Posts Tagged ‘Super Junior

29
Jan
12

Chingu? Sarang? (Part 3)

Title            : Chingu? Sarang?

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Hyunseong [Boyfriend], Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Eunhyuk, Bang Minah [Girls Day], Kim Sang Bae, Yoon Bora [Sistar] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Yeaahh,udah libur, tapi mau segera berkhir 😦

                Okeh, supaya ga menyita waktu, silahkan menikmati . . .

HAPPY READING!!!!

“THUNDER!! Aku peringatkan kau sekali lagi, jangan pernah kau dekati Jiyeon lagi. Mulai sekarang menjauhlah darinya!!!” teriak Hyunseong  yang berada di belakang Jiyeon dan Thunder. Hyunseong tidak tega melihat Jiyeon yang telah ditarik paksa oleh Thunder. Namun sayang langkah mereka berdua tidak terhenti. Hanya terdengar rintihan kecil dari Jiyeon yang mengaduh kesakitan ketika ditarik dengan erat pergelangan tangannya oleh Thunder.

“YAAA..THUNDER!! STOP!” teriak Hyunseong lagi. Kali ini langkah mereka berdua berhenti. Thunder membalikkan badannya dan mendekati Hyunseong tanpa melepaskan cengkraman tangannya pada Jiyeon.

“Lepaskan tangan Jiyeon” ucap Hyunseong lantang.

“Kalau aku tidak mau, bagaimana?” jawab Thunder dengan dingin.

“AKU BILANG LEPASKAN!” teriak Hyunseong.

“Aku tidak mau!” setelah mendengar jawaban kedua dari Thunder, sebuah pukulan mendarat tepat di pipi kiri Thunder. Thunder merasakan darah yang mengalir di ujung kiri bibirnya.

“Kau berani menghajarku?” Thunder geram dengan tindakan Hyunseong, dia pun membalas tepat di pipi kiri Hyunseong.

“Sudah cukup, apa yang kalian lakukan membuatku sakit! STOP!!!!!!!!” teriak Jiyeon dengan isak tangis yang tak dapat dia tahan lagi.

..

“Ani ani” tiba-tiba Hyunseong menggeleng-gelengkan kepalanya, dia baru sadar ternyata khayalannya sangat berlebihan. Angin malam yang berhembus menusuk ke tulang-tulang Hyunseong, dia duduk di sebuah ayunan yang nampaknya sudah tua dimakan usia.

“Kau disini? Sudah lama?” tanya seseorang, Hyunseong pun mencari sumber suara tersebut. Dia menatap kaget dan sinis ke arah pemilik suara itu.

“Jangan menatapku begitu, meskipun kau adalah mantan adik tiriku” jawab Thunder yang ikut duduk di ayunan tepat di samping Hyunseong. Thunder melihat keatas, menatap langit malam yang mendung tanpa kilau cahaya titik.

(Hyunseong P.O.V)

Kenapa malam-malam begini dia datang? Apa maunya?

“Thunder-ssi, apa yang kau lakukan disini?” tanyaku dengan formal seakan tidak pernah mengenal Thunder.

“Kau masih saja belum berubah! Sama egois dan pemarah seperti dulu” ucap Thunder yang kini memasukkan tangannya yang mulai kedinginan ke saku raincoatnya.

“Aku harus pulang terlebih dahulu” sahutku yang bangun dari duduk. Thunder menahan langkahku dengan segera, aku menatapnya bingung.

“Bagaimana kabar aboji?” aku hanya diam dengan wajah datar.

“Apakah dia baik-baik saja? Dan apakah dia masih menjalankan urusan terkutuknya?” aku masih diam.

“Sebenarnya, aku tidak ingin memiliki masalah denganmu, namun entah mengapa setiap bertemu denganmu, aku serasa memiliki banyak pikiran jelek terhadapmu. Mian”

“Mwoya? Aku tidak mengerti maksudmu. Pulanglah, ini sudah malam. Udara semakin dingin, nanti ajumma mencarimu” jawabku cuek dan kemudian berjalan menjauh darinya. Tidak ada pertahanan dari Thunder untuk memanggilku ataupun menahan langkahku.

(Hyunseong P.O.V end)

……………………………..

(Jiyeon P.O.V)

“Jiyeon-ah, penampilanmu bagus sekali..Aku sampai terpesona” sahut Minah.

“Jangankan kau, Minah. Aku juga dibuatnya terpesona. Dia bagaikan bintang sungguhan” timpa salah satu teman laki-laki sekelas mereka. Aku hanya tersenyum malu menahan girang hati.

“Minggir kalian, minggir!” perintah Eunhyuk sunbae kepada orang-orang yang mengerubungiku di kantin.

“Jiyeon-ah, chukhahae!” ucapnya dengan senyum manis kepadaku.

“Wae sunbae?” tanyaku bingung.

“Kau berhasil membuatku menjadi fansmu. Ya, kau berhasil!!!” Eunhyuk sunbae berkata sambil memegangi dadanya dan senyum yang melayang-layang.

“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuu” sorak sorai temanku menyauti hingga satu persatu dari mereka pergi menjauh dari kami.

“Kenapa kalian? Kalian iri padaku karena aku bisa membuat Jiyeon menerimaku sebagai fansnya? HAH?” Eunhyuk sewot.

“Sunbae, kenapa kau selalu berlebihan? Kami agak jijik mendengarnya”  jawab Jeong min yang kemudian pergi.

“Jiyeon-ah, apakah kau jijik dengan perkataanku barusan?” tanya Eunhyuk sunbae setelah tinggal kami berdua saja.

“Sunbae” aku bingung harus menjawab apa.

“Kalau kau memang jijik dengan Eunhyuk, mengaku saja Jiyeon-ah. Jangan takut pada ikan teri itu” sahut Kyuhyun sunbae yang datang bersama Sooyoung sunbae mendekati kami berdua.

“Diam kau, gaemgyu! Apa tidak kau pikir, aku itu selalu jijik dengan ucapan-ucapan manismu untuk Sooyoung. Dan kau Sooyoung, kenapa kau menerima gombalan-gombalan dari Kyuhyun begitu saja? Dasar babo!” Eunhyuk sunbae makin tidak karuan berbicara.

“Wae? Apa maksudmu dengan BABO, HAH?” Sooyoung sunbae kalau sedang marah sangat menakutkan.

“Sunbae, sudahlah” ucapku untuk Soo,Kyu dan Eunhyuk sunbae. Eunhyuk sunbae pun pergi meninggalkan kami bertiga dengan wajah marah.

“Apakah tidak apa-apa membiarkan Eunhyuk sunbae begitu?” tanyaku khawatir.

“Tenanglah, beberapa jam lagi, dia akan baikan..” jawab Kyuhyun sunbae.

“Oh iya, bagaimana pendapat Thunder tentang penampilanmu?” sahut Soo sunbae membuatku tersedak saat meminum jus jeruk.

“Sunbae”

“Ayo jawab, bagaimana? Aku jadi penasaran..hahahahaa” Soo sunbae memasang wajah imutnya.

“Dia tidak mengatakan apa-apa. Setelah aku selesai tampil, dia mengantarku pulang dan sudah” jawabku polos.

“Apakah tidak terjadi pegangan tangan atau cium pipi?”

“Mwo?”

“Ahh, sudahlah. Kau masih terlalu kecil untuk membicarakan hal itu.hehe” Soo sunbae tertawa kecil ke arah Kyu sunbae dan kemudian mereka tertawa bersama. Aku mengerucutkan bibirku.huhf

“Jiyeon-ah, Kyuhyun sunbae, Sooyoung sunbae.. Annyeonghaseyo” sahut Hyunseong tiba-tiba dan mulai mendekati kami.

“Chagiya, ayo kita ke ruang kuliah. Jam kuliah Budaya dan Sejarah akan dimulai” Soo sunbae melirik jam tangan IEKEnya yang berwarna abu-abu.

“Keurae, kau benar! Ayo kita segera ke kelas. Jiyeon-ah, Hyunseong-ah, kami tinggal duluan ya. Annyeong” pribadi Kyu sunbae yang sopan dan lugu sedang keluar, padahal biasanya dia kekanak-kanakan dan egois karena game playernya hingga membuat Soo sunbae sebal..

“Annyeong sunbae” balasku dan Hyunseong.

“Jiyeon-ah, aku ingin bicara sesuatu” ucap Hyunseong dengan agak gugup.

“Katakan saja sekarang, aku akan mendengarnya” jawabku singkat. Hyunseong tidak mengucapkan apa-apa sama sekali, dia malah terdiam dan sibuk membuat benang kusut di udara dengan kedua jari telunjuknya.

“It’s you, Jiyeon-ssi? I wanna tell you about something. Can you follow me to my room?” sahut Mr.Lee memecahkan keheningan diantara aku dan Hyunseong.

Apa yang akan dibicarakan Mr.Lee? apakah Ulangan Tengah Semesterku jelek?

“Yes Mr..I’ll come to your room as soon as after I finished my affair, Mr” jawabku segera. Mr.Lee pun menganggukkan kepalanya dan lalu pergi ke ruangannya terlebih dahulu.

“Hyunseong-ah, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku dengan tergesa-gesa.

“Aku ingin kita bicara berdua di taman belakang, sebentar saja. Bisakah?” pinta Hyunseong.

“Hyunseong-ah.. Disini saja, kau tahu sendiri aku disuruh Mr.Lee ke ruangannya”

“Ta..tapi, aku tak bisa! Ayoo kita bicara di taman belakang 2 menit saja. Hanya 2 menit”

“Sekarang saja, disini”

“Baiklah, aku hanya meminta 1 menit di taman belakang” aku menggelengkan kepala. Melihat ketidakseriusan di wajah Hyunseong, aku pun segera pergi meninggalkannya.

“JIYEON-AH! JIYEON-AH!!” Hyunseong memanggilku, namun aku tidak menoleh ke belakang, tetap melanjutkan lari kecilku menjauhi Hyunseong.

“Mr.Lee” ucapku setelah mengetuk pintu ruangannya dan masuk ke dalam.

(Jiyeon P.O.V end)

……………………………..

(Hyunseong P.O.V)

“Hyunseong-ah, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Jiyeon dengan wajah terburu-buru.

“Aku ingin kita bicara berdua di taman belakang, sebentar saja. Bisakah?” pintaku, aku tidak mungkin menunda lagi mengatakan tentang perasaanku pada Jiyeon kali ini. Aku tidak ingin dia jatuh ke tangan yang salah.

“Hyunseong-ah.. Disini saja, kau tahu sendiri aku disuruh Mr.Lee ke ruangannya”  jawabnya yang semakin membuatku panik.

“Ta..tapi, aku tak bisa! Ayoo kita bicara di taman belakang 2 menit saja. Hanya 2 menit”

“Sekarang saja, disini”

“Baiklah, aku hanya meminta 1 menit di taman belakang” sahutku tanpa aku pikirkan lagi. Yang ada dipikiranku sekarang adalah dapat bicara dengan Jiyeon meskipun hanya sebentar.

Wae? Kenapa dia malah pergi? Berlari dari sisiku dan bayangannya makin tidak terlihat lagi.

“JIYEON-AH! JIYEON-AH!!” teriakku memanggil Jiyeon, namun dia tidak berhenti ataupun menoleh ke arahku. Aku menghela nafas kecewa.

Dreeett dreett . . .

“Yoboseyo, ajussi. Wae?” ucapku mengangkat telepon dari bawahan ayahku.

“Tuan muda, aboji anda menyuruh agar anda segera pulang ke rumah. Ada urusan penting mendadak yang terjadi”

“Apakah benar-benar penting?”

“Ne, ada penjaringan polisi. Hal itu membuat aboji anda berniat pindah dari Korea Selatan”

“MWO? Aboji kenapa masih berurusan dengan mereka padahal aku sudah melarangnya. Aku tidak mau ikut!” tolakku, kalau aku harus pergi sekarang, bagaimana dengan Jiyeon?

“Tuan muda, kalau anda tidak mau ikut. Aku sendiri yang akan segera menjemput anda dan menyeret anda untuk pulang berkemas-kemas”

“Andwe! Aku bisa pulang sendiri. Baiklah, aku akan pulang sekarang” ucapku setengah marah mematikan pembicaraan di telepon. Aku langsung memasukkan handphoneku ke saku dan berbalik menuju parkiran.

Brruuukk. . .

“Choesonghamnida” ucapku singkat tanpa melihat siapa yang telah aku tabrak. Lalu menuju parkiran karena sebelumnya aku berangkat menggunakan motor.

(Hyunseong P.O.V end)

…………………………

“Gomapsumnida, Mr.Lee” kata yang keluar dari mulut Jiyeon adalah suatu ucapan terima kasih yang teramat sangat. Ketika dia keluar dari ruangan Mr.Lee dia langsung teringat Hyunseong yang sebelumnya dia tinggalkan di dekat kantin.

“Hyunseong-ah, Hyunseong-ah” Jiyeon mulai panik mencari Hyunseong. Dia merasa bersalah telah meninggalkan Hyunseong tadi.

“Ottokhaji?” ucap Jiyeon khawatir. Dia bingung harus melakukan apa..

“Jiyeon-ah, kau mencari Hyunseong?” tanya Minah tiba-tiba.

“Ne, kau tahu dia dimana? Aku mencarinya kemana-mana namun dia tidak ada” jawab Jiyeon berharap Minah tahu keberadaan Hyunseong.

“Aku tadi mendengar percakapannya di telepon, dia sepertinya disuruh oleh abojinya untuk segera pulang” jawab Minah.

“Mwo? Pulang? Sejak kapan? Baru saja kan?”

“Sepertinya sudah 5 menit yang lalu, mungkin dia sedang ke parkiran karena tadi pagi aku melihatnya berangkat menggunakan motor.

“Ohh ne, gomawo Minah-ya” Jiyeon langsung berlari menuju parkiran. Entah apapun yang terjadi, dia bertekad harus menghalangi Hyunseong pulang untuk bicara beberapa menit saja.

Ottokhaji? Baru kali ini dia mengajakku bicara hanya berdua saja. Pasti ada hal penting yang akan dia sampaikan, kenapa aku baru berpikir hal ini sekarang? Bukannya daritadi.. Jiyeon babo!!!

“Jiyeon-ah, kau akan kemana? Aku baru mau menghampirimu” sahut seseorang, jiyeon pun berhenti namun dengan keadaan lari ditempat.

“Thunder? Waeyo?” tanya Jiyeon singkat.

“Kenalkan ini Kim Sang Bae, temanku. Dia juga ingin ke Fakultas Ilmu Budaya menemui temannya, dan sekalian aku ingin menemuimu” jelas Thunder, baru kali ini Jiyeon mengacuhkannya.

“Mianhae Thunder-ah, aku harus buru-buru. Annyeong” Jiyeon kembali berlari menuju satu tempat. Kenapa lama sekali menuju ke parkiran disaat aku harus buru-buru kesana.

“Igot” ucap Hyunseong menyerahkan kartu parkirnya, dia langsung menancap gas motornya dan berlalu pergi. Jiyeon yang hampir sampai ke parkiran, dia melihat Hyunseong melesat pergi dengan motornya.

“HYUNSEONG-AH! HYUNSEONG-AH, CHAKAMAN!” teriak Jiyeon sambil terus berlari mengejar Hyunseong.

Hyunseong yang melirik kaca spionnya terbelalak kaget. Apa yang Jiyeon lakukan?

“Jiyeon-ah, mianhae” ucap Hyunseong lirih dan menambah kecepatannya. Dibalik helm fullfacenya, airmata Hyunseong mengalir.

Mungkin aku harus menunggu waktu lama untuk dapat bertemu kau kembali.

“Hyunseong-ah!” kaki-kaki kurus Jiyeon mulai merasa lelah dan penuh dengan asam laktat.

Makin lama, bayang Hyunseong semakin kecil dan menghilang seiring dengan datangnya tetes-tetes hujan menuju bumi. Lama kelamaan, tetes hujan itu menjadi banyak dalam waktu sekejap.

“Hyunseong-ah” ucap Jiyeon dengan isak tangis. Hampir tak dapat dibedakan antara airmata dan tetes hujan Jiyeon.

“Kau kan pelupa, bagaimana kalau kau lupa untuk mengatakan hal yang ingin kau katakan padaku?” gerutu Jiyeon di tengah jalan dengan pakaian yang basah.

Aku memiliki firasat buruk tentang kau. Pokoknya kau harus kembali ke kampus besok!!

***

~Keesokan harinya di Universitas Nasional Seoul~

Seseorang yang diharapkan datang, tidak kunjung muncul. Jiyeon menoleh ke arah tempat duduk yang biasa diduduki oleh Hyunseong, yaitu tepat disampingnya. Namun tak ada orang yang mendudukinya, bangku itu kosong.

“Kemana dia?” tanya Jiyeon khawatir sambil melirik jam dinding ruang kelas. 2 menit lagi dosen akan segera datang. Terlambat bukanlah kebiasaan Hyunseong.

“Jiyeon-ah, kau mau kemana?” tanya Minah segera saat melihat Jiyeon berdiri sambil membawa tasnya.

“Aku tiba-tiba tidak enak badan” jawab Jiyeon berbohong dan kemudian keluar ruangan. Kakinya entah melangkah kemana, yang pasti dia ingin mencari suatu pemecahan masalah dan otak yang dingin.

……………………………….

“Sang Bae-ya, ini seharusnya ditaruh begini, agar tata poster ilmiahnya terlihat menarik” saran dari Thunder diterima oleh Sang Bae.

“Ne, kau memang hebat” jawab Sang Bae sambil bertepuk tangan kecil dan tersenyum.

“Siapa dulu ketua kelompok kita, Park Sang Hyun” ucap Yoon Bora dengan bangga.

Mereka bertiga adalah teman sekelompok untuk tugas poster ilmiah mata kuliah Anatomi Manusia, kini mereka duduk melingkar di ruang pertemuan perpustakaan pusat. Di sana memang disediakan sofa-sofa untuk para mahasiswa berkumpul dan membahas tugas, selain tempat yang nyaman menggunakan AC, keadaannya tidak begitu ramai dan tempat untuk berkonsentrasi.

Thunder terus memperhatikan Kim Sang Bae yang sedang mendesain poster berukuran A0 melalui Adobe Photoshop.

“Nuguseyo?” sahut Bora saat melihat sosok perempuan yang lebih muda darinya berdiri tepat di hadapannya. Sang Bae dan Thunder pun ikut memalingkan pandangannya ke arah perempuan itu.

“Jiyeon-ah, waeyo?” tanya Thunder yang kemudian mengajak Jiyeon keluar dari perpustakaan.

“Thunder-ah, tolong aku!” jawab Jiyeon. Wajahnya kusut dan raut wajahnya tidak ceria seperti biasanya.

“Apa yang dapat aku lakukan untukmu?” tanya Thunder penuh perhatian terhadap Jiyeon.

……………………..

~Bandara Incheon~

Koper hitam beroda ditarik oleh seseorang yang berpakaian gelap dan kacamata.

“Dimana aboji?” tanya orang tersebut.

“Sudah di pesawat, ayo kita bergegas naik juga” jawab pria setengah baya yang selalu ada bersama aboji Hyunseong.

“Aboji sudah daritadi menunggu?” tanya Hyunseong pada pria disampingnya.

“Kau kemana saja? Kau seharusnya sudah cek out dari hotel dan sampai di Bandara dari setengah jam yang lalu”

“Mianhamnida aboji, tadi macet” jawab Hyunseong dengan acuh.

Jiyeon-ah, annyeong. Aku pasti akan merindukanmu. Mianhae, aku berjanji akan memberitahumu suatu saat nanti jika Tuhan mempertemukan kita kembali nanti. Aku tidak akan lupa untuk hal yang satu ini.

………………………….

Tok tok tok

“Kenapa tidak ada yang membukakan pintu ya? Siang-siang begini lampu tamannya masih menyala” Jiyeon heran. Thunder hanya mengangkat bahunya.

Thunder mengintip sedikit dari jendela rumah tersebut.

“Jiyeon-ah, kita harus segera pergi dari sini” Thunder langsung menarik tangan Jiyeon menjauhi rumah tersebut.

“Lepaskan! Aku tidak mau pergi dari sini. Aku ingin menemui Hyunseong” ronta Jiyeon namun tenaganya kalah kuat dengan Thunder.

“Percaya kata-kataku kali ini saja. Ayo kita segera menjauh dari sini secepatnya” Thunder kembali menarik lengan Jiyeon. Mereka pun pergi dengan motor Thunder, hanya berjarak 200 meter dari rumah Hyunseong, mereka memerhatikan rumah Hyunseong dari sebuah halte bus.

“Kenapa kita berhenti disini?” tanya Jiyeon bingung.

“Diamlah dan lihat apa yang akan terjadi” jawab Thunder.

(sirine mobil polisi)

Begitu banyak mobil polisi mengepung rumah Hyunseong dan angkatan bersenjata pun keluar dari mobil mereka. Tidak begitu terdengar jelas apa yang diteriaki oleh pemimpin mereka.

Jiyeon menggigiti bibir bawahnya dan airmata tertumpuk di pelupuk matanya. Thunder yang semula serius melihat rumah Hyunseong, kini mengalihkan pandangannya kepada Jiyeon.

Airmata Jiyeon mengalir cukup deras namun bibirnya tidak terbuka sama sekali.

“Kau menangis?” tanya Thunder. Dia bingung harus melakukan apa kalau ada wanita yang sedang menangis. Menurutnya wanita adalah makhluk yang paling kuat di dunia ini, kalau mereka sudah menangis, itu tandanya ada suatu beban yang sangat berat yang sedang mereka pikul.

“Sudahlah, jangan menangis” Thunder memeluk Jiyeon untuk menenangkannya. Jiyeon tidak berkata apa-apa, dia masih saja menangis membasahi bahu Thunder.

“Ka..kau tahu darimana akan terjadi seperti ini?” tanya Jiyeon terbata-bata karena tangisnya.

“Tidak penting tentang hal ini. Kau lihat kan, temanmu ini adalah orang jahat. Dia meninggalkanmu dan polisi saja sampai mencarinya. Lupakanlah dia karena dia pasti tidak akan kembali dalam waktu yang lama” jelas Thunder sambil terus menenangkan Jiyeon.

“Aku, aku ingin bertemu Hyunseong. Aku bertanya padanya ada apa dengan ini semua” Jiyeon bersikukuh untuk mempertahankan Hyunseong.

“Aku memperingatkan kau, Jiyeon. Lebih baik kau melupakan kalau kau pernah memiliki teman seperti dia. Dia bukan orang baik yang harus menjadi temanmu”

“ANDWE! Hyunseong bukan orang jahat!!!” Jiyeon setengah berteriak dan mencoba lepas dari pelukan Thunder. Thunder menahannya.

“Suatu saat kau akan paham dan mengerti kalau dia bukan teman yang baik untukmu dan untuk ada di sekitarmu” Thunder berbisik pelan di telinga Jiyeon.

~To Be Continued~

22
Dec
11

Chingu? Sarang? (Part 2)

Title               : Chingu? Sarang?

Author         : SarSay501

Rating           : PG-15

Main cast    : Park Jiyeon [T-Ara]

Other cast : Park Sanghyun/Thunder [MBLAQ], Hyunseong [Boyfriend], Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Eunhyuk, Bang Minah [Girls Day], Lee Jeong Min [Boyfriend] akan terus bertambah di part selanjutnya..

Note        : Maaf baru bisa ngepost fanfictnya sekarang. Untuk yang sudah menunggu lama, semoga ga kecewa ya.hehe

HAPPY READING!!!!

~Universitas Nasional Seoul~

(Jiyeon P.O.V)

“Jiyeon-ah, apa yang kau lakukan disini?” Hyun Seong menepuk pundakku dari belakang dari belakang. Mengkagetkanku saja..

“Ohh Hyun Seong-ah, wae?” jawabku sambil tersenyum. Hyun Seong tampak terdiam sebentar, ada apa dengan dia?

“Hyun Seong-ah, Hyun Seong-ah? Kau kenapa?” ucapku sambil mencoba mengembalikan nyawa Hyun Seong ke raganya.

“Annyeonghaseyo, hoobaeku yang paling cantik” Soo sunbae ikutan mengkagetkanku juga. Untung aku tidak memiliki penyakit jantung -,-

“Kau Hyun Seong kan?” tanya Soo sunbae ke arah Hyun Seong, kali ini Hyun Seong sudah tersadar. Baguslah!

“Hmm..Ne” jawab Hyun Seong terbata-bata karena kaget.

“Sooyoung sunbae, kenapa belum pulang? Dan juga, biasanya dimana ada Sooyoung sunbae, slalu ada Kyuhyun sunbae” aku langsung menyambar seperti listrik.

“Kyuhyun sedang latihan band bersama Eunhyuk dan Yesung.. Aku sedang menunggunya” jawab Soo sunbae sambil tersenyum. Sunbae yang paling cantik dan baik menurutku adalah Sooyoung sunbae.

“Ohh begitu, aku jadi iri dengan sunbae” Soo sunbae tersipu malu, lucu sekali wajahnya. Hyun Seong pun menoleh ke arahku. Tatapan mataku seakan berkata ‘wae?’ pada Hyun Seong.

“Chagiya, ayo kita pulang. Aku sudah selesai dengan urusanku” sahut Kyu sunbae dari jauh. Soo sunbae mencari darimana asal suara itu.

“Iya, aku kesana.. Annyeong Jiyeon dan Hyun Seong” Soo sunbae langsung berlari kecil menuju Kyu sunbae dan bergandengan tangan.

“Jiyeon-ah” panggil Hyun Seong.

“Ne?” jawabku.

“Kau daritadi tidak memakan mie ramenmu?”

“Oh iya, aku lupa.hahahahaa” aku langsung menyumpit mie yang dengan penuh mengitari kedua sumpitku.

“Jiyeon-ah, boleh aku makan bersama di meja ini?” sahut Minah sambil membawa mie ramen juga. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan semangat karena mulutku penuh dengan mie. Setelah Minah duduk disampingku, dia langsung menyantap mie ramennya dengan lahap sepertiku. Hyun Seong hanya bisa menganga melihat kami berdua, namun lebih condong melihat ke arah Minah. Aku langsung mengambil cara inisiatif.

“ieon-ah, a ang au aukan?” tanya Hyun Seong dengan mulut penuh mie dan tidak terdengar dengan jelas.hahahahahaa

(Jiyeon P.O.V end)

………………………

Thunder memegangi bukunya sambil berjalan menuju perpustakaan pusat yang berada dekat dengan Fakultas Ilmu Budaya. Hyun Seong dari kejauhan melihat Thunder yang berjalan dengan cepat menuju ke arahnya. Hyun Seong teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Thunder mengantar Jiyeon ke rumahnya lalu meninggalkan Jiyeon tanpa sepatah kata pun.

Brruuukk. . Thunder tidak berkata apa-apa meskipun dia telah di senggol dengan sengaja oleh Hyun Seong hingga bukunya terjatuh di tanah. Dia pun kembali melanjutkan langkahnya.

“Ya, apa maumu?” teriak Hyun Seong. Thunder menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan dan berkata.

“Wae?” mendengar hal itu, Hyun Seong langsung berjalan dengan tergesa-gesa dan bernada marah ke arah Thunder.

“Kau, tidak sopan!!” maksud Hyun Seong adalah menyinggung kejadian sewaktu Thunder mengantar Jiyeon.

“Kau itu yang tidak sopan, berteriak dengan tidak jelas dan dengan sengaja menabrakku” jawab Thunder dengan tatapan yang sangat dingin. Hyun Seong sempat takut, namun kembali beradu mulut.

“Maksudku adalah sikapmu sewaktu mengantar Jiyeon ke rumahku. Appaku bilang …” belum sempat Hyun Seong melanjutkan omongannya.

“Kau percaya dengan Appamu? Hah?” tanya Thunder dingin.

“Tentu, dia adalah Appaku”

“Kau yakin kalau Appamu tidak akan berbohong atau mengecewakanmu?” tanya Thunder dengan sinis. Hyun Seong terdiam dan pandangannya melayang jauh. Thunder langsung pergi meninggalkan Hyun Seong.

“Appa” ucap Hyun Seong lemah.

………………….

(Flashback, 10 tahun lalu)

(Hyun Seong P.O.V)

Aku terduduk di kamar eomma, melihat figura-figura foto kecil yang berisikan kebahagiaan yang sudah tidak dapat diulang kembali. Aku menangis sambil memeluk salah satu figura foto.

“Eomma, neomu bogosipta!” airmataku mengalir deras.

“Hyun Seong-ah, bisakah kau ke bawah sebentar?” teriak Appa dari ruang tamu. Aku mengembalikan figura foto ke tempatnya, mengusap airmata dengan tangan-tangan kecilku.

“Waeyo, appa?” tanyaku ke arah appa. Aku melihat seorang ajumma dan anak laki-laki yang lebih tua dariku berdiri menghadap ke arahku. Tatapan matanya dingin, aku takut.

“Hyun Seong-ah, kenalkan, ini adalah calon eomma barumu. Ayo sapa!” suruh Appa kepadaku.

“Eomma baruku?”

“Ne!” jawab Appa.

“Annyeonghaseyo, Hyun Seong-ah” sapa Ajumma itu kepadaku.

“Aku tidak mau eomma baru!!” teriakku sambil menangis.

“Dasar cengeng!” ejek anak laki-laki di samping ajumma itu.  Aku menatap anak laki-laki itu dengan sinis.

“Aku tidak cengeng! Appa aku tidak cengeng kan?” tanyaku sambil terisak tangis.

“Ani, Hyun Seong tidak cengeng kok” jawab Appa sambil mengusap kepalaku. Aku melihat ke arah anak laki-laki itu dengan sinis dan ternyata anak itu kembali memandangiku dengan sinis.

“Kau, kenapa memandangiku seperti itu?” tanyaku pada anak laki-laki itu.

(Flashback end)

(Hyun Seong P.O.V end)

………………………………………..

“Annyeonghaseyo Soo sunbae” sapa Jiyeon dengan wajah bersemangat.

“Ohh, Jiyeon-ah.. Bagaimana persiapan untuk tampil lusa?” tanya Sooyoung pada adik kelasnya dengan bersemangat juga. Jiyeon pun menganggukkan kepalanya.

“Sunbae, aku memiliki 3 undangan. Kata wali kelasku, setiap orang yang tampil mendapatkan jatah 3 undangan. Soo sunbae dan Kyu sunbae mau datang kan?” tanya Jiyeon dengan puppy eyesnya. Sooyoung mengangguk dengan semangat dan melompat-lompat bahagia meskipun dia melakukan itu di depan kantin.

“Pasti aku dan Kyuhyun akan datang.hehehe Lalu 1 undangan lagi untuk siapa?”

“Aku masih belum tahu untuk siapa, menurut sunbae untuk siapa?”

“Hmmmm..Kau tidak berniat memberikannya pada Eunhyuk kan?” Sooyoung berwajah sinis.

“Ani”

“Kalau begitu, berikan pada Thunder saja” Sooyoung mencolek pundak Jiyeon dengan sengaja. Mata Jiyeon langsung terbelalak.

“Sunbae? Sunbae yakin dengan ucapan sunbae tadi?” Jiyeon tidak percaya dan tidak terbesit untuk mengundang Thunder agar melihatnya di panggung.

“Tentu!!!!!!!!!!!!!! Ayo aku antar kau ke Fakultas Kedokteran” Sooyoung bersemangat menarik tangan Jiyeon keluar dari kantin.

Dari kejauhan, tampak Hyun Seong berdiri tertegun dan meremas-remas kertas nada yang ada di tangannya.

“Kau, merebut segalanya!” teriak Hyun Seong dalam hatinya dan membuang kertas itu ke arah yang dia pun tidak tahu. Berlari berlawanan dengan arah Jiyeon sejauh mungkin.. hanya itu yang bisa Hyun Seong lakukan.

…………………………..

“MWO? Kau menolak undanganku hanya demi seekor kodok? Dimana perikemanusiaanmu? Hah?” Jiyeon berteriak-teriak di depan perpustakaan.

“Tidak salah aku mengajakmu berbicara di luar, kalau di dalam, bisa-bisa kau dihajar masa” jawab Thunder dengan cuek.

“Harusnya kau menerimanya” sahut Jiyeon ngotot.

“Kenapa aku harus menerimanya?” tanya balik Thunder. Jiyeon bingung akan berkata apa.

“Itu..karena kau pergi menghilang tanpa pamit padaku tempo hari.Harusnya kau menerima undanganku ini sebagai ucapan minta maafmu padaku. Ya sudah kalau tidak mau datang” Jiyeon pergi keluar dengan hati kesal. Setelah di halte, dia menunggu bus yang biasa berkeliling kampus tanpa biaya. Setelah menaiki bus itu sampai gerbang utama, Jiyeon biasanya lanjut menaiki bus umum.

“Harusnya aku tidak menghampirimu tadi.huhf” gerutu Jiyeon sambil memegang undangan pentas miliknya. Tak lama kemudian, bus kampus yang dia tunggu sudah terlihat. Jiyeon bangkit dari duduknya, menghelas nafas dan kemudian meninggalkan undangan itu di bangku halte. Kini dia melangkah masuk ke dalam bus kampus. Beberapa meter setelah bus berjalan, undangan itu tertiup angin dan mendarat di kaki seseorang yang tidak jauh dari halte. Orang itu mengambil kertas di bawah kakinya dan memperhatikan undangan itu dengan serius lalu menyelipkan di halaman buku yang berjudul “Anatomi Hewan”.

………………………..

(Jiyeon P.O.V)

Kakiku melangkah kecil untuk turun dari bus umum.

“Halte ini kenapa selalu sepi ya?” gerutuku tidak karuan.. sejak tadi semua hal yang aku lihat selalu saja aku komentari.

“Kenapa aku harus bertindak bodoh seperti tadi? Harusnya aku sudah tahu kalau Thunder tidak akan mau pergi. Dia kan tiada hari tanpa belajar, dia hanya akan membuang waktu kalau pergi dan menontonku di panggung” ucapku lemas.

Krriing Krriingg ….(bunyi bel sepeda)

Aku menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Thunder. Dengan wajah yang penuh keringat, pakaian yang lusuh dan agak basah, namun baru kali ini aku melihat dia tersenyum. Atau mataku yang sedang tidak waras?

Thunder mengerem sepeda tepat di depanku.

“Jiyeon-ah, kau mau makan es krim tidak?” sahut Thunder dengan nafas tersengal-sengal.

Aku setengah tidak percaya bahwa itu adalah dia, apakah dia memiliki kepribadian ganda?

“Jeongmal?” tanyaku dengan penuh harapan bahwa dia berkata ‘NE’

Thunder menuntun sepedanya dan berjalan disampingku. Aku merasa sangat bahagia dan masih sangat belum percaya bahwa yang sekarang berjalan di sampingku adalah Thunder.

“Mian aku tidak menggoncengimu, karena aku lelah harus bersaing cepat dengan bus” sahutnya tiba-tiba.

“Ahh,gwaenchana.. Aku yang merepotkanmu. Mengapa kau ingin mentraktirku es krim?”

“Karena aku ingin meminta maaf atas perlakuan dinginku tadi”

“Hahahahahaa, gwaenchana sunbae”

“Jangan panggil aku sunbae! Panggil Thunder-ah saja supaya kita lebih akrab” jawabnya sambil tersenyum indah. Sudah dua kali aku melihat senyum seperti ini..Aku mencubit pipiku sendiri dan sepertinya Thunder tertawa kecil melihat tingkahku.

“Kau ingin aku bantu?” tanyanya yang membuat aku bingung. Aku belum menjawab apa-apa, dia langsung mencubit pipiku.

“Aaaa..” jeritku kecil dan berwajah sebal.

“Kau semakin lucu dan aneh dengan wajah seperti itu.hahahaha”

Dia berani menghinaku..huhf

(Jiyeon P.O.V end)

…………………………………………….

Minah berjalan dengan santai menuju taman belakang, dia mencoba memulai untuk berlatih bernyanyi.

“Aaa.. Do Re Mi Fa Sol Sol Sol”

Belum sempat Minah menyelesaikan nada yang akan dinyanyikannya, terlihat semak-semak bergerak.

“Nugu?” teriak Minah setengah khawatir dan takut.

Tidak ada jawaban dari semak-semak itu, Minah melangkah mundur dan mulai berjalan cepat menjauh taman. Sayangnya langkah Minah terhenti, ada yang memegangi tangannya.

Minah perlahan membalikkan tubuhnya.

“Bisakah kau menyanyikan sebuah lagu untukku?”

“Hyun Seong-ah? Ne” jawab Minah dengan senyum terkembang.

………………………………………..

~Tempat Pementasan Seni~

Terlihat lampu berwarna-warni dengan dominan yaitu kuning menyinari panggung. Alunan musik Gayageum mulai terdengar mengiring lagu kebangsaan Korea Selatan, mahasiswa seni pun memasuki panggung dengan kostum tradisional Korea Selatan.

“Chagiya, lihat! Itu Jiyeon dengan kostum hanbok berwarna biru muda. Cantik ya!” sahut Sooyoung dengan suara lantang, namun untungnya teriakan Sooyoung kalah dengan musik.

“Ne, chagi..Kau bersemangat sekali” jawab Kyuhyun dengan santai.

“Anak itu, selalu ceria” ucap Thunder yang juga ikut menikmati pertunjukkan.

Setelah lagu kebangsaan selesai dikumandangkan, kini beberapa orang menari dengan harmonis sesuai lagu yaitu 2 lagu tradisional yang di telah diremix menjadi satu. Tarian itu berpasang-pasangan, Jiyeon berpasangan dengan Hyun Seong dan di sebelah mereka berdua ada Minah dan Jeong Min menari berpasangan.

“Jiyeon-ah, kau menikmati tarian saat ini?” tanya Hyun Seong tiba-tiba.

“Tentu, aku sangat menyukai berada di panggung” jawab Jiyeon.

“Bukan itu maksudku, maksudku adalah …” belum sempat Hyun Seong berkata sampai akhir, pasangan menari berubah. Jiyeon dengan Jeong Min dan Hyun Seong dengan Minah.

“Kau ingin berkata apa, Hyun Seong-ah?” tanya Minah.

“Ahh, ani” Hyun Seong berwajah datar.

Pertunjukkan pertama telah selesai, tirai di tutup sementara dan hadirlah kedua MC yaitu Eunhyuk dan Donghae.

“Tepuk tangan semuanya untuk pertunjukkan pertama dari hoobae kami. Bagus bukan?” kata Donghae sambil ikut bertepuk tangan.

“Sebelumnya kami berterima kasih karena para undangan telah hadir” ucap Eunhyuk dan tepuk tangan kembali riuh.

“Pantas saja Jiyeon tidak memberikan Eunhyuk undangan, karena memang Eunhyuk adalah Mcnya.hahahaha” Sooyoung tertawa sendiri.

“Chagiya, waeyo?” tanya Kyuhyun khawatir kalau pacarnya sudah mulai gila sejak tadi.

“Ani..hehehehee” Sooyoung masih dengan ekspresi tertawa ke arah Eunhyuk. Setelah tampil banyak lagu yang dibawakan oleh mahasiwa baru Ilmu Budaya, tampilan puncak akan dibawakan oleh Jiyeon dan Hyun Seong dimana mereka berpatner menyanyikan lagu bergantian namun diiringi alat musik yang juga secara bergantian.

“Hyun Seong, kali ini kita saling membantu.Kau bernyanyi dengan iringan pianoku, lalu saat aku bernyanyi, kau iringi dengan saxophonemu. Ayo kita berdoa sebelumnya. Semoga kita berhasil” ucap Jiyeon dengan mata tertutup dan berdoa di belakang panggung. Hyun Seong memperhatikan wajah Jiyeon yang cantik, saat Jiyeon akan membuka matanya, Hyun Seong berpura-pura menutup mata.

“Sudah berdoanya?” tanya Jiyeon.

“Ye..” kemudian mereka berdua pun menuju panggung dengan pakaian yang berbeda. Jiyeon mengenakan Short dress berwarna putih dan Hyun Seong mengenakan kemeja putih dan jas tanpa dikancingkan. Sorak sorai penonton terdengar jelas, makin membuat Jiyeon gugup.

Jiyeon bersiap di posisinya yang akan memainkan piano dan Hyun Seong bersiap dengan saxophonenya.

Ttoreureu nunmuri heulleoganda ttoreureu ttoreureureu (Ttoreureu tears flowing ttoreureureu ttoreureu)

sorieomneun apeumeul igijido motanche

(Map of the pain is not a sound of pain)

pareureu sonkkeuchi tteollyeoonda pareureu pareureureu

(Shaking fingers come pareureu pareureureu pareureu)

ttaseuhaetdeon siganeul gieokhanabwa

 (Seems like remember the time when me met)”

Masih teringat jelas di ingatan Jiyeon saat dia dan Thunder pertama bertemu di jalan.

BBBRRRUUUKKK..

“Choesong hamnida” sahut Jiyeon

“Omo, ganteng sekali dia. Seperti malaikat!” sahut Jiyeon dalam hati. Pria itu langsung berubah memiliki sayap dan wajahnya benar-benar bersinar meskipun sedang menunduk membaca buku.

Pria itu kemudian kembali melangkahkan kakinya.

“Oh iya, gwaenchana” sahut pria itu sambil menoleh ke arah Jiyeon selama 5 detik dan kembali berjalan menjauhi Jiyeon

“Sarangeul hamyeon deo yeppeojindae

(For if a more beautiful love)

sarangeul hamyeon jom dallajindae

(For if a little different when you love)

eotteoke haeya nae anui sarangi deo yeppeojilkkayo

(How do I love that I possess more would)

saenggageul hamyeon nunmuri nago

(When you think watery)
nunmuri namyeon tto saenggangmaneul

(I only cry once again)
geureon sarami gyeote itdaneunge dahaengijyo

(Lucky by that person‘s)

 

“Park Sang Hyun? Kedokteran?” ucap Jiyeon setengah teriak panik dan kaget setelah melihat KTM dan dia digeret Sooyoung untuk mengembalikan KTM itu kepada pemiliknya.

Jiyeon agak kaget saat terdorong dan dia dengan cepat menahan tubuhnya agar tidak tersungkur di atas tanah.

Semua orang diperpustakaan melihat kearahnya, tak terkecuali Thunder. Jiyeon mencoba mengendalikan keadaan, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

“Ehhemm” Jiyeon berdehem

Seureureu du nuni gamgyeoonda seureureu seureureureu

(Seureureureu comes right off right off the wound with two eyes)

goun miso hyanggie kkumeul kkugo sipeonnabwa

(I wanted to smile and fine fragrances in the dream turns outto)

ttoreureu sarangi heulleoganda ttoreureu ttoreureureu

(Love flows ttoreureureu ttoreureu ttoreureu)

mami siryeoulmankeum johahanabwa

(Dont mind as good as she wants to cry)”

“Jiyeon-ah.. Wajahmu sangat merah dan penuh keringat. Kau lelah? Mian!!” ucap Thunder sambil memberikan tissue pada Jiyeon.

“Aku rasa, kaloriku benar-benar sudah terbakar” jawab Jiyeon sambil tertawa kecil.

Thunder hanya tersenyum simpul dan segera berganti posisi. Kini Thunder yang akan mulai mengayuh sepeda sedangkan Jiyeon yang akan diboncenginya.

“Sunbae, terus kayuh. Kita tinggal sebentar lagi sampai” sahut Jiyeon sambil membiarkan angin meleraikan tiap helai rambutnya. Semenjak Thunder yang mengayuh sepeda, sepeda berjalan cepat.

 

“Gaseume chagaun niga naerimyeon

(Get off you chest cold)
motbondeusi geujeo useoya haeyo

(I’m just as we did not see the punch line)

haengyeo niga dorabolkkabwa hangsang geu jarireul maemdoneun

(Tour of the place you’re always afraid of a chance revolving)

eoriseogeodo haengbokhan sarangi johaseo

(Stupid because I like a happy love)

Dan juga ingatan beberapa jam yang lalu, saat dia bersama Thunder di backstage.

“Jiyeon-ah..Good Luck!” ucap Thunder sambil mengedipkan salah satu matanya.

“Ne!” jawab Jiyeon yang juga melakukan hal yang sama.

“Jiyeon-ah, tunjukkan kemampuanmu di panggung nantii, jangan gugup!!”  sahut Thunder lagi. Namun Jiyeon hanya menunduk dan memegangi kedua tangannya yang dingin.

“Kau pasti bisa!” Thunder menggenggam kuat kedua tangan Jiyeon dan memeluk tubuh mungil Jiyeon. Jiyeon pun terlihat kaget.

Tepuk tangan riuh bersahut-sahutan setelah Jiyeon usai bernyanyi. Jiyeon tersenyum lebar. Hyun Seong menaruh saxophonenya dan beralih memegang microphone. Piano Jiyeon kini mulai berdenting mengiringi alunan musim yang akan dinyanyikan oleh Hyun Seong.

Hangeoreum mulleonamnida (I take one step backwards)
daheul deut dachi annneun goseuro
(To where I feel you can’t reach me)
nunmure beonjin geudaeui moseubeun
(Your tear smudged face)
apaolmankeum neomu areumdawoyo
(It’s so beautiful as it is painful)
hanb
eon deo jallanaemnida (Once again I sever it)
nunmureul meokgo jaraneun maeum
(Swallowing my tears I sever my heart)
bureuji motan geudae ireumi
(Your name I can’t call out)
gaseumeul chyeoseo meongi deureodo
(Pounds at my heart bruising me)”

Hyun Seong menyanyikan lagu ini dengan sedikit terisak tangis membayangkan kejadian beberapa hari yang lalu. Untungnya penonton menganggap itu adalah ungkapan dari lirik lagu yang Hyun Seong coba keluarkan.

“Kau tau Hyun Seong-ah, aku tadi di antar oleh Thunder sunbae, dia mahasiswa Kedokteran. Aku baru mengenalnya tadi, tetapi dia sudah baik sekali” Jiyeon mengucapkannya dengan polos di depan Hyun Seong tanpa Jiyeon tahu bahwa perkataan itu menyakiti Hyun Seong. Berlari ke arah Thunder bukanlah hal yang diinginkan oleh Hyun Seong, Hyun Seong ingin memanggil nama JIYEON, namun mulutnya kelu. Jantung seakan terdekap oleh rime yang dapat membuatnya berhenti berdetak.
Mianhaeyo ireon saramiraseo (I’m sorry for being the kind of person I am)
geudae ape dagaseol su eobseoseo (For not being able to stand near you)
saranghae geumal hanmadireul motaeseo (I love you,the words I can’t say to you)
gakkeumeun honja umnida (I sometimes cry alone)
jal motnan saranginikka (Because my love has faults)
byeonmyeong hanmadi chatji motaneun (I can’t find a single word of excuse)
sesangui kkeute dadareun hue (When I look back at the end of my life)
dwidorabom
yeo huhoehagetjyo (I’m sure I’ll regret it all)

Hyun Seong menjerit dalam hati “Kenapa harus Thunder yang merebut hatimu? Bukan orang lain? Aku lebih ikhlas kalau kau bersama orang lain, bukan Thunder!” Hyun Seong terduduk lemas setelah mengintip dari jauh, Thunder dan Jiyeon berpelukan.

Aku ingin menanyakan satu hal padamu Park Sang Hyun, namun aku harap jabawan itu bukanlah karena balas dendam untuk kejadian masa lalu.

*To Be Continued*

18
Nov
11

Lost Time

Title        : Lost Time

Author      : SarSay501

Rating       : PG-15

Main cast    : Yoona [SNSD]

Other cast : Donghae [Super Junior], Jessica [SNSD], Ok Taecyeon [2PM], Nichkhun [2PM], Choi Siwon [Super Junior].

Note        : Haii readers, author kembali..

 Ini cerita khayalan author yang bener-bener lagi berimajinasi gila

Jadi jangan kaget kalau background ff ini agak ngasal.hehehe

Mianhae dan Gomawo buat semua readers yang telah setia menunggu     postan ff disini :,)

Sssrroooottt *elap ingus+airmata terharu*

HAPPY READING ^^

“Appa, apakah aku benar-benar tidak boleh mengikuti perlombaan itu?” rengek Yoona, putri tunggal seorang pemilik club latihan pedang saat makan siang di taman belakang Sword Corner.

“Aku tahu kalau bermain pedangmu sangat bagus, namun kau itu seorang wanita. Kau membayangkan apa yang akan terjadi di pertandingan nanti? Kita akan melawan Club Eropa” jelas appa Yoona melarang keras karena semula Yoona diperbolehkan ikut latihan di Sword Corner hanya untuk sekadar melindungi dirinya. Appa Yoona tidak menyangka kalau putrinya akan tertarik mengikuti pertandingan antar-club.

“Tapi aku …” Yoona belum sempat menyelesaikan perkataannya, appa Yoona sudah berdiri dan pergi meninggalkan Yoona di taman sendirian.

“Wae? Aku tidak boleh ikut? Apa karena aku seorang wanita, hah? Apa salahnya dengan wanita?” gerutu Yoona sambil menghentak-hentakkan sendoknya ke kotak makan siang yang ada di pangkuannya.

“Hei Princess, kau kenapa berbicara sendirian? Kau sudah gila ya?” sahut seseorang di belakang Yoona. Orang itu pun langsung duduk disamping Yoona.

“Ohh kau Donghae” jawab Yoona tidak bersemangat. “Kau kenapa? Ceritakan padaku” Donghae adalah teman Yoona sejak SMP, mereka bersahabat baik sudah hampir 5 tahun. Donghae berumur 1 tahun lebih tua dari Yoona namun Yoona tidak pernah mau memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’ karena sikap Donghae terkadang masih kekanak-kanakan.

“Aku sedang malas bicara” jawab Yoona singkat yang kemudian menutup bekal makan siangnya.

“Ayolah, ceritakan padaku” pinta Donghae sambil memasang mata puppy eyesnya yang imut. Selain Donghae baik, dia juga tampan. Satu-satunya yang tampan di Sword Corner Club menurut Yoona.

“Jangan memasang wajah seperti itu, aku tetap malas bicara” Yoona membohongi dirinya sendiri, tentu saja dia lakukan itu karena Donghae adalah andalan appanya saat mengikuti pertandingan nanti. Yoona merasa malu kalau harus bercerita pada Donghae. Yoona pun berdiri dan hendak meninggalkan Donghae.

“Mian, kalau tadi aku menguping pembicaraanmu, aku tak bermaksud” ucap Donghae tiba-tiba sambil menghalangi Yoona pergi. Yoona pun menatap laki-laki dihadapannya dan menunduk malu.

“Mianhae, aku rasa appamu ada benarnya. Kau tahu sendiri kalau Club Eropa itu bermain dengan agak kasar. Tidak pernah ada lawan yang tidak terluka setelah bertanding dengannya” jelas Donghae memandang Yoona yang sedari tadi menunduk.

“Jangan salahkan juga kalau kau terlahir sebagai wanita” lanjut Donghae, kali ini Yoona memandang Donghae dengan wajah datar lalu pergi meninggalkan Donghae.

***

            Yoona terus menatapi langit malam di balkon kamarnya, berharap ada sesuatu yang dapat menjelaskan mengapa dia dilarang keras mengikuti pertandingan itu. Malam semakin larut, angin pun bertambah kencang menyapu wajah mungil Yoona dan melerai helai demi helai rambut Yoona.

“Aku harus tetap mengikuti pertandingan itu besok!” ucapnya mantap. Yoona kini mulai merasa mengantuk dan menutup pintu yang mengarah ke balkonnya. Dia masih berdiri bersandar di pintu kaca, membelakangi balkon kamarnya.

“Aku harap, ada yang dapat menjelaskan maksud appa tadi” ucapnya tanpa menyadari bahwa ada bintang jatuh dari langit.

***

Kreekkk.. Terdengar bunyi jendela baru saja dibuka oleh seseorang.

“Hei, bangun!” sapa seseorang yang membuat maja terpejam Yoona kini terbuka perlahan. Aroma kamarnya terasa berbeda. Yoona kaget karena kemunculan seorang perempuan yang berdiri di samping tempat tidurnya.

“Nu..Nuguseyo?” tanya Yoona terbata-bata sambil mengucek matanya.

“Harusnya aku yang bertanya, kau itu siapa? Darimana asalmu?” jawab perempuan itu. Sontak saja Yoona langsung lompat dari tempat tidurnya dan melihat sekeliling, “Semuanya berbeda” sahutnya panik. Lalu dia melihat ke arah keluar jendela. Terlihat seorang pedagang yang sedang mengangkut barang-barangnya ke kereta lembu.

“Ohh, hai Jessica” sapa pedagang itu.

“Hai juga ajussi” jawab perempuan yang tadi membangunkanku. Ternyata namanya adalah Jessica, tetapi tunggu dulu! Aku dimana? Haduh, aku harus mengikuti pertandingan hari ini.

“Aku menemukanmu kemarin malam di hutan ketika aku selesai berlatih. Aku khawatir pada keadaanmu, jadi aku membawamu kemari. Ini adalah rumah Ajumma Kim, salah satu pelayan di rumahku” jelas Jessica. Yoona sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja dibicarakan oleh Jessica.

“Namamu Yoona kan?” tanya Jessica sambil merapikan tempat tidur.

“Iya, kau tahu darimana?” Yoona masih saja panik, yang ada dipikirannya saat ini adalah mengikuti pertandingan pedang.

“Tertulis jelas di kalungmu” jawab Jessica. Yoona langsung melihat bandul kalung yang dipakainya. Bagaimana dia bisa tahu kalau ini bertuliskan YOONA? Ini kan kalung pemberian Donghae, kami saling bertukar hadiah sewaktu masuk SMA. Kami saling memberi kalung yang bertuliskan nama kami masing-masing dalam huruf Yunani kuno karena hanya bahasa itu yang kekal dan tidak akan pernah berubah. Yoona langsung melihat dirinya sendiri di cermin, terlihat sekali matanya terbelalak melihat pakaian yang dipakainya. Dia langsung berlari keluar rumah itu dan melihat semua orang memakai pakaian yang sama. Tanpa sadar, Yoona menubruk seseorang dan terjatuh ke tanah.

“Hei agassi, tidak bisakah kau berjalan hati-hati?” sahut orang itu sambil membantu Yoona berdiri. Yoona menerima bantuan laki-laki itu namun tetap masih terdiam bingung.

“Oh hai Taecyeon, maafkan temanku ini ya” tiba-tiba Jessica menyahut di belakang.

“Kau temannya Jessica? Kenalkan, namaku Taecyeon. Kau siapa?” sapa ramah Taecyeon dibalas oleh Yoona.

“Aku Yoona” jawab Yoona singkat.

“Ohh Yoona.. Hmm, kalau dilihat-lihat kau cantik juga. Wah Jessica, sepertinya kau akan mempunyai saingan.hehehee” ucap jail Taecyeon sambil melirik nakal ke arah Jessica.

“Berisik kau, jangan menggodanya. Ya sudah, kami pergi dulu ya”  Jessica pun menarik tangan Yoona paksa dan mereka berjalan menuju dekat air mancur di sudut kota.

“Yoona, bisa kau jelaskan padaku kenapa kau bisa sampai kemari?” tanya Jessica serius kearah Yoona.

“Aku juga tidak mengerti apa-apa, yang aku ingat semalam aku masih tertidur dengan nyaman di kamarku. Baru tadi pagi aku sadar kalau aku berada disini” sepertinya kini Jessica bingung dengan penjelasan Yoona yang dianggapnya tidak logis. Yoona menarik nafas panjang dan mengambil sebuah batu kapur di dekat kakinya.

“Kau tahu, aku bukan manusia dari zaman ini. Di zamanku, semua orang sudah memakai pakaian, biasa disebut kaos” ucap Yoona sambil menggambar kaos di lantai dekat air mancur.

“Lalu kau tahu, orang-orang bepergian sudah menggunakan mobil atau motor, bukan kereta lembu” lanjutnya sambil menggambar benda yang baru saja diucapkannya. Tiba-tiba saja sebuah panah berujung api mendarat tepat di samping Yoona. Jessica langsung menarik Yoona, “Tempat ini sudah tidak aman, ayo kita pergi ke rumahku” sahut Jessica sambil menarik tangan Yoona untuk berlari.

“Yang itu tadi apa? Menyeramkan!” perkataan Yoona tidak digubris sama sekali oleh Jessica. Yoona hanya tahu kalau Jessica tidak akan membuatnya celaka jadi dia terus belari di belakang Jessica.

Beberapa langkah lagi mereka akan masuk ke dalam istana, Jessica menghentikan langkahnya.

“Yoona, apakah kau bisa berperang?” tanya Jessica tanpa membalikkan tubuhnya.

“Hah? Berperang? Aku tidak yakin” jawab Yoona.

“Setidaknya memanah atau berkuda, atau bahkan bermain pedang. Bisakah kau salah satu dari itu?” Yoona berpikir sejenak, lalu menjawab “Aku bisa bermain pedang”. Jessica kembali menarik tangan Yoona untuk memasuki istana, “Baguslah kalau begitu” bisik Jessica pelan.

Pintu istana pun terbuka lebar, seakan mempersilahkan Jessica dan Yoona untuk masuk. Jessica langsung menyuruh Yoona untuk berjalan mengendap-endap, Yoona mengikutinya. Ternyata mereka baru saja melewati ruang kerja appa Jessica.

“Yoona ikuti aku” ucap Jessica yang kemudian berlari ke sebuah ruangan di bawah terowongan. Jessica langsung membuka pintu dan seketika Yoona kaget melihat isi ruangan itu.

“Tempat apa ini?” tanya Yoona sambil tak berhenti memandang satu persatu pedang dan baju perang terbuat dari baja terpajang jelas di pinggir ruangan itu.

“Jangan berisik! Aku ingin menceritakan padamu semuanya disini”.

……………………..

“Murid-murid semuanya, kita berkumpul sebentar! Akan ada pengumuman” teriak salah seorang pelatih perang di arena gladiator, tempat biasa mereka berlatih senjata. Langsung dengan rapi semuanya berkumpul mendekat ke arah Cha Sonsaengnim.

“Hari ini kita kedatangan warga baru, dia bersedia menjadi tentara kita” ucap Cha Sonsaengnim.

“Hah? Seorang wanita? Aku tidak yakin dia bisa berperang selayaknya laki-laki yang tangguh nantinya” sahut seseorang diantara kumpulan murid-murid Cha Sonsaengnim. Yoona tidak bisa mengetahui wajah orang itu karena mereka semua memakai baju dan sejenis penutup kepala terbuat dari baja, seperti yang Yoona pakai saat ini.

“Baiklah Yoona, sepertinya kau harus menunjukkan keahlianmu pada si tangguh ini. Semuanya istirahat sebentar, kita ada suatu pertunjukkan” seru Cha Sonsaengnim pada semuanya. Yoona terlihat agak gugup, dia pun mulai memakai topeng bajanya dan memegang erat pedangnya.

Aku harus buktikan kalau aku bisa! Wanita bukan untuk disepelekan, ingat itu bocah mnyebalkan!! Yoona teringat pesan appanya, “Bersabarlah! Jangan gegabah! Seranglah lawanmu disaat dia sudah kelelahan”. Itu juga yang sedang Yoona lakukan.

“Kau, jangan hanya menghindar! Kau tidak bisa bermain pedang? Mengaku saja!” ejek lawan Yoona. Yoona tetap bersabar dan mencari celah kesempatan. Yoona melihat ke arah gerak kaki lawannya itu, akhirnya Yoona tahu kapan dia harus menyerang.

“Kau ingin meminta maaf atas penghinaanmu barusan tentang wanita atau aku menjatuhkanmu sekarang juga?” tak ada yang dapat dilakukan lawan Yoona sekarang selain menuruti perkataan Yoona kerana dia benar-benar sudah dalam posisi terkunci.

“Baiklah aku akan minta maaf” jawab lawan Yoona, Cha Sonsaengnim pun mendekati mereka berdua.

“Maafkan aku, Yoona. Ternyata tidak peduli wanita atau pria asalkan memiliki kemampuan yang sama, perbedaan bukan berarti apa-apa”. Cha Sonsaengnim pun bertepuk tangan “Yoona, kau ternyata ahli. Kau akan dimasukkan ke dalam tim inti berperang”.

“Tapi dia kan belum ..” sanggahan lawan Yoona langsung terpotong oleh Cha Sonsaengnim, “Taecyeon, berhentilah mengelak atas kekalahanmu, Yoona memang jago bermain pedang. Lagipula ini untuk membela Yunani kita”. Ternyata orang dihadapanku ini adalah Taecyeon, orang yang aku temui pagi tadi. Jessica, mianhae!  Tiba-tiba panah berujung api kembali datang. Semua murid Cha Sonsaengnim yang merupakan tentara perang langsung bersiap.

“Yoona, siapakan pedangmu. Gladiator ini terletak di perbatasan wilappa perang!” bisik seseorang pada Yoona, Yoona yakin sekali kalau itu adalah Jessica. Yoona semakin kuat menggenggam erat senjatanya. Tak lama kemudian, terik siang matahari berubah menjadi gelap. Bukan awan gelap yang menutupinya melainkan seekor naga terbang yang kemudian dengan mantap mendarat di tengah lapangan gladiator. Lalu turunlah seseorang berbaju baja sepeti yang dipakai Yoona dan kawan-kawan, yang membedakan hanyalah warnanya. Warna baju orang itu adalah kuning mengkilap seperti warna emas, sedangkan baju yang dipakai Yoona berwarna putih mengkilap seperti perak.

“Kaukah kesatria baru yang dapat mengalahkan Taecyeon barusan? Aku tidak percaya seorang wanita bisa …” Yoona langsung menyela perkataan orang itu.

“Jangan membawa perbedaan antara wanita dan pria disini” ucap Yoona mantap.

“Ohh, jadi begitu. Sepertinya besok kau adalah santapan lezat yang spesial untuk Jaksal” ucapnya sambil mengelus kepala naga yang ditumpanginya barusan. Naga itu pun seperti bersiap untuk kembali terbang, orang tadi melemparkan sebuah botol berisi surat ke arah Cha Sonsaengnim dan kemudian mereka pergi dengan cepat.

“Yoona, kau baik-baik saja? Itu tadi Seung Won, pembawa berita sekaligus panglima perang dari pihak musuh kita” perkataan Taecyeon jelas terlihat sangat khawatir terhadap Yoona.

“Gwaenchanayo” jawab Yoona. Yoona melihat kearah Cha Sonsaengnim, kerut di keningnya menandakan isi surat itu adalah berita yang sangat buruk.

“Taecyeon dan Nichkhun cepat beritahu istana dan warga sekitar soal kejadian yang akan terjadi besok hari. Untuk semuanya, latihan kita akhiri sampai disini dan cepat tinggal gladiator!” suruh Cha Sonsaengnim. “Baik” jawab semunya serentak. Terlihat Taecyeon dan Nichkhun berlari keluar terlebih dahulu.

Tanpa Yoona sadari, ada yang memegang pundak Yoona, “Yoona, kau harus berlatih keras malam ini. Nanti setelah makan malam temui aku di halaman belakang istana”. Yoona mengangguk mengerti. Setelah melepaskan baju bajanya di kamar barunya, masih dalam daerah istana namun letaknya agak dibelakang, dia berjalan kearah dapur menemui Bibi Kim. Yoona pun duduk di meja dekat bahan-bahan masak, dia duduk termenung disitu.

“Aku dengar kau menjadi incaran Seung Won. Jangan panik, dia hanya suka menggertak” sahut Bibi Kim sambil mengaduk makanannya di atas perapian seperti kompor.

“Benarkah itu, Bibi?” tanya Yoona penasaran. Tentu saja Bibi Kim harus berbohong untuk membangkitkan semangat Yoona. Dia yang merawat Yoona semalam, membersihkan badan Yoona dan menggantikan pakaian Yoona, Kim menganggap Yoona sudah seperti anaknya sendiri. Kim menganggukkan pertanyaan Yoona. Kini Yoona kembali termenung memikirkan pembicaraanya dengan Jessica tadi pagi.

…………………

(Flashback)

“Yoona kau harus menyiapkan mentalmu. Pilihanmu sebagai warga baru hanya ada dua, kau mau menjadi tentara kami atau dikembalikan ke hutan” belum sempat Yoona menjawab perkataan Jessica, Jessica kembali berbicara “Aku senang sekali kau bisa bermain pedang, aku anggap kau menerima tawaran kami yang pertama. Appaku memberlakukan sistem kejam ini karena wilappa kami dalam daerah perang yang sudah berlangsung selama 10 tahun. Sebelumnya appa tidak pernah sekejam ini, bahkan karena keadaan genting seperti ini aku benar-benar dijaga ketat” airmata Jessica kini menetes di pipinya yang putih dan indah. Jelas saja Jessica dijaga ketat, itu semua karena Jessica adalah seorang putri kerajaan.

“Aku tidak terima diperlakukan begini, aku hanya gelisah di dalam kamar sedangkan rakyatku menyerahkan nyawanya di medan perang. Aku juga ingin melindungi rakyatku meskipun aku seorang putri mahkota” Jessica kini menghapus airmatanya.

“Apalagi Taecyeon juga ikut berperang, aku tidak bisa membiarkan hal itu. Menurutku dia satu-satu pria terbaik dan tertampan se-Yunani ini. Aku tidak ingin dia mati sia-sia dimakan Jaksal” lanjutnya, Yoona mengelus punggung Jessica dengan halus.

“Kau tahu Yoona, baju baja ini adalah pakaian penyamaranku. Aku menyamar sebagai Nichkhun saat latihan perang dan kemudian kembali menjadi putri setelahnya. Hanya kau dan Bibi Kim yang mengetahuinya. Aku harap kau tidak mengatakan hal ini pada siapapun ya!” pinta Jessica yang kemudian tersenyum kearah Yoona.

(Flashback end)

…………………….

Kini Yoona dan semua tentara memasuki daerah perang, semuanya sudah saling berhadapan. Terlihat sekali pasukan Cha Sonsaengnim berwajah tenang sedangkan pasukan Seung Won terlihat terbakar hawa nafsu.  Cha Sonsaengnim berada di sebelah kiri, mengendarai kuda hitamnya di temani senjata yang terlihat seperti petir, senjata itu dapat memanggil hujan badai serta kilat yang saling beradu. Yoona, Nichkhun, Taecyeon, dan semua tentara perang inti diletakkan di barisan tengah. Nichkhun berdiri gagah di lengkapi senjata andalannya tameng pembalik serangan, Taecyeon terlihat tenang dengan alat panah di punggungnya dan pedang di tangan kanannya.

“SEMUA, SERAAANNGGG!!” aba-aba dari Cha Sonsaengnim membuat tentara berlari menghadapi musuh dengan semangat. Yoona menghabisi semua lawannya dan membiarkan pedang itu menuntunnya untuk memenggal kepala musuh, membuat pihak musuh berlumuran darah dan kemudian mati. Seung Won yang mengendarai Jaksal, mendekati tempat Yoona berdiri.

“Kita bertemu lagi” ucap Seung Won sambil mengayunkan pedangnya ke arah Yoona. Yoona terus menanggapi permainan pedang Seung Won. Para tentara sudah makin banyak yang berguguran. Taecyeon melihat ke arah Yoona, “Apa yang anak itu lakukan? Melawan Seung Won sendirian” Taecyeon pun berlari ke arah Yoona.

Jaksal membantu majikannya, dia menyemburkan api ke arah Yoona. Hal itu membuat Yoona kepanasan, baju bajanya meleleh dan dia hilang keseimbangan, saat itu dimanfaatkan Seung Won untuk menggoreskan mata pedang ke arah lengan kanan Yoona.

“Aaaaaaaaaa” jeritan panjang Yoona membuat Nichkhun mengarahkan pandangannya pada Yoona. Yoona terduduk berlutut, tangan kirinya menahan agar darah tak banyak mengalir dari lengan kanannya. Jaksal seakan siap menyantap Yoona. Taecyeon berlari sambil menyiapkan busur panah ke arah Seung Won. Busur panah pun dilepaskan tepat mengenai dada kanan Seung Won. Taecyeon buru-buru menyelamatkan Yoona, tanpa disadari Seung Won hendak menancapkan pedang di tumit kiri Taecyeon. Nichkhun kini segera berlari mendekati Taecyeon dan mengarahkan tamengnya. Kini pedang itu berbalik mengenai tuannya sendiri, Seung Won langsung terjatuh ke tanah tepat di depan Jaksal yang sudah menganga lebar. Jaksal pun terbang pergi setelah dirasakan ada yang tertelan masuk ke dalam kerongkongannya.

***

“Aaaaaaaa..” jeritan panjang itu kembali terdengar saat Yoona diobati oleh tabib.

“Dia menghabiskan banyak darah, kita tak bisa banyak berharap lagi” ucap sang tabib keluar dari kamar Yoona. Jessica menangis di pelukan Taecyeon.

“Aku yang bersalah membawa anak itu kemari” ucap Jessica menyesal.

“Bukan kau yang salah, itu semua sudah takdir” jawab Taecyeon.

“Tabib, apakah tidak ada yang bisa kita lakukan lagi?” tanya appa Jessica, berharap Yoona dapat disembuhkan dan menjadi tim perang inti kembali.

“Kita hanya tinggal menunggu keajaiban datang” sang tabib sepertinya sudah putus asa mengobati Yoona.

“Yoona, maafkan aku. Aku sengaja menjadikanmu tim inti karena aku tak ingin putri Jessica menjadi sasaran Seung Won” sesal Cha Sonsaengnim di hadapan Yoona yang sedang menahan sakit, wajahnya pucat dan bibirnya sudah membiru. Jessica yang mendengar hal ini langsung kaget dan menghampiri Cha Sonsaengnim.

“Apa maksudmu Cha Sonsaengnim?” tanya Jessica marah.

“Pantas saja sewaktu tahu Yoona masuk tim perang, kau terlihat bahagia” lanjut Jessica. Cha Sonsaengnim menunduk, “Sebenarnya Seung Won sudah mengetahui kalau putri Jessica akan ikut berperang. Dia pun ingin membuktikan dengan datang tempo hari membawa surat. Mungkin Seung Won mengira Yoona adalah Putri Jessica yang menyamar. Oleh sebab itu dia sangat mengincar Yoona” jelas Cha Sonsaengnim.

“Kenapa kau baru bilang sekarang?” bentak Jessica.

“Sudahlah, kalian jangan bertengkar” ucap Yoona terbata-bata.

“Sebenarnya aku sudah mengetahui taktik umpan ini kemarin saat berlatih pedang dengan Cha Sonsaengnim usai makan malam. Aku menerima tawarannya karena memang tugas tentara inti adalah melindungi Putri Jessica” terlihat sekali Yoona menitikkan airmata menahan lukanya yang teramat sakit.

“Yoona..” Jessica memeluk Yoona yang sudah sekarat. Appa Jessica memegangi pundak Jessica dan menyuruhnya untuk berhenti menangis. Jessica berbalik memeluk appanya seraya berkata, “Mianhae appa”. Tiba-tiba pintu terketuk, pandangan semuanya terarah pada seekor Unicorn yang masuk ke kamar Yoona. Jessica, appa Jessica, dan Cha Sonsaengnim melangkah mundur menjauhi tempat tidur Yoona. Yoona sudah memejamkan mata, semuanya seakan sudah terlambat untuk membuat Yoona hidup kembali.

Unicorn tersebut mengarah tanduknya ke luka Yoona dan seketika itu luka Yoona sembuh namun masih meninggalkan bekas dipemiliknya.  Yoona pun terbangun dari tempat tidurnya dan melihat Unicorn tersebut seakan memberikan tumpangan padanya. Yoona naik ke tubuh Unicorn tersebut, “Gamsahamnida Yoona” ucap Jessica lirih. Yoona pun tersenyum pada semuanya dan secepat kilat mereka berdua pergi meninggalkan Jessica dan appanya, Cha Sonsaengnim, Taecyeon dan Bibi Kim.

***

            Yoona berlari masuk ke gedung pertandingan, “Wahh, aku terlambat”. Dilihatnya kini giliran Donghae maju bertanding, “Appa, maaf aku terlambat” ucap Yoona yang kemudian duduk di samping appanya.

“Kau tertidur pulas sekali” jawab appa Yoona.

“Mianhae, appa..hehehee  Apaah aku sudah telat?”

“Belum”

Yoona melinting sedikit lengan baju seragam Sword Corner Club, terlihat bekas luka berbentuk sebuah garis lurus bekas tersayat di lengan kanan Yoona. Tiba-tiba dilihatnya Donghae sudah berada dalam posisi terkunci, Yoona berlari ke arah wasit.

“Aku mohon istirahat sebentar!” pinta Yoona.

“Maksudmu apa? Istiahat masih 1 menit lagi” jawab wasit tersebut.

“Aku mohon, dipertandingan selanjutnya tambahkan 1 menit untuk menggantikannya”. Wasit pertandingan itu pun meniupkan pluit bertanda istirahat.

“Donghae, kau tak apa? Biar aku obati lukamu” Yoona pun mengobati luka di dahi Donghae. Donghae memegang tangan Yoona, “Ada apa?” tanya Yoona.

“Kau kenapa terlambat?” Yoona hanya tersenyum dan kemudian wasit kembali meniupkan pluitnya bertanda pertandingan dimulai kembali.

“Aku akan menggantikan Donghae dalam sesi pertandingan ini” ucap Yoona mantap dan kemudian berdiri melangkah maju ke arena pertandingan. Semula Donghae menghalanginya, namun appa Yoona membiarkan putrinya untuk maju bertanding. Appa Yoona dan Donghae tersenyum  bangga.

……………..The End…………..

11
Jul
11

Daily Pic #1

Continue reading ‘Daily Pic #1’

15
Jun
11

First Day in Spring (part 1)

Title : First Day in Spring (Part 1)

Author : SarSay501

Rating : PG

Main cast: Choi Sooyoung [SNSD], Kim So Eun.

Other cast : Kim Hyung Jun [SS501], Cho Kyuhyun [Suju], Choi Siwon [Suju], Choi Minho [Shinee], akan terus bertambah di part selanjutnya. hehehee

Note : Ini fanfict requestan Kikikyu, semoga Kikikyu dan readers lain suka ya dengan memberi komentarnya! ^^

~Kediaman Keluarga Choi~

(Sooyoung P.O.V)

Entah kenapa aku selalu merasa lapar, serasa perutnya tidak pernah kenyang dan tidak pernah penuh diisi oleh makanan.

Oppa, aku lapar lagi, ottokae?” tanyaku pada Siwon oppa.

Mwo? Noona, kau lapar lagi? Dasar perut karet!!” sahut Minho adikku yang menyebalkan. Aku adalah anak kedua, aku memiliki kakak laki-laki bernama Choi Siwon dan adik laki-laki bernama Choi Minho. Continue reading ‘First Day in Spring (part 1)’

10
Jun
11

[Icon] 30 Yesung’s Icon

Image and video hosting by TinyPic

By Pea @yestory,

kalo mo pake iconnya tolong izin dulu, makasii.. ^_^

Klik gambar untuk memperbesar, dan crop dulu bila ingin dipakai.

Please Check under the cut…

Continue reading ‘[Icon] 30 Yesung’s Icon’

07
Jun
11

[GPX] Come In The Midnight

Artwork by Pea @yestory
Don’t Claim this as yours, Don’t Hotlink, and Do Not Post it in Other site.
Thanks, and Comment are welcome…

Image and video hosting by TinyPic

Sungmin and Yoona=Rare pairing ke ke Onew And Sica are Love… hihi

Image and video hosting by TinyPic




RULES

Image and video hosting by TinyPic

Imagination Day

June 2017
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Fiction Categories

Looking For My Lovers

  • 63,167 Lovers

Tweeted

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.