu jauh.hehehee Annyeong, gomawo Hyun Seong-ah” ucapku sambil pergi meninggalkanya

“Cheonmaneyo Jiyeon-ah” jawabnya.

Aku sekarang bingung harus kemana dulu, apakah aku harus makan siang dulu? Atau pergi pulang ke rumah sendirian?

“Ahhh, tau gitu tadi aku bareng Sooyoung dan Kyuhyun sunbae untuk pulang bareng. Kan lumayan naik mobil gratis.huhf” gerutuku sambil berjalan ke gerbang kampus.

“Hei kau. TUNGGU!!!!” teriak seseorang. Aku merasa tidak terpanggil, jadi aku meneruskan langkahku.

Tiba-tiba orang yang aku sudah kenal dengan sepedanya menghadang di hadapanku.

“Thunder sunbae?” sapaku pelan karena dia terkenal dengan sikap dinginnya.

“Kau jangan menatapku seperti itu. Kau sudah makan siang? Ayoo kita makan bersama. Aku yang traktir. Ottokhae?” perkataan Thunder sunbae barusan membuatku menganga lebar. Apa benar ini Thunder yang aku kenal dingin di perpustakaan tadi?


……………………

(Hyun Seong P.O.V)

“Kyuhyun sunbae, apakah kau melihat Jiyeon disekitar sini?” tanyaku pada seorang sunbae yang sedang berjalan melewatinya sambil bermain pspnya. Yang aku tahu, dia sangat dekat dengan Jiyeon.

“Ahh? Kau bicara denganku?” tanya Kyuhyun mencoba memastikan dan mulai mematikan pspnya.

“Keurae, sunbae!” jawabku yakin.

“Setahuku, Jiyeon sudah pulang bersama seorang namja. Sekitar 1 jam yang lalu. Entahlah mereka pergi kemana? Mungkin makan siang bersama” jawab Kyuhyun sekenanya tanpa disaring terlebih dahulu.

“Chagiii… Kau disini rupanya, aku mencarimu sejak tadi” teriak seorang wanita dari kejauhan yang kini sedang berlari mendekati Kyuhyun sunbae. Sepertinya itu adalah Sooyoung sunbae, pacarnya.

“Ohh, kau habis ada kelas? Aku juga mencarimu. Ayoo kita pulang sekarang!” ajak Kyuhyun sambil menggandeng Sooyoung.

“Gamsahamnida, Kyuhyun sunbae” sahutku sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkanku di lorong kampus.

“Baiklah kalau begitu. Aku harus buru-buru pulang sekarang!!” gerutuku sendirian dengan bersemangat.

(Hyun Seong P.O.V end)

…………………..

~Depan restorant~

“Sunbae, aku baru tahu kalau ada mahasiswa yang menggunakan sepeda untuk kuliah” ucap Jiyeon memperhatikan sepeda milik Thunder dengan seksama.

“Oh, aku hanya ingin membakar kalori.hehehee” jawab Thunder yang diakhiri tertawa kecil.

“Membakar kalori ya? Aku merasa gemuk akhir-akhir ini. Bagaimana kalau untuk pulang aku saja yang menggonceng sunbae?” tawaran Jiyeon sedang dipikir-pikir oleh Thunder. Wajah Thunder benar-benar datar saat berpikir.

“Kau yakin kuat mengayuh sepeda dengan beban yaitu aku?” tanya Thunder yang sepertinya tidak yakin kalau tubuh mungil Jiyeon dapat membawanya ke suatu tempat.

“Kan tadi sunbae janji untuk menemaniku ke rumah temanku. Jadi untuk mengucapkan rasa berterima kasihku, biarkan aku yang menggonceng sunbae” jelas Jiyeon sambil tersenyum indah. Thunder memperhatikan senyum Jiyeon dan akhirnya mengangguk pasrah.

“Ingat, kalau kau merasa berat. Bilang ya, supaya kita gantian!” suruh Thunder yang kini sudah menaiki sepeda di bagian belakang tempat duduk Jiyeon.

Jiyeon mulai mengayuh sepeda milik Thunder, terasa berat. Ya pasti karena Jiyeon lebih keil dibandingkan Thunder!!

Aku pasti bisa, ucap Jiyeon dalam hatinya. Thunder merasa kalau sepedanya berjalan sangat lama.. lama sekali..

“Jiyeon-ah, kalau tidak kuat. Jangan memaksakan!” sahut Thunder.

“Tenang saja sunbae” jawab Jiyeon sambil bersusah payah mengayuh sepeda.

Beberapa menit kemudian.

“Jiyeon-ah, baju bagian belakangmu mulai basah karena keringatmu. Kita gantian saja, apalagi jalannya agak menanjak” sahut Thunder kembali dengan khawatir.

Kini Jiyeon tidak menjawab pertanyaan Thunder, wajahnya sudah merah karena keringat dan capek.

Thunder pun mengerem kayuhan Jiyeon dengan menurunkan kakinya dan akhirnya sepeda pun berhenti. Thunder melangkah ke depan Jiyeon.

“Jiyeon-ah.. Wajahmu sangat merah dan penuh keringat. Kau lelah? Mian!!” ucap Thunder sambil memberikan tissue pada Jiyeon.

“Aku rasa, kaloriku benar-benar sudah terbakar” jawab Jiyeon sambil tertawa kecil.

Thunder hanya tersenyum simpul dan segera berganti posisi. Kini Thunder yang akan mulai mengayuh sepeda sedangkan Jiyeon yang akan diboncenginya.

10 menit telah berlalu, kini mereka berdua hampir sampai rumah Hyun Seong, teman Jiyeon yang tidak diketahui oleh Thunder.

“Sunbae, terus kayuh. Kita tinggal sebentar lagi sampai” sahut Jiyeon sambil membiarkan angin meleraikan tiap helai rambutnya. Semenjak Thunder yang mengayuh sepeda, sepeda berjalan cepat.

“Stop stop stop.. Berhenti disini. Ini adalah rumah temanku itu” Jiyeon setengah berteriak menyuruh Thunder berhenti. Jiyeon turun dari sepeda dan memencet bel rumah di hadapannya sedangkan Thunder tetap duduk di sepedanya dengan kedua kaki menapak tanah. Setelah itu keluarlah tuan rumah yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Hyun Seong kalau temannya akan datang.

“Annyeonghasimnikka, ajussi” sapa Jiyeon sambil menundukkan badannya. Ajussi itu mulai berjalan mendekati Thunder dan Jiyeon. Thunder membenahi kacamatanya, mencoba melihat lebih jelas siapa ajussi tersebut.

“Ajussi itu pun membukakan gerbang rumahnya dan pandangannya langsung menuju ke arah Thunder. Begitu pula yang terjadi dengan Thunder, mata mereka seperti mengeluarkan setrum listrik.

“Hmm.. Ajussi, ini kakak kelasku. Namanya …” belum selesai Jiyeon bicara untuk mencairkan suasana. Thunder sudah kembali mengayuh sepedanya tanpa berkata apa-apa. Jiyeon dan ayah Hyun Seong hanya bisa menatap perginya Thunder dari depan gerbang rumah.

~TO BE CONTINUED~

14
Aug
11

Rainy Heart (SongFic)

Author      : SarSay501

Rating       : PG-17

Main cast    : Heo Young Saeng [SS501],

Other cast    Kim Taeyeon [SNSD]

Note        : Ini adalah versi SongFic dari lagu Rainy Heart-Saengi. Jangan lupa sambil denger mp3-nya ya pas baca ff ini ^^

Ini pertama kalinya author bikin SongFic. Menurut readers gimana? heheheheee

Semoga pada suka ^^

Hey, you never know.. this is my story

On one rainy day

Hiding tears

 

Suara gemuruh tetes hujan yang saling bersahutan, gaduh.. Aku membenci saat titik air itu turun ke bumi. Menabrakkan dirinya dengan tanah.

Aku hanya dapat memandangi hujan dari balik kaca besar. Andai aku bisa memberhentikan hujan! Ya, andai saja.

Kalau saja setiap tetes hujan dapat mewakili kesedihanku. Suasana selalu berubah menjadi dingin saat hujan turun. Syal coklat muda dan kaos putihlah yang menemaniku saat ini. Namun sayang, mereka tidak bisa menggantikan kehangatan yang aku sangat nantikan dan mungkin tidak akan pernah kembali aku rasakan lagi.

 

Heaven is showering rain on me

as if it is mocking at me

On one rainy day

 

“Oppa, aku sangat menyukai desain apartemenku yang baru ini. Sama persis seperti desain apartemenmu” sahut Taeyeon yang sedang memperhatikanku dari tempat tidurnya. Aku hanya dapat tersenyum bahagia saat melihatnya bahagia.

“Oppa, kau lihat. Semua barang-barang ini kita membelinya bersamaan dan kembar. Jadi kalau aku merindukanmu, aku tinggal menatap semuanya ini.hehehee” sahut Taeyeon lagi, kini dia dalam posisi duduk di atas tempat tidurnya. Aku merasakan hatiku benar-benar gembira saat melihatnya riang seperti itu. Suatu saat nanti aku pasti akan merindukan hangatnya senyum itu. Aku tidak mau melepaskan pandanganku dari senyum yang manis itu.

Lost in thoughts

Longing for that memorable day

Rainy day

 

Sayang, senyuman itu kini terhempas begitu saja dari hidupku. Kini aku tak akan dapat melihat senyum hangat itu lagi. Senyum yang mengingatkanku pada musim semi, sekarang menjauh dan menghilang dariku.

While looking at the rain

Tears rolling down unknownly

Why does my heart cries whenever it rains

 

Aku melirik Taeyeon yang sedang membaca buku di genggaman tangannya.

“Oppa, kau selalu memperhatikanku? Waeyo?” tanya Taeyeon sambil melihat ke arahku. Kini tatapan mata kami bertemu.

“Adakah sesuatu yang lebih menarik dari pada aku?” ucapku manja. Taeyeon tertawa kecil mendengar ucapanku barusan. Aku pun ikut membalas tawanya.

“Kau benar-benar mengacuhkanku karena sebuah buku? Aku mau liat tandinganku itu. Apa gantengnya buku itu denganku, hah?” sahutku sambil mencoba menurunkan buku di genggaman tangan Taeyeon. Susah payah aku melakukan itu, karena Taeyeon menyembunyikan isi buku tersebut dari pandangan mataku.

“Oppa, kau tidak mau mencobanya lagi?” tanya Taeyeon seakan menantangku. Aku berpura-pura marah padanya.

“Oppa, jangan marah. Kalau begitu, ayo kita baca berdua buku ini” Taeyeon pun menaruh buku itu terbuka di atas meja. Kami membaca buku itu bersama, ternyata itu adalah buku catatan kecil milik Taeyeon yang berisi hal-hal konyol yang kami lakukan setiap harinya. Dia mencatat semua peristiwa itu dalam buku miliknya.

“Jadi ini.. Kenapa kau menulis kejadian konyol dalam buku ini?” tanyaku sambil menahan tawa karena saat membaca buku itu, aku membayangkan banyak sekali kejadian aneh yang kami telah kami alami selama kami berpacaran.

“Ini menyenangkan, oppa! Ya kan? Hahahahaa” tawa kami meledak bersamaan memenuhi seisi ruangan apartemen baru Taeyeon.

 

Who am i missing?

Today just passed by like that day

 

Tawa itu juga ikut menghilang seperti tetes hujan yang akhirnya memenuhi selokan dan mengalir entah kemana.

Sofa coklat ini adalah saksi bisu cintaku. Aku sungguh merindukannya.

“Aku merindukanmu” itulah ucapku pelan sambil membelai sisi sebelah kiriku. Aku ingat sekali, kalau Taeyeon sangat suka duduk di sebelah kiriku. Sofa ini memang dirancang hanya untuk dua orang.

Dia mengangkat kedua kakinya dan mendekap lututnya lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku pun meregangkan tangan kiriku dan menyambutnya.

“Semua sudah berakhir” lanjutku lemah.

On one rainy day

Walking on the streets alone

My heart said to me as if it is making cry

 

Hujan di luar terlihat sedikit menyiksa hati Taeyeon.

“Oppa, sejujurnya aku sangat merindukanmu” ucap Taeyeon terduduk di sofa coklat yang sama persis dengan milik Young Saeng. Dia membelai sisi kosong dari sofa itu.

Taeyeon kembali mendekap lututnya dan mengacak pelan rambutnya sebagai wujud dirinya yang tengah hampa.

On one rainy day

Lost in thoughts

The farewell approaching me

 

Taman di antara apartemen kami adalah yang terbaik. Pohon-pohon merambat dijadikan dinding seperti sebuah labirin di ruang terbuka. Aku dan Taeyeon sangat senang sekali berada di taman itu.

Aku melangkahkan kakiku sambil melihat ke sisi kiri. Kalau seseorang melihat kami dari atas, yang kami lakukan adalah melangkah bersama namun terbatasi oleh dinding pohon merambat.

“Taeyeon-ah, coba cari aku kalau kau bisa” ucapku sambil tertawa kecil. Mata Taeyeon mencariku dengan seksama. Aku kembali melangkah mundur untuk bersembunyi, namun sayang, Taeyeon telah melihatku.

“Oppa, aku menemukanmu! Sekarang giliran oppa yang mencari dan mengejarku” sahut Taeyeon sambil melambaikan tangannya seakan menyuruhku untuk menangkapnya.

“Oppa tidak akan bisa menemukanku.hehehee” ucap Taeyeon yang kini menjauhiku.

“Aku pasti akan menemukanmu” jawabku sambil terus malangkah santai mendekati tempat Taeyeon bersembunyi.

“Sudah cukup acara petak umpetnya!” aku sedikit memberikan nada membentak sambil menarik Taeyeon untuk keluar dari taman.

“Oppa kalah karena aku yang paling lama ditemukan” Taeyeon terus menganggap dirinya menang. Kami berpegangan tangan dan keluar dari taman bersamaan. Pemandangan kami disekitar mulai berubah menjadi hutan bambu. Aku menggenggam erat tangan Taeyeon.

Rasanya hanya ada kedamaian dihatiku.

Kami berdua kini saling berhadapan, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Sebuah ciuman mendarat di dahi Taeyeon.

Aku melihatnya tertunduk malu sambil tersenyum simpul. Aku terus menatapnya dan tersenyum ke arahnya. Lucu sekali melihat Taeyeon tersenyum malu seperti itu.

I’ll forget that it remains deep in my heart

That love is true

But remains deep in my heart like a hurricane

I’m alone, drunken again

 

Aku menutup mata Taeyeon dari belakang, dia memegangi pergelangan tanganku dan menurunkan tanganku yang sepertinya menghalangi pandangannya.

“Oppa, kau menghalangi pandanganku untuk melihat matahari senja” sahut Taeyeon.

“Mianhae, Taeyeon-ah” sahutku sambil memeluk pundaknya dari belakang. Taeyeon memegangi tanganku yang melingkar di sekitar pundaknya seakan tak mau melepaskan pelukanku.

Looking at the rain

If i listen to this song, baby maybe i cry again

If i get in the rain now

Crying together with the rain

Aku dan Taeyeon berbicara serius soal hubungan kami ke depannya di sebuah tempat yang memiliki banyak anak tangga. Taeyeon duduk jauh di belakangku..

Aku tak ingin melihat wajah Taeyeon karena aku benci yang namanya perpisahan dan menangis. Aku sangat menghargai keputusannya untuk berpisah kalau itu memang maunya.

In such a day .. Why is my heart crying?

Who am i missing?

“Oppa, aku belum berfoto ria di apartemen baruku. Fotokan aku ya!” sahut Taeyeon sambil mengalungkan kamera di leherku.

“Hana.. dul.. set.. Smile!” ucapku yang kemudian kamera itu memancarkan cahaya blitz.

“Sekarang foto berdua. Aku lelah memotretmu, kau itu sangat narsis.hehehee” sahutku jahil. Taeyeon kemudian mengambil kameranya dan bersiap berfoto yang akan diambil dari arahnya.

Aku dan Taeyeon berpose sama yaitu membuat bentuk huruf V dari jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan kami. Aku mendekatkannya tepat di samping mata kananku, sedangkan Taeyeon mendekatkannya di samping pipinya yang merah merona.

“Foto ini aku terlihat ganteng sedangkan kau terlihat chuby” sahutku sambil menunjuk-nunjuk layar kamera yang memperlihatkan hasil sementara foto yang telah kami ambil sambil tertawa melihat ekspresi kami masing-masing barusan.

“Oppa, aku imut sedangkan kau berpose cantik.hehehee” sahut Taeyeon yang gantian tertawa bahagia setelah mengejekku.

Rainy day

While looking at the rain

Tears rolling down unknownly

Aku hanya dapat memperhatikan jejak langkah Taeyeon yang menjauh meninggalkanku sendirian. Apakah aku dapat memberhentikan jejak langkah itu?

Tanpa aku sadari, Taeyeon masih memperhatikanku dari puncak anak tangga ini. Aku tak ingin menoleh ke arahnya. Aku tak ingin menangis karena kehilangannya dan juga aku tak mau melihatnya pergi meninggalkanku sendirian disini. Hatiku masih belum siap!

Why does my heart cries whenever it rains

Who am i missing?

Today just passed by like that day

Apartemenku yang lama sepertinya akan selalu mengingatkanku pada Taeyeon. Kini aku pindah tempat tinggal. Melupakan semuanya, tentang kenangan bersama Taeyeon. Aku harap ruangan kecil ini dapat membantuku untuk segera melupakan Taeyeon.

…………..

Jauh dari tempat tinggal Young Saeng, Taeyeon juga melakukan hal yang sama. Yaitu pergi meninggalkan apartemennya dan menyewa tempat tinggal baru.

Jujur saja, semua kenangan itu tidak dapat menghilang dengan cepat dari pikiran Taeyeon. Hujan itu membuat Taeyeon mengingat semua kenangan dengan sangat jelas. Kini dia merebahkan badannya di atas tempat tidur berukuran 2,5×1,5 meter. Airmatanya menetes membasahi sprei miliknya. Semua kenangan itu tiba-tiba hadir kembali saat hujan tiba.

Huhh.. It’s raining, maybe i’m crying again

Heyy.. you hear me?

My heart..rainy heart..

“Aku pasti akan merindukan semua barang-barang ini nantinya. Annyeong oppa dan sofa yang nyaman ini” ucap Taeyeon sebelum pergi ke tempat tinggalnya yang baru. Dia menangis di sofa itu untuk beberapa lama sambil terus mendekap lututnya. Airmata mengalir deras di pipi Taeyeon, seperti hujan yang sedang turun deras di luar sana.

……………

“Taeyeon-ah.. Aku berharap setelah hujan ini reda, semua hal tentangmu, sudah menghilang dari ingatanku dan tak akan kembali lagi” ucapku tanpa mau memandang sisi kosong sofa yang berada di sebelahku ini.

~The End~

01
Aug
11

First Day in Spring

Title                : First Day in Spring (Part 5-end)

Author            : SarSay501

Rating             : PG-17

Main cast       : Choi Sooyoung [SNSD], Kim So Eun.

Other cast      : Kim Hyung Jun [SS501], Cho Kyuhyun [Suju], Choi Siwon [Suju]

Note : Readers cari tempat yg PW dulu ya buat baca ini..Biar feelnya dapet.wkwk

Oh iya buat yang ketinggalan baca part sebelumnya ,ini yang part 1 , part 2 , part 3 , part 4 ^^

IKLAN SUDAH HABIS, HAPPY READING!!

 

~Kediaman Rumah Choi~

Sooyoung sejak tadi berpandangan kosong ke depan, dia duduk di sebuah tempat duduk ayunan mini di taman belakang rumahnya.

“Soo, apa yg kau lakukan? Sejak tadi melamun.. Nanti kerasukan setan Yesung lhoo!” sapa Siwon jahil yg kini berdiri di hadapan Sooyoung.

“Oppa, kau mengagetkanku saja! Apa kau bilang tadi? Setan Yesung?? Ahhh,aku tak mau! Lebih baik aku gila krn virusku sendiri daripada kerasukan” jawab Sooyoung yang diakhiri dengan tertawa.

“Oppa, kau bisa jelaskan padaku yang namanya berjuang demi cinta?”

Pertanyaan Sooyoung benar-benar membuat Siwon bingung dan akhirnya berpikir.

“Hmm apa ya? Aku sendiri juga bingung! Aku sampai sekarang belum punya pacar ya karena aku tidak melakukan itu” ucap Siwon ragu. Kini mereka berdua duduk di ayunan.

“Kau menyesal telah merelakan orang yang suka untuk meninggalkanmu, oppa?” tanya Sooyoung lagi. Sekarang Siwon hanya menjawabnya dengan anggukan.

“Kalau kau punya cinta, cinta yang kuat. Lakukan apa saja demi cinta itu!! Sebelum kau menyesal karena kehilangannya” jawab Siwon yakin dengan suara yang tergetar.

“Oppa, darimana aku tahu kalau cinta itu kuat?”

“Kau selalu memikirkannya karena dia selalu hadir dalam pikiranmu”

Sooyoung menghembuskan nafasnya.

“Kau kenapa? Sedang dalam 2 pilihan?” tanya Siwon yang kemudian memasang senyum jahil.

“Oppa, kau ini bicara apa?”

……………..

~Kediaman Rumah Kim~

“So Eun-ah,kau tidak bekerja?” tanya eomma So Eun sambil mengaduk masakannya di dapur.

“Ani eomma, ini kan libur.hehehehee” jawab So Eun sambil berkutat dengan cucian kotor di hadapannya.

“Kau tidak jalan-jalan keluar? Udara yang bagus di musim semi”

“Eomma mengusirku?” tanya So Eun dengan manja.

“Bukan itu maksudku So Eun!! Kau ini kan sudah 23 tahun. Tidakkah kau memiliki pacar untuk jalan-jalan keluar?”

So Eun terdiam, meskipun eommanya menyenggol sikutnya. Dia masih saja terdiam berpikir.

“Ahh, eomma.. Aku kan masih terlalu muda! Hehehehee” jawab So Eun ngeles.

“Kau kebanyakan alasan. Pokoknya berikan aku cucu sebelum aku meninggal!!” perintah maksa dari eomma So Eun membuat So Eun membelalakkan matanya.

“Eomma, kau ini bicara apa? Pertama, jangan memaksaku, karena aku pun tak tahu kapan punya pacar lalu menikah lalu punya anak. Kedua, eomma pasti berumur panjang! Sampai kita berdua nenek-nenek.hehehee”

“Adduuhhh” kepala So Eun baru saja dijitak eommanya dengan pengaduk sup dari kayu. So Eun meringis kesakitan.

“Kau kira kita seumuran? Aku ini sudah tua! Sekarang saja sudah nenek-nenek! Umurku sudah 46 tahun. Sewaktu aku seumuranmu, aku sudah menikah dan memiliki anak” jelas eomma So Eun.

“Ya itu jaman eomma, coba lihat jamanku. Banyak artis yang sudah 30 tahun tapi belum menikah. Lihat tetangga kita saja deh eomma, sudah 35 tahun masih single”

“Kau itu, pintar sekali mencari alasan!! Dasarr! Hah,terserah kau sajalah! Anak jaman sekarang susah sekali disuruh menikah. Padahal menikah itu gampang” gerutu eomma So Eun. So Eun kembali mencuci piring dengan memanyunkan bibirnya.

…………………

(Sooyoung P.O.V)

“Kyuhyun oppa.. Kau sudah datang. Sini duduk di hadapanku” ucapku sambil tersenyum ke arah Kyuhyun oppa yang baru datang untuk makan malam bersama.

“Ye, gomawo Sooyoung-ah. Oh iya, ini kan meja untuk 4 orang. Memang kita akan makan malam dengan siapa lagi?” tanya Kyuhyun padaku setelah dia duduk. Aku hanya terdiam sambil tersenyum. Kyuhyun oppa sepertinya tidak puas akan jawabanku. Nanti juga oppa akan tahu sendiri kalau semuanya sudah berkumpul.

“Hmm..oppa, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku dengan lembut.

“Ye, apa yang ingin kau tanyakan?” jawab Kyuhyun oppa.

“Oppa, kau tahu kan kalau aku bukan tipe orang yang basa-basi dan pintar berbohong?” tanyaku sambil menatap Kyuhyun oppa dengan serius.

“Ne.. aku tahu itu sejak lama. Memang ada apa, Sooyoung-ah?”

“Oppa.. hmm.. Aku ingin bertanya. Selama ini kau menganggapku seperti apa?”

“Kau bertanya hal ini padaku?” tanya Kyuhyun sambil tertawa kecil. Aku mengangguk dengan semangat. Begitu lama Kyuhyun oppa menutup bibirnya dan suasana menjadi hening di antara kami berdua. Aku benar-benar sangat membutuhkan jawaban oppa.

“Kau seperti …” baru saja Kyuhyun oppa akan menjawab, dari kejauhan aku melihat sosok yang ku kenal melangkah menuju meja kami.

“Hmm.. nanti saja deh, oppa! Kita telah kedatangan tamu lagi” ucapku sambil berdiri menyambut So Eun dan Hyung Jun.

“Apakah kami terlambat?” tanya Hyung Jun memulai pembicaraan. Aku dengan cepat menggelengkan kepala.

Kini aku duduk di sebelah Hyung Jun dan Kyuhyun oppa duduk di sebelah So Eun.

“Semua akan dimulai sekarang. Ini bisa pertanda awal dan akhir untukku” ucapku dalam hati.

(Sooyoung P.O.V end)

(So Eun P.O.V)

“Hyung Jun-ssi, kau tidak bilang kalau kita akan makan malam bersama mereka berdua” bisikku pelan namun sayang Hyung Jun hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa.

“Aku sudah memesan makanan dan minuman untuk kita berempat” ucap Sooyoung tiba-tiba.

Tak lama makanan pun datang ke meja kami. Steak dan jus jeruk.

“Kyuhyun oppa, kau mau aku membantumu untuk mengiris daging itu?” tanya Sooyoung halus.

“Aku rasa tidak perlu” jawab Kyuhyun sambil memotong makanannya. Aku masih tidak mengerti maksudnya aku diajak kemari.

“Sini oppa, biar aku bantu!” Sooyoung berkata agak memaksa. Aku melihat kejadian itu hanya menyunggingkan senyum kesal dalam keadaan menunduk.

(So Eun P.O.V end)

(Sooyoung P.O.V)

Kenapa Kyuhyun oppa ini? Menolak bantuanku? Huhhff

Tiba-tiba kakiku seperti ada yang menendang dari arah kanan. Aku menoleh ke arah Hyung Jun, kemudian Hyung Jun tersenyum ke arahku dan berbisik.

“Kau mau memulainya sekarang?” tanyanya pelan di telingaku. Aku terdiam sebentar mencerna perkataan Hyung Jun barusan.

“Hyung Jun-ssi, kau mau aku bantu?” tanyaku pada Hyung Jun yang duduk di sampingku.

“Boleh saja” jawab Hyung Jun sambil tersenyum manis. Entah ini hanya senyum pura-pura atau ada maksud yang lain. Aku langsung tersadar dari pikiranku.

“Kalian nampaknya serasi” sahut Kyuhyun oppa datar menatapku dan Hyung Jun.

Nampaknya ini tidak berhasil, ottokhaji??

Setelah membantu Hyung Jun, aku langsung memasukkan sesuap steak ke mulutku dengan kesal.

“Sooyoung-ssi, saus steaknya belepotan di mulutmu. Sini aku bantu bersihkan” sahut Hyung Jun membersihkan di sekitar mulutku. Dia begitu lama menatap bibirku, apa yang dia lakukan? Ini sudah berlebihan dari rencana. Tampaknya Kyuhyun oppa malah semakin cuek padaku.

“SHIROO!” ucap So Eun refleks. Kenapa malah So Eun-ssi yang berteriak? Bukan Kyuhyun oppa?!

Aku, kyuhyun oppa dan Hyung Jun-ssi melihat ke arah So Eun yang kini sudah menunduk.

“Choesong hamnida..” sahut So Eun dan kemudian mengurus makanannya sendiri. Aku menatap Hyung Jun bingung, namun Hyung Jun juga mengangkat kedua bahunya seakan menjawab pertanyaanku.

“So Eun-ssi, gwaenchana?” tanya Kyuhyun saat mendengar So Eun tersedak. So Eun langsung meneguk jus jeruk di samping piringnya dan ijin ke toilet.

 (Sooyoung P.O.V end)

………………………

Dreeeet.. dreeeet

“Sebentar ya, aku ingin mengangkat telepon dulu” ucap Hyung Jun yang kemudian berjalan menjauhi meja yang berisi Sooyoung dan Kyuhyun.

“Oppa, sekarang hanya ada kita berdua disini” ucap Sooyoung tiba-tiba.

“Oh iya, kau ingin membicarakan apa denganku?” tanya Kyuhyun yang sekarang sudah siap mendengarkan Sooyoung.

………………….

So Eun melangkahkan kakinya keluar dari toilet. Dia menghentikan langkahnya saat melihat Hyung Jun berdiri membelakanginya sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.

“Hyung Jun-ssi. Chakaman!!” sahut So Eun menahan Hyung Jun pergi.

“Waeyo?”

“Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu” jawab So Eun dengan ragu-ragu.

“Jeongmal? Kita keluar sebentar lewat pintu belakang cafe ini saja ya!” ajak Hyung Jun.

…………………

“Oppa, kau ingat waktu aku mencuci jasmu?” tanya Sooyoung dengan ragu.

“Ne, wae?”

“Aku menemukan sebuah kotak dan aku sebenarnya lancang membuka isi kotak itu”

“Itu cincin untuk seseorang”

“Jeongmal?” sahut Sooyoung agak bahagia.

“Aku melihat ukiran di balik cincin itu KS, apa artinya itu, oppa?” lanjut Sooyoung bersemangat.

“Ohh itu..” jawab Kyuhyun datar.

“Apakah.. apakah KS adalah Kyuhyun-Sooyoung?” tanya Sooyoung lagi dengan wajah penuh penasaran.

“Mwo? Aku rasa kau telah salah paham” jawab Kyuhyun dengan cemas.

“Maksud oppa dengan salah paham, apa?” Sooyoung kali ini merasa jatuh dari ketinggian yang benar-benar membuatnya seakan mati.

“Aku membelikan cincin itu untuk orang yang aku sukai. K untuk Kyuhyun dan S untuk …” Kyuhyun tidak berani melanjutkan perkataannya karena dia baru tersadar, belum tentu So Eun mau menerimanya.

“Apakah S itu untuk So Eun?” tanya Sooyoung sambil menahan airmatanya. Kyuhyun tidak menjawab apa-apa dan sepertinya Sooyoung telah mengetahui jawabannya.

“Semua sepertinya berdampak padaku. Dulu aku pernah menyuruh dan memaksa oppa untuk menjadi artis karena oppa sangat tampan dan berbakat akting. Aku menyesal telah melakukan hal itu padamu” airmata Sooyoung kini membasahi pipinya.

“Kalau saja aku tidak jujur padamu, pasti sekarang kau tidak akan pernah mengenal So Eun-ssi” lanjut Sooyoung.

“Sooyoung-ah?” hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Kyuhyun.

“Oppa, aku sungguh sangat menyesal. Memang apa cantiknya So Eun-ssi dari aku? Apakah dia sudah merebut hatimu dalam waktu beberapa minggu? Sedangkan aku menyukai oppa sejak SMA. Namun oppa tidak pernah mengtehui hal itu kan?” Sooyoung kini berkata dengan nada agak membentak. Kyuhyun hanya terdiam sambil menatap Sooyoung.

“Sooyoung-ah, kau itu .. “ Kyuhyun mencoba memegangi tangan Sooyoung dan menjelaskan segalanya. Namun Sooyoung menepis tangan Kyuhyun.

“Mianhae oppa, aku terbawa emosi. Mungkin tidak seharusnya aku memaksakan perasaanmu. Semua ini sudah takdir Tuhan. Mian!” jawab Sooyoung mencoba tegar dan menghapus airmatanya. Sooyoung menarik panjang nafasnya. Suasana hening selama beberapa menit.

“Kenapa So Eun-ssi dan Hyung Jun-ssi begitu lama kembali kemari?” tanya Sooyoung mencairkan suasana.

……………….

Angin di malam hari benar-benar berhembus kuat. So Eun mencoba mengancingkan jaketnya agar merasa hangat. Kini Hyung Jun dan So Eun sudah terduduk bersebelahan di taman dekat kafe.

“Hyung Jun-ssi.. Maaf kalau aku lancang. Tapi aku menyukaimu” ucap So Eun dengan ragu-ragu.

“MWO?” Hyung Jun sangat kaget sampai-sampai dia menoleh ke arah So Eun.

“Keurae. Aku menyukaimu sejak kita di SMA. Sewaktu Hyung Jun-ssi pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah bisnis. Aku sedih dan akhirnya mengurungkan niatku yang semula ingin menjadi ahli fisika. Aku langsung melanjutkan kuliah di Akademi Sekretaris. Setiap malam aku berdoa agar suatu saat kita dipertemukan kembali. Ternyata Tuhan mengabullkan doaku. Saranghae Hyung Jun-ssi” jelas So Eun tanpa berani menatap mata Hyung Jun.

Hyung Jun masih berpikir flashback dan terdiam. Tak lama kemudian, Hyung Jun meraih tangan So Eun dan menarik nafasnya.

“So Eun-ssi, jeongmal gamsahamnida karena telah mencintaiku …” jawab Hyung Jun terpotong. Suaranya seperti tertahan di tenggorokannya.

………………….

“Kyuhyun oppa, sepertinya aku harus pulang duluan karena Siwon oppa menyuruhku untuk jangan pulang malam-malam” sahut Sooyoung berbohong.

“Perlukah aku antar?” tanya Kyuhyun yang sudah bersiap berdiri.

“Ani, tidak usah oppa. Aku bisa pulang naik taksi.hehehee Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk kemari ya, oppa” Sooyoung melambaikan tangannya dan kemudian pergi meninggalkan Kyuhyun. Sooyoung menghentikan langkahnya di depan pintu cafe dan menghapus airmatanya.

“Kyuhyun oppa, kau selama ini menganggapku hanya seorang adikkah? Aku kecewa! Kenapa kau memberikan harapan dan perhatian padaku selama ini?” gerutu Sooyoung sambil sesegukan di luar pintu kafe.

“Kau akan pergi kemana?” tanya seorang pria tepat di depan Sooyoung. Sooyoung buru-buru menghapus airmatanya dan mengangkat wajahnya untuk melihat pria di hadapannya.

“Hyung Jun-ssi?”

“Ne, kau ingin pulang kan? Ayoo aku antar” ucap Hyung Jun sambil menarik tangan Sooyoung ke dalam mobilnya.

“Shiroo.. aku akan pulang naik taksi” sahut Sooyoung sedikit membentak.

“Aku tahu, pasti kau ingin menangis di taksi kan? Sudahlah, kau tidak apa-apa kok kalau mau menangis di dalam mobilku. Cepat masuk!!” Sooyoung terdiam dengan perkataan Hyung Jun barusan. Darimana Hyung Jun tahu soal pikiran Sooyoung? Itulah yang sedang berada di pikiran Sooyoung sekarang hingga membuatnya berdiri mematung di pintu mobil Hyung Jun.

“Ayo cepat masuk!” Hyung Jun yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, langsung menarik tangan Sooyoung dari dalam agar seggera duduk di depan menemaninya menyetir.

“AADDUUHH” sahut Sooyoung karena kepalanya terbentur saat di tarik paksa oleh Hyung Jun.

“Sakit tahu!”

“Mianhae!” ucap Hyung Jun sambil tersenyum dan memasangkan sabuk pengaman Sooyoung.

……………….

So Eun kembali melangkah ke mejanya dengan lunglai.

“So Eun-ssi, kau melihat Hyung Jun-ssi?” tanya Kyuhyun sambil memasukkan PSPnya.

“Tadi Hyung Jun-ssi bilang kalau dia masih ada urusan. Jadi dia pulang duluan” jawab So Eun datar dan kemudian duduk di sebelah Kyuhyun.

“Sooyoung-ssi kemana?” tanya So Eun balik.

“Dia juga pulang duluan karena Siwon hyung menyuruhnya untuk tidak pulang telat” jawab Kyuhyun datar. Kini tangan Kyuhyun berada di dalam saku celananya.

“So Eun-ssi bolehkah aku bertanya sesuatu yang agak sedikit pribadi padamu?” tanya Kyuhyun dengan gugup.

“Kau, ingin bertanya apa?”

“Hmm.. Bagaimana perasaanmu setelah kiss di lokasi syuting waktu itu?” tanya Kyuhyun dengan ragu.

“MWO?” So Eun kaget setengah mati. Kalau sampai dia mengatakan itu adalah First Kissnya, pasti Kyuhyun mengira kalau So Eun tidak laku.

“Iya, soal itu. Itu adalah First Kissku. Bagaimana denganmu?”

“Aku? Hmm.. sebenarnya sama. Itu adalah First Kissku jg” jawab So Eun dengan malu-malu.

“Ternyata kita tidak laku ya..hahahahahaaa” tawa Kyuhyun meledak diikuti oleh tawa So Eun.

“Kau ini. Mencaci diri sendiri sekaligus mencaciku juga tau..”

………………..

Hyung Jun memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan. Lalu pandangannya kini melihat ke arah Sooyoung.

“Sooyoung-ssi, kau kenapa menangis?” tanya Hyung Jun sambil mencoba menghapus airmata Sooyoung dengan tissu.

“Ani, kepalaku sangat sakit saat terbentur tadi” Sooyoung berbohong.

“Hah? Sebegitu sakitnya kah sampai kau menangis karena itu?” tanya Hyung Jun khawatir.

“Sudahlah, tidak usah pedulikan aku. Lanjutkan menyetir saja” suruh Sooyoung dengan nada lemah. Sooyoung kini meraih sapu tangan pemberian Hyung Jun dari dalam tasnya. Menghapus airmatanya dengan sapu tangan itu.

“Kau, masih menyimpannya?” tanya Hyung Jun pelan.

“Mwo? Kau berkata apa?”

“Ahh tidak, lupakan saja!”

Sooyoung mencoba menghubungi Siwon, namun malah inbox ponselnya yang sedang dilihatnya sekarang. Mata Sooyoung kembali berkaca-kaca membaca satu persatu sms dari Hyung Jun. Begitu banyak sms Hyung Jun yang tidak bergitu penting namun menaruh perhatian pada Sooyoung.

“Wae?” lirih Sooyung pelan yang kini sudah menangis memandangi ponselnya sendiri.

“Kau kenapa menangis melihat ponselmu sendiri?” tanya Hyung Jun sambil sesekali mencuri pandang melihat ke arah Sooyoung.

“Ahh, ani” jawab Sooyoung menatap Hyung Jun dengan dalam.

“Kau jangan melihatku seperti itu kalau memang kau menyukaiku” sahut Hyung Jun sambil tersenyum tanpa menoleh ke arah Sooyoung.

“Kau begitu percaya diri..huuuuu” Sooyoung menyoraki Hyung Jun dan mereka kemudian tertawa bersama. Suasana kembali hening untuk beberapa saat.

“Kenapa kau perhatian padaku? Kenapa kau mau menolongku melakukan kepura-puraan ini, nyatanya Kyuhyun oppa tidak menyukaiku. Kau tahu itu?” jelas Sooyoung pelan, dia tidak berani menatap Hyung Jun jadi pandangan Sooyoung kosong menghadap ke depan.

“Aku ingin kau bahagia. Aku ingin menjadi berarti untuk hidupmu kalau suatu saat nanti kau menikah dengan Kyuhyun. Meskipun itu bukan diriku. Namun pasti kau akan mengingat orang yang sudah berjuang untuk menyatukan cintamu dengan Kyuhyun. Ya kan?”

“Tapi kenyataannya Kyuhyun oppa tidak menyukaiku!”

“Kalau begitu lupakanlah dia dan buka hatimu untuk pria yang lain”

“Pria yang lain? Nugu?” tanya Sooyoung polos. Hyung Jun berdehem dan kemudian menyalakan kembali mesin mobilnya untuk melanjutkan perjalanan mengantar Sooyoung pulang.

…………………

“Kau memberikan cincin ini kepadaku?” tanya So Eun tidak percaya.

“Ne, aku sangat yakin sekali pada hatiku. Maukah So Eun-ssi menerima cincin itu. Kalau kau menerimanya, berarti kau resmi menjadi yeojachingu artis terkenal, Cho Kyuhyun!!” jelas Kyuhyun yang diakhiri dengan tertawa kecil.

“Hmm.. Seberapa yakin kau yakin dengan hatimu?”

“Aku yakin pada hatiku 70 % namun setiaku padamu adalah 100%” Kyuhyun tersenyum sangat manis pada So Eun. Semula So Eun agak kecewa dengan perkataan 70%, namun tersenyum simpul saat mendengar 100%.

“Jeongmal?” tanya So Eun memastian kesabaran Kyuhyun.

“Keurae, kau butuh bukti?” tanya Kyuhyun balik. So Eun mengangguk bersemangat.

Tiba-tiba Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke arah So Eun. So Eun kaget dan memejamkan matanya. Kyuhyun tertawa kecil dan kemudian mengecup dahi So Eun.

Setelah itu mata So Eun kembali terbuka, Kyuhyun sedang tertawa di hadapannya. So Eun langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

“Kau mencoba mempermainkan aku ya?” tanya So Eun kesal.

“Tidak, hanya saja. Kau harus memakai ini dulu” Kyuhyun memasukkan cincin ke jari manis kanan So Eun. So Eun memandangnya dengan mata berbinar-binar dan tersenyum.

“Mulai sekarang, hanya boleh aku yang ada dihatimu! Tidak boleh ada orang lain!!” suruh Kyuhyun dengan sedikit manja.

……………….

“Ini sudah sampai di rumahmu. Cepat turun!” sahut Hyung Jun sambil melepas sabuk pengamannya.

“Kau mengusirku? Jahat!!” jawab Sooyoung yang kemudian membuka pintu mobil. Hyung Jun mengikuti Sooyoung dan melangkah pelan mendekati Sooyoung untuk mengantarnya sampai ke gerbang rumah Sooyoung.

“Hyung Jun-ah, gomawo!” ucap Sooyoung dengan pelan.

“Mwo? Kau memanggilku apa?” tanya Hyung Jun, berharap Sooyoung mau mengulanginya lagi.

“Hyung Jun-ah” sahut Sooyoung kemudian mengecup pipi Hyung Jun kilat. Hyung Jun masih saja mematung berdiri melihat Sooyoung berlari kecil. Kini pipi mereka berdua seperti kepiting rebus, memerah menahan malu.

“Cheonmaneyo, chagiyaaaa..” teriak Hyung Jun bersemangat.

“Yesss.. akhirnya cintaku berbalas.hahahahahaaaaa” Hyung Jun menari-nari bahagia di depan gerbang rumah Sooyoung sambil terus tersenyum.

Note                : Maaf ya buat Kyuyoung shipper kalau kecewa sm endingnya..Author merubah endingnya jadi couple yang baru buat penyegaran.hahahaa

Soalnya author liat di star golden bell  episode 117 (SNSD dan SS501). Di situ setiap abis Sooyoung ngomong, eh tiba-tiba Hyung Jun nyaut+senyum ke arah Sooyoung, sebaliknya juga gitu. Jadi ngeliat ada feel gitu di antara mereka berdua meskipun sampe skrg ga ada kabarnya mereka berdua pdkt atau apalah.hehehee

*author sok tahu*

Janji deh ntar di ff selanjutnya bakal ada Kyu-Soo.. ^^v

Jadi gimana couple penyegarannya?

Mohon komennya ya dari readers. Gomawo dan Mianhae ya buat yg kecewa sm endingnya!! *bungkukkin badan lebih dr 90 derajat* (berasa lg sirkus nih authornya)




RULES

Image and video hosting by TinyPic

Imagination Day

June 2017
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Fiction Categories

Looking For My Lovers

  • 63,167 Lovers

Tweeted

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.